“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Ridho menatap testpack yang disodorkan itu, matanya tak menunjukkan sedikit pun kejutan. Malah, ada nada dingin yang menguap dari dalam dirinya.
“Hamil?” ucapnya perlahan, suara penuh keraguan. “Setelah semua kebohongan yang kamu lakukan selama ini, kamu berpikir aku akan percaya begitu saja?”
Dewi terkejut. Wajahnya memucat, tapi segera digantikan oleh ekspresi tersiksa. “Mas Ridho… kenapa kamu tidak percaya padaku? Ini bukti nyata!” Dia mengangkat testpack lebih tinggi, jari-jarinya menggenggamnya sampai putih. "Bukti kalau aku hamil. Test pack ini!"
Ridho tertawa getir.
“Bukti yang bisa dibuat dengan mudah, Dewi,” jawab Ridho dengan tenang yang menyakitkan. “Kamu pernah berbohong. Kebohongan besar yang mengubah hidupku, sampai aku menikah dengan mu. Sekarang kamu muncul dengan testpack ini—apa kamu kira aku akan percaya begitu sajaa?”
"Mas!"
Dewi mundur setengah langkah, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak bohong, Mas! Benar-benar aku hamil anak kamu!”
Tangannya menggenggam ujung roknya, tubuhnya sedikit menggigil. “Kenapa kamu berubah. Dulu kamu enggak begini!”
"Aku berubah karena kamu. Karena kebohonganmu terungkap. Aku sudah ingat semua, Wi. Semua!"
Dewi menyisir rambutnya ke belakang, merasa sedikit frustasi. "Itu tidak akan mengubah ini anakmu."
Ridho menghela napas panjang, rasanya sudah tak tahan dengan drama yang terus berulang. “Baiklah, jika kamu bersikeras.”
Sedikit, wajah Dewi melunak. Sepertinya, Ridho percaya.
"Ayo!"
Dewi tersenyum.
"Kita ke dokter. Kamu hamil kan? Kita harus cek USG."
Kata itu seperti kilat yang menyambar Dewi. Wajahnya menjadi lebih pucat, bahkan bibirnya mulai bergetar tak terkendali. Ia tak bisa menjawab, hanya berdiri tertegun sambil menatap Ridho dengan mata penuh air mata.
“Kenapa? Bukankah kamu hamil. Harusnya ini kesempatan kan? Atau...” ucap Ridho dengan nada yang semakin dingin. “Kamu takut? Karena semua ini hanya tipuan lagi.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan mulai berjalan menjauhi parkiran. Kakinya mantap, walau hatinya masih terasa luka akibat pertemuan dengan Ning tadi pagi.
“Mas Ridho jangan pergi!” teriak Dewi, tangisannya mulai pecah. Ia berlari mengejar, namun kemudian lututnya terasa lemah dan ia jatuh di tengah jalan. “Kamu tidak bisa meninggalkanku seperti ini! Aku mencintaimu, Mas!”
Ridho berhenti sejenak, tapi tak pernah menoleh. Suara tangisan Dewi terdengar jelas di telinganya, tapi ia tahu, jika ia kembali sekarang, maka siklus yang menyakitkan ini akan terus berlanjut. Tanpa berkata apa-apa, ia melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobilnya. Mesin mobil menyala, dan dalam sekejap, ia menghilang dari pandangan Dewi.
Dewi meronta-ronta di atas aspal, tangisannya semakin memekakkan telinga. Ia memejamkan mata, dan dalam hati yang penuh amarah, semua kesalahan dia kaitkan pada satu nama saja. “Ning… semuanya karena kamu! Kalau bukan karena kamu, Mas Ridho akan mencintaiku sepenuhnya!”
****
Di kantor pusat perusahaan keluarga Yuda, ruang rapat masih penuh dengan suara presentasi. Yuda duduk di kursi kepala meja rapat, wajahnya tampak fokus mengikuti penjelasan karyawannya yang sedang berdiri di depan layar proyektor. Namun sebenarnya, matanya sering menyelinap ke arah layar laptopnya yang berada di bawah meja.
“…jadi dengan strategi pemasaran ini, kami memperkirakan pertumbuhan penjualan akan naik sekitar 15% pada kuartal depan, Pak Yuda,” ucap karyawannya dengan penuh keyakinan.
Yuda mengangguk sebentar, lalu mengangkat tangan. “Baik, terima kasih. Silakan lanjutkan ke poin berikutnya.”
Sementara karyawan itu beralih ke slide selanjutnya, Yuda diam-diam membuka tab tersembunyi di laptopnya—yang menampilkan tampilan CCTV dari kontrakan tempat dia dan Ning tinggal.
Layar menunjukkan ruang dapur yang rapi. Ning sedang berdiri di depan kompor, mengenakan baju rumah yang sederhana. Tangannya yang satu sedang mengocok wajan, sementara yang lain menopang tubuhnya pada kruk yang selalu ia bawa.
Hari ini, Yuda memang sengaja tidak memperkerjakan dulu pelayan khususnya. Sesekali dia biarkan Ning melakukan biar tak curiga.
"Hiiiihh, istriku ini kok nggak bisa diam sebentar," gumamnya lagi.
Yuda melihatnya dengan mata yang penuh kasih sayang. “Cantiknya kamu, sayang,” gumamnya dalam hati. Rasa rindu yang tiba-tiba muncul membuatnya ingin segera pulang dan membantu Ning memasak.
"Kamu masak apa, sih? Bikin penasaran saja."
Di sudut lain, Pak Bram sedang mengamatinya.
"Bagus, dia makin serius sama posisi ini. Dengan ini aku bisa pastikan dia jadi penerus..." gumamnya seraya memperhatikan Yuda yang tampak serius mengikuti rapat, dan mengira anaknya sedang fokus pada perkembangan bisnis perusahaan. Ia tak pernah menyangka, bahwa laptop Yuda sedang menampilkan gambar istrinya yang sedang memasak di rumah.
“Pak Yuda, apakah ada masukan dari Anda?” tanya karyawan yang sedang mempresentasikan, sedikit terganggu karena Yuda sepertinya sedang terpikirkan sesuatu.
Yuda segera menutup tab CCTV dan kembali fokus ke depan. “Maaf, silakan ulangi poin terakhir Anda. Saya setuju dengan strateginya, namun perlu kita evaluasi risiko yang mungkin muncul.”
****
"Ya ampun. Micinnya habis. Kalau segini enggak cukup," gumam Ning baru saja mematikan kompor ketika menyadari bahwa bumbu micin yang ia butuhkan sudah habis.
"Beli bentar lah di warung."
Ia mengambil dompet dari meja makan, lalu membuka pintu rumah sambil membawa kruknya. Langkahnya pelan menghadapi jalan kecil yang menghubungkan kontrakan dengan warung dekat.
“Hai Ning, mau belanja ya?” sapa Bu Siti, tetangga yang sedang menjemur cucian di depan rumahnya.
Ning mengangguk dan tersenyum ramah. “Iya Bu, micinnya habis jadi mau ke warung sebentar.”
Bu Siti mendekat sedikit, wajahnya menunjukkan ekspresi penasaran. “Eh Ning, baru-baru ini rumah kamu sering ya ramai orang ya? Aku juga sering lihat ada mobil parkir di depan kontrakan, tapi biasanya hanya sebentar aja. Ada tamu banyak ya?”
Ning sedikit terkejut. Ia menatap Bu Siti dengan mata yang bingung. “Ramai orang?”
"Iya, kadang habis subuh, kadang malam-malam. Kadang siang gitu. Pas kamu udah kerja."
"Masa sih, Buk?"
"Iya, ibu yakin banget. Soalnya beberapa tetangga sini juga pernah lihat, Ning."
Ning terdiam sebentar, memikirkan. "Apa temannya Mas Yuda ya? Soalnya dulu pernah Ning tinggal kerja, ternyata temannya Mas Yuda main."
"Tapi masa ada yang subuh-subuh gitu temannya datang..."
"Iya, juga ya..." Ning jadi kepikiran. Tapi, pada akhirnya... Dia pamit ke warung. "Bu, nanti Ning coba tanyain sama Mas Yuda. Mungkin dia tau. Ning pamit ke warung, ya."
"Oh, iya. Hati-hati ya Ning."