Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mau Kita Cerai!
Hari itu di kantor terasa sangat berat. Konsentrasi dan semangat kerja Vandini hilang entah ke mana, digantikan oleh rasa sakit yang membuatnya linglung.
Ia hanya duduk menatap layar komputer tanpa fokus. Angka-angka di depannya tak masuk akal, dan ia bahkan tak ingat isi email yang baru saja diketiknya.
Pikirannya terus melayang kembali ke pagi tadi. Ia teringat bantuan Dahlia, tatapan ragu Connan, dan tawa ceria Cia. Pikirannya juga terus tertuju pada ketidakhadiran Satura.
Vandini dilanda cemas akan masa depan. Untuk pertama kalinya, ia mulai membayangkan bagaimana rasanya jika benar-benar meninggalkan pria itu.
Saat jam istirahat, ia akhirnya menuruti keinginan yang mengganggunya sejak pagi. Ia mengetik kata kunci "cara mengajukan cerai" di google.
Jari-jarinya gemetar saat menekan tombol enter. Seolah dengan tindakan itu, ia sudah melangkahi batas yang tak bisa kembali lagi. Berbagai informasi bermunculan di layar. Mulai dari panduan langkah demi langkah, daftar dokumen, hak asuh anak, hingga masalah biaya hukum.
Setiap halaman yang dibaca membangkitkan perasaan campur aduk antara ketakutan dan keyakinan. Jalan yang harus ia tempuh kini terasa semakin nyata, meski tetap menakutkan.
Di penghujung hari, mungkin secara pekerjaan ia tak menyelesaikan banyak hal. Namun, ia berhasil mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting, sebuah rencana ke depan. Ia tak lagi hanya bersedih. Vandini kini sedang bersiap untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya sendiri.
Malamnya, Vandini menunggu Satura pulang dengan kepala dingin namun hati yang sudah bulat. Anak-anak dititipkan di rumah ibunya agar mereka bisa bicara berdua saja.
Saat pintu terbuka, Vandini sudah siap. Tatapannya tajam, suaranya mantap, dan sebuah koper besar sudah diletakkan di dekat pintu.
Satura melangkah masuk. Senyum santainya langsung lenyap saat melihat koper itu. Ia menatap Vandini yang berdiri di ruang tengah, lalu meletakkan kunci mobil dengan wajah gelisah.
"Vandini," ucapnya pelan. "Ada masalah apa?"
Vandini menarik napas dalam, menatap suaminya dengan ketenangan yang sudah lama hilang.
"Ada, Satura. Ada masalah besar."
Satura menggeser posisinya, melipat tangan di depan dada dengan sikap defensif.
"Soal kejadian semalam ya? Kan aku bilang kasih waktu dulu buat kamu tenangin diri. Aku tahu ini nggak gampang, tapi—"
Vandini memotong pembicaraannya cepat, suaranya jelas dan tegas. "Ini bukan soal butuh waktu buat 'tenangin diri'. Dan ini bukan keputusan yang kamu atur. Semuanya... apa pun yang tersisa dari hubungan kita, udah hancur, Satura. Aku nggak bisa lagi lanjutin pernikahan ini."
Untuk beberapa saat, Satura hanya terpaku, wajahnya penuh ketidakpercayaan.
"Vandini, ayolah. Kita punya keluarga. Kamu mau buang semua ini cuma karena perasaan kamu lagi sakit hati?"
Kata-kata itu menyakitkan seperti tamparan. Nada bicara Satura yang meremehkan membuat luka di hati Vandini semakin perih. Kesedihannya perlahan berubah menjadi api yang membara.
Vandini melangkah maju selangkah, suaranya rendah namun penuh amarah.
"Cuma sakit hati?" desisnya, matanya memancarkan nyala api. "Kamu selingkuh, Satura! Aku nggak cukup kan buat kamu. Jangan pernah anggap ini cuma soal 'perasaan'. Ini soal janji yang kamu ingkari dan hidup yang kamu hancurin semena-mena!"
Satura mengangkat kedua tangannya, seolah berusaha meredakan situasi dengan nada yang justru terlihat menyebalkan. "Vandini, tenang dulu. Kamu lagi nggak bisa mikir jernih nih."
Rasa marah itu membuat tangan Vandini gemetar hebat.
"Tenang?" kata-kata itu bergema di kepalanya, semakin memicu api di dadanya. Ia mendekat sedikit lagi, suaranya dingin namun bergetar hebat. "Minta aku tenang? Kamu hancurin semua yang udah kita bangun, tapi kamu berani bilang aku buat tenang? Berani banget ya kamu! Kamu nggak punya hak buat berdiri di situ sok bijak dan bersikap sok paling dewasa!"
Kemarahan itu justru memberinya kekuatan. Kalimat berikutnya keluar dengan sangat mantap. "Kamu udah pilih jalan kamu sendiri, Satura. Sekarang giliran aku yang milih. Aku mau kita pisah."
Satura mendengus, namun ada kilatan panik di matanya.
"Pisah? Ayolah, Van, jangan becanda."
"Aku serius," jawab Vandini tak gentar. "Aku nggak mau hidup kayak gini, pura-pura semuanya baik-baik aja. Kamu mau aku tutup mata, jalanin hidup kayak nggak ada apa-apa, padahal semuanya udah berubah!"
Satura mendekat, wajahnya yang tadinya tak percaya kini berubah menjadi murka. "Jadi gitu ya? Kamu mau pergi ninggalin aku?"
Vandini menyipitkan mata, mengatupkan giginya dan menggeleng pelan. Suaranya terdengar dingin dan keras seperti baja.
"Enggak," ucapnya, setiap kata sarat dengan amarah yang tertahan. "Kamu yang duluan pergi, dan Aku cuma kabulin itu jadi kenyataan sekarang."
Ia menarik napas panjang demi menenangkan diri, berusaha menahan getar di suaranya.
"Aku bakal tetap di sini sama anak-anak. Aku bakal urus semuanya lewat pengacara biar mereka terlindungi. Dan iya, kamu boleh ketemu mereka. Tapi kamu nggak boleh tinggal di sini lagi. Tempat ini udah bukan rumah kamu lagi."
Rahang Satura menegang, urat di pelipisnya terlihat menonjol saat ia berusaha menahan emosi yang meledak-ledak.
"Baguslah," desisnya dengan nada suara yang rendah dan penuh kepahitan. "Kamu mau jadi korban kan? Silakan. Tapi jangan pernah berpikir kamu bersih dalam masalah ini. Aku nggak mau pernikahan ini berakhir. Kamu sendiri yang hancurin semua ini."
Rasa panas langsung menjalar di dada Vandini. Tangannya terkepal erat, jantungnya berdegup kencang hingga terdengar berisik di telinga. Setiap detak jantung itu semakin membakar amarahnya.
"Aku udah nggak peduli apa yang kamu pikirin, Satura. Aku lakukan ini demi aku dan demi anak anak. Karena mereka berhak punya ibu yang nggak harus terus-terusan membohongi diri sendiri cuma buat kelihatan punya keluarga yang utuh."
Saat waktu tidur tiba, Vandini membacakan dongeng kesukaan Connan dan Cia. Namun, kedua anak itu sepertinya belum siap untuk tenang.
Connan terus melirik ke arah pintu dengan wajah berpikir, seolah sedang menunggu seseorang masuk. Sementara itu, Cia semakin erat memeluk lengan Vandini.
"Ma?" tanya Connan akhirnya dengan suara pelan dan ragu.
"Iya, Sayang?" Vandini berusaha menjaga suaranya tetap stabil, bersiap mendengar pertanyaan apa pun.
"Kapan Papa pulang?"
Kalimat itu terdengar lembut, namun rasanya seperti beban berat yang menindih dada Vandini.
Vandini menelan ludah, hatinya terasa perih. Sebenarnya ia sudah berusaha menjelaskan bahwa Satura akan tinggal di luar untuk sementara waktu tanpa membuat anak-anak merasa terbebani.
"Papa ... nggak bakal tinggal di sini dulu ya untuk beberapa waktu," ucapnya pelan, berusaha terdengar santai. "Tapi Papa sayang banget sama kalian, dan Papa pasti bakal sering main sama kalian kok."
Wajah Connan berubah murung. Alisnya berkerut saat ia menatap kedua tangannya sendiri.
"Tapi kenapa Papa nggak boleh tinggal di sini?" tanyanya dengan suara yang mulai bergetar.
Vandini mengulurkan tangan, menyibakkan rambut anak itu ke belakang telinga. Hatinya terasa seperti diremas-remas.
"Papa ada kerjaan yang harus diselesaiin, Sayang," bisiknya. Ia sangat berharap bisa membuat mereka mengerti tanpa harus merusak masa kecil mereka yang polos.
Cia mendongak, menatap Vandini dengan mata bulatnya yang sendu.
"Tapi Cia mau Papa di sini," gumamnya sambil membenamkan wajah ke bahu Vandini. "Kangen Papa."
"Iya, Mama tahu," kata Vandini sambil mengeratkan pelukan. Ia bisa merasakan detak jantung mungil anak itu di dadanya. "Mama juga kangen Papa."
Mereka duduk seperti itu cukup lama. Vandini memeluk kedua anaknya erat, membelai rambut mereka perlahan. Rasa kehilangan itu menyelimuti mereka semua.
Di balik kesedihannya, api amarah Vandini kembali berkobar. Setiap kali melihat wajah polos dan jujur mereka, dadanya terasa sesak. Ia ingin sekali melindungi mereka dari rasa sakit ini, menanggung semuanya sendirian agar anak-anak tak perlu merasakannya. Tapi ia tahu itu mustahil. Satura yang telah meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini, membiarkan anak-anak menanggung akibat ulahnya sendiri.
Akhirnya, Vandini membaringkan mereka satu per satu. Ia mengecup kening mereka dan membisikkan kata-kata penenang sampai mata mereka mulai terpejam. Ia duduk di sisi tempat tidur sampai mereka benar-benar tertidur lelap, menatap wajah damai mereka sambil bertanya-tanya dalam hati, bagaimana caranya ia bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Satura.