NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:400
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pondok Pengurai Sukma

Jalan menuju Mbah Jari terasa lebih gelap dan kotor daripada perjalanan ke Ki Joladrang. Kuskandar hanya memberikan koordinat GPS, yang membawa mobil butut Agus dan Endang menembus perkebunan tebu yang tebal dan jalan setapak yang nyaris tak terlihat. Udara di sini terasa berat, bukan hanya oleh kelembapan, tetapi oleh bau kemenyan yang bercampur dengan aroma tanah basah.

“Kita benar-benar harus melakukan ini, Gus?” Endang berbisik, memeluk dirinya sendiri di kursi penumpang. “Tempat ini… rasanya jahat.”

Agus mencengkeram kemudi. “Jangan bodoh, Endang. Kita tidak punya pilihan. Kita sudah berjanji pada Titi Kusumo. Kita harus menepati janji itu, meskipun dengan cara yang curang. Uang yang kita dapatkan dari Kuskandar tidak akan cukup untuk bertahan hidup di kota. Ini adalah investasi terakhir kita.”

Mereka akhirnya tiba di sebuah pondok kayu reyot yang terletak di tepi sungai kecil yang airnya keruh. Pondok itu tidak memiliki jendela, dan pintunya terbuat dari anyaman bambu yang usang. Di sekelilingnya, tumbuh pohon-pohon besar dengan akar yang mencengkeram tanah seperti jari-jari raksasa.

Agus mematikan mesin. Keheningan segera menyelimuti mereka, hanya diselingi oleh suara desau angin yang membawa bau dupa yang sangat menyengat.

“Kau tunggu di mobil,” perintah Agus. “Jangan keluar, apa pun yang terjadi.”

Endang mengangguk, matanya menunjukkan ketakutan yang murni. “Jangan lama-lama, Gus.”

Agus turun dari mobil. Ia berjalan menuju pintu pondok dan mengetuknya pelan.

“Masuklah,” sebuah suara serak, kering, dan sangat tua menyambutnya dari dalam.

Agus menarik napas dalam-dalam dan mendorong pintu bambu itu.

Di dalam, ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh nyala lampu minyak yang redup. Di tengah ruangan, duduklah Mbah Jari, seorang pria tua renta dengan rambut putih panjang yang diikat di belakang. Matanya tajam, hitam pekat, dan seolah-olah menembus jiwa Agus.

“Kau Agus, Lanang Sewu yang licik,” sapa Mbah Jari, tanpa senyum. “Aku sudah menunggu. Kuskandar sudah menyampaikan maksudmu.”

Agus berlutut, mencoba menunjukkan rasa hormat. “Mbah Jari, saya datang untuk meminta pertolongan. Saya butuh Topeng Sukma Ganda yang sempurna.”

Mbah Jari tertawa, tawa yang terdengar seperti gesekan batu. “Sempurna? Kau pikir penipuan bisa sempurna, anak muda? Apalagi terhadap Lanang Sewu. Raden Titi Kusumo itu bukan entitas biasa yang hanya butuh tumbal fisik. Dia adalah pangeran yang dikutuk. Rasa sakitnya membuatnya haus akan koneksi spiritual yang tulus. Dia bisa mencium kebohongan dari jarak ratusan kilometer.”

“Tapi Kuskandar bilang, Mbah adalah ahlinya,” kata Agus, mencoba menguatkan diri.

“Aku ahli dalam sihir penyamaran, benar,” Mbah Jari mengangguk. “Tapi yang kau minta ini adalah menipu dewa yang terluka. Kau harus menukar jiwamu dengan kepalsuan yang sangat meyakinkan. Dan itu mahal.”

Agus mengeluarkan sisa uang tunai yang ia bawa. Sebagian besar kekayaan mereka telah dihabiskan untuk membeli mobil dan membayar utang. Hanya tersisa beberapa puluh juta yang ia simpan sebagai uang darurat.

“Saya punya ini, Mbah. Dua puluh juta tunai. Ini semua yang saya punya,” kata Agus, meletakkan tumpukan uang di depan Mbah Jari.

Mbah Jari bahkan tidak melirik uang itu. Ia hanya menatap Agus.

“Dua puluh juta? Kau menghina Pangeran dengan harga receh ini?” tanya Mbah Jari. “Kau menjanjikan sukma istrimu pada entitas yang bisa memberikan miliaran, dan kau hanya membawa dua puluh juta untukku?”

Agus menelan ludah. “Saya janji, setelah ritual berhasil, saya akan memberikan lebih banyak. Titi Kusumo akan membanjiri kami dengan kekayaan.”

“Kekayaan fana,” dengus Mbah Jari. “Aku tidak peduli dengan uang yang sebentar lagi akan menjadi debu di tangan Pangeran. Aku peduli pada harga yang pantas untuk risiko yang kuambil. Jika Pangeran Titi Kusumo mengetahui aku terlibat dalam penipuan ini, dia tidak hanya akan mengambil sukmaku, tetapi dia akan mengutuk tujuh turunan keluargaku.”

“Lalu berapa, Mbah?” tanya Agus, suaranya putus asa.

Mbah Jari memiringkan kepalanya. “Aku butuh seratus juta. Tunai. Sebelum aku menyentuh istrimu dengan sihirku.”

Agus tersentak. “Seratus juta? Itu… itu mustahil, Mbah. Saya tidak punya uang sebanyak itu lagi.”

“Maka kembalilah ke kemiskinanmu, dan biarkan Pangeran mengambil istrimu secara tulus,” balas Mbah Jari, nadanya acuh tak acuh.

Agus panik. Ia memohon. “Tolong, Mbah. Saya sudah meminjam uang dari mana-mana. Saya sudah menjual hampir semua aset. Seratus juta… itu akan menghabiskan semua yang saya punya, dan bahkan lebih. Itu uang pinjaman, Mbah!”

“Maka pinjam lagi,” kata Mbah Jari, menusuk Agus dengan tatapan matanya yang hitam. “Atau kau mati. Pilihanmu. Seratus juta, atau aku tidak akan melangkah.”

Agus memejamkan mata. Seratus juta. Itu berarti ia harus menelepon Kuskandar lagi, meminjam dengan bunga mencekik, atau menjual sisa-sisa kehormatan yang ia punya. Tetapi ia tidak punya pilihan. Jika ia gagal, Endang akan menjadi tumbal.

“Baik, Mbah,” kata Agus, suaranya serak karena menyerah. “Saya akan usahakan. Saya akan transfer secepatnya. Tolong, mulailah persiapannya.”

Mbah Jari tersenyum tipis, kali ini senyum yang mengerikan. “BAgus. Aku suka ambisimu, Agus. Sekarang, dengarkan baik-baik. Sihir Topeng Sukma Ganda ini sangat rumit. Aku akan mengambil sebagian kecil sukma istrimu, Endang, dan memasukkannya ke dalam wadah spiritual yang lain. Wadah itu harus menjadi pengantin palsu yang sempurna.”

“Wadah yang lain? Maksud Mbah?”

“Kau tidak bisa menggunakan istrimu sendiri. Itu terlalu berisiko. Pangeran akan merasakan jiwanya yang terbagi,” jelas Mbah Jari. “Aku butuh seorang wanita yang secara fisik sangat mirip dengan Endang. Seseorang yang bisa menjadi cangkang kosong, sehingga sukma Endang yang kumasukkan ke sana akan bersinar murni di mata Titi Kusumo.”

Agus mengerutkan kening. “Maksud Mbah, saya harus mencari wanita lain?”

“Ya. Seorang model tiruan. Seseorang yang memiliki struktur wajah dan tinggi yang nyaris identik dengan istrimu. Dan yang paling penting, dia harus memiliki kerentanan spiritual yang tinggi,” Mbah Jari menekankan. “Seseorang yang jiwanya sudah lelah, sudah kosong oleh keputusasaan duniawi. Hanya jiwa seperti itu yang mudah kita masukkan aura Endang.”

Agus berpikir keras. Siapa? Siapa yang bisa ia temukan yang mirip Endang, tetapi jiwanya sudah mati?

“Cari dia, Agus. Dalam dua hari. Setelah seratus juta itu masuk, aku akan memulai ritual,” perintah Mbah Jari.

“Di mana saya bisa menemukannya, Mbah?”

Mbah Jari tertawa lagi. “Di tempat paling gelap, anak muda. Di tempat di mana wanita menjual tubuhnya, dan jiwanya sudah lama pergi. Carilah di sana.”

Agus berdiri, gemetar antara jijik dan tekad. Ia harus menemukan wanita itu. Ia harus menjual kebohongan ini.

“Aku akan mencarinya, Mbah. Saya akan segera transfer uangnya,” kata Agus, berbalik menuju pintu.

“Tunggu,” panggil Mbah Jari. “Ada satu hal lagi.”

Agus menoleh.

“Istrimu ada di mobil, kan?”

“Iya, Mbah.”

Mbah Jari menghela napas panjang, lalu berbisik, “Bawa dia ke sini. Aku harus melihat Endang yang asli. Aku harus merasakan auranya, agar aku bisa membuat tiruan yang sempurna…”

Agus ragu, tetapi ancaman kegagalan lebih besar. Ia bergegas keluar, menuju mobilnya.

“Endang, keluar! Mbah Jari ingin melihatmu sebentar!” perintah Agus, suaranya mendesak.

Endang turun, berjalan pelan ke pondok. Ia berhenti di ambang pintu, menatap Mbah Jari yang menyeramkan.

Mbah Jari tersenyum, kali ini senyum yang merayap di wajahnya. Ia menatap Endang, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia kemudian mengulurkan tangannya yang keriput.

“Ayo, mendekat, Nyonya. Aku hanya ingin melihat seberapa cantiknya tumbal yang akan kau berikan pada Pangeran. Bawa dia ke sini. Aku harus melihat Endang yang asli. Aku harus merasakan auranya, agar aku bisa membuat tiruan yang sempurna….”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!