NovelToon NovelToon
Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Kakiku Menolak Berjalan Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:62
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.

Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.

Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.

Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.

Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.

Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."

Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.

Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.

Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.

Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:

"Aku mau pergi utuh."

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: KAKI KANAN SEMAKIN BESAR, CELANA TIDAK ADA

---

Obat habis. Sebulan yang lalu. Atau dua. Mahesa sudah tidak ingat. Waktu menjadi kabur. Menjadi tidak penting.

Yang penting adalah kaki. Yang tidak sembuh. Yang tetap besar. Tetap bengkak. Tetap sakit. Setiap hari, setiap malam, setiap detak jantung, nyeri itu ada. Seperti tamu tak diundang yang tidak pernah pergi.

Celana tidak ada yang muat. Semua sudah dicoba. Yang dulu ibu belah, yang kakek jahit tambahan, yang dari kain bekas—semua tidak muat. Kaki kanan semakin besar. Dari hari ke hari. Dari minggu ke minggu. Tanpa bisa dihentikan. Tanpa bisa disembunyikan.

Mahesa duduk di beranda. Hanya pakai sarung. Sarung tua milik kakek yang dililitkan asal-asalan. Menutupi dari pinggang sampai lutut. Tapi kaki kanan tetap terlihat. Dari lutut ke bawah. Besar. Bengkak. Kulit mengilat. Luka abses yang mengering tapi meninggalkan bekas hitam.

Dua minggu sudah ia tidak keluar rumah. Dua minggu hanya di beranda, di dapur, di kamar. Dua minggu hanya bertemu kakek. Dua minggu menjadi hantu di rumah sendiri.

Kakek keluar. Dari dapur. Membawa sesuatu. Kain karung goni. Bekas wadah beras. Kasar. Coklat. Berbulu halus yang bisa membuat gatal.

"Coba," kata kakek. Duduk di samping Mahesa. Tangannya yang keriput memegang karung, mengukur-ngukur. "Kakek jahitkan celana. Biar bisa muat."

Mahesa menatap karung itu. Kasar. Tidak layak. Tapi mungkin satu-satunya yang bisa. Karena kain lain tidak cukup lebar. Tidak cukup kuat. Tidak cukup... apa pun.

"Kek, pakai karung?" tanya Mahesa. Bukan protes. Hanya tanya.

Kakek mengangguk. "Ini kuat. Lebar. Muat. Nanti kakek jahit pinggirnya biar tidak gatal."

Mahesa diam. Membayangkan dirinya pakai celana karung. Berjalan di kampung. Dilihat orang. Ditertawakan anak-anak.

Tapi apa pilihan? Tidak ada. Tidak pernah ada.

Kakek mulai menjahit. Dengan jarum dan benang kasar. Tangan tua itu bergetar. Tapi berusaha. Menusuk karung. Menarik benang. Perlahan. Pasti.

Mahesa melihat. Menyaksikan. Air mata menggenang.

Bukan karena malu pakai celana karung. Tapi karena kakek. Yang tujuh puluh tahun. Yang tangannya bergetar. Yang matanya rabun. Yang duduk di lantai menjahitkan celana dari karung beras.

Untuknya. Untuk cucu yang sakit. Untuk beban yang tidak pernah minta jadi beban.

---

Dua jam. Kakek selesai. Celana karung. Bentuknya sederhana. Seperti kantong dengan dua lubang. Tapi muat. Benar-benar muat. Kaki kanan masuk dengan longgar.

Mahesa memakainya. Berdiri. Berjalan dua langkah. Kasar. Gatal. Tapi muat. Tidak ada yang robek. Tidak ada yang sempit.

"Pas, Kek," katanya. Tersenyum. Tipis. Tapi tersenyum.

Kakek tersenyum balik. Bangun dengan susah payah. Memegang pinggang. "Bagus. Sekarang kamu bisa keluar."

Keluar. Kata yang menakutkan. Tapi mungkin harus.

---

Esok pagi. Kakek minta garam. Habis. Mahesa yang harus beli. Karena kakek batuk-batuk semalam. Tidak kuat jalan jauh.

Mahesa ragu. Tapi kakek bilang, "Kamu pakai celana baru. Coba jalan. Lihat rasanya."

Celana baru. Celana karung. Mahesa memakainya. Berdiri di depan pintu. Menarik napas panjang.

Lalu keluar. Berjalan. Pincang. Kaki kanan berat. Tapi ia coba.

Jalan seratus meter ke warung. Untuk orang normal, tiga menit. Untuk Mahesa, tiga puluh menit. Berhenti tiga kali. Duduk di batu. Di tanah. Di tempat yang bisa menopang.

Istirahat. Menarik napas. Menahan nyeri. Kaki terlalu berat. Seperti ada yang menarik ke bawah. Seperti ingin tenggelam ke bumi. Seperti tidak mau diajak hidup.

Di tikungan, warung terlihat. Tapi juga terlihat orang-orang. Ibu-ibu. Anak-anak. Beberapa bapak tua.

Mereka melihat. Tentu saja. Kepala menoleh. Mata terbelalak. Mulut berbisik.

"Itu anaknya Kakek Surya. Kakinya... besar sekali."

"Pakai karung? Celananya dari karung?"

"Kasihan. Tapi jangan dekat-dekat. Siapa tahu menular."

Mahesa cepat-cepat. Tidak melihat balik. Tidak menjawab. Tidak ada. Hanya berjalan cepat sebisanya. Menunduk. Melihat tanah. Menghitung langkah.

Sampai di warung. "Garam," katanya. Cepat. Tidak menatap mata penjaga warung.

Penjaga warung—ibu Tini—melihatnya. Lama. Lalu mengambil garam. Membungkus. Menyerahkan.

"Ini," katanya. Suara lembut. Tidak seperti yang lain. "Kamu Mahesa, kan? Cucunya Kakek Surya?"

Mahesa mengangguk. Masih menunduk.

"Kasihan kamu," ibu Tini berkata. "Nanti aku titip sayur buat kakekmu. Dia baik. Dulu sering bantu aku."

Mahesa mendongak. Melihat ibu Tini. Wajahnya tidak jijik. Tidak takut. Hanya sedih. Kasihan.

"Te... terima kasih, Bu," katanya. Lalu cepat-cepat pergi.

Pulang. Secepat kaki bisa. Ke rumah. Ke pintu. Ke tempat aman.

---

Di rumah, kakek menunggu di beranda. Melihat Mahesa datang. Tersenyum.

"Gimana?" tanya kakek.

Mahesa duduk. Napas terengah. Kaki sakit. Tapi ia tersenyum balik. Tipis.

"Dapat, Kek. Garam."

Kakek mengangguk. Lalu melihat celana karung. "Gatal?"

"Sedikit. Tapi muat."

Kakek mengangguk lagi. "Besok kakek cari kain. Mungkin ada yang lebih bagus. Tapi untuk sekarang, ini dulu."

Mahesa memegang celana karung itu. Kasar. Gatal. Tapi ini usaha kakek. Ini cinta kakek. Ini bukti bahwa ia tidak sendiri.

"Ibu Tini bilang mau titip sayur," kata Mahesa. "Katanya kakek pernah bantu dia."

Kakek mengangguk. "Iya. Dulu waktu suaminya sakit. Kakek bantu jaga warung."

Mahesa diam. Memikirkan. Kebaikan kecil yang kembali. Seperti Siti. Seperti ibu Tini. Seperti beberapa orang yang masih peduli.

---

Malam. Mahesa tidur. Tapi tidak nyenyak. Kaki nyeri. Seperti biasa. Tapi malam ini ada yang berbeda. Gatal. Sangat gatal. Dari celana karung. Dari serat-serat kasar yang menempel di kulit.

Ia menggaruk. Tapi tidak berhenti. Malah tambah gatal. Kulit merah. Bentol-bentol kecil.

Kakek bangun. Melihat. "Astaga. Alergi."

Mahesa menatap kakinya. Yang sudah besar. Yang sekarang merah dan bentol. Yang semakin perih.

Kakek mengambil minyak kelapa. Mengoleskan. Perlahan. Kulit terasa dingin. Gatal berkurang. Tapi tidak hilang.

"Maaf, Kek," Mahesa berbisik. "Celananya..."

"Bukan salah celana," kakek memotong. "Bukan salah siapa-siapa. Ini... ini cuma harus diatasi."

Mahesa menangis. Lagi. Selalu menangis. Tapi tidak bisa berhenti.

"Kek, aku capek," katanya. Suara pecah. "Capek sakit. Capek jadi begini. Capek... hidup."

Kakek diam. Lalu memeluknya. Erat.

"Aku tahu," bisik kakek. "Aku tahu, Nak. Tapi kamu harus kuat. Buat apa? Buat kakek. Buat ayahmu yang di surga. Buat... diri kamu sendiri."

Mahesa terisak di pelukan kakek.

"Besok kita cari kain lain," kakek melanjutkan. "Yang lebih halus. Kakek jahitkan lagi. Dan kita cari obat ke puskesmas. Jangan menyerah."

Jangan menyerah. Kata-kata ayah. Sekarang dari kakek.

---

Pagi. Mahesa bangun dengan kulit masih merah. Tapi tidak separah semalam. Kakek sudah pergi ke pasar. Mencari kain. Sendirian. Dengan tongkat. Dengan batuk yang belum sembuh.

Mahesa menunggu di beranda. Memikirkan kemarin. Ibu Tini yang baik. Orang-orang yang berbisik. Celana karung yang gatal.

Kakek pulang siang. Dengan kain. Kain bekas—tapi lebih halus dari karung. Mungkin dari baju bekas orang. Tapi bersih. Bisa dipakai.

"Ini," kata kakek. "Kakek jahitkan lagi. Nanti halus. Tidak gatal."

Mahesa memegang kain itu. Lembut. Bersih. Hangat.

"Kek," katanya. "Makasih."

Kakek tersenyum. Lalu mulai menjahit. Dengan tangan bergetar. Dengan mata rabun. Dengan cinta yang tak terbatas.

Mahesa melihat. Menyaksikan. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa... tidak sendiri. Tidak sepenuhnya.

Kaki masih besar. Masih sakit. Masa depan masih gelap.

Tapi ada kakek. Ada yang berjuang. Ada yang tidak menyerah.

Sore itu, celana baru selesai. Mahesa memakainya. Halus. Muat. Tidak gatal.

Ia berjalan ke halaman. Dua langkah. Empat. Enam. Berhenti. Menatap langit sore. Jingga. Indah.

Kakek di beranda. Melihat. Tersenyum.

Dan Mahesa tersenyum balik.

Karena hari ini, ia punya celana baru. Punya kakek. Punya alasan untuk terus berjalan.

Meski kaki sakit. Meski dunia tidak ramah. Meski masa depan tidak pasti.

Hari ini, itu cukup.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!