"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Buih
Suara mesin jet pribadi Bastian perlahan memudar, digantikan oleh deru angin tropis yang membawa aroma garam laut dan wangi bunga kamboja yang pekat. Begitu aku melangkah keluar dari pesawat di Bandara Ngurah Rai, udara Bali yang lembap langsung menyergap kulitku. Namun, berbeda dengan Jakarta yang udaranya terasa seperti beban, udara di sini terasa seperti pelukan yang asing namun menyembuhkan.
Bastian berjalan di sampingku. Ia sudah mengganti setelan jas formalnya dengan kemeja linen berwarna biru pucat dan celana kain ringan. Kacamata hitam bertengger di hidungnya yang tegas, memberikannya aura seorang penguasa yang sedang beristirahat, namun tetap waspada.
"Selamat datang di sisi lain dari pekerjaan ini, Arelia," ucapnya pelan saat kami berjalan menuju mobil jemputan yang sudah menunggu di apron.
"Terima kasih, Bastian. Rasanya... sangat tidak nyata," jawabku jujur.
Di dalam mobil yang membawa kami menuju kawasan Uluwatu, aku menatap ke luar jendela. Pohon-pohon palem melambai tertiup angin, dan pura-pura kecil di pinggir jalan dihiasi kain poleng yang kontras. Pemandangan ini sangat indah, namun hatiku masih tertinggal di lorong gelap kantor SCBD malam tadi. Bayangan wajah Kaivan yang hancur saat menyadari ia telah tertangkap basah terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak.
Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi dari Maya.
Maya: "Rel, gosip di kantor sudah meledak. Polisi datang ke apartemen Kaivan tadi pagi. Katanya mereka menemukan bukti lebih banyak soal kebocoran data di laptop pribadinya. Dia beneran habis, Rel. Nadine... nggak ada yang tahu dia di mana. Ada yang bilang dia kabur ke Singapura begitu tahu Kaivan dalam masalah hukum."
Aku mematikan layar ponsel dengan jari yang sedikit gemetar. Jadi, itulah akhir dari drama 'tujuan' yang selalu Kaivan agungkan? Begitu sang pelindung jatuh, sang tujuan pun menghilang tanpa jejak. Rasanya menyedihkan, namun di saat yang sama, aku merasakan semacam keadilan yang dingin menyapu hatiku.
"Jangan membaca berita itu jika kamu belum siap membiarkannya pergi," suara Bastian memecah lamunanku. Ia tidak menoleh, matanya lurus menatap jalanan yang berkelok.
"Aku hanya... merasa aneh melihat seseorang yang pernah kusebut dunia, kini hanya menjadi catatan kriminal di laporan kepolisian," bisikku.
"Itu karena duniamu yang dulu dibangun di atas pasir, Arelia. Sekarang, kamu sedang membangunnya di atas karang. Karang memang kasar, tapi ia tidak akan hancur hanya karena satu ombak," Bastian menoleh padaku, melepaskan kacamata hitamnya. Tatapannya begitu dalam, seolah ia bisa melihat setiap luka yang masih berusaha kusembunyikan.
Resort di Uluwatu itu terletak di pinggir tebing, menghadap langsung ke Samudera Hindia yang luas. Suara ombak yang menghantam karang di bawah sana terdengar seperti musik perkusi alam yang megah. Ruangan villaku sangat luas, dengan dinding kaca yang memperlihatkan cakrawala tanpa batas.
Aku duduk di balkon, menatap laut. Air laut yang membiru tampak tenang, namun di pinggirannya, buih-buih putih terbentuk setiap kali ombak pecah, lalu hilang dalam sekejap.
Buih.
Itulah hubungan kami selama tujuh tahun ini. Terlihat ada, terlihat indah saat terkena cahaya, namun ia kosong di dalamnya. Ia hanya kumpulan udara yang akan pecah begitu menyentuh kenyataan yang keras.
Ketukan di pintu menghubungkanku kembali dengan realita. Bastian berdiri di sana, mengundangnya untuk makan malam privat di tepi tebing.
"Kita punya banyak hal yang harus didiskusikan untuk pertemuan dengan investor besok pagi, tapi malam ini... saya ingin kita bicara sebagai manusia," ucap Bastian.
Makan malam itu hanya diterangi oleh cahaya lilin dan sinar bulan yang memantul di permukaan laut. Di atas meja, hidangan laut segar tersaji, namun selera makanku belum sepenuhnya kembali.
"Kaivan meneleponku lagi tadi sebelum aku mematikan ponsel," aku memulai pembicaraan, memecah keheningan yang sedikit menyesakkan.
Bastian menghentikan gerakannya memotong lobster. "Apa katanya?"
"Dia memohon padaku untuk mencabut tuntutan Adhitama Group. Dia bilang dia melakukan itu semua karena dia depresi, karena dia merasa aku meninggalkannya saat dia paling butuh. Dia masih menggunakan teknik yang sama, Bastian. Mencoba membuatku merasa bertanggung jawab atas kehancurannya."
"Dan apa jawabanmu?"
Aku menatap Bastian, lalu beralih ke arah laut yang gelap. "Aku bilang padanya bahwa satu-satunya orang yang meninggalkannya adalah dirinya sendiri. Aku sudah lama pergi, hanya saja dia terlalu sombong untuk menyadarinya. Dan aku bilang... tuntutan itu bukan milikku untuk dicabut. Itu adalah konsekuensi hukum yang harus dia hadapi."
Bastian tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kebanggaan. "Kamu baru saja membunuh hantu itu, Arelia. Dengan sangat elegan."
"Rasanya tidak sedamai yang kukira," aku mengakui, merasakan setetes air mata jatuh di pipiku. "Ada bagian dari diriku yang masih merindukan versi Kaivan yang kukenal saat kuliah. Pria yang dulu membelikanku cokelat saat aku stres, pria yang dulu berjanji akan menjagaku selamanya."
Bastian berdiri dari kursinya. Ia berjalan menghampiriku, lalu berlutut di samping kursiku. Ia mengambil tanganku dan menggenggamnya dengan sangat erat.
"Merindukan kenangan itu manusiawi, Arelia. Tapi jangan biarkan kenangan itu menjadi penjara bagi masa depanmu. Pria yang kamu kenal di kampus itu sudah lama tidak ada. Yang tersisa hanyalah seseorang yang menggunakan kenangan itu sebagai senjata untuk melukaimu," Bastian mencium punggung tanganku, sebuah gestur yang sangat intim namun penuh rasa hormat. "Malam ini, biarkan air mata itu menjadi yang terakhir. Besok, saat matahari terbit di atas laut ini, kamu adalah wanita yang tidak lagi memiliki utang emosional pada siapa pun."
Aku menatap Bastian. Di bawah cahaya bulan, ia tampak seperti pelabuhan yang sesungguhnya. Pelabuhan yang tidak akan membiarkan kapalnya hanyut, pelabuhan yang akan selalu memberikan cahaya saat badai datang.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke tablet kerja Bastian yang tergeletak di meja. Ia meliriknya sebentar, lalu wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Ada apa?" tanyaku cemas.
"Tim legal saya di Jakarta baru saja melaporkan bahwa Kaivan mencoba melakukan hal yang lebih gila. Dia mencoba menjual draf analisis riset pribadimu ke pihak kompetitor sesaat sebelum dia ditangkap. Dia ingin memastikan bahwa meskipun dia jatuh, kamu tidak akan pernah bisa memenangkan proyek di Bali ini," Bastian mendesah berat. "Dia benar-benar ingin menghancurkanmu sampai ke akarnya."
Rasa dingin menjalar di tulang punggungku. Kekejaman Kaivan ternyata tidak memiliki batas. Ia tidak hanya ingin aku kembali padanya; ia ingin aku hancur bersamanya.
"Tapi dia gagal, kan?" suaraku bergetar.
"Sangat gagal. Pembelinya ternyata adalah salah satu agen intelijen bisnis yang bekerja untuk saya. Kami sudah memegang semua buktinya. Sekarang, tuntutannya bukan lagi sekadar sabotase data, tapi spionase industri dan percobaan pencurian aset intelektual," Bastian berdiri, matanya berkilat tajam. "Dia tidak akan keluar dari penjara dalam waktu dekat, Arelia. Saya pastikan itu."
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Semuanya terasa begitu cepat. Tujuh tahun pengabdianku berakhir dengan percobaan penghancuran karier oleh orang yang sama.
"Sudah cukup," bisikku di balik telapak tangan. "Aku benar-benar sudah cukup."
"Ya, sudah cukup," Bastian mendekat, menarikku ke dalam pelukannya. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang stabil. "Biarkan dia menjadi buih di laut sana. Besok pagi, kita akan menunjukkan pada dunia siapa Arelia yang sebenarnya. Kita akan memenangkan Bali, dan kita akan memenangkan hidupmu kembali."
Malam itu, di tepi tebing Uluwatu, aku akhirnya melepaskan segalanya. Rasa bersalah, rasa kasihan, dan sisa-sisa cinta yang beracun itu luruh bersama air mata yang membasahi kemeja Bastian. Aku membiarkan Kaivan menjadi buih—putih, indah untuk sesaat, namun akhirnya menghilang ditelan samudera luas yang tidak akan pernah ia kuasai lagi.
Aku bukan lagi asisten Kaivan. Aku bukan lagi bayangan Nadine. Aku adalah Arelia.
Dan esok hari, matahari akan terbit dengan cara yang sangat berbeda bagiku.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain