[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegabutan Olyvia
Mata Olyvia menatap langit-langit kamar apartemennya dengan tatapan kosong. Di luar, hujan gerimis turun dengan malas, menciptakan suara rintik yang justru membuat suasana makin pengap. Ia sudah mencoba berbagai hal: membaca jurnal AI, membuka marketplace properti, bahkan menghitung ulang saldo rekeningnya yang masih bertengger di angka lima koma delapan miliar rupiah. Tidak ada yang berhasil mengusir rasa bosan yang menyelinap di antara tulang-tulangnya.
Gue kaya, gue muda, gue sehat. Tapi kenapa gue bete? Apa karena gak ada drama dari si Monyet?
Ia meraih ponsel lamanya yang tergeletak di meja. Sebuah Android mid-range yang sudah menemani sejak semester pertama. Layarnya penuh goresan, baterainya cepat habis, dan yang paling menyebalkan, memorinya cuma enam puluh empat gigabyte. Setengahnya habis untuk sistem dan aplikasi wajib. Setiap kali ia ingin mengunduh aplikasi baru, ponsel itu akan memberontak dengan notifikasi "Penyimpanan Penuh".
Olyvia menghela napas panjang. Dulu gue gak mampu beli hp bagus. Sekarang gue bisa beli hp apapun. Jadi... kenapa gue masih pake hp sampah ini?
Ia bangkit dari kasur, menyambar dompet kecil berisi kartu debit, dan berjalan keluar apartemen. Hujan masih gerimis, tapi ia tak peduli. Tujuannya sudah bulat.
Toko iBox terdekat.
Toko iBox di Galaxy Premium Mall tampak lengang saat Olyvia masuk. Pramuniaga dengan seragam putih bersih menyambutnya dengan senyum profesional. Kali ini, tidak ada tatapan meremehkan. Mungkin karena ia masih membawa paper bag dari butik-butik mahal hasil belanjaan kemarin. Atau mungkin karena ia berjalan dengan postur percaya diri yang berbeda.
"Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?"
Olyvia langsung menuju etalase iPhone terbaru. Matanya tertuju pada satu unit yang terpajang di bawah lampu sorot. iPhone 17 Pro Max. Warnanya biru pekat, seperti laut dalam di malam hari. Mewah, tenang, dan berwibawa.
"Saya mau ini. Yang 1TB. Warna biru."
Pramuniaga itu mengangguk. "Baik, Mbak. Untuk varian 1TB, harganya Rp3.500,-. Apa Mbak mau sekalian dengan aksesoris tambahan?"
Olyvia nyaris tersedak. Tiga ribu lima ratus rupiah. Di dunia normal itu tiga puluh lima juta. Di dunia gue sekarang, cuma cukup buat beli nasi Padang satu keluarga.
"Sama casing asli sama tempered glass. Sama AppleCare juga sekalian."
Pramuniaga itu mengetik cepat di komputernya. "Totalnya Rp3.800,-, Mbak. Mau bayar pakai kartu atau tunai?"
"Kartu."
Olyvia menyerahkan kartu debitnya. Transaksi berjalan mulus. Beberapa menit kemudian, ia keluar dari toko dengan sebuah kantong kertas putih berlogo Apple. Di dalamnya, sebuah kotak elegan berisi iPhone 17 Pro Max 1TB warna biru Lunas yang sudah tidak sabar ingin ia buka.
Welcome to the big league, Oly. Selamat tinggal hp jadul.
Sesampainya di apartemen, Olyvia langsung membuka kotak iPhone barunya dengan hati-hati. Ia mengelus bodi belakangnya yang terbuat dari Ceramic Shield, merasakan tekstur halus dan dingin di jemarinya. Layar OLED 6,9 inci itu menyala dengan warna yang tajam dan kaya.
Gila. Ini hp apa karya seni?
Ia memasukkan SIM card lamanya, lalu mulai mengunduh aplikasi-aplikasi yang selama ini hanya bisa ia impikan. Satu per satu ikon muncul di layar: WeChat, Douyin, dan... DouDou.
Bibirnya melengkung membentuk senyum nostalgia. Dulu, saat ia mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Shanghai, ia punya banyak teman di China. Mereka bertukar kontak WeChat, saling follow di Douyin, dan sering menghabiskan waktu di DouDou untuk menonton live streaming. Tapi begitu pulang ke Indonesia, ponsel jadulnya tidak sanggup menjalankan semua aplikasi itu sekaligus. Ia terpaksa menghapusnya, dan perlahan kehilangan kontak dengan teman-temannya di seberang lautan.
Sekarang gue punya hp gede. Saatnya reconnect.
Ia mengunduh VPN terbaik yang bisa ia temukan, mengaktifkannya, dan mulai membuka aplikasi-aplikasi China yang sudah lama tidak ia sentuh. WeChat langsung dibanjiri pesan-pesan lama dari grup pertemanan Shanghai. Douyin menampilkan video-video pendek yang lucu dan kreatif. Dan DouDou... ah, DouDou.
Aplikasi live streaming itu langsung membawanya ke halaman utama yang penuh dengan thumbnail streamer yang sedang siaran langsung. Ada yang menyanyi, ada yang memasak, ada yang sekadar ngobrol santai dengan penonton. Semuanya dalam bahasa Mandarin yang masih melekat di otak Olyvia.
Nostalgia banget. Kayak pulang ke rumah kedua.
Ia membuka menu "Live" dan mulai menggulir. Matanya berhenti pada satu thumbnail yang menampilkan seorang pria muda dengan rambut hitam lembut dan mata teduh. Ia sedang duduk di sebuah ruangan minimalis, memetik gitar akustik, dan menyanyikan lagu Mandarin yang Olyvia kenali sebagai soundtrack drama China kesayangannya.
Wah, ini lagu dari "When We Meet Again". Gue suka banget.
Ia masuk ke dalam live room tersebut. Suara gitar dan vokal lembut pria itu langsung memenuhi speaker iPhone barunya. Kualitas suaranya jernih, gambarnya tajam. Olyvia membaca nama streamer itu: ChenYu_Official.
Di kolom komentar, penonton sudah ramai berinteraksi. Sebagian besar komentar dalam bahasa Mandarin, beberapa dalam bahasa Inggris.
Pengguna1: ChenYu ge, chang de tai hao le! 💙
Pengguna2: Can you play "Moonlight" next? Please~~
Pengguna3: ❤️❤️❤️
Olyvia tersenyum. Ia teringat, dulu ia hanya bisa menjadi penonton pasif. Tidak pernah mengirim gift karena tidak punya koin. Sekarang? Ia kaya. Sangat kaya.
Waktunya jadi Ratu.
Ia membuka menu top up koin. Di DouDou, mata uang virtualnya disebut D Coin. Harga 100 D Coin adalah 1 Yuan. Olyvia menghitung cepat di kepala. Kurs Yuan ke Rupiah saat ini sekitar 1 Yuan \= Rp2.400,-. Tapi dengan deflasi 10.000x lipat yang hanya ia sadari, 1 Yuan di dunia ini setara dengan Rp0,24 sen. Recehan.
Ia memutuskan untuk isi ulang saldo sebesar 100.000 D Coin. Harganya? Hanya 1.000 Yuan. Dalam Rupiah normal, itu sekitar Rp2.400.000,-. Tapi dalam dunia Olyvia sekarang, itu cuma Rp240,-. Dua ratus empat puluh rupiah. Harga sebungkus roti isi.
Gila. Dengan Rp240 gue bisa jadi sultan di live stream China.
Ia menyelesaikan transaksi top up menggunakan kartu debitnya. Dompet digitalnya langsung terisi 100.000 D Coin. Jumlah yang sangat besar untuk standar penonton biasa.
Ia kembali ke live room ChenYu. Pria itu masih bernyanyi, kali ini lagu yang lebih ceria. Olyvia mulai beraksi.
Ia membuka menu gift dan memilih hadiah termahal yang tersedia: Super Rocket, sebuah animasi roket besar yang meluncur ke angkasa dengan efek warna-warni. Harga satu Super Rocket: 5.000 D Coin. Setara dengan 50 Yuan, atau dalam dunia Olyvia, Rp12,-.
Murah. Banget.
Ia menekan tombol kirim. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sepuluh kali.
Queens mengirim Super Rocket x10!
Live room langsung heboh. Animasi roket memenuhi layar selama beberapa detik, disertai suara ledakan yang megah. ChenYu berhenti bernyanyi sejenak, matanya membelalak melihat notifikasi di layarnya.
"Wow! Queens! Xie xie ni! Tai ganxie le!" serunya dengan wajah sumringah. Terima kasih banyak!
Kolom komentar langsung meledak.
Pengguna1: WHAT?! 10 SUPER ROCKETS?!
Pengguna2: Queens is crazy! 💰💰💰
Pengguna3: 这个Queens是谁啊?太有钱了吧! (Siapa sih Queens ini? Kaya banget!)
Pengguna4: Queens zhen de xiang nüwang yiyang! (Queens benar-benar seperti ratu!)
Olyvia membaca komentar terakhir dan tertawa kecil. Nama Queens dan dia benar-benar seperti ratu yang membuang-buang uang dengan mudah. Pas banget.
Ia tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan mengirim gift: Luxury Car (2.000 D Coin), Diamond Ring (1.000 D Coin), Castle (3.000 D Coin). Satu per satu hadiah mahal itu membanjiri layar. Total ia sudah menghabiskan hampir 50.000 D Coin. Dalam uang asli? Hanya sekitar Rp120,-. Setara sebotol air mineral.
ChenYu sudah tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa membungkuk berulang kali sambil mengucapkan terima kasih. Penonton lain ikut histeris.
Pengguna5: I've never seen this much gifts in one stream! Queens, are you a millionaire?
Pengguna6: 女王陛下!请收下我的膝盖! (Yang Mulia Ratu! Terimalah lutut hamba!)
Pengguna7: Queens, jia WeChat ma? (Queens, mau nambah WeChat?)
Olyvia tersenyum membaca komentar terakhir. Minta WeChat? Boleh juga. Tapi ia tidak langsung merespons. Ia menikmati momen ini. Momen di mana ia, Olyvia Arabella, yang dulu diremehkan dan dianggap miskin, sekarang dielu-elukan seperti bangsawan di platform live streaming internasional.
Dulu gue cuma bisa nonton. Sekarang gue yang menguasai panggung.
Setelah puas mengguyur ChenYu dengan gift, Olyvia berpindah ke live room lain. Kali ini milik seorang streamer wanita bernama MengMeng yang sedang memasak hot pot. Olyvia mengirim beberapa gift mahal di sana, lagi-lagi memicu kehebohan.
Kemudian ia masuk ke live room seorang pria tampan berotot bernama Alex_Fitness yang sedang latihan angkat beban. Olyvia mengirim Protein Shake gift sebanyak dua puluh kali. Alex sampai menjatuhkan dumbelnya karena terkejut.
Alex_Fitness: Queens! You're my new favorite person! 💪
Olyvia nyengir. Siapa sangka jadi kaya itu semenyenangkan ini.