Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suatu Pagi
Pagi datang tanpa suara. Tidak ada ayam berkokok dan tidak ada suara orang lewat. Bahkan angin pun terasa seperti menahan diri untuk tidak bergerak. Endric membuka mata perlahan, masih setengah sadar, tetapi langsung merasa ada yang aneh. Terlalu tenang.
Ia duduk di kasur dan menatap sekeliling rumah. Pandangannya berkeliling, seakan memastikan semuanya masih sama seperti semalam. Namun justru kesunyian itu yang terasa janggal. Tidak ada gangguan sekecil apa pun.
“Ini pagi, kan?”
Gandhul sudah berada di pojok ruangan.
“Harusnya.”
Endric mengerutkan kening.
“Kenapa sepi banget?”
“Karena semalam lo dapat bonus,” jawab Gandhul santai.
Endric menatapnya.
“Bonus apa?”
“Tidur tanpa gangguan.”
Endric terdiam sejenak, lalu menyadari sesuatu. Biasanya, bahkan saat ia tidur, selalu ada suara yang mengusik, seperti ketukan dari bawah, bisikan, atau bayangan yang bergerak di sudut mata. Namun semalam benar-benar kosong. Tidak ada apa pun.
“Iya juga.”
Ia mengusap wajahnya pelan. Perasaan aneh itu tidak hilang, justru semakin terasa. Keheningan ini terlalu sempurna untuk dianggap wajar.
“Ini aneh banget.”
Gandhul mengangguk.
“Harusnya lo malah curiga.”
Endric bangkit dari kasur. Tubuhnya terasa lebih ringan dari biasanya. Tidak ada tekanan di dada dan tidak ada rasa dingin yang menempel di kulit. Bahkan garis hitam di lehernya terasa tidak aktif, seolah kehilangan nyawa.
Ia langsung menuju cermin kecil di dinding dan menatap dirinya sendiri. Garis itu masih ada, tipis menjalar dari leher ke pipi. Namun tidak bergerak dan tidak berdenyut. Seperti mati.
“Masih ada.”
“Ndhul.”
“Iya.”
“Ini diam.”
Gandhul mendekat, lalu melihat lebih jelas.
“Ya.”
Endric menelan ludah. Perasaan lega tidak datang seperti yang seharusnya. Justru ada kegelisahan yang sulit dijelaskan.
“Harusnya gue senang, kan?”
“Harusnya.”
“Kenapa gue malah tidak nyaman?”
Gandhul tersenyum tipis.
“Karena biasanya itu tanda sesuatu lagi menunggu.”
Endric menghela napas panjang. Kata itu kembali muncul dan ia benar-benar membencinya.
“Gue benci kata menunggu di desa ini.”
Ia menjauh dari cermin, lalu berjalan ke pintu. Tangannya berhenti di gagang pintu. Ia menatapnya beberapa detik, seolah mempertimbangkan sesuatu yang tidak terlihat.
“Gue buka?”
Gandhul mengangkat bahu.
“Pagi.”
Endric mengangguk.
“Harusnya aman.”
Ia membuka pintu perlahan. Cahaya masuk dengan hangat dan tampak normal. Endric langsung menyipitkan mata, mencoba menyesuaikan diri dengan terang yang tiba-tiba.
“Ini terlalu normal.”
Di luar, desa terlihat seperti desa biasa. Beberapa warga berjalan santai, membawa barang, mengobrol, bahkan ada yang menyapu halaman. Tidak ada yang aneh dan tidak ada yang terasa salah.
“Gue lagi di desa yang sama, kan?”
“Iya.”
Endric melangkah keluar dengan pelan. Ia memperhatikan sekitar dengan saksama. Semua terlihat hidup, bergerak, dan berisik seperti pagi pada umumnya. Namun ada sesuatu yang terasa janggal.
Tidak ada yang melihatnya.
Beberapa warga lewat di dekatnya tanpa menoleh. Tidak ada sapaan dan tidak ada reaksi. Seolah Endric tidak ada di sana.
“Ndhul.”
“Iya.”
“Ini kenapa mereka kayak tidak lihat gue?”
Gandhul mengernyit.
“Iya ya.”
Endric melangkah lebih dekat ke jalan. Seorang bapak lewat tepat di depannya. Endric mengangkat tangan.
“Pak.”
Tidak ada respons. Bapak itu terus berjalan tanpa menoleh dan tanpa reaksi. Endric langsung membeku di tempat.
“Ini tidak lucu.”
Gandhul mulai terlihat serius.
“Rek, ini beda.”
Endric mencoba lagi. Ia mendekat ke seorang ibu yang sedang menyapu.
“Bu.”
Tidak ada jawaban. Ia bahkan berdiri tepat di depan ibu itu. Namun perempuan itu tetap menyapu, seolah Endric tidak ada di situ.
Endric mundur pelan. Dadanya mulai terasa sesak oleh kebingungan.
“Gue hilang?”
Gandhul menatapnya.
“Lo masih di sini.”
“Terus kenapa mereka tidak lihat gue?”
Sunyi kembali menekan. Endric menelan ludah dan menoleh ke rumahnya, lalu kembali melihat ke jalan. Semua tetap sama, tetap normal. Namun ia seperti tidak termasuk di dalamnya.
“Ini kayak yang lo bilang kemarin.”
“Apa?”
“Yang tidak ada di sistem.”
Gandhul langsung membeku.
“Rek.”
“Iya.”
“Lo jangan bilang.”
Endric mengangkat tangan.
“Gue tidak tahu. Gue cuma.”
Ia berhenti. Pandangannya tertarik ke arah jalan. Seseorang berdiri di sana.
Seorang perempuan.
Diam.
Menatapnya.
Endric langsung mengenali wajah itu.
“Ningsih.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, seseorang melihatnya.
Ningsih berdiri beberapa meter dari Endric. Wajahnya sama seperti semalam, tenang dan tidak berubah. Namun kali ini terlihat lebih jelas dan lebih nyata.
“Mas.”
Endric langsung mendekat dengan cepat.
“Lo lihat gue?”
Ningsih mengangguk.
“Iya.”
Endric menghela napas panjang.
“Syukurlah. Gue kira gue hilang.”
Ningsih mengernyit.
“Yang lain tidak lihat?”
Endric menggeleng.
“Tidak ada yang respons.”
Ningsih menatap sekitar. Beberapa warga lewat di dekat mereka tanpa reaksi. Tidak ada yang menyadari keberadaan mereka.
“Saya juga begitu.”
Endric langsung menatapnya.
“Serius?”
Ningsih mengangguk.
“Dari awal.”
Endric terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil.
“Bagus. Gue gabung klub lo sekarang.”
“Klub?”
“Orang yang tidak dianggap ada.”
Ningsih menunduk sedikit.
“Tidak enak.”
Endric mengangguk.
“Iya. Gue baru beberapa menit saja sudah kesal.”
Gandhul tiba-tiba menyela.
“Rek.”
“Apa?”
“Lo merasa tidak.”
“Apa?”
“Sejak dia dekat, semua jadi tenang.”
Endric berhenti. Ia menarik napas dan mencoba merasakan sekeliling. Tidak ada suara aneh, tidak ada bayangan bergerak, dan tidak ada tekanan yang menekan tubuhnya.
“Iya.”
Ia menatap Ningsih.
“Lo bawa efek ini?”
“Efek?”
“Ya, kayak damai begini.”
Ningsih menggeleng.
“Saya tidak tahu.”
Endric menghela napas pelan.
“Gue baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Ini terlalu enak.”
Sunyi kembali terasa. Gandhul langsung mengangguk, seolah memahami maksudnya.
“Iya.”
Endric menatap Ningsih dengan lebih serius.
“Kalau gue sama lo, semua gangguan hilang.”
Ningsih terdiam.
“Saya juga merasa begitu.”
Endric mundur satu langkah, menatapnya dengan lebih waspada. Perasaan nyaman itu justru terasa mencurigakan.
“Ini tidak normal.”
Gandhul menyela.
“Di sini, yang bikin nyaman biasanya jebakan.”
Endric mengangguk.
“Gue tahu.”
Namun ia tidak menjauh. Ia justru kembali mendekat.
“Lo sendirian terus?”
Ningsih mengangguk pelan.
“Iya.”
“Tidak ada yang bisa diajak ngobrol?”
“Tidak ada.”
Endric menghela napas.
“Ya sudah. Sekarang ada gue.”
Gandhul langsung mendesah keras.
“Ya ampun.”
“Apa?”
“Lo gampang banget percaya.”
“Gue tidak percaya. Gue cuma.”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Kasihan.”
Ningsih menatapnya.
“Mas tidak takut?”
Endric berpikir sebentar, lalu menjawab jujur.
“Takut.”
Ningsih diam.
“Tapi tetap ngobrol?”
“Iya.”
Ningsih menunduk.
“Makasih.”
Sunyi kembali hadir sejenak. Angin pagi mulai terasa, tetapi tetap tidak membawa gangguan apa pun. Endric menatap Ningsih dengan lebih dalam, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak terlihat.
“Lo ikut gue saja hari ini.”
Gandhul langsung kaget.
“Rek.”
“Tenang.”
Endric menatap Gandhul.
“Gue cuma mau lihat.”
Gandhul menggeleng.
“Ini tidak bagus.”
Endric kembali menatap Ningsih.
“Lo mau?”
Ningsih ragu sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Mau.”
Endric tersenyum.
“Ya sudah.”
Ia berbalik dan mulai berjalan. Ningsih mengikutinya tanpa suara. Untuk pertama kalinya, langkah mereka terasa selaras dalam keheningan yang aneh.
Endric merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan takut dan bukan panik. Perasaan itu justru terasa nyaman, terlalu nyaman.
Dan justru itu yang membuat bulu kuduknya perlahan berdiri. Di dalam tubuhnya, garis hitam itu masih diam, seolah sesuatu sedang menunggu waktu yang tepat.