NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Petualang di Gudang Ilmu

Sore itu, langit berwarna jingga kemerahan, tanda hari akan segera berganti malam. Tapi semangat Balqis justru menyala-nyala seperti matahari pagi.

"Ayah, jadi kan kita ke perpustakaan?" tanyanya sambil memegang erat tas ransel kecilnya yang sudah diisi buku gambar dan pensil warna.

"Jadi, Nak. Ayo pakai sepatu," jawabku sambil mengunci pintu rumah. "Nisa juga sudah menunggu di depan gerbang kompleks, kan?"

"Iya! Katanya dia mau pinjam buku dongeng tentang putri dan naga," seru Balqis antusias.

Perjalanan ke Perpustakaan Daerah hanya butuh waktu sepuluh menit naik motor. Angin sore menerpa wajah kami, membawa aroma debu jalanan yang khas namun menenangkan bagi kami. Sesampainya di sana, bangunan besar dengan kaca-kaca tinggi menyambut kami. Bagi Balqis, tempat ini seperti istana raksasa.

"Wah, besar sekali, Yah!" bisiknya takjub saat kami melangkah masuk.

Hening. Udara sejuk berbau kertas tua dan lem buku menyergap indra penciuman. Ratusan rak buku berjajar rapi, penuh dengan ribuan cerita yang menunggu untuk dibuka.

Nisa sudah menunggu di lobi bersama ibunya. "Hai, Balqis! Hai, Pak!" sapanya ceria meski berbisik.

"Hai, Nisa. Ayo kita cari buku impianmu," ajakku ramah.

Kami berjalan pelan di antara lorong-lorong rak buku. Mata Balqis dan Nisa berbinar-binar, menyapu judul-judul buku dari kiri ke kanan. Mereka seperti dua petualang kecil yang memasuki hutan harta karun.

"Ayah, lihat! Ini buku tentang laut!" teriak Balqis pelan sambil menarik sebuah buku bergambar ikan paus biru.

"Wah, kalau aku dapat yang ini," kata Nisa menunjukkan buku tebal bersampul emas. "Ini kumpulan dongeng kerajaan."

Aku membiarkan mereka bebas memilih. Biarkan mereka belajar mandiri, memilih apa yang mereka sukai tanpa paksaan. Aku hanya berdiri di samping, mengamati dengan hati hangat.

Melihat mereka serius membaca sinopsis belakang buku, aku sadar bahwa ilmu tidak hanya ada di sekolah. Di sini, di antara rak-rak buku ini, mereka belajar mencintai pengetahuan dengan cara mereka sendiri.

Setelah masing-masing mendapatkan dua buku pinjaman, kami duduk di sudut baca yang nyaman. Cahaya lampu kuning temaram membuat suasana semakin syahdu.

Balqis membuka buku gambarnya, sementara Nisa mulai membaca halaman pertama dongengnya.

Aku mengambil satu buku novel tipis dari rak terdekat. Bukan untuk dibaca serius, tapi sekadar merasakan getaran kertas di jari.

"Ternyata senang ya, Yah, diam-diaman begini tapi isi kepala ramai," gumam Balqis tiba-tiba, menatapku sambil tersenyum.

Aku tertawa kecil. "Iya, Nak. Itulah hebatnya buku. Dia bisa bikin kita pergi ke mana saja tanpa perlu bergerak."

Nisa mengangguk setuju. "Kayak tadi, aku udah bayangin istana putrinya. Ada taman bunga yang wangi banget."

"Dengan ayahku yang lagi masak nasi goreng di dapurnya," timpal Balqis jenaka.

Kami bertiga tertawa pelan, mencoba menahan suara agar tidak mengganggu pengunjung lain. Momen sederhana ini terasa sangat berharga. Tidak ada gadget, tidak ada televisi bising. Hanya kami, buku, dan imajinasi yang terbang bebas.

Saat petugas perpustakaan mengumumkan bahwa tempat akan segera tutup, kami membereskan barang-barang dengan sedikit rasa berat hati.

"Besok kita balik lagi ya, Yah?" pinta Balqis sambil memeluk buku pinjamannya erat-erat.

"Insya Allah, kalau kamu rajin baca bukunya di rumah," janjiku sambil mengelus kepalanya.

Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Tas ransel mereka kini lebih berat karena berisi buku, tapi hati mereka tampak lebih ringan karena penuh ide baru.

Sesampainya di rumah, setelah mengantar Nisa pulang, aku membantu Balqis menyiapkan tempat tidur. Ia meletakkan buku barunya di nakas, tepat di sebelah lukisan "Rumah Impian" yang sudah kami bingkai sederhana.

"Malam ini Balqis mau baca dulu sebelum tidur, Yah," katanya sambil memanjat kasur.

"Boleh, tapi jangan terlalu lama ya. Matanya butuh istirahat," pesanku lembut.

Aku duduk di tepi kasur, menatap wajah polosnya yang mulai mengantuk.

"Bapak bangga sama Ayah," tiba-tiba ucapnya lirih sebelum memejamkan mata.

"Ayah juga bangga sama Balqis. Anak Ayah hebat hari ini."

Setelah Balqis tertidur pulas dengan buku di pangkuannya, aku kembali ke ruang tengah. Membuka laptop.

Malam ini, inspirasiku datang dari bau kertas tua dan tawa kecil di perpustakaan.

Aku mengetik cepat. Judul bab ini sudah jelas: *"Petualangan di Gudang Ilmu"*.

Aku menulis tentang bagaimana seorang ayah belajar bahwa mendidik anak bukan hanya soal memberi makan, tapi juga memberi sayap untuk terbang menjelajahi dunia lewat halaman-halaman buku.

Bahwa setiap buku yang mereka baca adalah satu langkah menuju masa depan yang lebih cerah.

Aku menekan tombol "Simpan".

Bab #31 selesai.

Di luar, bulan bersinar terang.

Di dalam hati, keyakinan itu semakin kokoh.

Bahwa jalan kami memang masih panjang, tapi kami tidak pernah berjalan sendirian. Buku-buku itu, teman-teman itu, dan cinta kami saling menggandeng erat.

**Selamat malam, dunia.**

**Besok, petualangan baru menanti.**

1
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!