"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: BADAI DARI UTARA: BERUANG DAN KOBRA
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Keamanan suite hotel kami di The Savoy kini sudah berubah total menjadi benteng digital tingkat lima. Melalui jendela lantai teratas, London tampak seperti hamparan perhiasan yang berserakan di bawah siraman lampu kota yang dingin, namun di layar monitor di depanku, dunia sedang menunjukkan wajah aslinya yang kelam.
"Papa, berhentilah menatap anting mutiara Mama seolah kau sedang mencoba menghitung jumlah atom di dalamnya. Mama sedang tidur, dan kau hanya akan memicu alarm deteksi keberadaan jika terus berada di zona radiasi sensor tersebut," ucapku datar, tanpa mengalihkan pandangan dari aliran kode enkripsi Rusia yang sedang kucoba bedah.
Damian Xavier menarik napas panjang, menjauh dari tempat tidur Qinanti. Ia melangkah mendekatiku, aroma kopi pahit dan sisa adrenalin dari perjamuan semalam masih melekat di jas mahalnya. "Alexander benar-benar sudah gila, Leo. Memanggil klan Volkov ke London? Itu sama saja dengan membakar rumahnya sendiri untuk mengusir kita."
"Bagi Alexander, lebih baik rumahnya menjadi abu daripada jatuh ke tangan 'pengkhianat' sepertimu, Papa," aku menekan tombol 'Analyze'. "Klan Volkov bukan sekadar mafia. Mereka adalah tentara bayaran yang tidak mengenal protokol catur. Mereka adalah beruang yang hanya tahu cara menghancurkan, bukan menaklukan."
Aku memutar kursiku, menatap Papa dengan mata abu-abuku yang tidak memiliki binar anak delapan tahun sama sekali. "Tiga jam yang lalu, dua pesawat kargo tanpa manifes mendarat di bandara terpencil di utara. Mereka membawa unit 'Iron Bear'. Berdasarkan profil logistik mereka, mereka tidak datang untuk bernegosiasi. Mereka membawa peluncur granat termobarik dan pengacau sinyal tingkat militer. Mereka ingin meratakan gedung ini."
“Kak, deteksi variabel sosial terganggu. Catherine Xavier baru saja keluar dari mansion Belgravia yang sudah kita 'kunci'. Dia menuju ke sebuah gereja tua di pinggiran kota. Secara psikologis, dia tidak sedang pergi berdoa. Dia sedang menemui 'pawang' beruang itu,” suara Lea berdesir di benakku melalui Shadow Talk.
“Pantau dia, Lea. Jangan biarkan unit Ghost mendekat terlalu dekat. Insting Volkov sangat sensitif terhadap bau intelijen asing. Gunakan drone mikro versi 'Fly-Bot' yang tidak memiliki tanda panas,” balasku lewat pikiran.
Aku kembali menatap Damian. "Papa, kita punya waktu enam jam sebelum matahari terbit. Aku butuh Papa melakukan satu hal yang sangat tidak efisien bagi seorang raja mafia."
"Apa itu, Leo?"
"Pergilah ke dapur hotel. Buatlah sarapan paling mewah untuk Mama. Berikan dia rasa 'normal' sebelum badai dari utara ini menghantam jendela kita. Karena setelah ini... aku akan mematikan seluruh sistem London agar kita bisa berburu dalam gelap."
POV: QINANTI (Mama)
Aroma pancake hangat dan sirup maple membangunkanku dari tidur yang paling nyenyak selama berada di London. Aku membuka mata, menemukan Damian sedang duduk di tepi tempat tidur dengan nampan perak di tangannya. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung, memperlihatkan tato kobra di lengannya yang kini terasa menenangkan, bukan lagi menakutkan bagiku.
"Selamat pagi, Ratu London," bisik Damian dengan senyum yang sangat jarang ia tunjukkan pada dunia luar.
Aku duduk, menyandarkan punggung pada bantal. "Kau yang membuatnya sendiri?"
"Di bawah pengawasan ketat Leo, tentu saja. Dia bilang jika aku membuat gulanya gosong sedikit saja, efisiensi nutrisimu akan turun lima persen," Damian terkekeh pelan sambil menyuapiku sepotong kecil pancake.
Aku tertawa kecil, merasakan kehangatan yang menjalar di dadaku. "Leo memang tidak pernah berubah. Segala sesuatu harus dihitung."
Namun, di tengah kemesraan itu, aku melihat kilatan kecil di mata Damian—sebuah bayangan kewaspadaan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Anting mutiara pemberian Leo yang kupakai tiba-tiba bergetar halus sekali di telinga kananku. Itu adalah kode.
"Damian," panggilku pelan, menatap matanya. "Ada sesuatu yang mendekat, bukan? Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pengawal kakekmu?"
Damian terdiam sejenak, genggaman tangannya pada garpu perak mengeras. "Alexander memanggil teman lama dari Rusia, Qin. Sergei Volkov. Tapi jangan takut. Leo sudah memetakan setiap jengkal pergerakan mereka. Kita tidak akan lari lagi."
"Aku tidak takut, Damian," aku menggenggam tangannya yang besar dan kasar itu. "Kemarin di galeri tua itu, aku belajar satu hal berharga dari Lea. Ketakutan adalah apa yang mereka inginkan sebagai bahan bakar. Tapi kebahagiaan kita adalah racun bagi strategi mereka. Ayo, kita selesaikan sarapan ini. Aku ingin belajar cara mengunci pintu digital ini melalui tablet Lea setelah ini."
Damian menatapku dengan takjub. Ia mencium punggung tanganku dengan khidmat, seolah aku adalah satu-satunya alasan baginya untuk tetap hidup. "Kau benar-benar sudah menjadi bagian dari klan ini, Qin. Ratu yang tidak lagi butuh disembunyikan."
POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)
Aku berada di dalam mobil van katering yang terparkir dua blok di seberang gereja tua di pinggiran London. Di sampingku, Marco duduk dengan kaku, memegang senjata berperedam. Melalui layar monitor resolusi tinggi, aku melihat Nenek Catherine masuk ke dalam gedung tua yang gelap itu dengan langkah terburu-buru.
Analisis: Catherine berjalan dengan tekanan berat di tumit—tanda tekanan mental yang luar biasa. Dia bukan datang sebagai sekutu; dia datang sebagai pemohon yang ketakutan.
Di dalam gereja, di balik altar yang retak, seorang pria raksasa dengan mantel bulu tebal sedang berdiri. Namanya Sergei Volkov, pemimpin unit 'Iron Bear'. Dia sedang memegang sebilah pisau berburu, membersihkan kuku jarinya seolah-olah dia sedang berada di kamp hutan di Siberia, bukan di London yang beradab.
"Sergei," suara Catherine terdengar gemetar di mikrofon tersembunyiku. "Alexander bilang kau akan membereskan anak-anak itu dan ibunya tanpa jejak."
Sergei tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan batu di dalam gua. Sangat tidak manusiawi. "Alexander terlalu banyak bicara tentang strategi dan harga saham. Aku tidak peduli dengan angka-angka itu. Aku hanya peduli pada darah. Alexander bilang anak itu adalah setan? Bagus. Aku suka melihat setan memohon nyawa."
“Kak, Sergei adalah variabel anarkis. Dia tidak memiliki pola perilaku yang logis seperti pebisnis atau politisi. Dia bertindak berdasarkan impuls kekerasan murni. Protokol profiling standar 'Mirroring' tidak akan bekerja padanya,” lapor kuku lewat pikiran kepada Leo.
“Diterima, Lea. Jika dia anarkis, kita akan menghadapinya dengan kehampaan total. Sergei butuh target untuk diserang. Kita akan menjadi hantu. Aktifkan Protokol 'London Mist' sekarang,” suara Leo terdengar dingin, penuh otoritas seorang panglima.
Aku melihat Sergei memberikan sebuah tabung logam kecil pada Catherine. "Suruh orang-mu memasukkan ini ke dalam sistem ventilasi hotel mereka pukul delapan tepat. Ini bukan gas tidur. Ini adalah aroma kematian yang akan membuat mereka berlari keluar seperti tikus yang terbakar. Di luar... beruang-beruangku sudah menunggu."
Aku segera menekan tombol darurat di tabletku. "Marco, cegat Catherine sepuluh meter dari gerbang gereja. Jangan sakiti dia, tapi ambil tabung itu. Ganti dengan tabung gas helium yang ada di kotak katering. Biarkan dia mengira dia sedang membawa senjata mematikan, padahal dia hanya membawa lelucon."
POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)
Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi. Matahari London tertutup oleh kabut tebal yang aneh—kabut yang bukan berasal dari alam, melainkan dari ratusan mesin asap mikro yang kupasang di seluruh blok sekitar hotel. Melalui sensor infra-merah di kacamata taktisku, aku melihat iring-iringan mobil Land Rover hitam klan Volkov mulai memasuki perimeter.
"Papa, saatnya bekerja," ucapku sambil menyesuaikan letak earpiece. "Mama, masuk ke dalam bunker portabel di bawah lantai suite ini bersama Lea. Jangan keluar sampai aku memberikan kode 'Sunrise'."
Qinanti mengangguk mantap. Ia memelukku dan Lea sejenak—pelukan yang memberikan variabel kekuatan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika militer manapun.
Damian berdiri di sampingku, kini ia mengenakan rompi taktis di balik jas mahalnya yang kini sudah dilepas kancingnya. Ia memegang senapan modifikasi kaliber berat yang kurancang khusus untuk menembus zirah baja unit 'Iron Bear'. "Berapa banyak, Leo?"
"Dua puluh orang di depan lobi. Sepuluh orang mencoba masuk lewat rooftop. Dan Sergei... dia sedang menunggu di dalam mobil pusat, menghirup cerutu dengan kadar nikotin yang akan membunuhnya dalam setahun, jika pelurumu tidak melakukannya lebih dulu," aku menekan satu tombol besar di layar utama. "Tapi mereka lupa satu hal. Di London, akulah yang memegang sakelar utamanya."
JEGLEEG!
Seluruh aliran listrik di tiga blok distrik Savoy padam total. Dalam kegelapan yAng tiba-tiba itu, hanya kacamata penglihatan malam milik klan Vipera yang menyala hijau terang. Kami adalah predator di sini.
"Unit Ghost, eksekusi tahap satu. Jangan biarkan mereka melewati lobi utama," perintahku.
Suara tembakan pertama menyalak—sunyi namun mematikan. Aku melihat di monitor bagaimana para tentara Rusia itu tumbang satu per satu dalam kegelapan, bingung karena sensor termal mereka mendadak buta akibat frekuensi pengacau yang kusebarkan melalui jaringan seluler.
Namun, Sergei Volkov bukan amatir murahan. Ia keluar dari mobilnya, memegang senapan mesin berat dengan satu tangan, dan mulai menembak secara membabi buta ke arah jendela hotel, menghancurkan kaca-kaca kristal The Savoy.
"Dia ingin memancing kita keluar dengan menghancurkan moral, Papa," ucapku.
"Kalau begitu, mari kita beri dia sambutan hangat seorang Xavier," Damian menyeringai. Ia melompat keluar dari balkon lantai dua dengan tali rappelling, meluncur seperti bayangan kobra yang siap mematuk mangsanya di tengah kabut buatan.
Aku duduk kembali di kursiku, jemariku bergerak lincah mengatur dukungan drone tempur untuk menutupi sudut buta Damian. Di papan catur ini, klan Volkov mungkin adalah beruang yang kuat secara fisik, tapi mereka baru saja masuk ke dalam labirin yang seluruh dindingnya sudah kupasangi peledak sensorik.
"Checkmate, Sergei," bisikku.
Badai baja telah dimulai di London. Dan bagi siapa pun yang mencoba menyentuh keluargaku... mereka akan menyadari bahwa kegelapan London bukanlah milik mereka. Kegelapan ini adalah sekutuku, dan aku adalah tuan tanahnya.
POV: DAMIAN XAVIER
Hujan peluru Sergei menghantam pilar-pilar batu hotel, namun aku sudah bergerak di balik tirai kabut. Kecepatan adalah variabel yang Leo ajarkan padaku untuk ditingkatkan melalui latihan beban yang menyiksa di Jakarta. Sekarang, aku merasakannya. Aku bukan lagi pria yang bertarung dengan amarah; aku bertarung dengan algoritma kematian yang efisien.
Aku mendarat dengan senyap di belakang salah satu anggota 'Iron Bear'. Tanpa suara, pisau keramikku menemukan celah di antara helm bajanya. Satu tumbang.
Aku bisa mendengar Sergei berteriak dalam bahasa Rusia, memerintahkan pasukannya untuk membentuk formasi lingkaran. Bodoh. Dalam kabut tebal ini, formasi lingkaran hanya akan membuat mereka saling menembak rekan sendiri saat sensor mereka gagal.
"Papa, pindah ke arah jam sepuluh. Sergei sedang menyiapkan peluncur granat. Aku akan meledakkan sistem hidran air di sampingnya untuk mengalihkan perhatiannya," suara Leo terdengar jernih di telingaku.
CRAAAASH!
Pipa air raksasa di trotoar meledak, menyemburkan air bertekanan tinggi tepat ke arah Sergei. Di saat dia terhuyung, aku melesat keluar dari kabut. Aku tidak menembak dari jauh. Aku ingin dia merasakan napas pria yang anaknya dia sebut 'setan'.
"Sergei!" teriakku, suaraku bergema di antara gedung-gedung sunyi London.
Pria raksasa itu berbalik, matanya liar. Sebelum dia bisa mengangkat senapan mesinnya, aku sudah berada di depannya. Pukulan taktisku menghantam rahangnya, diikuti oleh tendangan yang merontokkan peluncur granat dari tangannya.
Kami bergulat di atas aspal yang basah. Sergei adalah monster kekuatan murni, tapi aku dipandu oleh mata-mata di langit yang bisa melihat setiap pergerakannya sebelum ia melakukannya.
"Kau... anak itu..." Sergei terengah-engah, mencoba mencekik leherku.
"Anak itu adalah masa depanku," bisikku, lalu aku menghantamkan kepala ke dahinya, membuatnya limbung. "Dan kau... kau hanyalah masa lalu yang gagal."
Aku menarik pelatuk senjata berperedamku tepat ke arah bahunya, melumpuhkan tangannya agar dia bisa dibawa untuk diinterogasi oleh Lea. Aku tidak membunuhnya sekarang. Aku ingin dia melihat bagaimana 'setan kecil' itu menghancurkan seluruh kerajaannya di Rusia dalam hitungan jam setelah ini.
Aku berdiri di tengah kabut yang mulai menipis, menatap ke arah jendela suite tempat Leo sedang mengawasi. Aku tahu, di atas sana, anakku sedang tersenyum tipis. Kami telah memenangkan ronde ini. Badai dari utara telah diredam oleh racun kobra.
"Checkmate, Papa," bisikku sendiri, meniru jargon putraku. Dan rasanya, itu adalah kemenangan paling manis yang pernah kurasakan.