NovelToon NovelToon
SISTEM KAYA MENDADAK: SETIAP DETIK MENGHASILKAN UANG

SISTEM KAYA MENDADAK: SETIAP DETIK MENGHASILKAN UANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"

Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]

Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.

Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Kedatangan Sang Eksekutor

Tiga hari itu rasanya seperti tiga tahun. Berada di dalam stasiun ruang angkasa yang isinya cuma logam tua dan orang-orang asing bener-bener bikin Andra gerah. Dia lebih sering menghabiskan waktunya di dalam jet pribadinya, duduk diam di ruang tengah sambil memperhatikan Siska yang perlahan mulai bisa berjalan sendiri tanpa bantuan kabel-kabel medis lagi.

"Kamu terlalu banyak melamun, Andra," suara Siska memecah keheningan. Dia duduk di depan Andra, membawa dua cangkir kopi panas yang aromanya sangat familiar—aroma kopi bumi yang mereka bawa dari stok di pesawat.

Andra tersenyum kecil, menerima cangkir itu. "Aku cuma memikirkan banyak hal, Siska. Soal Vex, soal pasukan yang sedang mereka siapkan, dan soal apa yang akan terjadi kalau kita mendarat di Antartika nanti."

"Kamu takut?" Siska menatap mata Andra dengan dalam.

"Aku bohong kalau bilang tidak takut," jawab Andra jujur. "Dulu, masalah terbesar aku cuma bagaimana cara membayar uang kontrakan atau apa yang akan aku makan besok pagi. Sekarang? Aku harus memimpin armada perang untuk menyerang organisasi yang bahkan pemerintah dunia pun tidak berani menyentuhnya."

Andra menghela napas panjang, menyesap kopinya perlahan. "Aku merasa seperti orang asing di tubuh aku sendiri, Siska. Energi emas ini, saldo galaksi ini... semuanya terasa terlalu besar untuk pria biasa sepertiku."

Siska memegang tangan Andra, meremasnya lembut. "Tapi kamu bukan pria biasa lagi. Kamu pria yang menyelamatkan aku dari neraka itu. Kamu yang memberi aku kesempatan kedua. Dan aku yakin, orang-orang di luar sana—mereka yang tertindas oleh 'The Void'—juga menggantungkan harapan mereka padamu."

Andra mengangguk pelan. Pembicaraan mereka terhenti saat Jagal masuk ke ruangan dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya.

"Tuan, ada masalah," kata Jagal singkat. "Sistem peringatan di dermaga mendeteksi ada sebuah kapal kecil yang mendarat tanpa izin. Bukan kapal dagang, bukan juga kapal pengungsi. Kapalnya polos, tanpa tanda, tapi memancarkan sinyal energi yang sangat tinggi."

Andra langsung berdiri. "Eksekutor," gumamnya. Dia teringat peringatan Sistem beberapa hari lalu. "Mereka datang lebih cepat dari yang aku kira."

"Vex sudah menyiapkan pasukannya di gerbang dermaga, tapi dia bilang energi orang ini terlalu kuat. Dia minta Anda turun tangan," lanjut Jagal sambil menyiapkan senjatanya.

"Bawa Siska ke ruang paling aman di pesawat ini. Kunci pintunya dan jangan keluar sampai aku yang panggil," perintah Andra pada Jagal.

"Aku mau ikut, Andra!" sela Siska, tapi Andra menggeleng tegas.

"Tidak kali ini, Siska. Orang yang datang ini bukan tentara bayaran biasa. Dia adalah pembunuh khusus yang dikirim untuk menghapus keberadaan aku. Tetap di sini, tolong."

Andra melangkah keluar dari jet, berjalan menuju area dermaga utama. Begitu sampai di sana, dia melihat suasana sangat sunyi. Para pedagang yang biasanya berisik kini sudah menghilang, kios-kios ditutup rapat. Di tengah area terbuka, berdiri seorang pria jangkung dengan jubah abu-abu yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia tidak membawa senjata, tapi udara di sekitarnya tampak bergetar hebat.

"Andra... Sang Pembawa Benih," suara pria itu dingin, tidak ada emosi sama sekali, mirip seperti mesin yang dipaksa bicara.

"Sebutkan namamu sebelum aku mengirimmu kembali ke penciptamu," tantang Andra. Dia mulai merasakan energi emasnya mengalir dari jantung ke seluruh ujung jari tangannya.

"Nama tidak penting bagi yang akan segera mati. Aku adalah Eksekutor Unit 07. Tugas aku sederhana: mengambil kembali aset 'The Void' yang kamu curi dan mematikan sistem di kepalamu secara paksa."

Tanpa aba-aba, Eksekutor itu bergerak. Kecepatannya gila—bukan lagi lari, tapi lebih seperti berpindah tempat dalam sekejap. Tiba-tiba saja sebuah pukulan mendarat di dada Andra.

DUAARRR!

Andra terpental puluhan meter, menabrak tumpukan kontainer besi sampai penyok. Rasa sakitnya luar biasa, tulang rusuknya terasa seperti dihantam palu godam. Dia terbatuk, mengeluarkan sedikit darah.

[Peringatan! Integritas Tubuh Menurun. Mode Pertahanan Otomatis Diaktifkan!] [Biaya Perbaikan Instan: 10 Kristal. Gunakan?]

"Gunakan! Jangan tanya terus!" teriak Andra dalam hati.

Seketika, rasa sakit di dadanya menghilang, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar cepat. Andra berdiri lagi, matanya kini memancarkan cahaya emas yang terang. Dia tidak akan membiarkan orang ini menyentuh pesawatnya, menyentuh Siska.

"Cuma segitu?" Andra menantang. Dia melesat maju, kali ini dia yang menyerang.

Pukulan demi pukulan bertukar di tengah dermaga stasiun Orion. Suaranya seperti ledakan meriam yang beruntun. Vex dan anak buahnya hanya bisa menonton dari kejauhan, mereka tahu kalau mereka ikut campur, mereka cuma akan jadi butiran debu dalam pertarungan level ini.

Eksekutor itu mengeluarkan sebuah bilah energi dari lengannya, menebas ke arah leher Andra. Andra menghindar dengan gerakan yang sangat tipis, lalu menangkap tangan pria itu.

"Sistem, sedot energinya!" perintah Andra.

[Memulai Proses Inversi Energi... Proses Berhasil!]

Tiba-tiba, cahaya biru di bilah energi milik Eksekutor itu meredup, berubah menjadi emas dan mengalir masuk ke dalam tubuh Andra. Pria berjubah itu tampak kaget—mungkin ini pertama kalinya ada subjek percobaan yang bisa membalikkan serangan miliknya.

"Kamu... kamu bukan lagi sekadar Benih," gumam Eksekutor itu dengan suara yang mulai pecah. "Kamu sudah bermutasi..."

"Aku bukan mutasi," kata Andra sambil mencekik leher pria itu, mengangkatnya tinggi-tinggi. "Aku adalah kesalahan terbesar yang pernah dibuat perusahaan kalian. Katakan pada mereka, jangan kirim budak lagi. Suruh pemimpin kalian datang sendiri kalau berani."

Dengan satu hentakan energi yang kuat, Andra meledakkan sirkuit internal di tubuh Eksekutor itu. Pria berjubah itu jatuh terkulai, tidak bergerak lagi. Ternyata dia bukan sepenuhnya manusia, tapi cyborg yang didesain khusus untuk membunuh.

Andra berdiri di sana dengan napas yang terengah-engah. Energi emas di tubuhnya perlahan meredup. Dia menoleh ke arah Vex yang sekarang berjalan mendekat dengan wajah penuh kekaguman sekaligus ketakutan.

"Aku tidak pernah melihat orang bertarung seperti itu," kata Vex pelan. "Sekarang aku percaya, uangmu bukan cuma sekadar angka. Kamu memang punya kekuatan untuk meruntuhkan mereka."

"Siapkan kapalnya, Vex," kata Andra dingin. "Kita berangkat sekarang. Jangan tunggu tiga hari lagi. Kalau mereka bisa mengirim satu orang ke sini, mereka bisa mengirim satu armada dalam hitungan jam."

Vex mengangguk cepat. "Siap, Tuan. Kapal Nemesis sudah siap di hangar empat. Semua pasukan sudah naik. Kita berangkat menuju Bumi lewat gerbang rahasia."

Andra kembali ke pesawatnya. Di pintu jet, Siska dan Jagal sudah menunggu dengan wajah cemas. Begitu melihat Andra aman, Siska langsung menghambur memeluknya.

"Aku tidak apa-apa, Siska. Benar-benar tidak apa-apa," bisik Andra sambil mengusap rambut wanita itu.

Jagal mendekat, memberikan sebuah tablet navigasi. "Semua sudah siap, Tuan. Armada 'The Iron Star' sudah berbaris di belakang kita. Kita tinggal menunggu komando Anda."

Andra masuk ke kursi pilotnya, duduk dengan gagah. Dia melihat ke arah layar besar di depannya yang menampilkan peta galaksi, dengan satu titik kecil berkedip di pojok: Bumi.

"Aktifkan mesin warp," perintah Andra. "Tujuannya satu: Antartika. Hari ini, kita bukan cuma pulang untuk balas dendam. Kita pulang untuk mengambil kembali dunia kita."

Jet pribadi itu, bersama dengan puluhan kapal perang raksasa milik The Iron Star, perlahan bergerak keluar dari stasiun Orion. Mereka membelah kegelapan ruang angkasa, menuju pertempuran terakhir yang akan menentukan nasib umat manusia.

Di dalam pikirannya, Andra melihat angka saldonya yang terus berkurang untuk membiayai armada ini, tapi dia tidak peduli lagi. Karena baginya, tidak ada harga yang terlalu mahal untuk sebuah kebebasan.

1
Sebut Saja Chikal
nanti saya mampir.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!