Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Invasi Wilayah Utara Great Yan 4
Di dalam ruang komando utama Istana Es perbatasan, suhu udara perlahan kembali menghangat. Tungku-tungku spiritual berbentuk teratai api telah dinyalakan, mengusir hawa beku yang sebelumnya menusuk tulang. Di tengah ruangan, Archduke Xuan duduk santai di atas kursi berlapis kulit rubah salju, sementara Xu Mei dan beberapa jenderal intinya masih berdiri dengan sisa-sisa napas kelegaan dan kekaguman yang belum memudar.
Tiba-tiba, seorang prajurit pengintai berlari masuk, memecah keheningan yang nyaman itu. Ia berlutut dengan satu kaki.
"Lapor, Nyonya Utama! Tiga Jenderal! Pasukan bantuan dari Ibukota Kekaisaran baru saja tiba di gerbang selatan benteng!"
Mendengar laporan itu, wajah para jenderal Utara seketika berubah masam, karena mereka datang terlambat. Di atas kursinya, Wu Xuan memutar cangkir teh hangat di tangannya, menyembunyikan senyum geli yang nyaris meledak.
'Luar biasa,' monolog jiwa pemuda Bumi di dalam kepalanya, tertawa sarkas. 'Di duniaku dulu, polisi dalam film aksi selalu datang setelah penjahatnya mati dan gedungnya meledak. Ternyata, hukum keterlambatan aparat ini berlaku secara universal bahkan di dunia kultivasi. Sepuluh ribu prajurit Ranah Roh awal baru sampai setelah jutaan monster menjadi bangkai. Setidaknya mereka berguna untuk menyapu jalanan.'
Xu Mei memijat pelipisnya, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kelelahan dan rasa muak. "Bawa mereka masuk. Tempatkan mereka di barak cadangan. Para Jenderal, pergilah sambut utusan ibukota itu. Jangan biarkan mereka melihat betapa menyedihkannya tembok kita."
"Sesuai perintah, Nyonya!"
Para jenderal itu menunduk hormat, pertama kepada Xu Mei, dan dengan durasi yang lebih lama serta lebih dalam kepada Wu Xuan, sebelum akhirnya bergegas keluar ruangan.
Kini, di dalam ruang komando yang luas itu, hanya tersisa Wu Xuan dan Xu Mei.
Xu Mei menarik napas panjang, berusaha menata kembali wibawanya sebagai penguasa Utara. Ia memberi isyarat dengan tangannya. Dari balik tirai ruangan, dua pelayan wanita yang sangat cantik dan berpakaian sutra tebal melangkah maju, membawa nampan berisi manisan buah es dan teh pencerahan kualitas terbaik untuk menjamu sang Archduke.
Wu Xuan mengambil sepotong manisan dengan garpu giok kecil, mengunyahnya pelan, lalu menatap Xu Mei dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ngomong-ngomong, Nyonya Xu Mei," ucap Wu Xuan santai, suaranya memecah kesunyian ruangan dengan nada yang terdengar seperti rasa ingin tahu. "Di mana sebenarnya Duke Bei Han berada di saat genting seperti ini? Apakah dia sedang dalam pengasingan tertutup yang begitu dalam hingga ia melewatkan perlindungan rumahnya sendiri?"
Tubuh Xu Mei menegang. Matanya memancarkan rasa sakit dan kebingungan yang berusaha ia tutupi. "Suamiku... beliau... ya, Duke Bei Han sedang dalam masa pengasingan yang sangat krusial. Sulit baginya untuk memutus meditasinya."
Wu Xuan tersenyum tipis. Ia meletakkan garpu gioknya, lalu bangkit berdiri. Ia berjalan mendekati Xu Mei dengan langkah pelan, elegan, namun memancarkan dominasi predator yang membuat insting wanita itu bergetar.
Wu Xuan berhenti tepat di hadapannya. Ia mengangkat tangannya, dan dengan sangat natural, menyentuh lembut helai rambut Xu Mei yang berantakan, menyelipkannya ke belakang telinga wanita itu. Sentuhan hangat itu sangat kontras dengan hawa dingin Istana Es.
"Bisa-bisanya Bei Han membuat wanita secantik dirimu kelelahan sampai seperti ini," bisik Wu Xuan, suaranya turun menjadi bariton yang sangat menggoda, memancarkan pesona maskulin yang tak bisa ditolak.
Xu Mei menahan napasnya. Wajah cantiknya yang pucat mendadak merona. Jantungnya, yang selama beberapa hari terakhir berdetak karena teror, kini berdetak karena alasan yang sepenuhnya berbeda. Pria di hadapannya ini tampan, terlalu kuat, berkuasa dan auranya terlalu menindas. Ia memalingkan wajahnya, tidak berani menatap langsung ke mata keemasan Wu Xuan yang seolah bisa menelanjangi jiwanya.
Tanpa mempedulikan penolakan halus itu, Wu Xuan membalikkan telapak tangannya. Sebuah pil berwarna emas kemerahan bermanifestasi dari cincin spasialnya. Aroma esensi kehidupan yang sangat murni langsung memenuhi seluruh ruangan. Itu adalah Pil Pemulihan Energi Tingkat Kuno kelas atas.
"Buka mulutmu," titah Wu Xuan lembut namun mutlak. Ia menyodorkan pil itu langsung ke bibir Xu Mei dengan jari-jarinya.
Mata Xu Mei membelalak menyadari nilai pil tersebut. "Y-Yang Mulia Archduke... ini terlalu berlebihan. Ini tidak pantas untukku," tolak Xu Mei dengan suara bergetar, mencoba mundur satu langkah. Sebagai istri seorang Duke, menerima perlakuan semesra ini dari pria lain, apalagi disuapi secara langsung, ditakutkan menjadi sebuah skandal besar.
Namun, Wu Xuan tidak membiarkannya mundur. Tangan kirinya melingkar dengan lembut namun kuat di pinggang belakang Xu Mei, menahannya di tempat. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Xu Mei bisa merasakan kehangatan napas Wu Xuan.
"Sst," Wu Xuan mendesis pelan, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu. "Jangan bicara tentang kepantasan denganku, Xu Mei. Karena selama aku sedang berada dalam 'pengasingan'... suamimu yang terhormat itu sering pergi menemui istriku di Ibukota. Dan cermin telekomunikasi yang kau pegang beberapa jam yang lalu... adalah bukti yang sangat nyata."
Seketika, seluruh darah di tubuh Xu Mei seolah membeku, lalu mendidih di saat yang bersamaan. Matanya terbelalak ngeri.
Pria ini juga tahu?! Archduke Xuan tahu bahwa cermin itu adalah jalur perselingkuhan suaminya dengan Yan Melin?!
Rasa malu, amarah, dan pengkhianatan meledak di dalam dada Xu Mei. Ia menatap Wu Xuan dengan bibir gemetar. Pria ini tidak sedang berpura-pura bodoh; pria ini sedang menguliti rahasia paling menyakitkan dalam rumah tangganya dan menyajikannya di atas piring.
"Kalian Keluar," desis Xu Mei tiba-tiba, suaranya bergetar menahan emosi yang tidak bisa di jelaskan.
Kedua pelayan wanita yang sedang menuangkan teh tersentak kaget.
"Apa kalian tidak dengar! Tinggalkan kami berdua!" bentak Xu Mei dengan sisa-sisa wibawanya. Ia tidak ingin satu pun pelayan mendengar aib ini dan menyebarkan skandal yang bisa meruntuhkan sisa martabat Keluarga Utara.
Para pelayan itu buru-buru menunduk dan pergi dengan cepat keluar ruangan, menutup pintu giok rapat-rapat.
Kini, hanya tersisa mereka berdua. Pertahanan mental Xu Mei benar-benar runtuh. Matanya sedikit berkaca-kaca, raut wajahnya seperti seseorang yang baru saja ditusuk dari belakang oleh orang yang paling ia percayai.
Melihat wanita kuat itu hancur di tangannya, Wu Xuan tidak melepaskan pelukannya. Ia malah membelai punggung Xu Mei dengan ibu jarinya, memainkan psikologinya seperti seorang maestro yang memetik senar kecapi.
"Orang kuat di dunia ini memang lumrah memiliki beberapa istri atau selir," bisik Wu Xuan di telinga Xu Mei, nada suaranya berubah menjadi sangat pengertian, seolah ia adalah satu-satunya pelabuhan aman bagi wanita itu. "Tetapi, aku memiliki hak saat ini untuk memburu Bei Han, menyeretnya ke hadapanku, dan menuntut penjelasan darinya atas kelancangannya."
Wu Xuan menatap mata Xu Mei yang berkaca-kaca. Jari tangannya perlahan mengusap pipi wanita itu. "Dan kau... kau telah berjuang sendirian mempertaruhkan nyawa untuk melindungi tembok ini. Kau berhak mendapatkan hak yang lebih baik."
Sambil mengucapkan kalimat beracun namun manis itu, Wu Xuan menyelinapkan pil pemulihan tersebut ke dalam mulut Xu Mei yang sedikit terbuka.
Xu Mei menelan pil itu secara refleks. Energi murni tingkat Kuno langsung meledak di dalam dantiannya, menyapu bersih seluruh kelelahan fisik dan mentalnya selama berhari-hari. Namun, kehangatan pil itu tidak sebanding dengan kebingungan di hatinya. Pria ini... suaminya selingkuh dengan istri pria ini, namun alih-alih membunuhnya, pria didepannya ini malah bersikap sangat romantis padanya?
Taktik psikologis Wu Xuan bekerja sempurna. Dengan memosisikan diri sebagai sesama korban pengkhianatan, Wu Xuan menghilangkan posisi Xu Mei sebagai musuh, mengubahnya menjadi rekan senasib yang membutuhkan sandaran.
"Bawa aku ke ruang kerja suamimu," perintah Wu Xuan lembut, melepaskan pelukannya. Mengaktifkan metode tarik ulur hubungan. "Sesuai kesepakatan kita, aku ingin memilih sendiri tambang kristal es yang menjadi bayaranku hari ini."
Xu Mei, yang masih linglung oleh gelombang emosi dan energi pil, hanya bisa mengangguk patuh. "B-Baik, Archduke. Silakan ikuti aku."
Mereka berdua berjalan bersisian keluar dari ruang komando, menyusuri lorong-lorong batu putih yang dihiasi berbagai harta roh langka yang sepi menuju ruangan pribadi Duke Bei Han.
Di sepanjang jalan, Wu Xuan memandangi arsitektur Istana Utara, namun otaknya sibuk menggali ensiklopedia novel aslinya.
'Xu Mei dan Duke Bei Han...' monolog batin Wu Xuan, menyusun potongan teka-teki takdir. 'Jika aku tidak salah ingat, mereka memiliki seorang putri yang kira-kira berumur tiga puluh tahunan. Gadis yang dikaruniai bakat pedang es luar biasa dan saat ini sedang menjadi murid inti di Sekte Pedang Berdaulat—salah satu sekte tingkat suci di luar kekaisaran ini. Sayang sekali, gadis itu belum tahu bahwa ayahnya saat ini hanyalah seonggok gumpalan daging busuk yang sedang menjerit tanpa suara di ruang isolasi bawah tanahku. Jika gadis itu pulang suatu saat nanti, mungkin aku harus memberinya... "bimbingan khusus".'
Senyum tipis yang mematikan kembali menghiasi wajahnya.
Mereka tiba di ruang kerja Duke Bei Han. Ruangan itu luas, dipenuhi rak-rak berisi perkamen strategi dan berbagai artefak perang. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja giok besar yang menampilkan peta holografik tiga dimensi dari seluruh Wilayah Utara Kekaisaran Yan.
Xu Mei berdiri di samping meja, mengaktifkan peta tersebut. Berbagai titik cahaya biru, perak, dan merah menyala, menandakan lokasi tambang-tambang kekayaan Utara.
"Ini adalah pemetaan seluruh aset kami, Archduke," ucap Xu Mei, suaranya sudah kembali stabil berkat pil pemulihan tadi, meskipun ia masih menghindari kontak mata langsung dengan Wu Xuan. "Silakan pilih salah satu dari tiga tambang kristal es abadi terbesar kami di sektor utara."
Wu Xuan melangkah mendekati meja. Ia tidak menatap ke arah utara peta, melainkan langsung menggeser jarinya ke sudut kanan bawah, tepat di garis perbatasan antara Wilayah Timur dan Wilayah Selatan.
Jarinya berhenti di sebuah titik berwarna merah pekat yang berdenyut redup.
"Aku tidak menginginkan tambang es di utara," ucap Wu Xuan santai. Ia mengetuk titik merah itu. "Aku ingin yang ini. Tambang Kristal Merah Darah di perbatasan kita."
Mata Xu Mei membelalak lebar. Wajahnya menampakkan ketidakpercayaan yang luar biasa. "T-Tambang Kristal Merah? Tapi Archduke... tempat itu adalah zona mati! Jika boleh tahu... mengapa Anda memilih tempat itu?!"
"Tentu saja Karena sumber dayanya," Wu Xuan memiringkan kepalanya, menatap Xu Mei dengan senyuman misterius, "tambang itu mampu menciptakan lima beast purba Ranah Kuno tahap akhir, dan dua beast Ranah Primordial Suci tahap awal, yang kini sedang tertidur di dasar tambang itu. Dan bukankah Itulah alasan sebenarnya mengapa kalian, penguasa Utara, baru bisa menjelajah dan menambang tempat itu sekitar dua persen saja, bukan?"
Xu Mei mundur selangkah hingga punggungnya membentur rak buku. Napasnya tercekat.
Bagaimana mungkin?!
Rahasia tentang penjaga di dasar Tambang Kristal Merah itu adalah informasi tingkat absolut yang bahkan suaminya, Duke Bei Han, tidak tahu secara spesifik! Hanya dirinya dan Ketua Agung Logistik yang pernah secara diam-diam memeriksa dasar tambang itu ratusan tahun lalu, dan langsung menyegel rahasia mengerikan itu demi menghindari kepanikan. Bagaimana Archduke dari Selatan ini bisa menyebutkan jumlah dan tingkat kultivasi para monster itu dengan presisi?!
Apakah pria ini dewa yang mahatahu?!
Di dalam hatinya, jiwa Wu Xuan tertawa licik. 'Tentu saja aku tahu, Nyonya manis. Dalam plot novelnya, beberapa tahun dari sekarang, protagonis Chu Zhang yang malang akan dijebak oleh Pangeran Mahkota Yan Shen dan lari ke tambang itu. Tapi dasar tokoh utama dengan plot armor sialan, dia tidak mati. Dia malah membangkitkan para penjaga itu agar saling bunuh, masuk ke ruang terdalam, dan menemukan permata warisan teknik tingkat tinggi yang membantunya menerobos dari Ranah Kuno langsung ke Ranah Primordial Suci. Dan Warisan itu harus menjadi milikku.'
Wu Xuan tidak memberikan waktu bagi Xu Mei untuk mencerna keterkejutannya. Ia menggunakan pesona dan aura penakluknya untuk terus mendesak.
"Aku tahu kau telah terjebak di batas Ranah Kuno tahap awal selama puluhan tahun, Xu Mei," suara Wu Xuan berubah menjadi sangat romantis dan membujuk, memancarkan aura seorang tiran yang menawarkan dunia kepada pasangannya. "Apa kau mau ikut menjelajah bersamaku ke sana? Aku pastikan kau juga mendapatkan apa yang kau mau. Jika kau ikut menemaniku, aku berjanji akan membantumu mencari harta untuk menerobos hambatan kultivasimu."
Dada Xu Mei berdebar kencang. Menerobos ke tahap menengah? Itu adalah impian seumur hidupnya! Dan tawaran perlindungan serta eksplorasi dengan seorang Primordial Suci yang tampan ini... ini bukan sekadar ajakan ekspedisi, ini adalah godaan yang sangat manis.
Tanpa menunggu jawaban, Wu Xuan mengulurkan tangannya dan mengambil plat giok kepemilikan Tambang Kristal Merah dari atas meja. Ia menyimpannya di balik jubahnya.
Wu Xuan berbalik, sengaja melangkah menuju pintu keluar dan memunggungi wanita cantik itu, membiarkan Xu Mei terbakar oleh pikirannya sendiri. Tarik dan ulur. Ia telah memberikan umpannya, kini ia membiarkan korbannya yang menggigit.
Di ambang pintu, Wu Xuan berhenti sejenak. Ia menoleh sedikit dari atas bahunya.
"Pikirkan baik-baik pesanku ini," ucap Wu Xuan lembut namun penuh tekanan realitas. "Tanpa tahu di mana Bei Han berada, Wilayah Utara ini tidak akan cukup aman jika hanya mengandalkan kekuatan tahap awalmu saja sebagai pemimpin. Faksi lain mungkin akan menyadari ketidakhadiran Bei Han dan akan menerkammu. Jika kau sudah memikirkannya... aku ada di taman es istana ini. Aku tulus membantumu... karena aku juga membutuhkanmu untuk kerja sama kita di masa depan."
Pintu ruang kerja tertutup dengan suara klik pelan.
Di dalam ruangan itu, Xu Mei berdiri mematung. Pikirannya kacau balau. Kesetiaan pada suami yang mengkhianatinya, ambisi untuk mempertahankan wilayahnya, dan godaan dari seorang pria yang menawarkan kekuatan, semuanya berbenturan di dalam dadanya. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar.
Malam ini, di bawah bayang-bayang badai es, sebuah keputusan yang akan mengubah moralitas dan takdir penguasa Utara itu sedang dipertaruhkan.
Bersambung...