Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Preman Jalanan Menghadang
Mendengarkan pertanyaan dari Rido, sontak saja raut muka embun tiba tiba berubah menjadi mendung, bagaikan pada musim hujan sewatku cuaca ekstrim yang melanda daerah sumatera utara, tapanuli utara dan tapanuli selatan.
Dengan rasa yang tidak bisa ditebak, embun mengangkat kepalanya keatas langit dan menatap langit langit kamar tersebut, dia menjawab “Saya dan bi wina hanyalah satu kampung, dan sejak keluarga saya, dan nene meninggal dunia, saya sudah menganggap bi wina sebagai keluarga saya, bahkan saya sudah menganggap dia sebagai ibu saya”.
Tanpa di sadari setetes bening air mata langsung jatuh tanpa pamrih dari pelupuk mata embun, namun dia langsung mengusapnya dengan tangannya dia merasa malu ketika menangis di depan sang tuan muda.
Rido yang menyaksikan peristiwa alam tersebut, tiba tiba hatinya terhenyut sedih dia terbawa suasana dengan pemandangan embun saat ini.
“Ternyata kehidupan sangatlah memilukan, sangat kasihan dia” gumam Rido di dalam hatinya sambil memandang embun yang sedang memandang kearah lain.
“Sudah! Sudah, kamu jangan cengeng begitu, kayak anak kecil saja” ucap Rido dengan membuat nada bicaranya sedingin mungkin, dia tidak mungkin menampakan keikut sertaannya dalam nuansa sedih embun saat ini.
Embun langsung tersadar dari nuansa sedihnya saat ini, dia langsung mengalihkan pandangannya kearah Rido. Namun di hanya bisa menatap rido dengan tenang tanpa mengatkan apa apa, karena dia takut sepertinya sudah menyinggung Rido.
“Baiklah, saya akan pergi bersama kamu kerumah sakit, lagian saya sepertinya bosen dirumah” ungkap Rido dengan cepat, dia takut embun akan besar kepala jika dia tahu kalau Rido sengaja ingin ikut bersamanya.
“Hah! Jadi tuan tidak marah sama saya, waaahh??, tuan muda memang tampan dan baik hati, terimakasih tuan” ucap embun dengan kegirangan, sambil dia meraih tangan Rido dengan mengucapkan banyak terimakasih.
“iya iya, ayo kita berangkat sekarang” komentar Rido dengan masih memegang tangan embun yang masih lengket ditangannya.
Ketika mereka sampai diruang tamu, dengan tiba tiba mereka di hadang oleh bu Tiaras “Eh,eh, eh, pengantin baru mau kemana nih?” tanyanya dengan senyuman terpancar di wajahnya.
“Emm, kami mau kerumah sakit Nyonya, mau jenguk bi wina” sahut embun tanpa memperhatikan lagi kata katanya.
“kok nyonya sih?” sambung Tiaras dengan memasang wajah cemberutnya.
“ehh ibu, iya bu kami jenguk bi wina di rumah sakit, hari ini kan jadwalnya untuk operasi” ucap embun memperbaiki kembali kata katanya, dengan memasang wajah yang terpancar senyuman terindah dari bibirnya.
“ya sudah, cepetan kalian berangkat, ingat ya kalian harus hati hati di perjalanan” ungkap sang ibunda memberi nasihat kepada sang anak dan menantu.
Embun kembali mendorong sang suami keluar rumah, mereka masuk kedalam mobil dengan dibantu oleh supir pribadi keluarga prasetio.
Ketika diperjalanan tiba tiba ada 2 unit mobil yang menyerepet mobil Rido “Bruuk” suara gesekan mobil ketika mobil sang musuh sedang menyerepet mobil Rido.
“Tuan, Nyonya, pegangan dengan erat, karena ada 2 mobil yang mau menyerepet mobil kita” ucap sang sopir yang sedang merasa panik menyeimbangi setir mobilnya.
“Pak fokus saja kearah depan, ingat jangan biarkan mereka sempat menyalip kita, karena mereka bisa memalang kita dari depan” ucap rido memberikan saran kepada sang sopir.
“baik tuan muda. Akan saya upayakan” jawab sang sopir yang sedang melirik kaca spion kanan kiri.
“Boom, Bruuk, baam” suara gesekan mobil yang terus di bombardir oleh sang musuh, sambil mereka melepaskan beberapa pukulan tongkat basboll di bak mobil Rido.
Untunglah mobil itu didesain dengan anti peluru, sehingga walaupun mobil itu diserang beberapa kalai namun masih tetap saja dia mulus seperti biasa.
“Kau menunduk saja” suruh Rido dengan langsung meraih kepala embun supaya menunduk kebawah, dia takut kalau ada senjata tajam yang suatu waktu bisa menembus pertahanan mereka.
Rido menatap kaca spion kiri dengan kaca tengah, kemudian dia memberikan aba aba kepada sang sopir “Dengarkan pak, pelankan sedikit laju mobilnya, sekarang!” sang sopir langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Rido.
“Pertahankan kecepatan kita, dan tunggu aba aba dariku” titah Rido dengan masih menatap tajam kearah kaca spion.
Rido mempertajam penglihatannya, kemudian dia menunggu mobil itu kembali menyerempet, ketika moncong mobil musuh sudah mau menghantam ekor mobilnya, dengan cepat Rido langsung memberikan perintah.
“Gas s’karang!” teriaknya dengan keras.
Dengan sekali hentakan, sang sopir menekan pedal gas mobilnya, yang membuat mobil musuh langsung saling bertabrakan.
“Duaar! Bruuum” suara ledakan terdengar nyaring, ketika kedua mobil musuh saling bertabrakan, yang membuat puing puing mobil berterbangan diatas langit biru.
“Lanjut saja pak, tidak usah hiraukan mereka” ucap Rido dengan masih melirik keadaan dari belakang melalui kaca spion mobilnya.
“Baik Tuan muda” sahut sang sopir dengan merasa sangat kagum dengan taktik tuan mudanya.
Sementara embun masih saja menunduk dengan tenang dipaha Rido, kemudian dia tiba tiba berkata ketika Rido terus saja mengelus kepalanya bagaikan kucing peliharaan “Tuan! Apakah acaranya sudah selesai, kenapa sepertinya ada suara ledakan diluar sana?”.
Tiba tiba Rido langsung mengangkat tangannya Dari atas kepala embun, yang tanpa sadar dia elus elus terus bagaikan kepala seorang bayi kecil.
“Sudah aman semuanya, mereka sudah melarikan diri” ucap Rido memberitahukan kepada embun tentang situasi saat ini.
“Ohh,, syukurlah kalau begitu, semoga saja mereka tidak mengejar kita lagi” sahut embun dengan rasa penasarannya sambil menggelengkan kepala.
“mereka tidak akan mengejar kita” timpal Rido berkata sambil terus menatap kearah depan.
“Siapa orang orang ini? Sepertinya tidak ada seseorang yang merasa sudah kusinggung?” monolog Rido dengan rasa penasaran menyelimutinya.
Namun Rido tidak menunjukkan adanya rasa kecurigaan, dia hanya terus diam tak bergeming dengan masih memperhatikan keadaan jalan kota medan, dan sesekali dia melirik beberapa gedung tinggi yang menjulang di atas langit biru.
Tidak menunggu lama mereka sudah sampai di kamar rawat inap bu wina, dengan lembut embun memegang tangan wanita paruh baya itu, dengan tetesan air mata dia berkata “semoga ibu baik baik saja, hanya ibu yang menjadi keluarga terdekatku di kota ini, tolong ibu jangan pergi meninggalkanku sendirian disini”.
Kata kata embun barusan, Rido tidak mendengarkan sama sekali karena dia sekarang sedang berada diluar kamar rawat inap bu wina, Rido meraih gawainya dari dalam saku celananya.
“Tolong selidiki dengan cepat, organisasi dari mana yang sudah mau mencelakai saya bersam dengan istri di perjalanan tadi, saya ingin mereka dibawa dihadapanku dengan kondisi masih hidup!” ucap Rido tegas di dalam sambungan telepon itu.
“baik tuan! Akan saya lakukan sekarang” ucap Berys menjawab perintah dari sang Tuan Muda.
Berys sangat terkejut ketika dia mendengar perkataan dari Rido, dia tidak mengetahui kejadian itu sama sekali, karena di tidak bersama dengan mereka.
Setelah selesai menelpon, Rido memilih kembali masuk kedalam ruangan bu wina, dia ingin menemani sang istri menjenguk bu wina yang sedang terbaring di ranjang pasien rumah sakit itu.
Suster datang dari luar kamar dengan membawakan beberapa bahan obat, dia menunduk hormat ketika melihat Rido yang sedang duduk santai dan tegas diatas kursi roda miliknya.
“bagaimana keadaan ibu ini suster?” Tanya Rido tiba tiba dengan suara yang berwibawa, seketika suster gemetar mendengar perkataan dari Rido.
“Ko, kondisi, ibu ini sangat baik tuan, proses operasinya berjalan dengan sangat baik, hanya tinggal menunggu siuman saja” ucap sang suster dengan menjawab sedikit terbata.