Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Lampu kamar yang temaram membuat bayangan Xavier jatuh memanjang di atas karpet. Hujan di luar masih memukul-mukul kaca jendela, tapi di dalam ruangan ini, keheningan terasa lebih berisik. Aeryn masih duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya dibungkus selimut tebal yang diberikan Xavier, namun matanya terpaku pada dompet kulit hitam yang tergeletak terbuka di atas nakas.
Foto kecil itu seolah menyedot seluruh udara di paru-parunya. Seorang anak kecil dengan pita merah, tersenyum tanpa beban. Itu dirinya. Dua puluh tahun yang lalu.
Xavier menyadari arah pandang Aeryn. Dengan gerakan tenang, ia mengambil dompet itu dan menutupnya. Wajahnya kembali menjadi topeng yang keras, seolah momen di balkon tadi tidak pernah terjadi.
"Kau harus istirahat," kata Xavier pendek. Suaranya datar. "Aku akan menyuruh pelayan membawakan teh hangat."
"Sejak kapan?" tanya Aeryn. Suaranya serak.
Xavier berhenti melangkah, membelakangi Aeryn. "Apa?"
"Foto itu. Tulisan di belakangnya. Sejak kapan kau menyimpannya?" Aeryn menatap punggung tegap suaminya. "Kau bilang kau setuju untuk menikahiku karena bisnis. Karena kau butuh wajah Valerine untuk menguasai pasar perhiasan. Tapi foto itu... itu bukan tentang bisnis."
Xavier tidak menoleh. "Itu hanya kenang-kenangan lama. Jangan dipikirkan."
Aeryn tertawa getir. Ia menyibakkan selimutnya, mengabaikan rasa dingin yang masih menggigit kulitnya, lalu berdiri mendekati Xavier. "Kenang-kenangan? Kau menyimpan foto anak kecil yang bahkan tidak kau kenal saat itu? Dan kau menyebutnya 'Little Queen'?"
Xavier berbalik perlahan. Matanya gelap, sulit dibaca. "Aku mengenalmu lebih lama dari yang kau duga, Aeryn. Itu saja."
"Jelaskan padaku," tuntut Aeryn. "Pak Herman mati karena dia bicara padaku. Ibuku mati di penjara karena dikhianati ayahku. Dan sekarang aku menemukan bahwa suamiku—pria yang mengaku menyelamatkanku—ternyata sudah mengawasiku sejak aku masih memakai pita merah di rambutku. Siapa kau sebenarnya, Xavier?"
Xavier menghela napas panjang. Ia meletakkan dompetnya di meja, lalu berjalan menuju jendela, menatap kegelapan di luar.
"Ayahku adalah seorang pria yang terobsesi dengan keadilan, sampai keadilan itu membunuhnya," mulai Xavier tanpa menoleh. "Dia adalah pengacara yang mencoba membela Maryam Valerine. Saat itu aku masih remaja. Aku sering menemaninya ke penjara. Di sana, aku melihat ibumu."
Aeryn tertegun. "Kau bertemu ibuku?"
"Hampir setiap minggu," Xavier berbalik, menatap Aeryn dengan pandangan yang berbeda. "Dia wanita yang luar biasa. Bahkan di balik jeruji besi, dia tetap bermartabat. Dia memberikan foto itu padaku. Dia bilang, jika sesuatu terjadi padanya, dia ingin ada seseorang yang memastikan putrinya tidak akan hancur seperti dirinya."
"Jadi kau menikahiku karena wasiat?" suara Aeryn bergetar. "Karena rasa kasihan?"
"Bukan rasa kasihan," potong Xavier cepat. "Ini soal janji. Aku melihat bagaimana Baskara dan Kaelan memperlakukanmu seperti barang dagangan selama bertahun-tahun. Aku menunggu waktu yang tepat untuk menarikmu keluar dari sana."
Aeryn mundur satu langkah, kepalanya terasa pening. "Waktu yang tepat? Maksudmu, kau membiarkanku menderita bersama Kaelan selama bertahun-tahun hanya untuk menunggu 'waktu yang tepat' agar kau bisa muncul sebagai pahlawan?"
"Aku butuh kekuatan, Aeryn. Arkananta Group belum sebesar sekarang saat sepuluh tahun lalu. Aku tidak bisa melawan Baskara jika aku sendiri belum punya taring," jelas Xavier. Ia melangkah mendekat, mencoba menyentuh lengan Aeryn, tapi Aeryn menghindar.
"Jadi selama ini aku hanyalah sebuah proyek bagimu?" tanya Aeryn dengan mata berkaca-kaca. "Penebusan dosa atas kegagalan ayahmu membela ibuku? Kau mengawasiku dari jauh, mengoleksi fotoku, lalu membeliku saat aku sudah cukup dewasa?"
"Jangan bicara seolah-olah aku menculikmu. Kau yang datang padaku meminta kerja sama," sahut Xavier, suaranya mulai mengeras karena merasa disalahpahami.
"Karena kau yang mengaturnya! Kau yang membuat Kaelan terjepit sampai dia harus menjualku padamu!" Aeryn berteriak, air mata kembali jatuh di pipinya. "Semuanya sudah kau susun. Pernikahan ini, kehancuran Kaelan, bahkan mungkin pertemuan aku dengan Pak Herman... apakah itu juga bagian dari rencanamu agar aku semakin bergantung padamu?"
Xavier diam. Keheningan itu bagi Aeryn adalah sebuah jawaban "ya".
"Kau monster," bisik Aeryn. "Kau tidak ada bedanya dengan Baskara. Dia menggunakanku untuk uang, dan kau menggunakanku untuk memuaskan rasa bersalah masa lalumu."
"Aku melindungimu, Aeryn! Tanpaku, kau sudah habis di tangan Kaelan!" Xavier kini benar-benar marah. "Siapa yang memberimu modal? Siapa yang memberikanmu panggung untuk membalas dendam? Aku!"
"Aku tidak pernah minta kau menjadi pahlawanku jika harganya adalah kejujuran!" balas Aeryn.
Ia menatap pria di depannya. Pria yang beberapa menit lalu memeluknya dengan hangat di bawah hujan. Kini, pria itu terlihat asing kembali. Seperti patung marmer yang indah namun dingin dan tak punya hati. Aeryn merasa seperti boneka yang talinya ditarik dengan sangat rapi oleh Xavier Arkananta.
Aeryn menghapus air matanya dengan kasar. Ia berjalan menuju meja rias, mengambil kotak perhiasannya, dan mengeluarkan semua dokumen yang pernah mereka tandatangani.
"Pernikahan ini adalah kontrak bisnis, itu katamu di awal," ucap Aeryn dengan suara yang kini mendatar. "Tapi ternyata ini lebih buruk. Ini adalah obsesi."
Xavier menatapnya dengan tajam. "Lalu apa maumu? Kau ingin pergi? Dengan ancaman pembunuhan yang baru saja kau terima? Di luar sana ada orang yang membunuh Herman hanya karena dia bicara padamu, Aeryn. Kau butuh aku."
"Aku butuh kebenaran, bukan pelindung yang menyembunyikan pisau di balik punggungnya," sahut Aeryn.
Ia berjalan mendekat ke arah Xavier. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Bau parfum Xavier yang maskulin dan aroma hujan masih tercium kuat. Aeryn menatap langsung ke dalam mata gelap itu, mencari jejak pria yang tadi memeluknya di balkon, namun yang ia temukan hanyalah dinding baja.
"Foto itu... kenapa kau menulis 'Little Queen'?" tanya Aeryn pelan.
Xavier tidak menjawab. Rahangnya mengeras.
"Karena kau ingin memilikiku sejak dulu, kan?" lanjut Aeryn. "Bukan karena janji pada ibuku. Tapi karena kau ingin memiliki sesuatu yang tidak bisa dimiliki orang lain. Kau ingin menjadi pemilik dari satu-satunya berlian milik Maryam Valerine."
Xavier meraih bahu Aeryn, cengkeramannya kuat namun tidak menyakiti. "Hentikan, Aeryn."
"Katakan padaku, Xavier," tantang Aeryn, suaranya nyaris berbisik. "Setelah semua sandiwara ini, setelah semua bantuan yang kau berikan, setelah foto masa kecil yang kau simpan di dompetmu..."
Aeryn berhenti sejenak, menahan napasnya yang terasa sesak. Ia harus tahu. Ia harus mendengar jawaban yang akan menentukan apakah ia akan tetap tinggal di mansion ini atau pergi selamanya.
Aeryn menepis tangan Xavier dari bahunya, lalu mundur selangkah. Ia menatap wajah pria yang selama ini menjadi perisainya, namun kini terasa seperti penjara baginya.
"Siapa aku bagimu sebenarnya, Xavier?" tanya Aeryn dengan suara yang bergetar namun tegas. "Apakah aku ini istrimu, rekan bisnismu, atau hanya sekadar barang peninggalan ibuku yang harus kau amankan di dalam brankasmu?"