NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Aira yang sudah seminggu bekerja di kantor barunya mulai merasa lebih nyaman. Rutinitasnya perlahan terbentuk, dan wajah-wajah di sekitarnya tidak lagi terasa asing. Meski begitu, ada satu hal yang masih mengganjal pikirannya sejak awal pindah ke kota ini—tempat tinggal.

Selama ini, ia masih menumpang di rumah bibinya. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena belum sempat mencari tempat yang benar-benar cocok. Namun, semakin lama, rasa tidak enak itu semakin menguat.

Siang itu, di sela waktu istirahat, Aira mendekati Ayunda yang sedang merapikan berkas di mejanya.

“Ayunda,” panggil Aira pelan.

Ayunda menoleh, wajahnya langsung cerah. “Ada apa? Kamu kelihatan serius sekali.”

Aira tersenyum tipis. “Aku kepikiran soal tempat tinggal. Kamu kemarin bilang punya kost, kan?”

Mata Ayunda langsung berbinar. Ia bahkan berhenti dari pekerjaannya dan mendekat sedikit. “Iya! Kamu mau lihat?”

Aira mengangguk. “Kalau boleh. Aku juga tidak enak terus numpang di rumah bibi.”

“Boleh sekali!” jawab Ayunda cepat, nadanya penuh semangat. “Nanti pulang kerja kita langsung ke sana, ya. Aku senang kalau kamu jadi penghuni.”

Aira ikut tersenyum melihat antusiasme itu. “Terima kasih. Aku juga ingin mulai mandiri. Rasanya sudah waktunya.”

Ayunda menepuk bahu Aira ringan. “Pasti bisa. Kamu kelihatan tipe yang kuat.”

Aira hanya tertawa kecil, tidak sepenuhnya setuju, tapi juga tidak menyangkal.

Ayunda kemudian berkata dengan nada santai, “Di kostku sih tidak ramai. Isinya cuma beberapa pasangan suami istri.”

Aira sedikit terkejut. “Serius? Tidak ada yang sendiri?”

“Tidak ada,” jawab Ayunda sambil menggeleng. “Makanya aku agak bosan. Tidak ada teman ngobrol.”

Aira tersenyum lebar. “Wah, bagus itu. Aku bisa sekalian belajar dari mereka. Biar nanti kalau menikah tidak kaget soal urusan rumah tangga.”

Ucapan itu membuat Ayunda terdiam sejenak. Senyumnya memudar, berganti ekspresi yang lebih sendu.

Aira yang menyadari perubahan itu langsung menatapnya. “Kenapa? Aku salah bicara?”

Ayunda menghela napas pelan. “Tidak. Cuma… aku baru putus sebulan lalu.”

Aira langsung merasa bersalah. “Maaf, aku tidak tahu.”

Ayunda tersenyum kecil, mencoba terlihat santai. “Tidak apa-apa. Sudah lewat juga.”

Aira menggeleng pelan. “Tetap saja. Kalau masih terasa, itu belum benar-benar lewat.”

Ayunda menatapnya, sedikit terkejut dengan jawaban itu.

“Coba saja pelan-pelan,” lanjut Aira. “Kalau memang ingin, nanti pasti ada yang lebih baik.”

Ayunda tertawa kecil. “Kamu seperti sudah berpengalaman sekali.”

Aira ikut tertawa. “Tidak juga. Aku malah sering gagal.”

“Sering?” Ayunda mengangkat alis. “Jadi kamu punya pacar sekarang?”

Aira langsung menggeleng. “Tidak ada.”

“Pernah?”

“Beberapa kali,” jawab Aira jujur. “Tapi tidak pernah berhasil.”

Ayunda memiringkan kepala, penasaran. “Kenapa?”

Aira terdiam sebentar sebelum menjawab. “Kebanyakan tidak serius. Mereka mendekat, tapi tidak benar-benar ingin bertahan.”

Ayunda mengangguk pelan, mencoba memahami.

“Aku jadi lebih memilih sendiri,” lanjut Aira. “Fokus kerja. Lebih tenang.”

Ayunda menyipitkan mata. “Kamu sebenarnya ingin menikah, ya?”

Aira langsung menggeleng cepat. “Bukan begitu.”

“Lalu?”

Aira tersenyum tipis, kali ini lebih serius. “Aku hanya ingin kalau suatu saat punya hubungan, itu bukan cuma tentang aku dan dia.”

“Maksudnya?”

“Aku ingin mengenal keluarganya. Dan dia juga mengenal keluargaku. Hubungan itu harus tenang, bukan cuma penuh perasaan tapi juga saling menerima.”

Ayunda memperhatikannya dengan saksama.

“Kalau hanya berdua, itu mudah,” lanjut Aira. “Tapi kalau sudah melibatkan keluarga, di situ terlihat kesungguhan.”

Ayunda terdiam beberapa saat, mencerna kata-kata itu.

“Kamu tidak menyalahkan mantan-mantanmu?” tanyanya kemudian.

Aira menggeleng. “Tidak. Mereka punya pilihan, aku juga.”

“Lalu keluargamu?” Ayunda bertanya lagi.

Aira menarik napas pelan. “Ayahku orangnya keras. Dingin juga. Tidak mudah menerima orang baru.”

Ayunda langsung mengerti. “Pasti sulit mengenalkan seseorang.”

Aira mengangguk. “Sangat sulit.”

“Lalu kenapa kamu tetap ingin seperti itu?”

Aira tersenyum kecil, tapi kali ini ada ketegasan di matanya. “Karena itu ujian. Kalau dia benar-benar serius, dia akan tetap mencoba.”

Ayunda menatapnya lama, lalu tersenyum. “Kamu kuat juga.”

Aira hanya mengangkat bahu. “Terbiasa saja.”

Tidak lama kemudian, bel istirahat berbunyi. Suasana kantor berubah lebih santai. Orang-orang mulai beranjak dari meja mereka.

“Ayo ke kantin,” ajak Ayunda.

Aira mengangguk. “Ayo.”

Mereka berjalan berdampingan menuju kantin. Aira yang memiliki tubuh mungil dan wajah yang manis cukup menarik perhatian. Beberapa pegawai bahkan menyapanya.

“Hai, Aira!”

“Aira, ikut duduk di sini saja!”

Beberapa laki-laki dari divisi lain mulai mendekat, mencoba membuka percakapan.

“Aira, baru di sini ya? Kita belum sempat kenalan.”

Aira tersenyum ramah. “Iya, baru seminggu.”

“Wah, pantas saja. Boleh kita kenalan lebih jauh?”

Aira tidak terlihat keberatan. “Boleh saja.”

Namun sebelum percakapan itu berkembang, Ayunda langsung berdiri di samping Aira, menatap para pria itu dengan ekspresi datar.

“Sudah cukup,” katanya tegas. “Dia mau makan.”

Para pria itu saling pandang, sedikit canggung.

“Kita cuma mau kenalan,” salah satu dari mereka mencoba menjelaskan.

“Sudah kenal,” potong Ayunda. “Sekarang silakan cari meja lain.”

Nada suaranya tidak tinggi, tapi cukup tegas untuk membuat mereka mundur.

Setelah mereka pergi, Aira menatap Ayunda dengan bingung. “Kenapa begitu? Mereka cuma mau kenalan.”

Ayunda menghela napas. “Kamu belum tahu saja.”

“Tahu apa?”

“Di sini banyak yang seperti itu. Mendekati pegawai baru, apalagi yang belum menikah.”

Aira sedikit terkejut. “Serius?”

Ayunda mengangguk. “Dan kebanyakan tidak serius.”

Aira terdiam, memikirkan itu.

“Aku tidak melarang kamu berteman,” lanjut Ayunda. “Tapi tetap hati-hati.”

Aira tersenyum kecil. “Aku hanya ingin punya teman.”

“Teman boleh,” kata Ayunda. “Tapi kalau mulai aneh-aneh, aku yang akan urus.”

Aira tertawa pelan. “Kamu seperti satpam saja.”

“Memang,” jawab Ayunda santai. “Satpam khusus.”

Aira menggeleng sambil tersenyum.

Tiba-tiba, seorang wanita mendekati mereka. Wajahnya ramah, tapi terlihat sedikit ragu.

“Maaf,” katanya pelan. “Aku boleh ikut duduk?”

Aira langsung mengangguk. “Tentu.”

Wanita itu duduk, lalu tersenyum. “Namaku Desi. Aku dari pemasaran. Baru seminggu juga di sini.”

Aira terlihat senang. “Aku Aira.”

“Aku Ayunda,” tambah Ayunda.

Desi mengangguk. “Aku tadi lihat kalian… dan jujur saja, aku ingin berteman.”

Aira tersenyum lebar. “Kenapa tidak?”

Desi melirik Ayunda, lalu tertawa kecil. “Sepertinya kalau dekat dengan Ayunda, aku aman.”

Ayunda mengangkat alis. “Aman dari apa?”

“Dari para buaya,” jawab Desi jujur.

Aira langsung tertawa.

Ayunda juga tersenyum tipis. “Kamu tidak salah.”

Desi terlihat lega. “Aku sempat didekati beberapa orang. Awalnya biasa saja, tapi lama-lama terasa aneh.”

Ayunda mengangguk. “Kamu tidak sendiri.”

Aira menatap mereka berdua, lalu berkata, “Sepertinya aku beruntung bertemu kalian.”

Desi tersenyum. “Aku juga.”

Ayunda menatap mereka berdua, lalu berkata dengan nada ringan, “Baiklah, mulai sekarang kita satu tim.”

“Tim apa?” tanya Aira.

“Tim anti buaya,” jawab Ayunda singkat.

Desi langsung tertawa. “Aku setuju.”

Aira ikut tertawa, merasa suasana hatinya jauh lebih ringan.

Di tengah hiruk pikuk kantin, mereka bertiga duduk bersama, berbagi cerita dan tawa. Untuk pertama kalinya sejak pindah, Aira merasa tidak sendirian.

Dan mungkin, tanpa ia sadari, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih dari sekadar pertemanan biasa.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Black Rascall: siap kak jangan lupa dukungannya
total 1 replies
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!