Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjerat Ego Masing-Masing
Di kantor tempat Vandini bekerja ...
Vandini duduk di ruangan bosnya, jantungnya berdegup kencang karena antusias. Ia mendapat tawaran promosi jabatan.
"Jadi," lanjut pria itu, "Kami sangat berharap kamu mau terima tawaran ini. Tanggung jawabnya memang lebih besar, tapi peluangnya terbuka lebar. Nanti kamu harus sering dinas luar, seminggu sekali harus menginap."
Vandini mengangguk. Wacana harus bepergian memang sedikit menakutkan, tapi rasa bangga jauh lebih besar. Ini adalah pengakuan atas kerja kerasnya, bukan hanya sebagai ibu atau istri, tapi sebagai dirinya sendiri.
"Vandini? Gimana menurutmu?" tanya Dennis memastikan.
"Kedengarannya luar biasa ... Serius," jawab Vandini dengan senyum lebar. "Aku senang."
"Aku tahu kamu orang yang tepat. Pikirkan dulu kalau perlu, tapi kami rencana umumkan minggu depan."
Saat kembali ke meja kerja, Vandini mulai memikirkan detailnya. Menginap seminggu sekali sebenarnya tidak sering, tapi butuh persiapan matang. Selama ini, urusan rumah tangga dan jadwal anak-anak adalah tanggung jawabnya penuh. Satura memang sayang keluarga, tapi ia tidak terbiasa mengurus hal-hal kecil sehari-hari.
Vandini menatap foto keluarganya di ponsel. Mereka adalah dunianya. Namun, di saat yang sama, ia ingin membuktikan bahwa ia mampu melakukan hal besar untuk dirinya sendiri.
Tapi bagaimana dengan Satura?
Kalau ia menerima ini, beban suaminya pasti akan bertambah drastis.
Apakah Satura sanggup?
Atau bahkan mau mengerti betapa pentingnya kesempatan ini?
Vandini merasa sedikit kesal. Kalau posisinya dibalik, ia yakin Satura tidak akan berpikir dua kali sebelum mengambilnya.
Setelah menghela napas panjang, Vandini menelepon bosnya kembali. Suaranya terdengar tegas.
"Halo, Pak. Saya Vandini. Saya mau bilang kalau saya sangat tertarik. Ini kesempatan luar biasa dan saya rasa saya sudah siap. Saya cuma perlu bahas dulu sama keluarga, tapi saya sangat antusias."
Ia menutup telepon, lalu menatap pantulan dirinya di layar komputer. Untuk pertama kalinya, ia melihat sosok wanita yang punya ambisi besar, sama seperti dirinya yang dulu sebelum menikah.
Maimun, rekan kerjanya, melirik dari mejanya dengan senyum penasaran. Wajahnya tampak antusias mendengar kabar tersebut.
"Ehh bener nggak sih? Kamu naik jabatan?" bisiknya, matanya berbinar-binar.
Vandini tersenyum dan mengangguk pelan. Maimun langsung mencondongkan tubuh, ikut tersenyum lebar.
"Vandini, itu keren banget! Kamu emang pantas dapetinnya, kamu tuh panutan kita di sini," ucapnya semangat. "Aku nggak ngerti gimana caranya kamu bisa atur semua hal. Keluarga, kerjaan ... semuanya lancar aja. Semoga nanti aku bisa kayak kamu juga."
Hati Vandini dipenuhi rasa bangga, namun keraguan perlahan menyelinap. Kekaguman Maimun mengingatkannya pada ambisi masa lalu, sebelum hidup terasa begitu rumit.
Ia membalas senyum itu cepat. Perasaan bangga bercampur dengan tanda tanya besar yang terus berputar di kepalanya.
...***...
Sore harinya ....
Vandini sendirian yang memandikan dan menidurkan anak-anak. Kesabarannya diuji saat memakaikan baju tidur pada Cia yang rewel, serta menenangkan Connan yang protes ingin begadang. Ketika kedua anak itu akhirnya terlelap, energinya sudah habis tak bersisa. Rasa lelah terasa sangat berat di matanya.
Baru saja ia duduk menyantap makan malam yang sudah dingin, terdengar suara pintu terbuka. Satura masuk, melepas jas dengan tatapan kosong. Jam sudah menunjukkan jauh lewat waktu makan malam.
"Kamu pulang malam banget," ucap Vandini santai sambil mengaduk makanannya. "Udah makan?"
Satura mengangguk pelan, menghindari tatapan istrinya. "Iya, aku ... makan di luar sama teman. Ada urusan kantor," jawabnya cepat, suaranya terdengar dipaksakan saat meletakkan kunci mobil.
Vandini memperhatikan gerak-gerik suaminya. Postur tubuhnya terlihat sangat tegang. Pasti hari ini berat baginya.
"Syukurlah kamu udah pulang," kata Vandini dengan senyum tipis, menahan kekesalan karena suaminya makan di luar tanpa kabar. "Sebenernya ada hal penting yang harus kita omongin."
Wajah Satura berubah. Terlihat jelas rasa khawatir dan ketegangan yang tak biasa. Bahunya menegang siap menghadapi sesuatu yang buruk.
Ia mendongak, bertatapan sebentar sebelum kembali membuang muka. "Tentang apa?"
"Aku dapet tawaran promosi jabatan," ucap Vandini, semangatnya kembali membara. "Ini kesempatan besar banget buat karir aku. Nanti ada perjalanan dinas dikit, cuma semalam dua minggu sekali, tapi peluangnya gede banget. Aku seneng banget."
Satura menghela napas panjang, wajahnya langsung berubah masam.
"Perjalanan dinas? Serius?" gumamnya, terlihat kesal. "Kamu kan nggak perlu kerja keras gitu. Kan aku yang harus fokus sama karir. Itu tanggung jawab aku buat jamin kestabilan keluarga."
Semangat Vandini langsung hilang digantikan rasa kecewa yang mendalam. "Bukan soal uang, Satura. Ini soal pengembangan diri, soal dihargai. Aku udah kerja keras banget buat ini," ucapnya, nada suaranya mulai terdengar frustrasi.
Satura mengangkat bahu acuh tak acuh. "Anak-anak masih kecil, Van. Menurut kamu, mereka nggak lebih penting jadi prioritas kita?"
Vandini mengerjap tak percaya. "Memang mereka prioritas utama. Tapi bukan berarti aku nggak bisa punya karir juga. Cuma semalam ... dua minggu sekali, Satura. Kayaknya nggak berlebihan juga kan minta hal kayak gitu?"
Satura kembali menghela napas, gelisah. "Vandini, kayaknya sekarang bukan waktu yang pas buat hal-hal kayak gini. Keuangan kita kan sekarang juga udah cukup baik. Kamu kan bisa fokus aja di rumah dan anak-anak."
Vandini menarik napas dalam, matanya terasa panas menahan air mata. "Aku nggak ninggalin anak-anak, aku cuma minta kesempatan buat ngejar sesuatu yang udah aku perjuangin."
Keheningan langsung menyelimuti mereka. Wajah Satura sulit diterka, sementara Vandini berjuang menahan emosi yang hampir meledak. Semangat pagi tadi hilang tak berbekas.
Tiba-tiba ia merasa kecil, dan semakin kesal. Ia langsung berbalik menghabiskan nasinya. Dulu Satura adalah pendukung terbesarnya. Tapi sekarang?
Vandini menarik napas panjang, lalu menatap suaminya yang berdiri di dekat meja dapur.
"Kayaknya ada masalah yang lebih besar dari ini," ucap Vandini pelan tapi tegas, menatap lurus ke mata suaminya.
Sesaat, Satura menunduk, bahunya kembali menegang siap menerima serangan.
"Apa tuh?" tanyanya berusaha terdengar santai, tapi postur tubuhnya yang kaku tak bisa dibohongi.
Vandini menyadarinya dan perutnya terasa melilit. Ia berharap pembicaraan ini bisa berjalan baik-baik saja. Ia menelan ludah, mencoba menekan firasat buruk.
"Tentang kita," mulanya pelan, matanya tak lepas dari wajah suaminya. "Tentang hubungan kita belakangan ini. Rasanya ... kita bukan lagi satu tim, kayak dulu."
Satura menghela napas pendek, bahunya tampak sedikit melunak.
"Van, aku kan kerja keras buat nafkahin keluarga. Udah kubilang, aku lakuin bagian aku. Dan kamu juga kan ... Kamu juga seneng banget habisin uang yang aku kasih."
Kata-kata itu menghantam Vandini seperti tamparan keras.
Apakah selama ini suaminya menganggap perannya dalam mengurus rumah tangga dan anak lebih rendah nilainya?