NovelToon NovelToon
Ning Moza

Ning Moza

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:517
Nilai: 5
Nama Author: blue_era

Ning Moza yang mendapatkan biasiswa sampai ke jenjang atas dan semuanya terasa tiba tiba ketika Gus Alvaro hadir mengkhitbahnya dan menghalalkan dalam ikatan sakral. Dan masalah seketika menjadi ombak dalam iktan sakral, dengan hadir nya masa lalu keduanya. Gus Alvaro dan Ning Moza.
Bagaimanakah kisah tentang Ning Moza dan Gus Alvaro?!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 dan 5

"Apa ada yang kurang Ning?". Tanya Mbak sari yang sedang membantuku membereskan barang barangku.mbak Sari juga salah satu mbak mbak ndalem, dan sekaligus mbak dalem yang ditugaskan khusus membantuku dalam apapun. Mbak Diana dan mbak Sari adalah mbak mbak ndalem yang ditugaskan umik untuk membantuku dalam keseharianku.

"kayaknya ndak ada mbak"jawabku dengan memeriksa barang barang yang akan ku bawa nanti ke Jakarta.

"Ning Moza" panggil mbak Diana yang berdiri di depan lemari.

"Ini mukenanya dibawa nopo mboten ning? "

"Iya juga nggak papa mbak, soalnya itu mukena dari abah"

"Yaudah, kalo gitu dibawa ya Ning?"

"Iya mbak" Kini kita bertiga sedang disibukkan dengan barang barang yang akan kubawa ke Jakarta.

"Em mbak aku boleh nanya?" Tanyaku dengan menatap mbak Diana dan mbak Sari bergantian.

"Monggo Ning, badhe nanya nopo?" kata mbak Sari.

"Mbak Diana sama mbak Sari tau nggak, tadi yang duduk disamping Bang syafiq?" Tanyaku hati hati.

"Oalah. Mas al toh?" aku hanya mengerutkan kening bingung.

"Tadi itu namanya Mas alvaro Ning, dia itu santri disini juga " jelas mbak Sari.

"Santri disini?" Tanyaku dengan terkejut. Ya aku sangat terkejut. Pasalnya aku tidak pernah melihatnya di pesantren.

"Iya Ning, santri baru. Sampun tujuh hari yang lalu".

"Tujuh hari yang lalu?". Tanya ku lagi.

"Berarti waktu aku di rumah budhe, tapi kemana bertepatan ketika Mas Haidar balik ke Indonesia?. Batinku dalam hati

"injih Ning tujuh hari yang kalau".

"Tapi kenapa aku merasa aneh? Ah itu mungkin hanya perasaanku saja".kataku dalam hati.

"Sudah siap?".tanya Mas Haidar yang sudah berdiri di ambang pintu kamar ku.

"Sudah kok".kataku tersadar dari lamunanku

"Kalo sudah ayo turun sudah di tunggu Abah sama Umik di bawah". Kata Mas Haidar. Ku anggukan kepalaku dan mengikuti Mas Haidar dari belakang.

*****

Ini adalah sarapan pagi terakhirku bersama Abah Umik Mas Haidar Bang Raffi dan Bang Syafiq. Tapi tunggu kenapa dia ada disini juga?. Ah mungkin dia santri baru yang tidak terbiasa dengan lingkungan santri yang makan harus mengantre. Tapi kalau santri baru apakah akan sedekat ini dengan Abah sama Umik?. Aku mencoba untuk tidak peduli walaupun sebenarnya ada yang ganjal.

Setelah sarapan Mbak Diana dan mbak Sari membantuku untuk mengangkat barang barang ku de dalam mobil. Abah sama Umik memenag tidak bisa ikut mengantarkan ku dan Bang Raffi. Karena belau sedang kedatangan tamu. Aku ke Jakarta tidak hanya sendiri melainkan dengan Bang Raffi. Berhubung Bang Raffi juga melanjutkan S2 nya di Jakarta jadi sekalian saja kami berangkat bareng.

"Hati hati disana, Nduk. Maaf Abah sama Umik ndak bisa nganter kamu ke bandara".kata Umik

"mboten nopo nopo mik, ridho nya Abah sama Umik jauh lebih penting untuk Moza. Semoga Moza di betahkan disana".kataku dengan mata ku yang sudah berkaca kaca.

Umik memeluk ku erat, seketika air mataku jatuh tanpa sungkannya karena aku tidak bisa menahan Bendungan air mata ku. Aku pasti akn merindukan pelikan Umik yang selalu membuat ku merasa tenang.

"Sudah jangan nangis" kata umik dengan melepaskan pelukan kami dan menghapus air membuat ku merasa tenang.

"Sudah jangan nangis" kata umik dengan melepaskan pelukan kami dan menghapus air mataku.

"Abah".panggilku lalu ku hamburkan tubuhku ke dalam pelukan Abah. Pelukan yang selalu membuat ku merasakan kenyamanan. YaAllah hamba pasti akan rindu dengan pelukan Abah dan Umik. Aku yakin kemeja putih yang dikenakan Abah pasti basah karena air mataku yang tanpa sungkannya mengalir deras.

Tangisku semakin deras ketika Abah melafalkan doa untukku.

*****

Sampainya di bandara Mas Haidar dan Bang Syafiq tidak langsung pulang melainkan menunggukku dan Bang Raffi sampai naik kami pesawat. Tunggu kenapa dia ada disini juga. Ada apa sebenarnya? Dan siapa dia sebenarnya?. Pikiranku penuh dengan tanda tanya tentang santri Abah itu. Entahlah aku tidak perlu memikirkan dia.

*****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!