Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.
Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.
Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Blue River Auction House
Pagi di Lanhe City datang bersama suara roda kereta dan lonceng dagang.
Tidak seperti Stone Reed Town yang dibuka oleh teriakan buruh dan bau ikan asin, kota ini bangun dengan ritme yang lebih bersih dan lebih kaya. Toko-toko membuka jendela. Pelayan menyapu tangga depan. Pengawal berpindah pos. Dan dari kejauhan, lonceng kecil dari distrik perdagangan berbunyi tiga kali, menandakan pasar pagi sudah dimulai.
Han Lu membawa satu peti kecil dan satu kantong barang sungai.
Shou Wei ikut di belakang, memakai pakaian paling rapi yang ia punya—meski tetap sederhana. Ia tidak membawa alat ukir formasinya secara terbuka. Hanya manual tipis dan beberapa utility marks kecil yang disimpan rapat.
“Kalau ditanya, kau asistanku,” kata Han Lu saat mereka berjalan. “Kau tahu segel, tahu kelembapan, dan matamu lumayan. Jangan tunjukkan lebih.”
“Kalau mereka tanya nama?”
“Jawab secukupnya.”
Shou Wei mengangguk. “Wei Shou.”
Han Lu meliriknya sekali. “Nama yang cocok untuk orang yang tidak mau seluruh dirinya dikenal.”
Mereka tiba di Blue River Auction House saat matahari baru naik setinggi atap kedua.
Dari dekat, tempat itu bahkan lebih besar daripada yang terlihat kemarin. Di sisi depan ada area penerimaan barang, tempat orang-orang datang membawa kotak, peti, gulungan, atau benda tertutup kain. Tidak semua barang langsung masuk lelang. Ada tahap penilaian, klasifikasi, dan kadang penolakan.
Orang di sana jauh lebih profesional.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tawar-menawar kasar.
Tidak ada orang yang melempar barang ke meja sambil mengumpat.
Hanya antrean, pelayan, penjaga, dan penilai.
Han Lu mengambil nomor lalu menunggu.
Di sekitar mereka, Shou Wei mengamati:
seorang alkemis tua membawa tiga botol giok berisi cairan merahdua pria dari sekte beast membawa peti besi kecil dengan jejak cakar di penutupseorang wanita bangsawan berkerudung tipis membawa kotak kayu panjang yang pasti berisi senjata atau artefakdan seorang pemuda berwajah pucat menyerahkan gulungan peta sambil tampak gugup luar biasaDi sini, semua orang membawa sesuatu.
Dan semua orang berharap sesuatu itu akan mengubah nasib mereka.
Ketika giliran mereka tiba, seorang pelayan wanita berpakaian biru tua membawa mereka ke ruang penilaian tingkat bawah. Ruangan itu cukup luas, dengan tiga meja batu, rak dokumen, dan penghalang tipis dari kain sutra untuk memisahkan beberapa transaksi.
Di balik meja tengah duduk seorang pria tua berkumis tipis dengan jubah penilai berwarna biru pudar. Di lengan kanannya ada gelang giok hitam, tanda ia bukan penilai rendahan.
“Apa yang ingin diajukan?” tanyanya tanpa banyak basa-basi.
Han Lu membuka peti kecil yang dibawa. Di dalamnya ada:
river pulse beadsalah satu pelat logam hitamdan satu wadah kecil berisi bahan sungai langka yang tidak cepat rusak berkat mark Shou WeiPria tua itu menatap isi peti, lalu ekspresinya berubah tipis.
“Dari mana?”
Han Lu menjawab tenang, “Jalur sungai utara. Muatan tua yang tidak jelas asal pastinya.”
Jawaban aman.
Pria tua itu mengangkat river pulse bead dulu. “Asli. Tidak besar, tapi alami.” Lalu ia memeriksa pelat logam hitam dan mengernyit. “Ini lebih menarik.”
Jarinya menyusuri garis samar di permukaan pelat. Ia jelas bukan master formasi, tapi cukup paham untuk tahu bahwa ini bukan besi biasa.
“Fragmented water-route array piece,” gumamnya. “Atau sesuatu yang mirip.”
Shou Wei menahan wajahnya tetap datar.
Jadi nama kasarnya memang dekat dengan yang diduga.
Pria tua itu lalu memandang Han Lu. “Barang seperti ini bisa masuk sesi penilaian lebih tinggi. Tapi kalau kau tidak punya cerita asal yang lebih kuat, nilainya akan ditekan.”
“Itu yang kuharapkan,” kata Han Lu datar. “Kalau terlalu tinggi terlalu cepat, orang di kota ini mulai bertanya terlalu banyak.”
Pria tua itu mengangkat alis, lalu tertawa pendek. “Bagus. Setidaknya kau tidak bodoh.”
Ia memanggil seorang pelayan untuk mencatat barang dan berkata bahwa keputusan akhir akan datang setelah penilai senior melihatnya.
Saat itulah kejadian kecil yang mengubah arah pagi itu terjadi.
Di meja batu sebelah, seorang pelayan muda menjatuhkan kotak kecil berisi tiga pelat formasi tipis milik pelanggan lain. Pelat-pelat itu tidak pecah, tapi dua di antaranya saling bertabrakan dan salah satu garis utama yang sudah lemah langsung retak.
Pelanggan pemilik barang—seorang pria berpakaian mewah dengan kipas giok di pinggang—langsung marah.
“Bodoh! Kau tahu berapa harga itu?”
Pelayan muda itu pucat dan membungkuk terus-menerus, tapi wajahnya sudah hampir menangis.
Penilai tua berkumis tipis mengernyit kesal. “Bawa ke meja samping. Kalau hanya retak luar, mungkin masih bisa—”
Shou Wei, yang sejak tadi menatap tanpa sengaja, langsung tahu bahwa itu bukan retak luar.
Simpul kiri bawah pelat itu sudah salah sejak awal. Tabrakan tadi hanya memperparah. Kalau diaktifkan lagi, seluruh node utama akan padam dan pelat itu jadi sampah.
Entah kenapa, kalimat itu hampir keluar dari mulutnya.
Namun ia menahan.
Bukan urusannya.
Tapi tepat pada saat itu, sebuah suara perempuan terdengar dari balik tirai sutra sebelah kanan.
“Itu bukan retak luar.”
Semua kepala sedikit menoleh.
Tirai itu disibakkan oleh pelayan lain, dan seorang gadis muda masuk dengan langkah tenang.
Usianya sekitar tujuh belas tahun. Ia mengenakan jubah biru muda berlapis putih, tanpa perhiasan mencolok selain sepasang giok kecil di telinga. Wajahnya cantik, tapi kecantikannya tidak lembut atau manis. Lebih seperti air jernih di musim dingin—bersih, tenang, dan membuat orang berhati-hati sebelum menyentuh.
Tatapannya menyapu pelat formasi rusak itu sekali.
“Simpul kiri bawahnya sudah memakan qi terlalu lama,” katanya. “Benturan tadi hanya membuat cacat lama terlihat.”
Penilai tua segera berdiri setengah membungkuk. “Young Miss.”
Han Lu juga langsung menundukkan kepala tipis, meski tidak terlalu rendah.
Shou Wei menangkap dua hal sekaligus:
gadis ini punya posisi tinggi,
dan ia paham formasi setidaknya lebih dari orang biasa.
Pelanggan mewah tadi langsung mengganti nada bicaranya. “Miss, kalau begitu apakah masih bisa diperbaiki?”
Gadis itu menatap pelat itu sebentar, lalu menjawab dingin, “Bisa. Tapi tidak sebanding dengan biayanya. Orang yang menjual ini padamu seharusnya sudah tahu bahwa titik cacatnya lama.”
Pria itu seketika kehilangan muka.
Ia hendak marah lagi, tapi gadis itu sudah mengalihkan perhatian ke meja Han Lu.
Matanya jatuh ke pelat logam hitam dari Broken Reed Bend.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah sedikit—bukan kaget, tapi tertarik.
“Barang sungai utara?” tanyanya.
Penilai tua menjawab cepat, “Ya, Young Miss. Sedang dalam penilaian.”
Gadis itu mengulurkan tangan. Penilai tua langsung memberikan pelat tersebut.
Saat jari-jarinya menyentuh logam hitam itu, ia tidak langsung bicara. Matanya mengikuti pola samar pada permukaan. Lalu ia memiringkannya ke arah cahaya.
“Water-route array piece,” katanya lirih. “Dan bukan buatan pasar lokal.”
Tatapannya lalu beralih pada Han Lu. “Siapa yang membawanya?”
Han Lu menjawab tenang, “Saya.”
“Siapa yang membaca pola awalnya?”
Pertanyaan itu membuat ruangan sedikit lebih sunyi.
Han Lu tidak bodoh. Ia tahu kapan berbohong total akan jadi kesalahan. Jadi ia menjawab setengah benar. “Asisten saya melihat ada nilai dalam segel dan pola luarnya.”
Gadis itu baru menoleh ke Shou Wei.
Tatapannya berhenti di wajahnya beberapa detik lebih lama daripada yang nyaman.
Shou Wei tahu harus menunduk sedikit.
Tidak terlalu lemah.
Tidak terlalu menantang.
“A nameless boy from the river route?” katanya, suaranya tetap dingin tapi tidak menghina.
Han Lu menjawab, “Nama lengkapnya Wei Shou, Young Miss.”
Gadis itu mengulang perlahan, “Wei Shou.”
Lalu sesuatu yang sangat kecil terjadi:
matanya turun sebentar ke tangan Shou Wei—jari-jari yang memang punya bekas halus dari ukiran logam tipis. Bukan tangan buruh murni. Bukan tangan petarung murni juga.
Ia mengerti.
“Interesting,” katanya singkat.
Baru saat itu penilai tua menjelaskan dengan cepat, “Young Miss, ini adalah Miss Lan Xue.”
Nama itu menempel di kepala Shou Wei.
Lan Xue.
Puteri dari pemilik rumah lelang?
Ia belum tahu pasti. Tapi dari cara semua orang berdiri dan bicara, jelas gadis ini bukan sekadar anak keluarga kaya biasa.
Lan Xue meletakkan pelat logam kembali di meja. “Barang ini bisa masuk daftar penilaian dalam untuk private session, bukan lantai umum.” Lalu ia menatap Han Lu, dan sedikit saja juga ke arah Shou Wei. “Jika kalian ingin harga yang lebih baik, tunggu hasil penilaian sore.”
Han Lu segera membungkuk tipis. “Terima kasih, Young Miss.”
Lan Xue tidak menjawab. Ia justru memandang pelat formasi rusak milik pelanggan mewah tadi, lalu berkata datar, “Dan untuk barang semacam itu, tolong pisahkan antara utility arrays, decorative seal scraps, dan proper formation plates. Rumah lelang ini bukan kios pinggir jalan.”
Kalimat itu membuat ruangan hening sempurna.
Setelah itu ia berbalik dan pergi secepat ia datang.
Namun sebelum tirai tertutup, ia berkata tanpa menoleh, “Jika bocah itu benar-benar yang pertama melihat nilai pola pada pelat sungai tadi, laporkan padaku setelah penilaian selesai.”
Penilai tua segera membungkuk. “Ya, Young Miss.”
Tirai menutup.
Barulah ruangan bernapas lagi.
Han Lu melirik Shou Wei dari sudut mata. Bukan marah. Lebih seperti menilai ulang.
“Kau membawa kita masuk ke pintu yang lebih mahal,” gumamnya.
Shou Wei menjawab pelan, “Aku hanya melihat.”
Han Lu mendecak tipis. “Di kota besar, ‘hanya melihat’ sering kali lebih berbahaya daripada bicara.”