Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Infiltrasi Steril dan Labirin Putih
Pukul empat lewat tiga puluh menit dini hari.
Dunia di luar sana masih terbungkus oleh selimut kabut kelabu yang lembap, namun di dalam mobil sedan hitam milik Jaksa Satria, udara terasa jauh lebih tipis dan mencekik. Aku duduk di kursi penumpang depan, meremas jemariku sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak merasakan pengaruh zat penenang Dokter Frans di aliran darahku. Otakku bekerja dengan kejernihan yang menyakitkan, merekam setiap detail kecil: detak jarum jam di dashboard, aroma kopi pahit dari napas Satria, dan pantulan wajahku yang pucat di kaca jendela yang berembun.
Di kursi belakang, Devan sedang memeriksa kembali pisau lipat dan peralatan kecil lainnya. Ia mengenakan pakaian serba hitam—hoodie gelap dan celana kargo—yang membuatnya tampak seperti bayangan yang siap melebur dengan kegelapan. Sejak kami meninggalkan gudang tadi, ia hampir tidak bicara. Namun, setiap kali mataku melirik spion tengah, aku mendapati tatapannya mengunci mataku, memberikan kekuatan yang tidak bisa diberikan oleh kata-kata manis mana pun.
"Kita sudah sampai di area belakang," suara rendah Satria memecah keheningan. Ia mematikan lampu mobil dan membiarkan kendaraan itu meluncur pelan ke sebuah gang sempit yang berbatasan langsung dengan tembok tinggi Klinik Medika Utama.
Klinik itu berdiri angkuh seperti benteng putih di tengah pemukiman elit. Jendela-jendelanya kecil dan dilindungi oleh teralis besi dekoratif yang sebenarnya adalah penjara bagi siapa pun yang ada di dalam. Di sinilah tempat di mana memoriku dicincang dan dibuang. Di sinilah Dokter Frans memainkan peran sebagai tuhan atas kewarasanku.
Satria menoleh ke belakang, menatap Devan. "Jalur limbah medis ada di balik kontainer sampah hijau itu. Kuncinya sudah kumatikan lewat sistem pusat dari jauh, tapi kau hanya punya waktu sepuluh detik sebelum alarm magnetiknya menyala kembali. Kau harus bergerak seperti hantu."
Devan mengangguk pelan. Ia meraih tanganku, meremasnya sekali dengan sangat kuat. "Tunggu aku di ruang kerja Frans. Jangan lakukan hal konyol sebelum aku sampai," bisiknya. Suaranya serak, penuh dengan kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik topeng ketenangan.
"Aku janji," balasku lirih.
Devan keluar dari mobil tanpa suara, seolah-olah pintu mobil itu terbuat dari kapas. Dalam sekejap, sosoknya menghilang di balik bayang-bayang kontainer. Aku menahan napas sampai hitungan kesepuluh, memastikan tidak ada sirene yang meraung. Aman.
Satria menghela napas panjang, lalu menyalakan kembali mesin mobil. Ia memutar arah menuju gerbang depan klinik yang dijaga ketat oleh dua orang pria bertubuh besar dengan seragam safari hitam—orang-orang kepercayaan ayahku.
"Sekarang giliran kita, Anya," ujar Satria. Ia mengenakan kembali lencana jaksanya di saku kemeja. "Ingat, kau adalah putri yang ketakutan, yang baru saja diselamatkan dari penculik gila. Jangan tunjukkan kalau kau sudah ingat semuanya. Tetaplah menjadi boneka yang bingung."
Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan topeng yang harus kupakai. Aku harus memanggil kembali sosok 'Anya yang malang', Anya yang tidak berdaya, Anya yang selalu menelan pil putih tanpa bertanya. Saat aku membuka mata, aku melihat pantulan diriku yang baru—seorang aktris yang sedang bersiap memerankan adegan paling berbahaya dalam hidupnya.
Mobil berhenti di depan pos jaga. Lampu sorot yang menyilaukan menyapu wajah kami.
"Jaksa Satria Wirawan dari Kejaksaan Agung," Satria menurunkan kaca jendela, menunjukkan tanda pengenalnya dengan otoritas yang tak tergoyahkan. "Saya menemukan Nona Anya Kusuma di pinggiran Sektor Utara. Saya memiliki instruksi langsung dari Tuan Hendra untuk membawanya ke sini segera untuk pemeriksaan medis darurat sebelum keberangkatan pagi ini."
Para pengawal itu saling pandang. Mereka memeriksa wajahku. Aku menundukkan kepala, membiarkan rambutku menutupi wajah, dan mulai menggigil secara artifisial.
"Buka gerbangnya! Kalian tidak lihat kondisinya sedang tidak stabil?" bentak Satria.
Logam gerbang itu berderit terbuka. Kami meluncur masuk ke pelataran parkir yang luas dan sunyi. Pintu utama klinik terbuka, dan di sana, berdiri sosok yang membuat perutku melilit hebat.
Dokter Frans.
Ia mengenakan jas putihnya yang selalu terlihat licin dan bersih tanpa noda, seolah-olah ia tidak pernah melakukan dosa apa pun di balik kain itu. Kacamata berbingkai emasnya berkilau terkena lampu teras. Ia tersenyum—senyum yang selama tiga tahun kuanggap sebagai penyelamat, namun kini kulihat sebagai seringai iblis yang memegang pisau bedah.
"Anya! Syukurlah kau selamat!" Frans berlari kecil mendekati mobil begitu Satria membantuku turun.
Ia mencoba meraih bahuku, namun aku secara refleks mundur selangkah, bersembunyi di balik punggung Satria. Kali ini, ketakutanku bukanlah akting. Tubuhku mengingat setiap rasa sakit yang pernah ia tanamkan.
"Jangan sentuh dia dulu, Dokter," tegur Satria dingin. "Dia mengalami trauma hebat. Penculiknya—Devan Mahendra—hampir mencuci otaknya dengan berbagai macam narasi palsu. Nona Anya sangat bingung sekarang."
Mata Frans menyipit sesaat saat mendengar nama Devan. Ada kilat kemarahan di balik kacamatanya, namun ia segera menguasai diri. "Tentu, tentu. Saya mengerti. Mari bawa dia ke ruang observasi atas. Tuan Hendra sedang dalam perjalanan ke sini. Beliau sangat terpukul."
Kami berjalan menyusuri koridor klinik yang sangat sunyi. Bau antiseptik dan cairan pembersih lantai yang tajam menyerbu indra penciumanku, memicu kilasan-kilasan memori yang tidak menyenangkan. Aku teringat saat aku diseret melewati lantai granit ini tiga tahun lalu, menjerit memanggil nama Devan, sementara para perawat di sini hanya menatapku dengan tatapan kosong.
"Anya, Sayang, kau dengar saya?" Frans bicara dengan suara lembut yang memuakkan saat kami naik ke lantai dua. "Jangan dengarkan apa pun yang dikatakan anak laki-laki itu. Dia hanya ingin menghancurkan keluargamu. Ayahmu melakukan semua ini untuk melindungimu."
Aku hanya mengangguk kaku, tetap menunduk. Di dalam hati, aku berteriak: Aku tahu siapa monster yang sebenarnya, Frans.
Kami sampai di ruang kerja Frans yang luas di ujung koridor. Ruangan itu didominasi oleh rak buku kedokteran dan sebuah meja mahoni raksasa. Di sudut ruangan, terdapat sebuah brankas baja tertanam di dinding. Jantungku berdegup kencang. Laptop perak itu harus ada di sana.
"Jaksa Satria, terima kasih atas bantuannya," Frans menoleh pada Satria dengan nada mengusir yang halus. "Saya harus segera melakukan pemeriksaan neurologis pada Anya. Silakan tunggu di lobi bawah."
Satria tidak bergeming. Ia menyilangkan tangan di dada. "Sesuai prosedur Kejaksaan Agung terkait perlindungan saksi kunci yang baru saja ditemukan, saya tidak boleh melepaskan pengawasan terhadap korban sampai keluarga intinya hadir dan menandatangani berita acara serah terima. Saya akan tetap di sini."
Frans tampak terganggu, namun ia tidak bisa melawan otoritas hukum Satria. "Baiklah. Kalau begitu biarkan Anya duduk di sana. Saya akan mengambil kit pemeriksaan di ruang sebelah."
Frans melangkah keluar ruangan melalui pintu samping yang menuju ruang lab pribadinya. Begitu pintu tertutup, Satria segera bergerak menuju jendela, memastikan tidak ada orang di luar, sementara aku berlari menuju brankas di dinding.
"Devan... di mana dia?" bisikku panik.
"Sstt... dia sudah di atas. Aku bisa merasakan getaran dari plafon," jawab Satria pelan.
Tiba-tiba, suara derit halus terdengar dari saluran ventilasi udara di atas brankas. Tutup ventilasi itu bergeser pelan, dan sesosok tubuh ramping namun kuat meluncur turun dengan kelenturan yang luar biasa.
Devan mendarat di lantai tanpa suara sedikit pun. Rambutnya dipenuhi debu, dan napasnya memburu, namun matanya berkilat penuh kemenangan saat melihatku.
"Anya," ia berbisik, segera menarikku ke dalam pelukannya selama sedetik—sebuah pelukan singkat yang terasa seperti keabadian di tengah neraka ini.
"Cepat! Frans bisa kembali kapan saja," Satria memperingatkan.
Devan segera berlutut di depan brankas baja itu. Ia mengeluarkan sebuah alat elektronik kecil yang ia sambungkan ke panel digital brankas. "Kuncinya masih menggunakan protokol lama perusahaan Kusuma. Frans terlalu malas untuk mengupdatenya."
Layar di alat Devan berkedip-kedip hijau. Angka-angka berputar cepat.
Klik.
Pintu brankas itu terbuka perlahan. Di dalamnya, tumpukan berkas dokumen berwarna merah berjajar rapi. Dan di bagian paling bawah, tergeletak sebuah perangkat yang sangat kukenal. Sebuah laptop perak tipis dengan logo apel yang sudah sedikit tergores. Laptop lamaku.
Devan merampas laptop itu dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. "Dapat."
Namun, saat Devan hendak memanjat kembali ke ventilasi, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah koridor luar. Bukan langkah Frans dari pintu samping, melainkan langkah-langkah berat dari pintu depan.
Pintu utama ruang kerja terbuka kasar.
Ayah berdiri di sana. Wajahnya merah padam, napasnya memburu, dan di tangannya ia memegang sebuah ponsel yang masih menyala. Di belakangnya berdiri empat orang pengawal bersenjata laras pendek.
"Jadi... ini permainannya, Satria?" suara Ayah menggelegar, dingin dan mematikan. Ia menatap Satria dengan kebencian murni, lalu pandangannya beralih ke Devan yang masih berdiri di depan brankas yang terbuka.
Ayah tertawa, sebuah tawa kering yang membuat bulu kudukku meremang. "Kau benar-benar tidak tahu kapan harus menyerah, Devan Mahendra. Aku sudah memberimu waktu tiga tahun untuk menghilang di sel, tapi kau malah kembali untuk menggali kuburanmu sendiri."
"Ayah..." aku mencoba melangkah maju, namun salah satu pengawal segera menodongkan senjata ke arahku.
"Diam, Anya!" bentak Ayah. "Kau adalah putriku, tapi jika kau terus membela sampah ini, aku akan menganggapmu sebagai barang rusak yang tidak layak diperbaiki."
Hendra Kusuma menatap Devan dengan tatapan seorang predator yang sudah memojokkan mangsanya. "Frans baru saja menelponku. Dia bilang ada penyusup yang masuk lewat jalur limbah. Kau pikir aku sebodoh itu membiarkan satu-satunya bukti yang bisa memenjarakanku tergeletak begitu saja di dalam brankas?"
Ayah merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah flashdisk hitam kecil. "Data yang ada di dalam laptop itu sudah dihapus secara fisik oleh Frans enam bulan lalu. Yang kau ambil itu hanyalah cangkang kosong, Devan. Bukti aslinya... data korupsi Proyek Sudirman yang asli... hanya ada di tangan saya sekarang."
Duniaku runtuh seketika. Kosong? Laptop itu sudah tidak berguna?
Devan tidak tampak panik. Ia justru tersenyum miring, senyum yang sama yang ia berikan saat pertama kali menginjak kakiku di kelas. "Kau benar, Hendra. Frans memang sudah menghapus isinya. Tapi dia lupa satu hal tentang arsitektur perangkat keras laptop lama Anya."
Devan mengangkat laptop itu tinggi-tinggi. "Anya adalah mahasiswi sastra yang ceroboh, tapi dia sangat teliti soal kenangan. Dia memasang micro-SD tersembunyi di dalam slot ekspansi yang sudah disolder mati di motherboard. Bahkan seorang ahli forensik digital pun tidak akan menemukannya jika tidak tahu di mana letaknya. Dan data asli itu... salinan otomatis dari setiap dokumen merah yang kau buat... ada di sana."
Wajah Ayah seketika memucat. Ia menoleh ke arah Dokter Frans yang baru saja masuk dari pintu samping dengan wajah pucat pasi.
"Frans! Kau bilang kau sudah membersihkan semuanya!" raung Ayah.
"S-saya tidak tahu soal kartu SD itu, Pak Hendra! Anya tidak pernah bilang—"
"SEKARANG!" teriak Satria.
Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Satria menendang meja mahoni hingga terbalik, menjadikannya tameng darurat. Devan menarik pistolnya dan melepaskan tembakan ke arah lampu gantung utama.
PRANG!
Kegelapan total seketika menelan ruangan itu. Suara teriakan, tembakan balasan, dan pecahan kaca memenuhi udara. Di tengah kekacauan itu, aku merasakan sebuah tangan yang kuat menyambar lenganku dan menarikku ke arah jendela yang sudah dipecahkan oleh Devan.
"Lompat, Anya! Satuan pusat sudah ada di bawah!" teriak Devan di tengah kebisingan.
Kami melompat keluar jendela lantai dua, mendarat di atas atap mobil ambulans yang terparkir tepat di bawahnya. Rasa sakit yang tajam menghantam kakiku, namun adrenalin membuatku terus berlari mengikuti Devan menuju pagar belakang.
Di belakang kami, lampu-lampu biru-merah polisi pusat mulai mengepung klinik. Suara helikopter menderu di atas kepala. Elegi ini sudah mencapai bait terakhirnya, dan kaset rusak di kepalaku tiba-tiba memutar sebuah memori yang selama ini terkunci rapat di ruang paling gelap.
[KILAS BALIK SINEMATIK]
FADE IN:
INT. LABORATORIUM KLINIK MEDIKA UTAMA - MALAM HARI (3 TAHUN LALU)
Suasana ruangan sangat remang-remang. ANYA (16 tahun) duduk di kursi pesakitan dengan tangan terikat. DOKTER FRANS sedang berdiri di depan laptop perak milik Anya.
HENDRA (Ayah Anya) berdiri di belakang Frans, menatap layar laptop yang menampilkan folder 'Proyek Sudirman'.
HENDRA
"Hapus semuanya, Frans. Jangan sisakan satu bita pun. Jika dokumen ini sampai ke kejaksaan, kita berdua akan membusuk di penjara seumur hidup."
DOKTER FRANS
"Sudah, Pak Hendra. Saya menggunakan algoritma penghapusan berlapis. Datanya tidak akan bisa dipulihkan oleh siapa pun."
Frans menutup laptop itu dengan kasar. Ia kemudian mengambil sebuah jarum suntik berisi cairan bening. Ia menoleh pada Anya yang sedang menangis tanpa suara, matanya membelalak ketakutan.
FRANS (CONT'D)
"Sekarang... giliran kau, Anya. Kau tidak akan ingat dokumen ini. Kau tidak akan ingat Devan. Kau hanya akan ingat bahwa Ayahmu adalah pahlawan yang menyelamatkanmu dari kecelakaan tragis."
HENDRA
(Berjalan mendekati Anya, mencengkeram rahangnya dengan lembut namun menyakitkan)
"Ini demi kebaikanmu, Sayang. Maafkan Ayah."
Kamera fokus pada wajah Anya yang menjerit keputusasaan saat jarum suntik itu menembus kulit lengannya. Pandangan Anya (POV) perlahan-lahan mengabur, wajah Ayah dan Frans perlahan-lahan menghilang ditelan kabut putih, hingga akhirnya layar berubah menjadi hitam pekat.
FADE OUT.
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??