Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Terlalu Jauh.
Imam datang sore hari, mengetuk pagar dengan buku jarinya tiga kali, cara yang sama persis dari waktu SD dulu.
Aku kenal ketukan itu bahkan sebelum melihat orangnya.
Dia berdiri di depan pagar dengan senyum yang terlalu lebar untuk seseorang yang pasti sudah dengar sesuatu. Imam, teman SD dan SMP-ku, sekarang lebih tinggi dua senti dari aku dan rambutnya dibiarkan gondrong sebahu dengan ikat kepala kain warna cokelat. Kaos polos, celana jeans robek di lutut, sandal gunung. Persis dulu, cuma skalanya lebih besar.
"Bro," dia bilang. "Lo kenapa gak kabarin gue?"
Aku tidak menjawab langsung. Membuka pagar.
"Masuk."
Dia masuk, tapi tidak duduk di ruang tamu. Berdiri saja di teras, menatapku dengan muka yang tidak bisa memutuskan antara mau bercanda atau mau serius, dan akhirnya memilih keduanya sekaligus.
"Gue denger dari Bu Ratna. Tetangga lo yang suka jemur baju sampai tengah malam itu." Dia garuk belakang kepalanya. "Lo baik-baik aja?"
"Baik."
"Lo muka orang yang baik-baik aja?"
Aku tidak menjawab.
Imam menghela napas panjang. Lalu dia bilang dengan nada yang tiba-tiba berubah, tidak bercanda lagi, "Gue mau ajak lo ke bukit. Sekarang. Lo ganti baju dulu, kita naik motor, sampai atas tinggal duduk lihat kota. Lo gak harus ngomong apa-apa. Gue juga gak akan banyak tanya."
Aku menatapnya.
"Ada siapa lagi?"
Dia sedikit menahan senyum. "Ada temen-temen gue. Santai aja, mereka asik."
Aku harusnya curiga dari cara dia bilang "santai aja." Tapi aku terlalu lelah untuk memilih sendiri mau ke mana, jadi aku masuk ke dalam, ganti kaos, pamit ke Ibu yang cuma mengangguk dan bilang jangan pulang kemalaman, dan kami berangkat.
Tiga motor. Aku dibonceng Imam karena motorku sakit sejak tadi siang, karburatornya bermasalah lagi. Di motor kedua ada dua perempuan yang aku tidak kenal, tertawa-tawa dari tadi. Motor ketiga ada satu perempuan lagi sama pacar Imam, Rini, yang aku memang sudah pernah lihat sekali dua kali.
Bukit itu tidak terlalu jauh. Dua puluh menit dari kampung, naik jalan yang berkelok dengan pohon-pohon pinus di kiri kanan yang mulai gelap waktu kami sampai. Pemandangan kotanya dari atas bagus. Lampu-lampu kota mulai menyala, kuning dan putih, berhamburan seperti bintang yang jatuh ke bawah.
Kami duduk di bebatuan besar di tepi bukit.
Imam langsung ke Rini. Yang lain mulai ngobrol satu sama lain.
Dan dua dari tiga perempuan yang datang itu, entah karena apa, entah karena memang begitu orangnya atau karena Imam bilang sesuatu sebelumnya yang aku tidak tahu, mulai ke arahku.
Yang satu namanya Desi, duduk di sebelah kananku terlalu dekat dan bilang, "Kamu pendiem ya. Gue suka yang pendiem."
Yang satunya lagi, Vina, dari balik motor bawa dua kaleng minuman ringan dan ditaruh satu di depanku sambil senyum yang terlalu manis untuk orang yang baru lima menit kenal.
Aku tidak merespons keduanya.
Bukan sombong. Bukan sok. Tapi ada sesuatu di dalam dadaku yang tiba-tiba sangat tidak nyaman, sangat risih, dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan selain bahwa ini terasa salah. Terasa sangat salah. Seperti ada yang mencoba memakai pakaian yang bukan miliknya dan dipaksakan ke tubuhku yang belum siap.
Kemarin ludah masih ada di kakiku.
Tadi siang aku masih melepaskan tangan Aisyah satu jari demi satu jari.
Dan sekarang ada orang asing duduk terlalu dekat dan senyum terlalu manis dan aku seharusnya apa, balas senyum? Basa-basi? Pura-pura ini normal?
"Maaf," aku berdiri. Suaraku keluar lebih kaku dari yang aku mau. "Kalian pergi aja dulu ke sana."
Desi menatapku. "Loh, kenapa?"
"Gue butuh sendiri bentar."
Vina mau bilang sesuatu tapi aku sudah jalan menjauh ke sisi lain batu besar itu, duduk di tempat yang lebih gelap, membelakangi mereka semua. Aku dengar Desi berbisik sesuatu ke Vina, dan Vina tertawa pelan, dan entah itu tentang aku atau bukan, aku tidak peduli.
Lima menit kemudian Imam muncul di sebelahku.
"Bro, lo gak harus gitu juga kali."
"Gue gak mau."
"Mereka cuma mau kenalan."
"Imam." Aku menatapnya. "Gue gak mau."
Dia diam. Melihat mukaku sebentar, lalu mengangguk pelan.
Tidak lama kemudian aku dengar suara motor dua perempuan itu menyala dan menuruni bukit. Mereka pergi. Tinggal aku, Imam, dan Rini yang sudah mundur ke motornya sendiri dan sibuk dengan ponselnya.
Langit di atas bukit ini gelap dan bersih dan penuh bintang yang tidak kelihatan dari kampung karena tertutup cahaya lampu. Aku menatapnya dari bawah dengan punggung di atas batu, tangan di atas perut.
Lama.
Sangat lama.
Imam duduk di sebelah, tidak bicara apa-apa seperti yang dia janjikan. Dan itu yang aku suka dari dia dari dulu. Dia bisa diam kalau perlu. Tidak semua orang bisa itu.
Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya.
Botol. Kecil. Isi cairan bening.
Aku menatapnya.
"Imam."
"Gue tahu, gue tahu. Lo gak harus." Dia membuka tutupnya, menuang sedikit ke tutup botol yang dijadikan gelas. "Gue cuma mau bilang, ini ada kalau lo mau."
Aku tidak menyentuhnya.
Lima menit aku tidak menyentuhnya.
Sepuluh menit.
Dan kemudian, entah dari mana, entah karena langit terlalu gelap atau bintang terlalu banyak atau karena diam terlalu lama membuat semua yang selama dua hari ini aku tahan mulai bergerak-gerak lagi di dalam dadaku, aku mengambil tutup botol itu.
Satu teguk.
Pahit. Bakar. Tidak enak sama sekali.
Tapi aku minum lagi.
Tidak karena rasanya enak. Tapi karena rasa pahit di mulut itu entah kenapa terasa lebih baik dari tidak merasakan apa-apa. Lebih baik dari mati rasa. Dan aku sudah terlalu lama mati rasa dalam dua hari ini, terlalu lama menahan, terlalu lama memilih kuat, dan malam ini di atas bukit yang sepi dengan langit yang terlalu besar di atas kepala, aku tidak mau kuat dulu.
Satu teguk jadi dua.
Dua jadi empat.
Imam tidak menghentikan. Hanya menatap. Dan di mukanya ada ekspresi yang aku tidak sempat membacanya dengan benar, sesuatu antara kasihan dan khawatir dan menyesal sudah mengeluarkan botol itu, tapi sudah terlambat.
Semuanya mulai mengabur.
Pinggiran pandanganku mulai lunak. Bintang-bintang di atas bergerak sedikit, atau mungkin kepalaku yang bergerak, aku tidak bisa membedakannya.
Dan dari sana mulailah semuanya keluar.
"Imam." Suaraku aneh. Lebih berat. Lebih dari diri sendiri. "Gue diludahi."
Imam tidak bergerak.
"Kemarin. Di depan pintu rumahnya. Dia ludahin kaki gue." Aku tertawa. Tawa yang salah lagi, tawa yang tidak ada lucunya tapi tetap keluar. "Empat bulan gue nabung. Empat bulan, Im. Nasi garam tiap hari. Tidur di gubuk proyek yang bocor. Gue itung-itung setiap sen, gue tahan tiap kali pengen beli rokok, tiap kali temen-temen ngajak ngopi, gue tahan. Gue kira kalau niatnya cukup, kalau usahanya cukup..."
Aku berhenti.
Tenggorokanku sesak.
"Ternyata itu semua gak cukup. Karena gue gak punya bapak, Im. Itu yang dia bilang. Siapa yang mau biayain pernikahan lo. Kayak gue manusia kelas dua yang minta terlalu banyak cuma karena pengen nikah sama perempuan yang gue cintai."
Imam diam.
"Dan Aisyah..." Suaraku turun sendiri waktu nama itu keluar. "Aisyah gak mau putus. Tadi siang gue ke pabriknya, gue mau pamit baik-baik, tapi dia nangis dan minta gue gak pergi dan gue harus... gue harus lepas tangannya, Im. Gue lepas tangannya sendiri. Dan dia masih di sana waktu gue pergi. Gue lihat di spion."
Mataku panas.
"Gue lihat mukanya di spion yang retak itu dan gue gak bisa balik."
Suaraku pecah di kalimat terakhir itu. Tidak bisa ditahan lagi. Tidak ada visier retak yang bisa sembunyi di baliknya malam ini.
Aku menangis.
Tidak karuan. Tidak elegan. Tidak seperti orang dewasa yang berdamai dengan hidupnya. Tapi seperti anak yang terlalu kelelahan dan terlalu lama berdiri sendirian dan akhirnya lututnya menyerah.
Aku bicara soal Bapak juga. Soal kasur nomor tujuh itu. Soal napas terakhir yang keluar pelan seperti orang yang diizinkan istirahat. Soal kaleng biskuit merah yang habis dalam sehari. Soal pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab karena orangnya sudah tidak ada.
Imam tidak bilang apa-apa.
Dia hanya ada di sana. Duduk di samping, membiarkan semuanya keluar, tidak menyuruh berhenti dan tidak mencoba menghibur dengan kata-kata yang tidak akan cukup. Dan itu, itu yang terbaik yang bisa dia lakukan malam itu.
Aku tidak ingat kapan mataku terpejam.
Yang aku ingat terakhir adalah langit yang berputar pelan dan dingin yang mulai menusuk kulit dan suara Imam yang jauh dan samar memanggil namaku, dan kemudian tidak ada apa-apa.
Gelap.
Aku tidak tahu berapa lama.
Yang aku tahu berikutnya adalah guncangan. Motor bergerak. Punggungku di jok belakang dan tanganku dipegang Imam dari depan supaya tidak jatuh. Angin malam menghantam mukaku tapi tidak bisa membangunkanku sepenuhnya.
Imam panik. Aku bisa merasakan itu dari cara motornya melaju, lebih cepat dari biasanya, lebih tidak sabar di tiap tikungan.
"Bro. Bro, bangun. Satria."
Aku mencoba membuka mata. Berat sekali.
"Hampir sampai. Tahan."
Pagar rumah. Suara Imam mengetuk keras. Tiga kali, empat kali, lebih keras dari cara normalnya mengetuk. Suara langkah kaki di dalam. Pintu terbuka.
Ibu.
Aku melihat wajah beliau dari sudut mata yang masih susah dibuka, dan ekspresi di wajah itu adalah sesuatu yang aku tidak mau ingat tapi tidak bisa dilupakan. Bukan marah. Bukan kecewa yang meledak-ledak. Tapi sesuatu yang lebih dalam dari itu, ekspresi orang yang melihat anaknya dan merasakan sesuatu di dadanya sendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata apapun.
Imam memapahku masuk. Dibaringkan di kasur.
Bau alkohol di bajuku pasti sangat menyengat karena aku sendiri bisa menciumnya.
Ibu tidak bicara sepatah pun.
Beliau duduk di tepi kasur. Tangannya mengambil tasbih dari meja kecil di sampingnya, tasbih hijau tua yang sudah kumal pegangannya karena sering dipakai. Jari-jarinya mulai bergerak, satu biji demi satu biji, bibir beliau bergerak pelan dalam doa yang tidak bisa aku dengar.
Dan di pipinya, satu tetes jatuh.
Pelan. Sunyi. Tanpa suara.
Bukan isak. Bukan tangis yang bisa didengar. Hanya air mata yang mengalir sendiri di pipi seorang ibu yang duduk di tepi kasur anaknya yang pingsan dengan bau alkohol di bajunya, di tengah malam, sendirian, dengan tasbih di tangan.
Di luar, Imam berdiri di teras.
Tidak masuk. Tidak pamit. Hanya berdiri dengan tangan di kepala, menatap lantai, dengan muka orang yang baru menyadari sesuatu yang sudah terlambat untuk diantisipasi.
"Ini salah gue," dia berbisik ke dirinya sendiri.
Lalu dia berbalik, naik motornya, dan pergi dalam diam.
Di dalam kamar, Ibu masih berdoa.
Tasbih berputar. Air mata jatuh. Satu per satu. Pelan dan sunyi seperti hujan yang tidak punya suara.
Dan anaknya tidur tidak sadar di kasur, tidak tahu betapa besar doa yang sedang dipanjatkan untuknya malam itu.
Tidak tahu betapa besar cinta yang tidak pernah minta apa-apa kembali.
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain