NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Keana Pindah Kota

...GAMON...

...Bab 17: Keana Pindah Kota...

...POV Keana...

---

Dua Minggu Sejak Pertemuan di Kantor Bima

Satu Bulan Sejak Surat Itu Dikirim

Keana duduk di lantai kostnya. Kost lama yang sama. Dinding retak yang sama. Langit-langit dengan retakan yang masih setia menemani.

Tapi hari ini, semuanya terasa beda.

Karena hari ini, dia ambil keputusan besar.

Dia buka laptop. Layar menyala. Email dari perusahaan di Surabaya masih terbuka—kayak kemarin, kayak lusa, kayak seminggu lalu. Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, dia baca dengan mata yang benar-benar lihat.

"Selamat, Anda diterima sebagai staf administrasi rumah sakit di Surabaya. Bergabunglah mulai 1 bulan depan."

Diterima.

Dia apply dua bulan lalu—pas masih paling hancur-hancurnya. Waktu itu, dia cuma asal kirim. Nggak mikir serius. Hanya pengen lari.

Tapi sekarang? Sekarang dia lihat email ini dan dadanya berdebar. Bukan takut. Tapi... deg-degan. Kayak mau mulai sesuatu yang baru.

Surabaya.

Kota baru. Orang baru. Hidup baru.

Nggak ada Bima. Nggak ada Andra. Nggak ada kenangan yang nusuk tiap kali lewat angkringan. Nggak ada masa lalu yang nagih utang.

Cuma dia. Sendiri. Dan kesempatan kedua.

---

Dia tutup laptop. Lihat sekeliling kost.

Lemari tua. Kasur yang udah kempes di tengah. Meja belajar penuh coretan. Jendela yang nggak pernah rapat betul—jadi tiap malem suara motor masuk.

Dia tinggal di sini bertahun-tahun. Bareng Bima. Bareng kenangan. Bareng luka.

Sekarang?

Dia buka lemari. Ambil koper. Mulai packing.

---

Malam – Maya Datang

Pintu diketuk. Maya masuk tanpa nunggu jawaban. Begitu lihat koper terbuka dan baju-baju berserakan, dia berhenti.

"Kean... lo serius?"

Keana berhenti melipat baju. Tatap Maya. Senyum tipis.

"Iya."

Maya diem. Jalan mendekat. Duduk di tepi kasur.

"Lo udah pikirin ini baik-baik?"

Keana duduk di lantai, berhadapan.

"Berbulan-bulan, May."

Maya tatap dia. Matanya nyari-nyari sesuatu. Mungkin ragu. Mungkin takut. Mungkin sedih.

"Jakarta... terlalu penuh." Keana mulai. Suaranya pelan. "Setiap sudut ada dia. Setiap angkringan ada kenangan. Setiap lampu merah ada bayangan."

Maya diem.

"Gue butuh tempat baru. Tempat di mana gue nggak dikenal sebagai 'mantan Bima' atau 'korban Andra'. Tempat di mana gue bisa mulai dari nol."

Maya ambil napas. Panjang.

"Lo takut nggak?"

Keana mikir. Jujur.

"Takut. Banget."

"Terus?"

"Tapi lebih takut kalau di sini terus, gue nggak akan pernah sembuh."

Maya diem. Matanya mulai basah.

"Gue... gue bakal kangen lo, Kean."

Keana juga mewek. Tapi dia tahan.

"Gue juga, May. Lo satu-satunya yang bertahan."

Maya berdiri. Jalan ke koper. Ambil baju yang udah dilipet, masukin ke koper—rapihin, padahal udah rapi. Cuma biar ada yang dilakuin.

Gue bantuin."

Keana senyum. Basah.

---

Malam Itu – Makan Terakhir

Maya ngajak ke angkringan. Bukan Angkringan Warna-Warni. Tapi angkringan biasa dekat kost.

"Makan. Traktir." Maya sodorkan sate usus. "Ini favorit lo."

Keana ambil. Makan. Rasanya... beda. Mungkin karena ini terakhir.

"Lo udah bilang ke bos?"

"Udah. Resign."

"Temen kantor?"

"Cuma lo. Sama Siska. Sisanya... nggak peduli."

Maya geleng-geleng. "Dasar kantor tai."

Keana ketawa. Tawa pertama dalam waktu lama.

Mereka makan. Ngobrol. Ketawa. Nangis dikit. Kayak dua sahabat yang tahu ini pertemuan terakhir—setidaknya untuk waktu yang lama.

"Lo janji bakal jaga diri?" tanya Maya.

"Janji."

"Lo janji bakal kabarin tiap minggu?"

"Janji."

"Lo janji bakal cepet nemu cowok baru yang lebih ganteng dari Bima?"

Keana ketawa. "May!"

"Serius!" Maya ikut ketawa. "Biar lo cepet lupa."

Keana senyum. Tapi di dalam, dia tahu: lupa itu nggak mungkin. Yang bisa dia lakuin cuma move on. Dan itu beda.

---

Pagi Keberangkatan – Stasiun

Maya nganter. Stasiun Senen. Ramai. Khas Jakarta—orang lalu lalang, pedagang asongan, suara kereta masuk.

Mereka berpelukan lama.

"Lo kuat, Kean." Maya berbisik. "Lo udah lewatin yang paling berat. Sisanya... lo pasti bisa."

Keana peluk erat.

"Makasih, May. Lo lebih dari sahabat. Lo... lo penyelamat gue."

Maya lepas peluk. Hapus air mata. Pura-pura marah.

"Awas lo nggak kabarin. Gue susul ke Surabaya."

Keana ketawa. "Iya, iya."

Kereta masuk. Keana ambil tas. Langkah ke pintu. Sebelum naik, dia balik. Lambai ke Maya.

Maya balas lambai. Sambil nangis.

Keana naik. Cari tempat duduk. Di dekat jendela.

Kereta jalan. Pelan-pelan meninggalkan stasiun. Meninggalkan Maya. Meninggalkan Jakarta.

Dia lihat ke luar jendela. Gedung-gedung lewat. Rumah-rumah kumuh. Langit Jakarta yang kelabu.

Dia ingat semua. Bima. Angkringan. Sop iga. Kata-kata pedas yang dia ucapin. Penyesalan. Air mata.

Tapi kali ini, nggak ada sesak. Cuma... sedih. Sedih yang wajar. Sedih yang nggak bikin dia hancur.

Dari kejauhan, Jakarta mulai mengecil. Hilang di ujung rel.

"Selamat tinggal, Jakarta." bisiknya. "Selamat tinggal, masa lalu."

---

Sore – Sampai di Surabaya

Stasiun Pasar Turi. Surabaya.

Udaranya beda. Panas, tapi kering. Nggak lembab kayak Jakarta. Orang-orang logatnya medok. "Mbak, taksi? Sini mbak!"

Keana jalan keluar. Tas diseret. Mata lihat sekeliling.

Ini kota baru. Nggak ada yang kenal dia. Nggak ada yang tahu masa lalunya. Nggak ada yang tahu dia pernah jadi orang bodoh yang nyia-nyiin cinta sejati.

Dia bisa jadi siapa aja di sini.

Dia naik taksi. Kasih alamat kost yang udah dipesan online.

Sepanjang jalan, dia lihat Surabaya. Kota pahlawan. Kata orang, kotanya keras. Tapi dia nggak takut.

Dia udah lewatin yang lebih keras dari ini.

---

Malam – Kost Baru

Kamar kostnya kecil. Lebih kecil dari di Jakarta. Tapi bersih. Jendela besar. Dari situ dia bisa lihat langit—nggak terhalang gedung tinggi.

Dia buka koper. Mulai nata barang.

Di dasar koper, ada kotak kecil. Kotak sepatu tua. Dari Jakarta. Dia bawa.

Dia buka. Isinya: tiket bioskop, karcis angkringan, foto-foto polaroid, dan surat Bima yang dulu.

Dia tatap surat itu. Sekarang rasanya beda. Bukan sakit. Tapi kenangan. Kenangan yang membentuk dia jadi sekarang.

Dia ambil surat itu. Baca sekali lagi. Lalu lipat rapi. Taruh balik ke kotak.

Tapi kotak itu nggak dia buang. Dia simpan di pojok lemari. Sebagai pengingat: dari mana dia datang, sejauh mana dia udah jalan.

---

Ponsel bergetar. Maya.

Maya: "Udah sampai?"

Keana: "Udah. Lagi nata barang."

Maya: "Gimana rasanya?"

Keana lihat ke luar jendela. Langit malam Surabaya. Ada bintang dikit.

Keana: "Aneh. Tapi... plong."

Maya: "Bagus dong. Jangan lupa janji lo. Kabarin tiap minggu."

Keana: "Iya, May. Makasih buat semuanya."

Maya: "Makasih juga, Kean. Lo udah ngajarin gue arti bangkit."*

Keana senyum. Hangat.

---

Pukul 22.00

Dia duduk di lantai. Punggung sandar ke dinding. Posisi yang sama kayak di Jakarta. Tapi kali ini, retakan nggak ada.

Dindingnya mulus. Baru. Bersih.

Seperti hidupnya. Yang mulai dari nol.

Dia buka buku catatan baru—yang dibeli tadi di toko dekat stasiun. Halaman pertama. Tulis:

---

Hari pertama di Surabaya.

Sendiri. Nggak kenal siapa-siapa. Nggak tahu jalan. Nggak tahu apa-apa.

Tapi buat pertama kalinya dalam waktu lama, gue nggak takut.

Mungkin ini yang namanya harapan. Bukan harapan buat balikan sama Bima. Bukan harapan buat dapet yang 'lebih'. Tapi harapan buat jadi manusia yang utuh. Lagi.

Jakarta udah gue tinggal. Masa lalu udah gue simpen rapi.

Sekarang... waktunya maju.

Makasih, Bima. Buat semua.

Makasih, Maya. Buat selalu ada.

Makasih, diriku sendiri. Buat nggak nyerah.

Surabaya, here I come.

---

Dia tutup buku. Matikan lampu.

Di luar, angin malam berhembus. Membawa bau asing—bau laut? Mungkin. Surabaya dekat laut katanya.

Keana pejam mata.

Besok, hidup baru dimulai.

---

Bersambung ke Bab 18: Bima Kehilangan Arah

---

...📝 Preview Bab 18:...

Di Jakarta, Bima mulai ngerasa ada yang aneh.

Setelah konflik sama Rina, dia mikir semuanya udah beres. Tapi ternyata nggak. Ada yang hilang. Ada yang kosong. Dan dia nggak tahu itu apa.

Karier moncer. Rina baik. Tapi di dalam... ada yang mati.

Bab 18: Bima Kehilangan Arah—segera!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!