Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: DUSTA YANG MENYELAMATKAN
Malam itu, apartemen terasa lebih luas dan lebih dingin dari biasanya.
Reihan sudah tertidur di kamar sebelah, kelelahan setelah seharian berurusan dengan dokter dan dewan komisaris.
Namun Laluna, masih terjaga di ruang tengah yang hanya diterangi lampu temaram. Di pangkuannya, amplop emas tua dari Kakek Surya terasa seberat bongkahan timah.
Dengan tangan gemetar, ia membuka isinya. Lembar demi lembar dokumen hukum yang sudah menguning itu memaparkan kebenaran yang mengerikan.
Ada surat pernyataan dari almarhum kakeknya, Wijaya, yang ditulis dengan tangan gemetar, mengakui bahwa ia menerima fitnah tersebut hanya karena nyawa Laluna yang saat itu masih berusia satu tahun terancam.
Di lembar terakhir, terdapat sertifikat pengalihan saham sebesar 15% dari kepemilikan pribadi Kakek Surya kepada ibunda Laluna, yang secara otomatis jatuh ke tangan Laluna sebagai ahli waris tunggal.
15% saham Arta Wiguna.
Jumlah itu cukup untuk menjadi penentu suara dalam rapat direksi. Jika Laluna menggunakan ini, ia bisa menggulingkan siapapun, atau justru menyelamatkan Reihan dari serangan dewan yang masih meragukannya.
Namun, dokumen ini juga adalah bukti bahwa Kakek Surya, pria yang selama ini dianggap Reihan sebagai pelindung terakhirnya, adalah dalang di balik penderitaan keluarga Wijaya.
"Kenapa kau belum tidur?"
Suara rendah Reihan mengejutkan Laluna.
Ia segera menyelipkan dokumen itu ke bawah bantal sofa, namun ia tahu ia terlambat. Reihan berdiri di ambang pintu kamar, menatapnya dengan mata yang menyipit penuh kecurigaan.
"Hanya... kepikiran soal Kakek," jawab Laluna, berusaha menstabilkan detak jantungnya.
Reihan berjalan mendekat, duduk di samping Laluna.
Aroma sabun maskulinnya yang khas biasanya menenangkan, namun kali ini justru membuat Laluna merasa semakin bersalah.
"Kakek mengatakan sesuatu yang lain padamu di rumah sakit, bukan?" tanya Reihan.
Ia meraih tangan Laluna, menggenggamnya erat.
"Laluna, sejak kita berjanji untuk jujur di Singapura, aku berjanji tidak akan ada lagi dinding di antara kita. Jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakan."
Laluna menatap mata Reihan.
Ia melihat ketulusan yang murni di sana. Jika ia bicara sekarang, Reihan akan tahu bahwa kakeknya adalah penjahat yang sesungguhnya.
Reihan yang baru saja menemukan kedamaian akan hancur kembali. Kebenciannya pada keluarga Wijaya mungkin akan hilang, tapi kebenciannya pada darah Arta Wiguna akan meledak dan menghancurkan dirinya sendiri.
Laluna harus memilih, kejujuran yang menghancurkan, atau dusta yang melindungi.
"Kakek... dia hanya meminta maaf padaku, Reihan. Dia merasa bersalah karena telah memaksaku masuk ke dalam pernikahan kontrak ini sejak awal," ucap Laluna, memberikan senyum kecil yang dipaksakan.
"Dia ingin aku berjanji untuk tidak meninggalkanmu, apa pun yang terjadi pada perusahaan."
Reihan menghela napas panjang, tampak lega.
Ia menarik Laluna ke dalam pelukannya, menyandarkan dagunya di kepala Laluna.
"Pria tua itu memang keras kepala. Dia tidak perlu memintamu untuk itu. Aku yang akan mematikan mesinnya jika dia berpikir aku akan membiarkanmu pergi lagi."
Laluna memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan Reihan, sementara tangannya masih meraba pinggiran amplop di bawah bantal. Ia memutuskan. Ia tidak akan memberitahu Reihan tentang dokumen ini sekarang.
Ia akan menyimpannya sebagai senjata rahasia. Jika nanti musuh-musuh Reihan menyerang, ia akan menggunakan 15% saham ini untuk melindungi suaminya tanpa perlu memberitahu dari mana asalnya.
Keesokan paginya, Laluna memutuskan untuk menemui Pak Baskoro secara diam-diam. Ia meminta pengacara itu menemuinya di dapur "Khay Bakery" sebelum toko dibuka.
"Nyonya Laluna, Anda sudah membaca isinya?" tanya Baskoro sambil menyesap kopi hitam tanpa gula.
"Kenapa Kakek Surya memberikan ini padaku sekarang? Kenapa tidak saat kami menikah?" tanya Laluna tajam.
"Karena saat Anda menikah, Kakek Surya belum yakin Anda akan mencintai Reihan. Dia takut jika Anda memegang saham ini saat masih membenci Reihan, Anda akan menggunakannya untuk menghancurkan Arta Wiguna sebagai balas dendam keluarga Wijaya," jawab Baskoro lugas.
"Sekarang, situasinya berbeda. Danu telah membuka kotak Pandora. Musuh-musuh lain akan mulai bermunculan. Anda adalah benteng terakhir Reihan."
"Siapa musuh yang Anda maksud?"
Baskoro meletakkan cangkirnya, tatapannya menjadi sangat serius.
"Ada faksi di dalam dewan yang dipimpin oleh seseorang bernama Tuan Malik. Dia adalah pemegang saham terbesar kedua setelah keluarga Arta.
Dia sudah lama ingin mengambil alih posisi CEO. Dan dia tahu tentang keterlibatan Kakek Surya dalam kecelakaan itu. Dia berencana menggunakan informasi itu untuk memeras Reihan agar mundur minggu depan."
Laluna mengepalkan tangannya.
"Jadi, aku harus menggunakan saham ini untuk melawan Tuan Malik?"
"Ya. Tapi Anda harus melakukannya dalam diam. Jika Reihan tahu asal-usul saham ini, dia akan menolak menggunakannya karena rasa harga dirinya yang tinggi. Anda harus menjadi silent partner di balik layar."
Laluna mengangguk.
Strateginya jelas. Ia akan kembali ke dapur, tetap menjadi baker yang "hanya tahu soal tepung dan gula", sementara di balik layar, ia akan mulai menggerakkan bidak caturnya untuk melindungi pria yang ia cintai.
Namun, saat Baskoro pergi, Laluna menyadari satu hal yang ia lupakan. Ia tidak sengaja meninggalkan apronnya di meja, apron yang di sakunya terdapat catatan kecil dari Kakek Surya.
Seorang karyawan baru, yang selama ini bekerja dengan sangat tenang dan rajin, mengambil apron itu. Ia membaca catatan singkat tersebut, lalu mengeluarkan ponselnya.
"Laluna sudah tahu tentang 15% itu. Dan dia bersekutu dengan Baskoro," lapor karyawan itu dengan suara rendah.
Di seberang telepon, suara berat Tuan Malik terdengar tertawa.
"Bagus. Biarkan gadis itu merasa dia sedang memegang kendali. Saat dia melangkah masuk ke ruang rapat minggu depan, kita akan tunjukkan padanya bahwa tepung tidak akan pernah bisa mengalahkan baja."
Perang di Arta Wiguna baru saja memasuki babak yang paling licik. Laluna bukan lagi sekadar saksi, ia kini adalah pemain utama yang berdiri di atas tipisnya garis antara kesetiaan dan pengkhianatan.