Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Tiga Bayangan di Hutan Bisu
Hui menegakkan telinganya lebih dulu.
Serigala hitam itu berhenti mengibaskan ekornya. Hidungnya mengendus udara malam, dan geraman rendah keluar dari tenggorokannya—bukan geraman peringatan untuk mangsa, melainkan geraman waspada untuk ancaman.
Xiao Chen, yang masih memegang Yue Que, segera menangkap perubahan itu. Ia menutup mata sejenak, merasakan aliran Energi Chaos di tulang punggungnya yang baru bangkit. Ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak hanya bisa merasakan tubuhnya sendiri—ia bisa merasakan getaran di sekitarnya. Langkah kaki. Jantung yang berdetak. Napas yang tertahan.
Tiga orang, pikirnya. Mendekat dari arah timur.
"Kau merasakannya?" tanya Yue Que di benaknya. "Itu efek Lapis Kedua. Tulang punggungmu sekarang terhubung dengan tanah. Setiap getaran di atas bumi, kau bisa rasakan."
Xiao Chen tidak sempat mengagumi kemampuan barunya. Tiga orang itu semakin dekat. Dan dari arah mereka, dari seragam yang mungkin mereka kenakan, dari fakta bahwa mereka berada di perbatasan Hutan Bisu...
Murid Sekte Langit Pedang.
Tangannya mengepal di sekitar gagang Yue Que. Dendam lama berdesir di dadanya, tapi ia menekannya. Ia belum siap. Belum.
"Hui," bisiknya. "Sembunyi."
Serigala itu menatapnya dengan mata merah yang cerdas, lalu menghilang ke balik semak-semak tanpa suara. Bulu hitamnya menyatu sempurna dengan kegelapan hutan.
Xiao Chen tetap berdiri di tempatnya. Tiga pohon tumbang di hadapannya adalah bukti yang tidak bisa ia sembunyikan. Kalau ia melarikan diri sekarang, mereka akan mencari dan menemukan gua, altar, jejak-jejaknya. Lebih baik hadapi.
Ia menyandarkan Yue Que di bahunya, berusaha tampak setenang mungkin.
Tak lama kemudian, tiga sosok muncul dari balik pepohonan.
---
Murid pertama adalah pemuda berwajah keras dengan pedang di pinggang. Luo Feng, murid luar tingkat atas, Alam Pemurnian Qi tingkat tujuh. Ia memimpin patroli malam ini atas perintah Tetua Ma.
Murid kedua adalah gadis berambut pendek dengan mata tajam. Su Yan, murid luar tingkat enam. Ia membawa busur dan tabung anak panah di punggungnya.
Murid ketiga adalah pemuda gemuk yang tampak gugup. Pang Wei, murid luar tingkat lima. Ia lebih suka berada di perpustakaan daripada di hutan gelap seperti ini.
Ketiganya berhenti saat melihat Xiao Chen.
Luo Feng mengangkat tangannya, memberi isyarat pada dua rekannya untuk berjaga. Matanya menyipit, menatap pemuda telanjang dada dengan pedang patah di bahunya yang berdiri di antara pohon-pohon tumbang.
"Siapa kau?!" bentaknya. "Hutan Bisu adalah wilayah terlarang! Tidak ada yang boleh masuk tanpa izin Tetua!"
Xiao Chen tidak menjawab segera. Ia menatap ketiga murid itu satu per satu. Luo Feng. Su Yan. Pang Wei.
Ia mengenal mereka.
Dulu, saat ia masih menjadi pelayan, Luo Feng pernah menendang ember airnya hingga tumpah, lalu memaksanya mengisi ulang dari sumur di puncak bukit—tiga kali bolak-balik. Su Yan pernah merobek jubah satu-satunya dengan alasan "tidak sengaja", lalu tertawa saat Xiao Chen harus menjahitnya dengan benang kasar. Dan Pang Wei... Pang Wei tidak pernah menyakitinya secara langsung. Tapi ia juga tidak pernah membantu. Ia hanya menonton.
Mereka bukan musuh besarku, pikir Xiao Chen. Mereka hanya ikan-ikan kecil.
"Aku bertanya siapa kau!" ulang Luo Feng, nada suaranya semakin tinggi. Tangannya sudah bergerak ke gagang pedang.
Xiao Chen akhirnya membuka mulut. "Aku hanya seorang pengelana. Tersesat di hutan ini."
Suaranya sengaja dibuat berbeda—lebih rendah, lebih datar. Ditambah tubuhnya yang kini lebih berisi dan aura aneh yang memancar dari tulang-tulangnya, ia yakin mereka tidak akan mengenalinya sebagai pelayan kurus yang dulu mereka injak-injak.
"Pengelana?" Su Yan mendengus. "Di Hutan Bisu? Omong kosong. Tidak ada pengelana yang cukup bodoh untuk masuk ke sini."
"Lihat pohon-pohon itu," bisik Pang Wei pada Luo Feng. "Itu... bekas tebasan pedang. Tapi tidak ada kultivator Alam Pemurnian Qi yang bisa menebang tiga pohon sekaligus dengan satu ayunan."
Mata Luo Feng menyipit. Ia memperhatikan pohon-pohon tumbang itu lebih saksama. Batangnya terbelah sempurna. Permukaan potongannya halus, seperti dipotong oleh sesuatu yang sangat tajam dan sangat cepat.
Bukan Qi, pikirnya. Ini sesuatu yang lain.
"Kau," katanya pada Xiao Chen, kali ini lebih hati-hati. "Kau yang menebang pohon-pohon itu?"
Xiao Chen mengangkat bahu. "Mungkin."
"Jangan main-main!" Su Yan menarik anak panah dari tabungnya, memasangnya di busur. "Kami adalah murid Sekte Langit Pedang. Kawasan ini di bawah pengawasan kami. Kalau kau tidak memberi jawaban jelas, kami punya hak untuk menangkapmu—atau membunuhmu."
Xiao Chen menatap anak panah yang diarahkan ke dadanya. Sebulan lalu, tatapan seperti itu akan membuatnya gemetar. Sekarang... ia hanya merasa dingin.
"Kalian bertiga," katanya pelan. "Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berbicara. Pulanglah. Lupakan apa yang kalian lihat malam ini. Itu saran terbaik yang bisa kuberikan."
Luo Feng tertawa. Tawa yang dipaksakan, untuk menutupi kegelisahan yang mulai merayap di hatinya. "Memangnya kau pikir kau siapa? Tetua Agung? Pahlawan legendaris? Kau hanya pengelana bertelanjang dada dengan pedang patah!"
Ia mencabut pedangnya. Bilah baja itu memantulkan cahaya bulan.
"Aku akan menghajarmu sampai kau mengaku siapa kau sebenarnya!"
Luo Feng menyerbu.
Langkahnya cepat—untuk ukuran murid luar. Pedangnya menusuk lurus ke arah bahu Xiao Chen, bukan ke organ vital. Ia masih ingin menangkap hidup-hidup untuk diinterogasi.
Xiao Chen melihat serangan itu datang. Dulu, ia tidak akan bisa mengikuti gerakan secepat itu. Tapi sekarang... gerakan Luo Feng terasa seperti orang berjalan di dalam air. Lambat. Jelas. Terbaca.
Tulang punggungnya bergetar, mengirimkan informasi dari tanah ke otaknya—posisi kaki Luo Feng, pergeseran berat badannya, sudut ayunan pedangnya. Tulang dadanya bernapas, mengirimkan Energi Chaos ke lengan kanannya.
Xiao Chen menggerakkan Yue Que.
Bukan ayunan penuh seperti yang ia lakukan pada pohon. Hanya gerakan kecil. Pergelangan tangan berputar, bilah patah itu mengetuk sisi pedang Luo Feng.
TING!
Suara logam bertemu logam.
Dan pedang Luo Feng terlepas dari genggamannya.
Pemuda itu terbelalak. Tangannya gemetar, telapaknya terasa panas seperti tersengat listrik. Pedangnya berputar di udara sebelum menancap di tanah beberapa langkah di belakangnya.
"Apa—"
Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Xiao Chen sudah bergerak. Satu langkah, dan ia sudah berada tepat di hadapan Luo Feng. Yue Que di tangannya kini menempel di leher pemuda itu. Bukan bagian tajamnya—pedang itu patah, tidak benar-benar tajam—tapi Energi Chaos yang berdenyut di bilahnya terasa seperti panas bara api di kulit Luo Feng.
"Katakan pada Tetua Ma," bisik Xiao Chen, cukup keras untuk didengar bertiga, "bahwa Jurang Naga Pemakaman sudah tidak lagi menjadi kuburan. Katakan padanya... bahwa sesuatu telah bangun dari sana."
Mata Luo Feng melebar. "Jurang... Naga Pemakaman? Kau... kau tidak mungkin..."
Su Yan menarik busurnya hingga batas maksimal. "Lepaskan dia atau aku panah kepalamu!"
Xiao Chen menoleh padanya. Tatapan matanya—dingin, keemasan—membuat Su Yan terpaku di tempat. Ia pernah melihat tatapan seperti itu sebelumnya. Tapi di mana?
Tidak mungkin, pikirnya. Itu hanya pelayan sampah. Dia sudah mati.
Tapi mulutnya bergerak sendiri. "Xiao... Chen?"
Nama itu meluncur seperti batu yang jatuh ke kolam sunyi.
Luo Feng tersentak. Pang Wei mundur selangkah.
Xiao Chen tidak mengkonfirmasi. Ia juga tidak membantah. Ia hanya menurunkan Yue Que dari leher Luo Feng, lalu mundur selangkah.
"Pergilah," katanya. "Dan sampaikan pesanku."
Luo Feng meraih pedangnya yang tertancap di tanah, lalu mundur dengan langkah gontai. Su Yan masih memegang busurnya, tapi anak panahnya kini mengarah ke tanah. Pang Wei sudah setengah berbalik, siap lari kapan saja.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Luo Feng, suaranya bergetar.
Xiao Chen menatapnya. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan sedikit cahaya keemasan dari Tulang Patah Surga di dadanya terlihat jelas. Simbol retak itu berdenyut pelan, seperti jantung kedua.
"Aku adalah seseorang yang seharusnya mati," jawabnya. "Tapi Surga rupanya tidak ingin aku mati. Surga ingin aku menjadi masalah bagi mereka yang membuangku."
Ketiga murid itu tidak menunggu lebih lama. Mereka berbalik dan berlari keluar dari Hutan Bisu, menghilang di balik pepohonan dengan kecepatan yang bahkan tidak mereka tunjukkan saat berburu binatang buas.
Xiao Chen menatap kepergian mereka. Hui muncul dari balik semak, berdiri di sampingnya, menggeram pelan.
"Kau seharusnya membunuh mereka," kata Yue Que. "Mereka akan melapor. Sekte akan tahu kau masih hidup."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa?"
Xiao Chen menyandarkan Yue Que di bahunya lagi. "Karena aku ingin mereka tahu. Aku ingin Tetua Ma tahu. Aku ingin Zhao Ling'er tahu. Aku ingin mereka semua tahu bahwa aku masih hidup... dan aku sedang dalam perjalanan kembali."
Ia menatap ke arah Sekte Langit Pedang, yang menara-menaranya samar terlihat di kejauhan, berkilau diterpa cahaya bulan.
"Biar mereka menungguku dengan ketakutan," lanjutnya. "Itu lebih menyakitkan daripada kematian mendadak."
Yue Que tidak menjawab. Tapi Xiao Chen bisa merasakan sesuatu dari pedang itu—bukan persetujuan, bukan juga penolakan. Hanya... pengertian.
Hui melolong pelan ke arah bulan. Suaranya terdengar seperti nyanyian perang.
Malam itu, di Hutan Bisu, Xiao Chen kembali ke guanya. Ia tahu waktunya semakin sempit. Sekte akan datang. Mungkin besok, mungkin lusa. Ia harus lebih kuat.
Ia duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai melatih Pernapasan Tulang. Kali ini, tulang punggungnya ikut bernapas. Retakan-retakan di sana menyerap Energi Chaos dari bumi di bawahnya, mengalirkannya ke seluruh tubuh.
Lapis Kedua sudah ia capai.