"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai blackout di kamar utama. Runa mengerjap, merasakan tubuhnya jauh lebih hangat dan ringan dibandingkan semalam. Namun, hal pertama yang ia rasakan adalah beban berat yang melingkar di pinggangnya.
Azel masih di sana. Pria itu tertidur dalam posisi duduk bersandar pada headboard ranjang, dengan tangan kanan yang masih menempel di atas botol kompres di perut Runa, sementara tangan kirinya menggenggam jemari Runa erat. Kemejanya sudah sangat kusut, dan beberapa kancing atasnya terbuka, memperlihatkan gurat kelelahan yang nyata.
Runa mencoba bergerak sedikit, namun gerakan sekecil itu sudah cukup untuk membuat mata tajam Azel terbuka seketika.
"Jangan bangun dulu," suara Azel serak khas orang bangun tidur, namun nadanya tetap penuh perintah. Ia langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Runa. "Gimana? Masih sakit? Pusing? Mau muntah?"
Runa tersenyum kecil, merasa hatinya menghangat. "Udah mendingan banget, Zel. Kamu... kamu nggak tidur beneran ya semalam?"
Azel tidak menjawab. Ia justru meraih ponselnya yang tergeletak di nakas, membuka folder keramatnya, dan mulai mengetik dengan cepat. Runa hanya bisa melirik, menebak-nebak apa lagi yang dicatat suaminya itu.
Runa’s Manual Book: Pemulihan Hari Kedua
Catatan: Pukul 06.30. Warna kulitnya mulai kembali (tidak lagi pucat seperti mayat). Kesimpulan: Penanganan darurat semalam berhasil 85%.
Instruksi: Jangan biarkan dia menyentuh air dingin. Mandikan dengan air hangat atau cukup dilap jika dia masih lemas.
Menu Wajib: Bubur ayam tanpa santan, teh kamomil, dan buah pepaya (untuk pencernaan).
Peringatan: Dia sudah mulai bisa tersenyum, artinya dia akan mulai menawar untuk masuk kerja. Tolak. Gunakan otoritas suami jika dia membantah.
"Zel, aku denger ya suara ketikan kamu," goda Runa pelan. "Aku udah sehat, kok. Hari ini pengawasan ujian kelas 6, aku nggak enak kalau nitip terus sama Bu Ratna."
Azel meletakkan ponselnya, lalu menatap Runa datar. "Aku sudah bilang kemarin, Runa. Kamu tetap di sini. Pak Haris sudah aku telepon secara pribadi. Aku sudah mengirimkan sepuluh paket catering mewah untuk guru-guru di sana sebagai kompensasi karena kamu 'bolos'. Jadi, tidak ada alasan untuk merasa nggak enak."
Runa terbelalak. "Sepuluh paket? Zel! Kamu berlebihan banget, nanti mereka mikir apa tentang aku?"
"Mereka akan mikir kalau suamimu sangat kaya dan sangat posesif. Itu fakta, bukan?" Azel bangkit, menarik selimut Runa lebih rapat. "Sekarang, tunggu di sini. Aku akan ambilkan sarapan."
"Zel, tunggu!" Runa menahan lengan Azel. "Soal Glenka... dan berita itu... apa benar-benar sudah selesai?"
Azel berhenti, rahangnya mengeras sesaat sebelum ia kembali menatap Runa dengan tatapan lembut yang jarang ia tunjukkan pada dunia. "Semalam, tim hukumku sudah memproses penutupan akun-akun penyebar fitnah itu. Dan soal Glenka... ayahnya baru saja meneleponku pagi ini, memohon agar aku tidak memutus kontrak kerjasama pembangunan hotel di Bali."
"Terus kamu jawab apa?" tanya Runa was-was.
"Aku jawab: 'Putrimu membuat istriku sakit perut. Dan biaya pengobatan mental istriku jauh lebih mahal daripada hotelmu itu.'"
Runa menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya. "Kamu beneran ngomong gitu? Zel, itu kan proyek triliunan!"
Azel membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan Runa hingga hidung mereka bersentuhan. Aroma maskulin Azel yang bercampur sedikit wangi kopi membuat jantung Runa berpacu.
"Denger ya, Runa Elainzica. Uang bisa aku cari lagi dalam hitungan jam. Tapi ketenanganmu? Itu aset paling berharga di hidupku. Kalau aku nggak bisa ngelindungin kamu dari wanita gatal kayak Glenka, buat apa aku jadi CEO?"
Runa terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia menarik leher Azel dan memeluknya erat. "Makasih ya, Zel. Makasih udah selalu milih aku, meskipun aku sering ngerasa nggak pantes."
Azel membalas pelukan itu, mengusap punggung Runa dengan sayang. "Berhenti ngomong nggak pantes. Di mataku, kamu itu pemilik saham mayoritas. Nggak ada yang bisa takeover posisi kamu. Ngerti?"
Runa mengangguk di pundak Azel. "Ngerti, Tuan CEO."
"Bagus. Sekarang, karena kamu sudah berani membantah soal kerja tadi, hukumannya adalah kamu harus habiskan satu mangkuk besar bubur buatan koki rumah sakit yang aku pesan khusus," Azel melepas pelukannya dan menjentikkan dahi Runa pelan.
"Hah? Bubur rumah sakit? Nggak enak dong, Zel!" protes Runa manja.
"Enak atau nggak, itu instruksi pagi ini. Jangan tawar-menawar dengan Dazello Zelbarra, Sayang."
Azel berjalan keluar kamar dengan langkah angkuh namun ada binar kemenangan di matanya. Sementara Runa bersandar pada bantal, menatap punggung suaminya dengan senyum lebar. Ia baru sadar, menjadi "proyek utama" dalam hidup Azel ternyata adalah hal paling membahagiakan yang pernah ia miliki.
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣