NovelToon NovelToon
Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Pedang Tanpa Langit: Melampaui Takdir Abadi

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Marcel ( rxel )

Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
​Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19: Menyamar di Kuil Matahari

Langit Atas bukanlah sebuah tempat dengan tanah dan pepohonan biasa. Ia adalah gugusan pulau melayang yang terhubung oleh jembatan cahaya pelangi, di mana udaranya begitu padat dengan Qi murni hingga setiap napas terasa seperti meminum nektar dewa. Namun, bagi Li Chen, kemegahan ini terasa muak. Di balik keindahan emas ini, ia merasakan jeritan ibunya yang terperangkap dalam fondasi bangunan-bangunan suci ini.

​Berkat ingatan Patriark Xue yang ia telan, Li Chen tidak menyerang gerbang utama. Itu adalah bunuh diri. Sebaliknya, ia menggunakan Teknik Embun Kegelapan untuk menyembunyikan aura iblisnya, mengubah energi hitamnya menjadi getaran frekuensi tinggi yang menyerupai elemen cahaya.

​Sekarang, ia berdiri di tangga marmer Kuil Matahari, mengenakan jubah putih murid luar dengan nama samaran: Chen Li.

Chen Li! Jangan melamun! Cepat bersihkan Aula Refleksi!" teriak seorang diaken paruh baya dengan kumis tipis yang angkuh.

​Li Chen menunduk, memegang sapu bambu yang terbuat dari kayu roh. "Baik, Diaken."

​Di dalam hatinya, Li Chen sedang menghitung. "Satu... dua... ada tiga belas ahli ranah Transformasi Dewa (Deity Transformation) yang berpatroli di sektor ini saja. Dan di puncak menara itu, aku merasakan keberadaan yang jauh lebih mengerikan. Itulah Kuil Matahari yang sebenarnya."

​"Sabar, Nak," suara Kaisar Pedang berbisik sangat halus, hampir tenggelam dalam kebisingan energi di tempat ini. "Kau harus menemukan lokasi tepat Penjara Cahaya Abadi. Jika kau meledakkan auramu sekarang, mereka akan memindahkan ibumu ke dimensi lain dalam sekejap, dan kau akan kehilangan dia selamanya."

​Li Chen menyapu lantai dengan tenang, namun matanya yang tajam mengamati setiap simbol rune di dinding aula. Aula Refleksi adalah tempat di mana para murid baru diuji kesetiaannya melalui cermin-cermin yang bisa membaca niat buruk.

​Saat giliran Li Chen tiba untuk berdiri di depan Cermin Kebenaran Matahari, jantungnya berdenyut kencang. Jika cermin ini mendeteksi setitik saja energi Iblis Bintang, penyamarannya akan berakhir.

​"Chen Li, maju!"

​Li Chen berdiri di depan cermin raksasa yang memancarkan cahaya putih menyilaukan. Ia mengaktifkan Inti Emas Sembilan Cakra-nya, namun kali ini ia memaksanya berputar berlawanan arah. Ia tidak memancarkan energi; ia menelan pantulan cahaya dari cermin itu ke dalam lubang hitam di pusat jiwanya, lalu memuntahkannya kembali sebagai bayangan cahaya yang identik.

​Cermin itu bersinar hijau. Setia.

​"Bakat yang lumayan. Bersihkan bagian dalam sekarang," perintah sang diaken.

​Pertemuan di Perpustakaan Langit

​Malam itu, saat seluruh kuil tertidur dalam meditasi, Li Chen menyelinap keluar dari barak murid luar. Ia bergerak seperti bayangan yang tidak memiliki massa, melewati formasi pelindung dengan pengetahuan yang ia curi dari ingatan Patriark Xue.

​Ia sampai di Paviliun Penjaga Buku, sebuah menara yang menyimpan catatan tentang semua tawanan penting Langit Atas. Di sana, ia bertemu dengan seorang gadis kecil yang sedang duduk di atas tumpukan buku, matanya perak murni dan telinganya sedikit runcing.

​"Kau bukan murid luar," kata gadis itu tiba-tiba, suaranya seperti denting lonceng perak.

​Li Chen membeku. Tangan kanannya sudah siap menghunuskan pedang tulang naga yang ia simpan di dalam ruang jiwanya. "Siapa kau?"

​"Aku adalah Spirit Penjaga Perpustakaan," gadis itu melompat turun, melayang di depan Li Chen. "Aku bisa mencium bau kematian yang sangat pekat padamu. Tapi... aku juga mencium bau bunga teratai yang sangat akrab. Kau mencari Dewi Teratai, bukan?"

​Li Chen menyipitkan mata. "Bagaimana kau tahu?"

​"Karena setiap malam, aku mendengar nyanyian sedih dari bawah tanah. Nyanyian itu berasal dari pilar fondasi kuil ini. Mereka menyebutnya Pilar Penyangga Langit, tapi sebenarnya itu adalah penjara bagi wanita yang kau cari."

​Gadis itu menunjuk ke bawah lantai. "Dia tidak di ruang bawah tanah biasa. Dia adalah baterai bagi seluruh sistem pertahanan Kuil Matahari. Jika kau menariknya keluar, kuil ini akan runtuh, dan seluruh pulau melayang ini akan jatuh ke dunia bawah."

​Li Chen mengepalkan tinjunya hingga kukunya menancap ke telapak tangannya. "Aku tidak peduli jika seluruh surga ini runtuh. Aku datang untuk membawanya pulang."

​Gadis Spirit itu tersenyum sedih. "Kalau begitu, kau butuh Kunci Cahaya Murni. Kunci itu dibawa oleh Putra Mahkota Langit, Yang Tian, yang kebetulan akan mengadakan upacara kedewasaan lusa nanti. Di saat itulah, pertahanan pilar akan berada pada titik terlemahnya."

​Rahasia di Balik Cahaya

​Sambil menunggu hari upacara, Li Chen terus mengumpulkan informasi. Ia menyadari bahwa Langit Atas tidaklah sesuci yang terlihat. Para dewa di sini menggunakan energi dari tawanan "Iblis" untuk memperpanjang umur mereka dan mempertahankan kemewahan mereka.

​Ia melihat bagaimana para murid luar yang gagal dalam ujian seringkali menghilang secara misterius. Ternyata, mereka juga dikirim ke bawah tanah untuk "dilebur" menjadi energi Qi murni.

​"Tempat ini adalah rumah jagal yang dilapisi emas," gumam Li Chen.

​"Benar," sahut Kaisar Pedang. "Dulu, klan Iblis Bintang-mu mencoba menghentikan praktik ini, itulah sebabnya mereka difitnah sebagai iblis dan dimusnahkan. Keadilan di dunia ini selalu ditulis oleh pemenang yang memegang pisau."

​Pada malam sebelum upacara, Li Chen berhasil menyelinap ke dekat area pilar. Melalui celah formasi, ia melihat sesosok wanita yang terikat oleh ribuan rantai cahaya yang menusuk tubuhnya. Wanita itu tampak sangat lemah, namun aura teratainya masih memancar, mencoba melawan kegelapan yang mencoba menelannya.

​"Ibu..." bisik Li Chen. Air mata yang sudah lama tidak ia rasakan mulai menggenang.

​Wanita itu seolah mendengar bisikan itu. Kepalanya sedikit terangkat, matanya yang sayu menatap ke arah kegelapan tempat Li Chen bersembunyi. Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang pucat.

​"Anakku... pergilah... jangan biarkan mereka menangkapmu juga..." suara itu bergema di kepala Li Chen melalui ikatan darah.

​"Aku tidak akan pergi tanpa Ibu," jawab Li Chen dalam hati, penuh tekad.

​Upacara dan Kehancuran Penyamaran

​Hari upacara kedewasaan tiba. Seluruh Langit Atas dipenuhi dengan kemeriahan. Yang Tian, sang putra mahkota yang sombong, berdiri di altar tinggi dengan Kunci Cahaya Murni yang tergantung di lehernya. Kunci itu berbentuk kristal matahari yang memancarkan energi luar biasa.

​Li Chen berdiri di antara barisan murid, kepalanya menunduk, namun seluruh sel di tubuhnya sudah bersiap untuk meledak.

​"Hari ini, kita merayakan kestabilan Langit kita!" seru Yang Tian. "Dan sebagai persembahan, kita akan meningkatkan ekstraksi energi dari Tawanan Utama!"

​Yang Tian mengangkat kuncinya, mengarahkannya ke arah Pilar Penyangga Langit. Pilar itu mulai bersinar merah terang, dan teriakan kesakitan yang memilukan terdengar dari bawah tanah. Itu adalah suara ibunda Li Chen.

​Semua orang bersorak, namun bagi Li Chen, itu adalah bunyi genderang perang.

​"CUKUP!"

​Suara Li Chen membelah sorak-sorai itu. Seluruh lapangan menjadi sunyi. Yang Tian menoleh dengan bingung. "Murid rendahan, beraninya kau menyela upacara ini?"

​Li Chen melemparkan jubah putihnya ke udara. Pakaian itu terbakar habis oleh api hitam yang tiba-tiba meledak dari tubuhnya. Bentuk iblisnya mulai muncul—sayap hitam yang membentang lebar, sisik yang bersinar ungu, dan pedang Takdir Sembilan Bintang yang muncul di tangannya dengan raungan haus darah.

​"Siapa kau?!" teriak para pengawal kuil, mulai mengepungnya.

​Li Chen mengangkat kepalanya, matanya merah menyala dengan kebencian yang murni.

​"Namaku adalah Li Chen. Dan aku datang untuk menagih hutang darah sepuluh ribu tahun klan Iblis Bintang!"

​Li Chen tidak menunggu. Ia mengayunkan pedangnya, menciptakan garis hitam yang memotong puluhan pengawal dalam sekejap.

​"Gerbang Kesepuluh: Keruntuhan Surga!"

​Sebuah ledakan kegelapan yang belum pernah terlihat di Langit Atas meledak dari tubuh Li Chen. Langit yang tadinya emas seketika berubah menjadi hitam pekat. Pulau melayang itu mulai berguncang hebat.

​Penyamaran telah berakhir. Sekarang, hanya ada pembantaian.

​"Tangkap dia! Dia adalah benih terlarang itu!" perintah Yang Tian, wajahnya pucat pasi.

​Li Chen melesat ke arah altar, menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi jalannya. "Berikan kuncinya, atau aku akan merobek jantungmu keluar dari dadamu!"

​Pertempuran terakhir untuk menyelamatkan sang ibu telah dimulai di jantung surga yang busuk.

1
Inyos Sape Sengga
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!