Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
(1) Dasar Rival Luknut!
Jodoh memang sudah ditentukan dan tertulis di Lauh Mahfudz. Tapi kita juga harus berjuang untuk menemukan jodoh kan?
Qanita Langit Zoe-
***
"Aaaa ulaaaar!"
"Ular ulaaar
Pekikan panik dari siswa siswi kelas 12 IPS 3 menenuhi lapangan basker kala seekor ular tiba-tiba jatuh dari atas pohon. Mereka yang tadinya tengah menyimak Buk Mia menerangkan mata pelajaran Geografi mendadak berhamburan kalang kabut.
Waktu menunjukkan pukul dua siang. Berbeda seperti hari biasanya, hari ini guru dengan kaca mata berbingkai itu mengajak para siswanya untuk belajar di ruangan terbuka- Lapangan basket yang tengah kosong- untuk mengganti suasana. Siswa siswi yang mulanya mengantuk di jam siang lebih bersemangat ketimbang tadi. Sayangnya, kefokusan mereka hanya bertahan setengah
Jam pertama.
"Mana ularnya mana?" Buk Mia sampai melempar bukunya kaget.
"Aaa tolong saya tolong!" Siswi laki-laki berusaha menendang badan ular yang menimpa kakinya.
Kejadian itu membuat suasana itu makin rusuh, wajah-wajah panik bercampur teriakan, pun beberapa kelas yang dekat dengan lapangan basket juga ikut keluar saat mendengar teriakan tersebut. Pak Ego selaku guru BK yang kebetulan lewat juga berlarian ke tengah lapangan setelah mengambil tongkat sapu.
Berbeda dengan kepanikan di bawah sana. Seorang gadis berhijab yang berdiri di koridor lantai 3 tertawa terbahak-bahak. Jika dari ucapan salah satu siswi mengatakan Ular itu jatuh dari pohon, tentu salah besar. Ular itu dilemparkan dari lantai 3 yang kebetulan saja melewati jajaran pohon yang mengelilingi lapangan basket.
"Padahal ular mainan wahahaa..." Dia memegang perutnya geli dan juga menggusap ujung matanya yang berair karena puas tertawa. Iya itu ular mainan. Ular mainan yang ukurannya besar namun tampak seperti
Nyata.
Namanya Qanita Langit Zoe. Gadis berusia 18 tahun pemilik wajah cantik. Ia memiliki mata yang jernih dengan bulu mata lentik. Hidung mancung dan bibir tipis ranum. Wajahnya tirus. Tingginya semampai.
Tidak ada yang kenal dia. Sang primadona sekolah yang jahilnya diluar batas seperti sekarang. Bagi Langit, ini adalah kebahagiannya, ya walaupun seringnya merugikan diri dan orang. Seperti sekarang.
"Jangan banyak gerak. Gue bakal singkirin itu ular." Seorang laki-laki dengan dasi yang sudah hilang dari posisinya, mendekat membawa sebuah tongkat besi yang entah dari mana dia ambil di saat kepanikan menyelimuti.
Ketika teman-temannya mundur ketakutan dan tidak berani mendekat ataupun menolong, ia dengan gagahnya menyingkirkan ular itu hingga Beni lepas dan berdiri panik.
Mahendra Ghabumi Adelard. Sang Play boy yang sukanya tebar pesona dan jadi incaran kaum hawa. Wajahnya sempurna. Alisnya panjang lebat. Kornea matanya hitam. Kulitnya putih kemerah-merahan. Tubuhnya
Tinggi jangkung.
Kerinyit di dahi cowok itu terbit kala menyadari sesuatu. Ular itu sama sekali tidak bergerak. Ia hendak mendekat.
"Bumi jangan dekat-dekat. Nanti kamu digigit!" Buk Mia menyeru heboh. Teman kelasnya mengangguk setuju.
"Kamu jauh-jauh Bumi. Biar saya dan para guru yang turun tangan." Pak Ego mengisntruksinya untuk menjauh.
"Iya Bumi, kamu gak boleh terluka. Kasian kami gak ada yang bisa dipandang lagi," ujar seorang siswi. Di tengah kepanikan masih bisanya merayu. Hal itu mendapat sorakan dari teman-temannya.
Bumi menoleh. Ia mengedarkan pandangan melihat teman-temannya dan menyadari satu hal.
Teringat ucapan ketua kelas yang mengatakan ular itu jatuh dari pohon. Kepala Bumi seketika mendongak ke atas pohon hingga matanya menangkap keberadaan Langit di lantai 3. Sedang tertawa senang.
Satu bibir Bumi naik. Ia mendekat dan menarik ekor ular itu hingga pekikan panik kembali terdengar. Benar dugaannya. Ini ular
"Ini ular mainan Pak, Buk. Gak akan gigit,"
mainan dan tentu saja kerjaan Langit.
"Bumi hati-hati!"
serunya. Para siswa siswa menatap bingung. Cowok dengan rambut belah tengah itu kini mengangkat ular mainan itu dan menunjukannya.
"Loh tapi kok bisa jatuh dari atas pohon?" Aira, sang ketua kelas yang tadi berteriak terheran.
Tangan kanan Bumi naik menunjuk pelaku dari ini semua. "Tepatnya ini di lempar dari lantai 3." Sontak semua mata termasuk Buk Mia dan Pak Ego mengikuti arah telunjuk Bumi.
Ah ya, Hobi Bumi adalah Langit. Gadis nakal yang sekelas dengannya itu. Seperti sekarang. Membuat Langit kesal adalah favoritnya.
Langit yang menyadari dia ketahuan membulatkan mata dan seketika mundur.
"Qanita Langit Zoee!" Teriakan Pak Ego menggelagar hingga Langit berlari kabur.
"Mampus!"
***
Langit lupa. Di kelasnya ada laki-laki bernama Mahendra Ghabumi Adelard yang selalu merusak kebahagiannya. Kalau Bumi gak bilang secara langsung ini ulahnya, dia kan bisa kabur dan tidak akan berakhir di ruangan BK. Kena omel lagi sama Pak Ego.
"Kamu kapan insyafnya Langit? Bukannya ambil ilmu dari Buk Mia, kamu malah kabur dan bikin ulah."
Langit menunduk menggesekkan sepatunya ke lantai. Mengurangi rasa bosan mendengar ceramah panjang Pak Ego yang gak selesai sejak setengah jam lalu.
"Bisa-bisanya ular sebesar itu kamu lempar. Kamu kalau jahil idenya kebanyakan. Buat belajar malah zong."
"Kamu itu udah masuk kelas 12 belas
Langit. Bentar lagi lulus. Jangan main terus." Ujung omelan ini selain berakhir pada dia yang kelas 12 akan berakhir pada masa depan dan orang tuanya.
"Mau jadi apa kamu di masa depan. Seengaknya jangan jahil dulu. Udah. Kasian orang tua kamu tiap bentar kena panggilan sekolah."
Benar kan. Karena langganan BK akan
Ulahnya, ia sampai hafal luar kepala urutan ceramah Pak Ego.
Nyaring suara bel sekolah baru membuat Langit mendongak dengan senang.
"Kamu paham Langit?"
"Paham Pak Ego yang baik hati dan tidak sombong."
"Paham paham. Itu jawaban kamu setiap saya marahi," Pak Ego berdecak.
Langit cengcesan. "Bapak gak haus?"
"Hauslah! Kamu pikir omelin kamu gak bikin mulut saya berbusa?"
"Langit jadi merasa bersalah loh Pak Ego. Gimana gantinya Langit beliin minum ya? Pak Ego kan suka Es jeruk Buk Mirna tuh. Nah Langit beli deh. Lagian udah jam pulang tahu Pak." Ia melirik jam tangannya. "Pak Ego kan mesti pulang. Istri Bapak udah nungguin tahu."
"Gak bilang aja kamu mau kabur dan bosan dengerin saya marah-marah?" ucap beliau tepat sasaran.
Langit tertawa. "Pak Ego pinter banget. Pantes jadi guru. Langit jadi insinyur deh."
"Insinyur insinyur. Insecure!"
Langit menjentikkan jarinya. "Nah itu maksud Langit Pak."
Guru BK berumur 50 tahunan itu membuang nafas kasar. "Sana kamu pergi. Beliin saya es jeruk."
"Yes!"
"Jangan senang dulu. Setelah itu kamu bantu cleaning servis sapu karidor IPS. Saya akan awasin kamu selagi habisin es jeruk."
"Yaah Pak E-"
"Tambahan Buk Mia amanat kan saya hukuman dari beliau kamu ringkas Bab 5 dan 6. Kumpul besok pagi."
"Hah?" Matanya membulat. "Kok hukuman Langit banyak sih Pak?"
"Kamu bertanya? Kamu bertanya-tanya?"
Wajahnya masam seketika dengan bibir mengerucut. Lihat sekelas Pak Ego kalau ikut trend menyebalkan. Ia lalu mengangguk dan izin pamit.
Ia berencana langsung pulang usai beli Es jeruk. Tentu saja dia akan kabur.
"Jangan berpikir kabur. Tas kamu bapak
Sandera. Kalau nekat lagi kabur, besok panggilan orang tua."
"Yah yah Pak. Kok gitu sih sama Langit?" mohonnya seiring ucapan salam dari belakang. Saat dia menoleh, ia menangkap keberadaan Bumi membawa tasnya.
Matanya membola. Ia hendak merebut tasnya namun dengan cepat Bumi mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Bum kok tas gue sama lo sih?"
"Amanah dari Pak Ego." Ia mengedikkan bahu lalu menyerahkan tas itu pada guru BK tersebut. Tatapan Langit kembali pada Pak Ego.
"Oke Bumi. Makasih ya. Kamu silakan pulang."
Bumi memberi anggukan lalu berbalik badan. Ia memberikan seringaian pada Langit yang sudah mengomel di dalam hati.
Bumi menjulurkan lidahnya dan melangkah dahulu. Langit hendak menjeplak kepala cowok itu sebelum ditegur.
"Langit?"
"Hehe iya Pak," ia paksa tarik tangannya dan tersenyum manis.
"Ayo beliin saya jus jeruk dan laksanakan hukumannya. Mau pulang lebih lama?
Tugasnya banyak loh."
Langit memberengut dan berbalik badan keluar ruangan BK itu menyusul Ghabumi. Di luar ia menatap pungung cowok itu yang mulai menjauh. Langit menunduk dan melepas sepatunya.
Tangannya bergerak melempar sepatunya hingga ...
BRUK!
"Aww!" Tepat mengenai punggung lebar Bumi. Cowok itu meringis dan memegang punggungnya. Lantas berbalik badan dengan kesal.
"Rasain! Sakit kan?" Langit berkacak pinggang. "Makanya jangan nyebelin. Gara-gara lo nih gue ketahuan!"
"Eh markonah. Lo yang jahil. Gak usah lempar ke gue."
"Apaan! Gak akan ketahuan lalau lo gak nunjuk gue. Mana lo bawa tas gue ke sini. Gue kan gak bisa kabur."
"Gue jalani perintah."
"Perintah perintah. Bad boy kayak lo gak
Cocok buat- Bumiii!!" Langit memekik saat Bumi melenggang pergi membawa sepatu yang dia lempar tadi. "Sepatu gue!!"
"Gue juaaaal ke tukang rongsokan," Bumi melambaikan tangan lalu hilang dibalik lorong. Langit menghentakkan kakinya kesal dan menunduk.
Bumi, mana mau mengalah. Jika bertemu maka mereka akan bertengkar.
"Langit jangan teriak di depan ruang saya!" Teriakan Pak Ego dari dalam sontak membuatnya berlari ke bawah untuk membeli es jeruk seraya mendumel.
"Gak Pak Ego, gak Bumi, kok pada gak suka lihat gue tenang, bahagia dan damai."
Dengan sebelah kaki beralaskan kaus kaki saja ia menapaki lorong yang sudah ramai oleh siswa siswi yang menyandang tasnya. Langit sih bodo amat dilihatin. Ia terus mengomel.
"Bumi tuh gak pernah bantu gue. Kayaknya bakal kiamat dunia kalau dia baik ke gue, hish!"
"Hai Langit. Duh ngomel aja main cantik. Apalagi senyum. Bikin gak tahan buat dimiliki deh." Salah satu siswa seangkatan dengannya menggoda.
"Tahu. Langit makin hari makin enak di pandang."
Langit menatap galak. "Mau gue lempar pakai sepatu satu lagi?" kesalnya kemudian pergi.
Siswa tadi terkekeh gemas. "Gak ada seram-seramnya itu wajah."
"Langit!" Seruan dari arah depan membuat gadis yang sudah bete itu berbalik badan. Ia dapati Bina yang tersenyum pepsodent seraya berlarian kecil.
"Sepatu lo sebelah di jual?"
"Ya gaklah.
"Kesal banget sama Bumi. Gue lempar sepatu, malah dibawa kabur."
"Ya lo sih. Udah tahu gimana Bumi. Gue yakin sekarang sepatu lo udah nangkring di atas pohon."
"Awas aja kalau beneran. Gue balas dia."
"Kayaknya tas lo juga dibawa Bumi."
"Gue kena hukum."
"Kali ini hukuman apa aja?" Cewek berwajah oval dibalut hijab itu mengerjapkan matanya tak sabar. Atwadya Bina Anashka,
Solmet Langit sejak kelas satu SMA di zaman OSPEK.
"Sapu karidor IPS bantu CS, ringkas 2 Bab kumpul pagi. Gue apes banget ya?"
Bina menggeleng polos. "Gak lah. Malah kami yang apes gara-gara kelakuan lo."
Langit memberengut.
"Nikmati aja ya hukumannya. Makannya jangan banyak jahilnya. Heran dah. Gue mau pergi dulu."
"Eh tunggu." Ia lekas menarik Bina yang hendak pergi. "Bin, gak ada niat bantuin gue gitu? Bantu gue nyapu bisa yuk?" Matanya mengerjap-ngerjap. "Es cream deh satu gue traktir."
Gadis berlesung pipi di sebelah kanan itu tersenyum manis. "Gue harus les." Perlahan dia melangkah mundur. "Selamat kerja bestie, yang bersih oke?"
"Hish lo mah."
Bina itu tertawa. Memberikan lambaian lalu hilang dibalik keramaian siswa siswi lain. Mau tidak mau Langit mesti menyelesaikan hukumannya.
***
"DI MANA LO?"
Teriakan nyaring itu membuat Bumi mengusap telinganya yang berdengung. Ia menjauhkan benda pipih itu sesaat.
"Anjir, bisa gak perlu teriak?"
"Gak bisalah! Mana sepatu gue! Balikin gak!"
"Gue duluan!" Bumi menatap ketiga temannya sebelum menarik tasnya dan menjauhi warung belakang sekolah yang menjadi tempat tongkrongan mereka.
"Yoi Bro." Mereka bertos sebelum berpisah.
"Jangan lupa balapan nanti malam."
"Oke."
Ia buang sisa rokok di tangannya dan menaiki motor besar hitam di depan warung.
"BUMI GUE NGOMONG SAMA LO!"
Di sebrang sana. Langit tak sabaran. "Gak usah kangen gue. Gue ke sana. Lo masih di sekolah kan?" Ia menyelipkan benda pipih itu di dalam helm dekat telinga.
"Idih amit-amit gue kangen lo ya Bumi."
Bumi tertawa kecil.
"Di mana sepatu gue! Gue mau pulang. Emak gue nelfonin."
"Atas pohon."
"BUMI LAK-"
Bumi menarik ponselnya dan mengakhiri panggilan itu. Ia menyeringai senang membayangkan ekspresi marah-marah Langit dan bagaimana mulut itu mengomel.
Ia kantongi ponselnya di dalam saku jaket.
Mengklakson sebelum menjauh dari sana.
Berputar jalan sedikit, dia sudah sampai di depan gerbang HIGH INTERNATIONAL SCHOOL.
Sedang Langit yang berada di sekolah seraya menenteng tasnya memutari area sekolah mencari-cari sepatunya yang hilang dengan kesal.
"Itu cowok gak tahu apa pohon di sekolah itu banyak. Gue telfon malah gak diangkat. Enak aja main akhirin panggilan gue. Lihat sekarang gue bingung kayak gini. Mana panas. Laper."
"Lagian jahat banget naruh sepatu gue di atas pohon. Aa papa ... Langit dizholomi,"
Rengeknya.
"Ya Allah tolong Langit." Ia mengadahkan tangannya mengaamini. Matanya terus memperhatikan pohon-pohon dengan jeli. Kesal. Langit lesehan dan kembali membuka ponselnya.
BUMI LUKNUT
Ia sentuh icon panggilan kembali. Begitu
diangkat sumpah serapah keluar dari bibirnya. "BUMI GUE SUMPAHIN LO YA, DI POHON MANA LO GANTUNG?"
"Perlu juga sepatu?"
"Ya perlulah. Ya kali gue pulang sebelah gak pakai sepatu!"
"Sabar sabar."
"Sabar sabar. Lama-lama gue hipertensi ya sama lo."
Di belakang tidak jauh dari posisi Langit, Bumi menyandarkan bahu kanannya pada dinding karidor sedang matanya tertuju lurus, menikmati Langit yang mencak-mencak. Tangan kirinya menyelip di saku celana sekolah.
"Bumi gue ngo-"
Tut!
Untuk kedua kalinya dimatikan sepihak.
Langit mengangga dan menatap layar ponselnya. "MAHENDRA GHABUMI ADELARD. NGESELIN BANGET JADI COWOK. GUE DOAIN GAK LAKU-LAKU LO HIH!" Ia menekan layarnya kesal. Seakan itu Bumi.
Bumi menarik dirinya dan melangkah ringan. "Dosa banget lo daoin gue yang jelek."
Suara itu membuat tubuh Langit berbalik cepat. Pipinya menggembung menatap keberadaan Bumi. Detik berikutnya, tas yang dia tenteng dari tadi melayang memukul cowok yang seketika menbentengi dirinya dengan kedua tangan.
"Lo ya!"
"Woi jangan KDRT."
"Lo pikir lo suami gue?"
sih?" Kepala Bumi bergerak sedikit. "OTW gak
Plak!
"Sadis lo!" Untung saja tangannya yang kena. "Ini wajah berharga. Idaman kaum cewek nih."
Langit menarik tasnya dengan delikan. "Dih. Dosa apa sih gue ketemu lo terus?"
"Gak dosa. Kita itu udah takdirnya dipertemukan Langit." Kedua tangan Bumi kembali turun.
"Huwek!" Langit berlagak mual akan kalimat itu.
"Bumi dan Langit itu sepaket."
"Bumi dan Langit itu jauhan. Gue di atas, nah lo di sini," balas Langit sengit.
"Tapi lo tetap di Bumi. Artinnya lo gak bisa pergi kan dari gue?" Bumi mengedipkan matanya.
"Itu beda dodol. Bumi nama lo dan Bumi yang gue pijaki beda! Emosi gue lama-lama!"
Bumi terbahak.
"Lo umpetin di mana sepatu gue?"
"Di bawah meja."
"Meja mana?"
"Ya meja lo lah di kelas, ya kali meja presiden."
Dada Langit kembang kempis. "BUMI LO TADI BILANG DI POHON. GUE UDAH
KELILING CARIIN!"
Bumi mengusap kupingnya.
"NGESELIN LO JADI COWOK." Langit menjeplak tasnya ke wajah Bumi sebelum beranjak pergi menuju kelasnya.
Bumi memejamkan matanya sesaat.
Walau tidak keras. Tetap aja sakit.
"SAKIT LANGIT."
"HARUSNYA GUE PUKUL KENCANG!" Itu adalah kalimat terakhir Langit sebelum hilang di balik kardior.
Bumi menarik kedua sudut bibirnya.
***
"Papa sayaaang..."
Langit buru-buru memasuki pintu utama rumah pasca melihat mobil papanya terparkir di halaman. Benar saja, pria yang baru menginjak usia 45 tahun itu tengah duduk televisi bersama Ibra.
Ezhar menoleh mendapati putrinya merentangkan tangan minta dipeluk. Sifat manja Langit yang tidak pernah hilang. "Assalamualaikum dulu Langit," tegurnya. Namun membiarkan Langit memeluknya.
Langit cengcesan. "Iya Papa
Assalamualaikum. Papa hari ini udah selesai ngajarnya?"
"Hm."
"Tapi papa sebentar lagi mau pergi."
"Ngajar lagi?"
"Ke Restoran bentar Sayang."
Papanya. Ezhar Ghazy Hanan. Ialah seorang Dosen Manajemen di kampus negeri di kota Jakarta. Selain menjadi dosen, papanya juga merangkap menjadi pemilik pengusaha bidang kuliner yang sudah 10 tahun terakhir ini memiliki cabang di berbagai kota.
"Kak Angit!" Tarikan ujung bajunya membuat ia menoleh. Ibra berkacak pinggang dengan pipi menggembung. Adik bungsunya yang berumur 3 tahun itu menariknya dengan kesal.
"Gak boleh peluk papa Ibra."
"Ini papa Kak Angit tahu."
"Papa Ibraa!"
"Papa kak Angit."
"Papa Ibraaaa!" Teriakan anak laki-laki itu memenuhi seisi rumah. Langit menutup
Telinganya seketika.
"Teriakan kamu mirip tarzan," cebiknya.
"Papa Ibra memeluk lengan Ezhar menggadu.
"Langit sana mandi terus ganti baju."
"Iya Pa, eh Mama mana, Pa?"
"Ke swalayan sama Gea."
"Gara?"
"Lagi murajaah."
Ia mengangguk-angguk. "Ya sudah Langit mau mandi." Sebelum naik ke kamarnya. Ia menunduk pada Ibra yang menekuk wajah. Langit menjulurkan lidahnya lalu mengambil cokelat di tangan Ibra lantas mengigitnya.
Tangisan adiknya itu pecah.
"Qanita Langit Zoe!"
Ia tertawa mendapat pelotoan dari Ezhar.
Setelah membuat adiknya menangis ia berlari cepat ke atas tangga.
"Maaf Papa!" teriaknya hilang dibalik pintu.
***
"Langiit ...."
"Iya di sini Mama." Langit yang tengah menonton televisi menoleh ke arah dapur. Di mana bunyi kresak kresuk terdengar.
Mamanya yang baru balik swalayan sibuk membereskan belanjaan.
"Mama lupa beli garam. Beli di warung depan Sayang."
"Gara ajaa Ma."
Ia menoleh pada Gara yang di tangannya ada Iped milik Ezhar dan juga Al-Quran. Adik kembarnya itu, Gara mendongak dengan wajah datarnya dengan tatapan kesal. Dia menaruh ipednya dam membuka Al-Quran.
Melantunkan surah Ar-rahman.
"Gara murajaah sayaang. Lagi pula kamu gak ngapa-ngapain."
"Gara tadi main game Mama. Dia baru murajaah lagi."
"Langit cepat!"
"Gea ajaa Ma."
"Gea baru pulang nemenin Mama."
"Mama butuh sekarang?"
"Langit?" Orlin berdiri dari posisinya dan berkacak pinggang.
Ia sontak berdiri. "Iya Ibunda Ratu.
Anakmu akan beli." Ia mendekat dan mengadahkan tangan. "Tapi lebihin jajan ya Ma?" tawarnya nyengir.
"Udah gede. Jajan jajan apa lagi? Mama udah beli stok cemilan. Gak ada jajan."
"Mama mah."
"Cepat sayang. Mama habis ini mau masak. Gak mau makan malam?"
"Iya mama sayang, cintaku." Karena ia hanya memakai pakaian rumah. Ia lekas mengambil hijabnya dan celana longgar.
"Langit pergi Maa," teriaknya kembali menuruni tangga dan keluar dari rumah.
Kornea matanya berbinar tatakala melihat mobil putih berhenti di depan gerbang sebelah rumah. Kaki yang dibalut sendal jepit itu sontak berlari ke dekat pembatas rumahnya dan tetangga sebelah.
"Cakep banget calon suami Langit."
Senyum manis di bibir ranum itu terbit begitu pria berkemeja putih dengan jas dokter yang tersampir di pergelangan tangannya keluar dari dalam mobil.
Gadis berusia 18 tahun itu melambaikan tangannya senang begitu kornea hitam milik
Pria berstatus dokter magang itu menatapnya.
Jangan bayangkan Langit akan mendapatkan senyuman hangat. Tidak tidak, jika itu terjadi mungkin dunia kiamat. Ia malah mendapat dengusan kasar dengan tatapan mematikan.
Calvin Albiru Ghazanvar. Pria yang dia klaim sebagai calon suami itu adalah pria dingin yang sedang bekerja sebagai dokter magang di salah satu rumah sakit terkenal di kota jakarta. Pria berumur 26 tahun yang hidup sendiri, ngekost di sebelah rumah Langit.
Nge-kost begitu, Albiru -panggilannya, sepertinya anak sultan. Lihat saja Dokter magang muda itu sudah punya mobil. Biru yang baru keluar dari mobilnya mendekat untuk membuka pagar.
Langit lekas berpindah membuka gerbang hitam itu. "Sini Langit bukain pintunya Dokter ganteng." Ia mengedipkan mata namun Biru menyuruh menjauh dengan gerakan tangan.
Bukan Langit jika nurut. Gadis itu tetap mendorong gerbang hingga mobil putih Albiru bisa masuk ke halaman. Dia sendiri lalu menepi dan mempersilahkan.
"Gerbang untuk Dokter Albiru sudah bisa dilewati. Silakan-"
Belum selesai bicara, Albiru mendengus lalu masuk ke dalam mobil dan membawa kendaraan roda empat itu masuk. Langit lekas mendekat lagi setelah menutup kembali gerbang.
"Lihat Kak Biru itu emang adem ya. Hati Langit jadi tenang. Emang benar sih Biru itu selalu menenangkan bagi Langit." Langit senyum-senyum seraya memperhatikan Biru yang melepas sepatunya.
"Kebalikannya, mata saya perih lihat kamu di sini. Pulang!"
"Kak Biru saking terharunya lihat Langit?"
"Saking gak senang." Albiru lalu mengeluarkan kunci rumah dan masuk. Sebelum Langit terus mengikutinya, pria itu langsung menutupnya.
Langit mengerucutkan bibirnya kesal. Ia kemudian menempelkan wajahnya ke kacса jendela berharap bisa melihat Biru. Sayangnya dari luar gelap.
"Kak biru jantung Langit berdebar terus nih. Diperiksa dong Kak."
Di dalam Albiru mendengus lalu menutup gorden.
"LANGIT MAMA SURUH BELI GARAM, BUKAN GANGGUIN ALBIRU!' Teriakan melengking itu membuat bola matanya bergerak pada asal suara. Pada wanita dengan jirong yang tengah berkacak pingang di beranda rumah. Langit sontak berlari pergi.
Orlin di tempatnya menghela nafas.
***