NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ledakan Matahari Malam

Hutan Bambu Hitam di belakang Puncak Luar adalah tempat yang jarang dikunjungi murid. Bambu-bambu di sini sekeras besi, dan udaranya selalu diselimuti kabut tebal yang menghalangi pandangan. Di tengah malam yang sunyi, tempat ini menjadi lokasi yang sempurna bagi Chu Chen untuk menguji kekuatan barunya.

Chu Chen berdiri di depan sebuah tebing cadas yang menjulang setinggi seratus tombak. Ia mengeluarkan kepingan giok Telapak Penghancur Matahari dari balik jubahnya, menempelkannya ke dahi, dan membiarkan tata cara penyaluran ilmunya mengalir ke dalam ingatannya.

"Pusatkan energi Yang pada tingkat puncak ke titik Akupuntur Laogong di telapak tangan. Kunci aliran balik. Biarkan energi itu mencapai batas puncak penghancuran, lalu lepaskan."

Chu Chen membuka matanya. "Ilmu yang bodoh bagi manusia biasa. Memutuskan aliran balik berarti membiarkan energi itu memanggang lengan sendiri sebelum menyentuh musuh."

Namun, Chu Chen menyingkirkan giok itu dan mengangkat lengan kanannya. Ia tidak akan menggunakan energi Yang biasa. Ia akan menggunakan unsur paling mematikan yang ia miliki.

Di dalam Dantiannya, Lautan Qi yang tenang mendadak bergejolak. Setetes cairan Qi yang mengandung kemurnian Api Teratai Merah ditarik keluar, dipompa langsung melalui meridian emas di lengan kanannya menuju telapak tangan.

WUUUSH!

Seketika, lengan kanan Chu Chen berubah menjadi merah menyala, seolah-olah ia baru saja merendam lengannya ke dalam lahar mendidih. Panas yang luar biasa gila merobek udara di sekitarnya, membuat bambu-bambu hitam dalam jarak sepuluh tombak langsung mengering dan hangus terbakar menjadi abu tanpa tersentuh api.

Namun, di bawah kulitnya yang membara, susunan tulang baja legamnya—Zirah Tulang Naga Hitam—memancarkan pendaran gelap. Tulang purba itu menahan dan mengurung panas mutlak Api Teratai Merah agar tidak menghancurkan otot dan pembuluh darah Chu Chen.

Dua kekuatan yang saling bertolak belakang: panas penghancur dari Api Surgawi dan ketahanan tak tertembus dari Tulang Naga Primordial, berpadu sempurna dalam satu tubuh.

Chu Chen mengepalkan telapak tangannya yang kini memancarkan cahaya seterang matahari kecil. Udara di sekitarnya melengkung dan beriak hebat.

"Telapak Penghancur Matahari," bisik Chu Chen dingin.

Ia melangkah maju, menghantamkan telapak tangan kanannya lurus ke arah tebing cadas raksasa di depannya.

Tidak ada suara ledakan yang memekakkan telinga. Tidak ada guncangan gempa yang meruntuhkan gunung.

Saat telapak tangan Chu Chen menyentuh permukaan tebing, sebuah lingkaran cahaya merah sedalam darah meledak dalam keheningan mutlak. Gelombang panas yang terlampau tinggi merambat menembus bebatuan dalam sepersekian kedipan mata.

Chu Chen menarik tangannya dan membalikkan badan.

Satu detik kemudian, tebing cadas setinggi seratus tombak itu... meleleh. Bukan hancur menjadi batu kerikil, melainkan seluruh susunannya dari luar hingga sepuluh tombak ke dalam seketika berubah menjadi lahar cair yang bercahaya merah terang, lalu menguap menjadi uap panas yang membakar langit malam.

Sebuah lubang raksasa yang pinggirannya berubah menjadi kaca hitam yang licin terbentuk di tengah tebing tersebut.

"Daya hancur yang memuaskan," gumam Chu Chen, menatap telapak tangannya yang hanya mengeluarkan sedikit asap tanpa ada luka bakar sedikit pun. "Jika telapak ini mengenai seorang ahli Alam Inti Emas, mereka tidak akan sempat berteriak sebelum pertahanan Qi mereka menguap."

Namun, kepuasan itu hanya bertahan sesaat.

Pupil Chu Chen mendadak menyempit menjadi celah emas vertikal. Nalurinya sebagai naga menjeritkan peringatan tingkat tertinggi. Bulu kuduknya meremang.

Ia memutar tubuhnya dengan cepat, matanya mengunci ke arah ujung dahan bambu hitam yang berjarak dua puluh tombak dari posisinya.

"Keluar." Suara Chu Chen sedingin es, meski di dalam dadanya jantungnya berdegup kencang. Ia tidak merasakan gejolak Qi apa pun. Jika naluri naganya tidak bereaksi terhadap bahaya, ia tidak akan pernah tahu ada keberadaan lain di sana.

Udara di atas dahan bambu itu beriak pelan. Kabut malam tersibak, dan sesosok bayangan perlahan menampakkan diri.

Itu adalah seorang wanita. Ia mengenakan gaun putih bersih yang seolah menolak untuk dinodai oleh debu dunia fana. Wajahnya tertutup oleh kerudung sutra seputih salju, hanya memperlihatkan sepasang mata sebening kristal es yang menatap Chu Chen dengan ketertarikan yang mendalam.

Kaki telanjangnya tidak berpijak pada dahan bambu, melainkan melayang satu cun di atasnya.

Alam Inti Emas Puncak? Atau Istana Jiwa? Chu Chen mencoba menakar kekuatannya, namun yang ia temukan hanyalah kehampaan. Wanita ini seperti menyatu dengan malam.

"Menarik," suara wanita itu terdengar sangat merdu, namun membawa hawa dingin yang bertolak belakang dengan panasnya sisa ledakan Chu Chen. "Ilmu cacat Telapak Penghancur Matahari dari Paviliun Luar. Ribuan orang menganggapnya sampah bunuh diri. Namun di tangan seorang Murid Luar Lapis Kelima, ilmu itu mampu melelehkan tebing Puncak Besi."

Mata wanita itu turun ke arah lengan kanan Chu Chen. "Dan yang paling menakjubkan... meridianmu tidak hancur. Tubuh fisikmu jauh melampaui batas fana, dan api yang kau gunakan tadi... kemurniannya membuatku merinding."

Chu Chen tidak menjawab. Ia secara naluriah memadatkan Lautan Qi-nya, bersiap untuk mengaktifkan Seni Penelan Semesta hingga batas penuh. Ia tahu perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh, tetapi Kaisar Naga tidak pernah diajarkan untuk menyerah tanpa menggigit leher musuhnya.

Merasakan Niat Membunuh Chu Chen yang kental, mata wanita berkerudung salju itu sedikit melengkung, membentuk senyuman di balik kainnya.

"Jangan buang tenagamu, Bocah. Jika aku berniat membunuhmu, kepalamu sudah terpisah dari lehermu sebelum kau sempat berbalik," ucap wanita itu santai.

Ia melayang turun dengan perlahan, mendarat di atas batu yang belum meleleh sekitar lima tombak dari Chu Chen. "Sekte Awan Suci baru saja kehilangan sebagian besar Api Teratai Merah dari Tanah Terlarang beberapa malam lalu. Seluruh Penatua sedang mencari tikus kecil yang berhasil melewati formasi leluhur."

Jantung Chu Chen berdetak satu kali lebih cepat, namun wajahnya tetap tidak berekspresi. "Apa hubungannya denganku? Aku hanya seorang Murid Luar yang melatih ilmu api tingkat rendah."

Wanita itu tertawa pelan, suara tawanya terdengar seperti dentingan lonceng es. "Alasan yang bagus. Jika Penatua Hukuman yang melihat ledakanmu barusan, kau sudah diseret ke tiang gantungan. Sayangnya bagimu, mataku tidak bisa ditipu oleh penyamaran fana."

Wanita itu mengangkat tangannya yang seputih pualam. Dari balik lengan bajunya, ia mengeluarkan sebuah plakat giok berwarna biru es dengan ukiran bunga teratai putih. Ia melemparkan plakat itu ke arah Chu Chen.

Chu Chen menangkapnya. Plakat itu sangat dingin, namun memancarkan Qi spiritual yang sangat menenangkan. Di bagian belakangnya terukir satu aksara: Bai.

"Apa ini?" tanya Chu Chen penuh kewaspadaan.

"Sebuah penanaman budi," jawab wanita itu, berbalik memunggungi Chu Chen, bersiap untuk pergi. "Tiga hari lagi, Ujian Penilaian Puncak Luar akan diadakan. Pemenangnya berhak memasuki Wilayah Terbengkalai untuk mencari rumput spiritual. Jika kau memang pemangsa yang mencuri api itu, buktikan nilai dirimu di sana. Bawa plakat itu. Itu akan menyelamatkan nyawamu jika jati dirimu terbongkar."

"Mengapa kau membantuku?" Chu Chen menatap punggung wanita itu. "Kau bagian dari sekte ini. Mengapa kau tidak menyerahkanku dan mengklaim hadiah dari para Penatua?"

Wanita itu menoleh sedikit ke belakang. Matanya yang dingin kini memancarkan ambisi yang tersembunyi. "Sekte Awan Suci sudah terlalu lama membusuk dalam kedamaian. Beberapa tetua tua terlalu rakus akan kekuasaan. Aku butuh kepingan tak terduga... seekor makhluk buas... untuk mengacaukan papan catur mereka dari bawah."

Tubuh wanita itu perlahan memudar menjadi serpihan cahaya es, menghilang ke dalam hembusan angin malam. "Jangan mati terlalu cepat, Tuan Pencuri Api. Sampai jumpa di Wilayah Terbengkalai."

Hutan Bambu Hitam kembali sunyi. Hanya menyisakan suara mendesis dari lahar yang mulai mendingin di tebing.

Chu Chen berdiri diam, menatap plakat giok biru di tangannya. Ia meremasnya dengan erat. Pertemuan ini adalah peringatan mutlak baginya.

"Papan catur, huh?" Chu Chen menyeringai dingin. "Kau pikir bisa menjadikanku bidakmu? Tunggu saja sampai Lautan Qi-ku mengeringkan seluruh bidakmu, dan kau sendiri yang akan menjadi makananku."

Chu Chen memasukkan plakat itu ke balik jubahnya. Kekuatannya belum cukup. Ia harus memenangkan Ujian Penilaian Puncak Luar dan masuk ke Wilayah Terbengkalai untuk mencari sumber daya yang lebih besar demi memadatkan Lautan Qi-nya ke tahap selanjutnya.

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!