Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Menikmati setiap langkah
Jeritan manusia memenuhi malam. Satu per satu murid dan penjaga jatuh, tercabik oleh taring beracun atau terhempas oleh tekanan udara dari gerakan sang ular. Hutan Terlarang kini benar-benar menjadi ladang pembantaian.
Tian Hao menyaksikan semua itu dari kegelapan. Ia melihat tetua yang dulu pernah menghinanya kini tergeletak dengan perut robek.
Ia melihat murid-murid berbakat yang sombong kini menangis memanggil orang tua mereka sebelum ditelan bulat-bulat oleh sang ular.
Tidak ada kesenangan di wajah Tian Hao. Tidak ada senyum kemenangan. Baginya, pemandangan ini hanyalah sebuah cara dunia bekerja.
Jika kematian orang-orang ini adalah batu pijakan yang ia butuhkan untuk mendaki puncak keabadian, maka biarlah mereka mati. Air mata mereka tidak memiliki berat dalam timbangan takdirnya.
"Satu langkah lagi menuju keheningan," batin Tian Hao.
Saat perhatian Tian Fei dan seluruh kekuatan keluarga terpusat pada upaya menyegel Ular Putih, Tian Hao bergerak turun dengan sangat hati-hati. Memanfaatkan kekacauan dan tebalnya asap energi, ia menyelinap menuju bagian dalam gua yang kini kosong.
Di sana, di tempat yang paling dalam, terdapat Kristal Esensi Bumi yang dijaga oleh ular tersebut sebuah harta karun yang mampu memangkas waktu kultivasi bertahun-tahun.
Inilah tujuan utamanya. Ia tidak menciptakan kekacauan ini karena benci; ia menciptakannya karena ia membutuhkan pengalihan yang cukup besar untuk mencuri harta karun ini tanpa terdeteksi.
Di luar, suara ledakan energi semakin gila. Tian Fei mengeluarkan teknik pamungkasnya, "Pedang Kristal Langit," yang menghujam punggung ular putih hingga darah suci yang dingin mengalir membanjiri tanah.
Ular itu meraung kesakitan, membalas dengan semburan racun yang melelehkan apa pun yang disentuhnya.
Banyak penjaga keluarga Tian yang tewas seketika, tubuh mereka menguap menjadi asap hijau yang berbau busuk. Tian Fei tampak semakin lelah, napasnya memburu, namun ia terus menekan.
Tian Hao menggenggam Kristal Esensi Bumi yang bercahaya di dalam gua. Ia merasakannya, kekuatan yang murni dan dingin. Ia menyimpannya ke dalam dunia mutiara surgawi dengan cepat.
Sesaat sebelum ia keluar, ia melirik kembali ke arah medan perang di kejauhan. Banyak nyawa telah melayang malam ini, dan posisi ayahnya dalam keluarga pasti akan terguncang karena kehilangan begitu banyak personel inti.
“Kebaikan dan kejahatan hanyalah sudut pandang bagi mereka yang masih takut akan kematian,” pikir Tian Hao sambil memasang kembali tudung kepalanya. “Bagi mereka yang mengejar keabadian, hanya ada satu hal yang nyata: apakah kau masih berdiri saat fajar tiba?”
Tian Hao menghilang ke dalam kegelapan, kembali ke paviliunnya melalui rute rahasia, meninggalkan api dan kematian yang masih membara di belakangnya.
Fajar menyingsing di atas kediaman keluarga Tian dengan warna yang tidak lagi cerah, langit tampak kusam, tertutup oleh sisa-sisa asap energi dan aroma anyir yang terbawa angin dari perbatasan hutan.
Kematian Ular Putih purba bukan hanya akhir dari sebuah makhluk suci, melainkan awal dari runtuhnya stabilitas yang selama ini dibanggakan oleh Tian Fei.
Aula utama keluarga kini dipenuhi oleh ketegangan yang menyesakkan. Tian Fei duduk di kursi kebesarannya, namun posturnya tidak lagi tegak.
Jubah perangnya robek, dan wajahnya pucat karena kelelahan setelah memaksakan kekuatan Ranah Kristalisasi Inti Tahap 5 selama berjam-jam.
Di hadapannya, para tetua yang tersisa saling melempar tuduhan dengan suara rendah yang berbisa