NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:52.6k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Ridho menatap testpack yang disodorkan itu, matanya tak menunjukkan sedikit pun kejutan. Malah, ada nada dingin yang menguap dari dalam dirinya.

“Hamil?” ucapnya perlahan, suara penuh keraguan. “Setelah semua kebohongan yang kamu lakukan selama ini, kamu berpikir aku akan percaya begitu saja?”

Dewi terkejut. Wajahnya memucat, tapi segera digantikan oleh ekspresi tersiksa. “Mas Ridho… kenapa kamu tidak percaya padaku? Ini bukti nyata!” Dia mengangkat testpack lebih tinggi, jari-jarinya menggenggamnya sampai putih. "Bukti kalau aku hamil. Test pack ini!"

Ridho tertawa getir.

“Bukti yang bisa dibuat dengan mudah, Dewi,” jawab Ridho dengan tenang yang menyakitkan. “Kamu pernah berbohong. Kebohongan besar yang mengubah hidupku, sampai aku menikah dengan mu. Sekarang kamu muncul dengan testpack ini—apa kamu kira aku akan percaya begitu sajaa?”

"Mas!"

Dewi mundur setengah langkah, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak bohong, Mas! Benar-benar aku hamil anak kamu!”

Tangannya menggenggam ujung roknya, tubuhnya sedikit menggigil. “Kenapa kamu berubah. Dulu kamu enggak begini!”

"Aku berubah karena kamu. Karena kebohonganmu terungkap. Aku sudah ingat semua, Wi. Semua!"

Dewi menyisir rambutnya ke belakang, merasa sedikit frustasi. "Itu tidak akan mengubah ini anakmu."

Ridho menghela napas panjang, rasanya sudah tak tahan dengan drama yang terus berulang. “Baiklah, jika kamu bersikeras.”

Sedikit, wajah Dewi melunak. Sepertinya, Ridho percaya.

"Ayo!"

Dewi tersenyum.

"Kita ke dokter. Kamu hamil kan? Kita harus cek USG."

Kata itu seperti kilat yang menyambar Dewi. Wajahnya menjadi lebih pucat, bahkan bibirnya mulai bergetar tak terkendali. Ia tak bisa menjawab, hanya berdiri tertegun sambil menatap Ridho dengan mata penuh air mata.

“Kenapa? Bukankah kamu hamil. Harusnya ini kesempatan kan? Atau...” ucap Ridho dengan nada yang semakin dingin. “Kamu takut? Karena semua ini hanya tipuan lagi.”

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan mulai berjalan menjauhi parkiran. Kakinya mantap, walau hatinya masih terasa luka akibat pertemuan dengan Ning tadi pagi.

“Mas Ridho jangan pergi!” teriak Dewi, tangisannya mulai pecah. Ia berlari mengejar, namun kemudian lututnya terasa lemah dan ia jatuh di tengah jalan. “Kamu tidak bisa meninggalkanku seperti ini! Aku mencintaimu, Mas!”

Ridho berhenti sejenak, tapi tak pernah menoleh. Suara tangisan Dewi terdengar jelas di telinganya, tapi ia tahu, jika ia kembali sekarang, maka siklus yang menyakitkan ini akan terus berlanjut. Tanpa berkata apa-apa, ia melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobilnya. Mesin mobil menyala, dan dalam sekejap, ia menghilang dari pandangan Dewi.

Dewi meronta-ronta di atas aspal, tangisannya semakin memekakkan telinga. Ia memejamkan mata, dan dalam hati yang penuh amarah, semua kesalahan dia kaitkan pada satu nama saja. “Ning… semuanya karena kamu! Kalau bukan karena kamu, Mas Ridho akan mencintaiku sepenuhnya!”

****

Di kantor pusat perusahaan keluarga Yuda, ruang rapat masih penuh dengan suara presentasi. Yuda duduk di kursi kepala meja rapat, wajahnya tampak fokus mengikuti penjelasan karyawannya yang sedang berdiri di depan layar proyektor. Namun sebenarnya, matanya sering menyelinap ke arah layar laptopnya yang berada di bawah meja.

“…jadi dengan strategi pemasaran ini, kami memperkirakan pertumbuhan penjualan akan naik sekitar 15% pada kuartal depan, Pak Yuda,” ucap karyawannya dengan penuh keyakinan.

Yuda mengangguk sebentar, lalu mengangkat tangan. “Baik, terima kasih. Silakan lanjutkan ke poin berikutnya.”

Sementara karyawan itu beralih ke slide selanjutnya, Yuda diam-diam membuka tab tersembunyi di laptopnya—yang menampilkan tampilan CCTV dari kontrakan tempat dia dan Ning tinggal.

Layar menunjukkan ruang dapur yang rapi. Ning sedang berdiri di depan kompor, mengenakan baju rumah yang sederhana. Tangannya yang satu sedang mengocok wajan, sementara yang lain menopang tubuhnya pada kruk yang selalu ia bawa.

Hari ini, Yuda memang sengaja tidak memperkerjakan dulu pelayan khususnya. Sesekali dia biarkan Ning melakukan biar tak curiga.

"Hiiiihh, istriku ini kok nggak bisa diam sebentar," gumamnya lagi.

Yuda melihatnya dengan mata yang penuh kasih sayang. “Cantiknya kamu, sayang,” gumamnya dalam hati. Rasa rindu yang tiba-tiba muncul membuatnya ingin segera pulang dan membantu Ning memasak.

"Kamu masak apa, sih? Bikin penasaran saja."

Di sudut lain, Pak Bram sedang mengamatinya.

"Bagus, dia makin serius sama posisi ini. Dengan ini aku bisa pastikan dia jadi penerus..." gumamnya seraya memperhatikan Yuda yang tampak serius mengikuti rapat, dan mengira anaknya sedang fokus pada perkembangan bisnis perusahaan. Ia tak pernah menyangka, bahwa laptop Yuda sedang menampilkan gambar istrinya yang sedang memasak di rumah.

“Pak Yuda, apakah ada masukan dari Anda?” tanya karyawan yang sedang mempresentasikan, sedikit terganggu karena Yuda sepertinya sedang terpikirkan sesuatu.

Yuda segera menutup tab CCTV dan kembali fokus ke depan. “Maaf, silakan ulangi poin terakhir Anda. Saya setuju dengan strateginya, namun perlu kita evaluasi risiko yang mungkin muncul.”

****

"Ya ampun. Micinnya habis. Kalau segini enggak cukup," gumam Ning baru saja mematikan kompor ketika menyadari bahwa bumbu micin yang ia butuhkan sudah habis.

"Beli bentar lah di warung."

Ia mengambil dompet dari meja makan, lalu membuka pintu rumah sambil membawa kruknya. Langkahnya pelan menghadapi jalan kecil yang menghubungkan kontrakan dengan warung dekat.

“Hai Ning, mau belanja ya?” sapa Bu Siti, tetangga yang sedang menjemur cucian di depan rumahnya.

Ning mengangguk dan tersenyum ramah. “Iya Bu, micinnya habis jadi mau ke warung sebentar.”

Bu Siti mendekat sedikit, wajahnya menunjukkan ekspresi penasaran. “Eh Ning, baru-baru ini rumah kamu sering ya ramai orang ya? Aku juga sering lihat ada mobil parkir di depan kontrakan, tapi biasanya hanya sebentar aja. Ada tamu banyak ya?”

Ning sedikit terkejut. Ia menatap Bu Siti dengan mata yang bingung. “Ramai orang?”

"Iya, kadang habis subuh, kadang malam-malam. Kadang siang gitu. Pas kamu udah kerja."

"Masa sih, Buk?"

"Iya, ibu yakin banget. Soalnya beberapa tetangga sini juga pernah lihat, Ning."

Ning terdiam sebentar, memikirkan. "Apa temannya Mas Yuda ya? Soalnya dulu pernah Ning tinggal kerja, ternyata temannya Mas Yuda main."

"Tapi masa ada yang subuh-subuh gitu temannya datang..."

"Iya, juga ya..." Ning jadi kepikiran. Tapi, pada akhirnya... Dia pamit ke warung. "Bu, nanti Ning coba tanyain sama Mas Yuda. Mungkin dia tau. Ning pamit ke warung, ya."

"Oh, iya. Hati-hati ya Ning."

1
Sunaryati
Lalaki sekaligus suami yang bertanggungjawab, Nak Yuda, jangan luntur tapi tambah sampai end nanti. 💪💪👍👍🙏
Sunaryati
Alhamdulillah orang tua Mas Yuda baik semua, mau menerima Ning.
Sunaryati
Syukur ternyata Bu Anggun tidak marah, Nak Yuda menikahi Ning.
Sunaryati
Pinter kamu Mas Yuda, sebaiknya bawa Ning ke dokter tulang, untuk operasi tulang kaki, sekarang banyak dokter ahli dibidangnya pasti sembuh seperti sedia kala. Emak baru mampir langsung suka
Ma Em
Yuda akhirnya kebohonganmu terbongkar juga kan ,makanya dari dulu Yuda lbh baik berterus terang pada Ning .
Ariany Sudjana
Ning kamu jangan marah sama Yudha, kalau kamu marah, kesempatan buat Dewi merebut Yudha, apalagi tahu Yudha itu orang kaya, mau kamu seperti itu?
Sri Rahayu
maafkanlah Yuda Ning....emang dia berbohong...awal nya dia bohong utk Dewi tp keterusan sampe kini 😇😇😇 lanjut Thorr 😘😘😘
elief
lanjut thor, penasaran gimana reaksinya Ning🙏
Ma Em
Yuda pasti akan ketahuan sama Ning , apakah Ning akan marah sama Yuda karena sdh dibohongi .
Ariany Sudjana
jangan marah Ning, kalau kamu marah, yang ada Yudha akan disambar sama Dewi
Sri Rahayu
hahaha akhirnya ketahuan siapa sebenarnya Yuda...paling Ning marah bentar yp tdk sampe membenci Yuda...Ning kan baik hati, Yuda bkn jahat jahat hanya menyamar jd tkng ojek 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
elief
kalo ketahuan, semoga ning mau ya memaafkan mas yuda yg sudah berbohong. dewi aja di maafkan hehehe
Ariany Sudjana
Ning itu terlalu polos, kamu pikir dengan maaf semua selesai, tidak seperti itu Ning. apa kamu tidak tahu kalau Dewi itu licik? dia akan menggunakan segala cara untuk menyingkirkan kamu
Ma Em
Ning orangnya terlalu baik , tapi orang seperti Dewi dan Bu Sumi tdk akan ada kapoknya pasti akan berbuat jahat lagi pada Ning , tapi benar kata Ning biar Allah yg balas perbuatan Dewi dan Bu Sumi pada Dewi akan dpt karmanya .
Sri Rahayu
bukan marah Ning...tp kesel gemes.. Ning baik hati bener, uda disakiti terus menerus tetap baik sama Dewi dan bu Sumi...lanjut Thorr 😘😘😘
Rahmawati
sudah salah tapi merasa paling menderita, hadeh
Ariany Sudjana
kamu berdalih terus kamu korban, kata siapa kamu korban Dewi? justru kamu pelakunya, gara-gara keserakahan dan kedengkian kamu , kamu tega menabrak Ning
Sri Rahayu
keras kepala luar biasa Dewi dan bu Sumi...uda salah ga mau minta maaf...se akan2 Dewi korban 😠😠😠..lanjut Thorr
Arin
Sudah salah aja susah minta maaf.... Susah memang hidup dengan orang seperti ini. Anggap dirinya paling bener, si paling menderita..... 😁😁😁
Ina Yulfiana
kan jujurnya cih Yuda nich p gk tku nantinya Ningsih mlh kecewa berat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!