Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Posesif Mode On
Matahari Bali sudah naik cukup tinggi, menembus celah-celah gorden vila dengan cahaya yang begitu terik, seolah menertawakan Aneska yang masih terkapar tak berdaya di balik selimut sutra. Di sampingnya, Arga sudah duduk bersandar pada headboard ranjang, tampak segar bugar dengan laptop di pangkuannya—kembali menjadi CEO dingin, jika saja tangannya yang satu lagi tidak sibuk mengelus paha Aneska di balik selimut.
Aneska mengerang pelan, mencoba membalikkan badannya, namun rasa kaku di pinggangnya membuat ia kembali mengumpat. "Arga... gue benci lo. Gue beneran benci sama lo."
Arga menutup laptopnya pelan, lalu menunduk untuk mengecup puncak kepala istrinya yang berantakan. "Pagi, Nyonya Sebasta. Suara lo masih serak ya? Efek teriak-teriak nonton drakor semalam, atau efek... yang lain?"
Aneska menarik bantal dan menutupi wajahnya yang memerah. "Efek lo yang kayak binatang buas! Gila ya, gue kira abis nikah lo bakal kalem dikit. Ternyata makin-makin! HP gue mana?! Balikin nggak?!"
Arga tertawa rendah, ia menarik bantal yang menutupi wajah Aneska. "HP disita sampai kita selesai sarapan. Lagian, buat apa HP? Feed Instagram lo nggak bakal lari, dan temen mabar lo itu si... siapa tadi? Satria? Dia bisa main sendiri tanpa lo."
"Gue mau cek grup kantor! Pasti mereka lagi gosipin gue yang nggak muncul-muncul di grup!" Aneska mencoba bangkit, namun kakinya terasa seperti jeli. Ia langsung terduduk kembali dengan wajah merengut. "Arga... sakit banget. Ini semua gara-gara lo yang nggak punya rem! Gue mau jalan-jalan ke pantai, gimana caranya kalau berdiri aja gue gemeteran?!"
Arga meletakkan laptopnya di nakas, lalu ia merangkak mendekati Aneska, mengurung tubuh gadis itu dengan kedua lengannya. Tatapannya berubah dari manja menjadi sangat dominan.
"Tinggal bilang, 'Mas Arga, tolong gendong aku'. Apa susahnya?" goda Arga sambil mencium ujung hidung Aneska.
"Dih, ogah! Gue punya kaki sendiri!" Aneska mencoba berontak, tapi Arga justru semakin mendekatkan wajahnya.
"Kaki yang lagi gemeteran itu? Yakin?" Arga menyeringai nakal. "Lo tahu nggak, Nes? Semalam itu gue beneran cemburu. Lo lebih mentingin HP daripada gue yang udah telanjang di depan lo. Jadi, rasa sakit itu... anggap aja hukuman biar lo inget siapa prioritas lo yang sebenernya."
Aneska mendengus, tangannya mencubit dada bidang Arga dengan gemas. "Lo itu manja banget ya jadi cowok! CEO kok haus perhatian begini! Posesif banget, barang gue aja dipelototin, HP gue disita. Nanti lama-lama napas gue juga lo batesin?!"
"Kalau bisa, gue pengen lo cuma hirup udara yang ada di sekitar gue doang," sahut Arga tanpa rasa bersalah. Ia menarik dagu Aneska, memaksa gadis itu menatap matanya. "Lo itu milik gue, Anes. Dari ujung rambut sampai ujung kaki yang lagi pegel itu. Paham?"
Aneska tidak menjawab, ia hanya bisa terdiam saat Arga kembali menyerangnya dengan ciuman pagi yang panjang dan dalam. Sisi cuek Aneska selalu saja kalah telak jika Arga sudah mengeluarkan aura "Alpha"-nya seperti ini.
Satu jam kemudian, Aneska akhirnya menyerah. Ia terpaksa membiarkan Arga menggendongnya menuju meja makan di tepi kolam renang privat mereka. Aneska mengenakan sundress tipis, sementara Arga hanya mengenakan celana pendek santai.
"Aduh, pelan-pelan turuninnya! Masih perih tau!" omel Aneska saat Arga mendudukkannya di kursi kayu.
"Iya, Sayang. Bawel banget sih istrinya om-om ini," jawab Arga sambil mengacak rambut Aneska. Ia kemudian duduk di hadapan Aneska, menuangkan kopi, lalu menatap leher Aneska dengan puas.
Aneska yang merasa diperhatikan, langsung meraba lehernya. Ia segera mengambil sendok sebagai cermin darurat. "ARGA!!!!"
"Kenapa lagi?"
"Ini apa?! Banyak banget tanda merahnya! Sampe ke tulang selangka lagi! Gue mau pake baju apa kalau begini?! Orang-orang bakal tahu kita ngapain aja semalam!" Aneska panik, mencoba menutupi lehernya dengan rambut panjangnya.
Arga justru menyesap kopinya dengan sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Memang itu tujuannya. Biar semua bule-bule di pantai nanti tahu kalau lo udah ada yang punya. Jadi mereka nggak akan berani godain lo pas gue lagi pesen minum."
"Lo bener-bener gila ya, Arga! Gue malu!"
"Nggak perlu malu. Harusnya lo bangga, itu tanda kalau suami lo sangat bersemangat," jawab Arga santai. "Oiya, soal Satria..."
Aneska menghentikan suapannya. "Kenapa sama Satria?"
"Gue udah minta Linda buat pindahin dia ke divisi lain yang lebih sibuk. Biar dia nggak punya waktu buat ngajak lo mabar lagi," ucap Arga dengan nada yang sangat datar, seolah sedang membahas cuaca.
Aneska melongo. "LO MINDAHIN ORANG CUMA GARA-GARA GAME?! Arga, lo keterlaluan banget!"
"Nggak ada yang keterlaluan buat ngejagain ketenangan rumah tangga gue," Arga berdiri, berjalan memutari meja, lalu memeluk Aneska dari belakang. Ia berbisik tepat di telinga Aneska yang memerah. "Sekarang, sarapannya diabisin. Habis itu kita ke pantai. Tapi inget, lo nggak boleh jauh-jauh dari gue. Dan kalau ada cowok yang liatin lo lebih dari tiga detik, gue bakal langsung kasih lo 'tanda' baru di depan mereka. Ngerti?"
Aneska hanya bisa menghela napas panjang, memasukkan potongan buah ke mulutnya dengan dongkol. "Iya, Tuan Besar Argani yang Posesif. Gue bakal nempel kayak prangko biar lo puas!"
Arga terkekeh, mencium pipi Aneska dengan gemas. "Anak pintar. Gini kan enak, nggak perlu ada drama sita HP lagi."
Aneska dalam hati mengumpat, tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa sikap posesif dan manja Arga—meskipun sangat menyebalkan—membuatnya merasa menjadi wanita yang paling diinginkan di seluruh dunia. Ternyata, menikah dengan "perjaka tua" yang hyper perhatian itu memang melelahkan, tapi juga... sangat candu.