Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Kegelapan bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya bagi Jeff Feel-Lizzie. Kegelapan telah menjadi musuh yang nyata, sesuatu yang berwujud dan menyesakkan, seolah-olah dinding beton ruangan itu perlahan-lahan merapat untuk menghancurkan tulang-tulangnya.
Di dalam ruangan kedap suara yang tersembunyi entah di mana, Jeff meronta dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Pergelangan tangannya yang terikat pada kursi besi sudah lecet dan berdarah, namun ia tidak peduli. Rasa anyir yang kuat—campuran antara darah lama, karat, dan lembapnya udara bawah tanah—memenuhi rongga hidungnya.
"LEPASKAN AKU! SIAPA KAU, HAH?! KELUAR!!!"
Teriakan Jeff bergema di ruangan sempit itu, namun hanya dipantulkan kembali oleh dinding-dinding yang dingin.
Sudah dua hari ia berada di sini. Dua hari tanpa melihat wajah manusia. Dua hari dalam isolasi total yang hampir membuatnya gila. Satu-satunya sumber "kehidupan" di sana hanyalah sebuah lampu bohlam kuning kecil yang tergantung rendah di sudut langit-langit, memberikan cahaya remang yang justru membuat bayangan di ruangan itu tampak seperti monster yang mengintai.
Jeff menjilat bibirnya yang pecah dan kering. Rasa haus yang luar biasa menyiksa tenggorokannya, seolah-olah ia baru saja menelan segenggam pasir panas. Dua hari tanpa makanan adalah siksaan, namun dua hari tanpa setetes air pun adalah neraka. Setiap kali ia mencoba menelan ludah, yang ada hanyalah rasa perih yang menusuk.
"Minum... beri aku minum..." rintihnya, suaranya kini hanya berupa bisikan parau yang nyaris hilang.
Namun, di tengah penderitaan fisiknya, pikiran Jeff tetap liar. Ia mencoba mengingat kembali detik-detik sebelum ia ditarik ke dalam kegelapan ini. Seseorang telah memukulnya dari belakang saat ia hendak masuk ke mobilnya, sehari setelah ia meninggalkan Elowen yang bersimbah darah.
Ia mendengus, tawa kering dan menyakitkan keluar dari tenggorokannya. "Hahaha... Elowen."
Dalam delusinya, Jeff membayangkan bahwa saat ini seluruh kota sedang berduka. Ia yakin Elowen telah mati. Ia telah melewatkan pemakaman gadis itu, satu hal yang seharusnya menjadi puncak kemenangannya—berdiri di depan nisan Elowen dengan wajah sedih yang palsu untuk mengejek keluarga Valerio.
"Siapa pun kau yang menahanku... kau akan menyesal," geramnya. Pikiran Jeff kemudian melayang pada Ezzra. "Dan kau, Ezzra... kau pasti sedang mendekam di penjara, menangis seperti pecundang. Ayahmu tidak akan pernah melepaskanmu. Kau bukan siapa-siapa tanpa ketiak ibumu, berandal sialan."
Jeff merasa puas. Setidaknya, meski ia terkurung di sini, ia yakin telah menghancurkan hidup dua orang yang paling ia benci. Baginya, Ezzra masih berada di balik jeruji besi, menanggung fitnah narkoba yang ia susun dengan begitu rapi. Ia tidak tahu bahwa dunia di luar sana sudah berputar ke arah yang sama sekali tidak ia duga.
Sementara itu, di sebuah rumah sakit dengan penjagaan paling ketat, Ezzra Velasquez tampak seperti harimau yang terluka. Ia berdiri di samping ranjang Elowen, menatap wajah gadis itu yang masih terlelap di bawah pengaruh obat-obatan pasca-operasi. Wajah Elowen yang memar adalah pengingat harian bagi Ezzra tentang kegagalannya melindungi wanita yang ia cintai.
BRAKK!
Ezzra menendang nakas di samping tempat tidur dengan keras, membuat vas bunga di atasnya bergetar hebat. Di ambang pintu, Kai, Mike, dan Suarez berdiri dengan wajah pucat.
"MANA DIA?! KENAPA KALIAN TIDAK BISA MENEMUKANNYA?!" raung Ezzra. Matanya merah, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena api kemarahan yang membakar kewarasannya.
"Ez, tenanglah. Kami sudah menyisir setiap sudut kota. Bar, apartemen rahasia, gudang milik keluarga Feel-Lizzie... semuanya kosong," ucap Kai dengan nada rendah, mencoba menenangkan sahabatnya.
"DIA TIDAK MUNGKIN MENGUAP BEGITU SAJA!" Ezzra mencengkeram kerah baju Kai, menariknya hingga wajah mereka hampir bersentuhan. "Cari dia! Aku tidak peduli bagaimana caranya! Aku ingin kepalanya di tanganku sekarang juga!"
"Ez, ingat pesan Logan Valerio," Mike menimpali dari belakang. "Keluarga Valerio sudah melibatkan kepolisian secara resmi. Jika kau bertindak gila sekarang, kau hanya akan memberikan alasan bagi mereka untuk menjebloskanmu kembali ke penjara."
Ezzra melepaskan cengkeramannya pada Kai dengan kasar. Ia berbalik, menatap Elowen kembali. "Polisi? Persetan dengan polisi. Mereka hanya bicara soal prosedur saat wanita ku hampir mati. Di mana kau bersembunyi, Jeff bajingan?! Aku akan menemukanmu... dan saat itu terjadi, kematian akan terasa seperti anugerah bagimu."
...****************...
Di markas besar kepolisian, suasana tidak kalah tegang. Logan Valerio, Felix, dan Alvaro berdiri di depan meja komisaris. Di layar monitor besar di depan mereka, terputar rekaman CCTV yang diambil dari lorong apartemen Elowen.
Dalam rekaman itu, terlihat jelas Jeff Feel-Lizzie masuk menggunakan kode akses, lalu beberapa jam kemudian ia keluar dengan senyum puas setelah sebelumnya melakukan tindakan kekerasan yang mengerikan. Bukti itu mutlak. Surat perintah penangkapan untuk Jeff sudah dikeluarkan dengan status "Sangat Berbahaya".
"Hasilnya tetap nihil, Tuan Valerio," ucap sang Komisaris dengan nada berat. "Kami sudah mencekal semua akses bandara dan pelabuhan. Jeff tidak meninggalkan negara ini secara resmi. Orang tuanya pun sudah kami interogasi."
"Orang tuanya adalah tikus yang mencoba lari," desis Felix dengan suara dingin. "Mereka berniat kabur ke luar negeri pagi ini jika kita tidak mencegat mereka."
"Mereka malu karena putra 'teladan' mereka ternyata seorang sosiopat," tambah Alvaro. "Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah adikku hampir kehilangan nyawanya, dan bajingan itu masih menghirup udara bebas."
Keluarga Feel-Lizzie memang sedang berada di titik nadir. Nama baik yang mereka bangun selama puluhan tahun hancur dalam semalam. Jeff, yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga, kini menjadi buronan paling dicari. Namun, yang membuat semua orang bingung—termasuk polisi dan keluarga Valerio—adalah fakta bahwa Jeff benar-benar hilang tanpa jejak.
Ia tidak menggunakan kartu kreditnya. Ia tidak menghubungi siapa pun. Ia seolah-olah ditelan oleh bumi tepat setelah ia keluar dari lift apartemen Elowen.
Kembali ke ruangan kedap suara itu.
Jeff mulai berhalusinasi. Ia merasa melihat Elowen berdiri di sudut ruangan, mengenakan gaun putih yang kini perlahan berubah menjadi merah karena darah. Ia mencoba berteriak, namun suaranya hanya berupa desisan kering.
"Kau... kau sudah mati..." igau Jeff.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang berat di luar ruangan. Langkah itu lambat, berirama, dan sangat tenang. Suara kunci diputar di pintu besi itu terdengar sangat nyaring, seolah-olah suara itu adalah petir di tengah keheningan yang panjang.
Jeff mendongak dengan susah payah. Matanya yang pedih mencoba fokus pada pintu yang perlahan terbuka. Sebuah celah cahaya dari luar menusuk matanya, membuatnya terpaksa memejamkan mata sesaat.
Sesosok bayangan berdiri di ambang pintu. Orang itu tidak masuk, ia hanya berdiri di sana, membiarkan Jeff melihat siluetnya yang mengintimidasi. Bau anyir di ruangan itu seolah bereaksi dengan kehadiran sosok ini, menciptakan suasana yang kian mencekam.
"Si... siapa...?" Jeff berbisik, tubuhnya gemetar hebat.
Tidak ada jawaban. Hanya suara pintu yang kembali ditutup dengan bantingan keras, meninggalkan Jeff dalam kegelapan yang kini terasa jauh lebih menakutkan dari sebelumnya.
Jeff tidak tahu siapa yang menahannya, namun satu hal yang pasti: orang ini tidak ingin Jeff mati dengan cepat. Orang ini ingin Jeff merasakan setiap detik dari penderitaan.
Di luar ruangan itu, dunia masih sibuk mencari Jeff Feel-Lizzie. Polisi mencarinya untuk keadilan, Ezzra mencarinya untuk dendam, dan keluarga Valerio mencarinya untuk kehormatan. Namun, Jeff berada di sebuah tempat di mana hukum tidak berlaku, dan di mana rasa sakit adalah satu-satunya mata uang yang diterima.
Siapa pun penculiknya, ia adalah seseorang yang memiliki akses yang tak tersentuh, seseorang yang bekerja di balik bayang-bayang dengan presisi yang mematikan. Dan bagi Jeff, siksaan ini baru saja mencapai babak pembuka.
Satu pertanyaan yang terus berputar: Jika Jeff tidak berada di tangan polisi, dan tidak berada di tangan Ezzra... maka di tangan siapakah sang iblis berwajah malaikat itu sekarang?
Satu hal yang pasti, malam ini, Jeff Feel-Lizzie tidak akan bisa tidur. Karena di kegelapan itu, ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kematian: yaitu tetap hidup dalam genggaman seseorang yang membencimu lebih dari apa pun di dunia ini.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...