Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdusta : 24
Dengan sabar Kamal menunggu jawaban wanita tidak benar-benar menatap ke arahnya.
Lanira gamang, ragu untuk membeberkan permasalahan sampai membuatnya pergi dari rumah, memilih menginap di hunian sahabatnya yang tidak jauh dari kediaman keluarga Fatan. Tempatnya tinggal bersama sang suami.
"Aku memergoki bang Fatan jalan berdua dengan seorang perawat wanita. Awalnya kukira cuma rekan kerja, setelah kuselidiki dan ponselnya berhasil kubuka – ternyata hubungan mereka bukan teman sejawat, melainkan ke hal lebih pribadi.” Lanira meremas jemarinya.
“Wanita itu mantan kekasihnya. Tak tahu kapan tepatnya, atau bagaimana kisah mereka berakhir ….” suaranya tercekat, ia tergugu.
“Jahat betul laki-laki tak bermoral itu!” Rania menggeram, dipeluknya sang sahabat.
Rahang Kamal Nugraha mengetat, sorot matanya penuh amarah. Cepat-cepat dia mengeluarkan ponsel dari saku celana, lalu mendial nomor seseorang.
‘Aku harus melakukan sesuatu. Lanira tak pantas diperlakukan hina seperti ini!’ tekadnya telah bulat, entah jalan apa yang akan ditempuhnya.
***
Tok!
Tok!
Daun pintu dibuka dari dalam, sosok gadis berambut panjang sepinggang memekik tertahan.
“Kak, Intan!” Sabiya sangat terkejut mendapati kakaknya berdiri di depan pintu dalam keadaan badan menggigil, bibir membiru. Dipeluknya badan bergetar itu, lalu ditarik masuk ke dalam kamar kosan lumayan luas.
Setelah pintu ditutup dan dikunci, Sabiya langsung sibuk sendiri – mengambil handuk kering, pakaian ganti dan memberikan ke kakaknya. “Mandilah dulu, biar aku seduh teh hangat supaya perut kakak nanti hangat.”
Intan mengangguk, berusaha menyembunyikan air matanya. Dalam hati berterima kasih kepada sang adik yang tahu kondisi, tidak langsung mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan.
Wanita menggigil kedinginan itu masuk ke dalam kamar mandi, meletakkan handuk dan baju ganti pada gantungan di belakang pintu.
Derasnya suara air terjatuh dari shower, dimanfaatkan oleh Intan Rasyid. Dia menangis seraya membasuh tubuh dengan air hangat.
“Kedua orang tuaku tak pernah menyakiti hati ini, mereka sangat menghargai diriku. Jujur dalam berkata-kata maupun bertindak. Mengapa kau malah berbuat sebaliknya Nuha? Padahal kau calon suamiku?” gumamnya pelan, merasa kecewa akan sikap Kamal Nugraha.
Pikiran, batin Intan Rasyid dipenuhi tanda tanya, praduga, dan keraguan. Dia bimbang, tak lagi seyakin dulu perihal rencana pernikahannya dengan sang tunangan.
“Memutus tali pertunangan tak semudah membalikkan telapak tangan. Keluarga ayah tua sangat baik kepada kami, dan mereka menaruh harapan besar terhadap hubunganku dengan Nuha,” Intan dilema, bingung harus bagaimana.
Keluarga Nugraha dan Rasyid telah bersahabat dari generasi pertama sampai ke cucu mereka. Tinggal pun satu desa, bertetangga, dan hidup rukun saling menghormati, menyayangi.
“Kak Intan, jangan lama-lama mandinya! Nanti kau masuk angin! Ini teh hangatnya sudah ku siap diminum!”
Teriakan Sabiya membuyarkan lamunan Intan, dia menyudahi membasuh badan, cepat-cepat mengeringkan tubuh lalu berpakaian.
***
“Tadi aku memenami salah satu pasien yang dirujuk ke rumah sakit kota, pas sampai di sana sudah larut malam dan hujan pun belum reda. Saat semua urusan sudah selesai, buru-buru kemari,” dustanya sembari menyeruput teh hangat.
Sabiya tersenyum hambar, sorot matanya penuh kecurigaan, tetapi dia memilih percaya walaupun terpaksa. Bersabar daripada memaksa kakaknya jujur.
“Kenapa tak hubungi Sabiya, Kak? Kalau saja tahu kau ada di RS, langsung kujemput.” Dia menghidupkan alat pengering rambut, membantu mengeringkan helaian keriting rambut kakaknya.
“Baterai ponselku habis, mau pinjam ke salah satu tenaga medis, segan. Lagipula aku tak tega melihatmu berkendara di bawah hujan deras campur angin,” jawabnya lancar.
Sabiya melihat ponsel kakaknya yang sedang diisi daya, memang benar kehabisan baterai sampai mati total.
“Apa bang Kamal tahu kalau kakak sedang ada di kota? Kalau iya, kenapa tak minta jemput dia?”
“Tidak. Tak pantas bagi seorang wanita mengganggu pria yang belum menjadi suaminya, mana tengah malam pula,” bertambah lancar saja dia berbohong demi menutupi fakta menyakitkan.
Sabiya tidak lagi menginterogasi kakaknya, dia menghargai privasi saudara kandungnya itu, menjaga batasan apabila Intan membutuhkan waktu sampai suatu hari nanti siap jujur.
“Apa teman kakak tahu kalau malam ini tak pulang, takutnya mereka kecarian. Pakai saja ponselku buat hubungi mereka,” ia menyarankan.
“Nanti saja. Sebentar lagi ponselku juga menyala, langsung hubungi Irda ataupun Ririn.”
Rambut Intan hampir kering, dan Sabiya menyudahi membantu kakaknya. Dalam diam dia membereskan hair dryer, mengelap lantai terdapat noda teh, tapi telinganya mencuri dengar.
“Irda, tolong bantu sampaikan ke pengurus puskesmas, saya mengajukan cuti dua hari. Tadi sudah saya kirim pesan singkat, tapi rasanya kurang meyakinkan. Tolong ya?”
“Tak apa bu bidan, besok pagi saya sampaikan,” Irda menyanggupi.
Intan pun merasa lega, dia tidak bisa bekerja dalam keadaan hati tengah gundah, perasaan berkecamuk.
“Kakak tetap disini kan selama libur dua hari?” tiba-tiba Sabiya sudah berdiri di dekat kakaknya, wajahnya sumringah.
“Iya. Kau tak keberatan ‘kan?”
“Apalah kakak ini, aku malah senang. Sehabis kuliah, nanti kita jalan-jalan ya?”
“Boleh.” Intan mengangguk. Hitung-hitung menghabiskan waktu bersama adiknya yang jarang bertemu.
Sesudahnya Intan mematikan ponsel, tidak berniat membuka pesan dari Kamal Nugraha, mengabaikan tiga panggilan di senyapkan.
‘Nuha, aku memberimu kesempatan terakhir. Semoga kau bijak dalam memanfaatkannya.’
.
.
“Dari mana saja kau?” tanya seseorang tengah berkutat di balik meja sembari melototi layar komputer.
"Istirahatlah, sekarang sudah pukul satu dini hari.” Ia mendekati pemuda berpenampilan layaknya gembel.
Anggara Pangestu berdecak. Dasi diikatkan pada kepala yang katanya sebagai jimat pengusir pusing, ditarik dan dibuang. “Semua ini gara-gara para orang tua tengah puber kedua itu. Aku yang jadi korban, harus mengerjakan pekerjaan ala-ala orang benar. Menyebalkan sekali.”
Adisty memutar malas bola matanya, duduk di kursi depan meja kerja yang ada dihunian Pangestu. “Cuma dua minggu, Angga. Biarkan bunda dan papa menikmati masa tenang mereka. Jangan kau recoki!”
"Sudah macam kampanye saja, memiliki masa tenang," dia kesal sendiri. Pagi sekali sudah berangkat ke pabrik Pangestu, pulang petang pun masih membawa setumpuk pekerjaan.
“Awas saja kalau sampai bulan madu untuk kesekian kalinya tidak membuahkan hasil seorang bayi. Bakalan ku tuntut ganti rugi si bapak Kafka itu,” katanya tak masuk akal.
“Mana mungkin bunda bisa hamil lagi, dia sudah memasuki masa menopause!” Adisty yang jengah membentak adiknya.
“Aku tak mau tahu! Biar ada penerus Pangestu. Aku nggak mau mengelola perusahaan, cuma menginginkan hasilnya saja. Seandainya ada penerus lainnya, kan sangat menguntungkan … hahaha.” Dia tertawa sendiri sambil mematikan layar laptop.
Adisty mencebik. Percuma adu argumen dengan Anggara, yang ada sakit kepala. “Dia kedinginan, menunggu layaknya wanita tolol dibawah atap bangunan kosong. Diintai preman hendak berbuat jahat kepadanya.”
Mimik jenaka langsung berubah amarah. Anggara mengepalkan tangannya, hilang sudah sifat kekanak-kanakannya. “Si tak ada gunanya itu apa tidak menjemput calon istriku tepat waktu?”
.
.
Bersambung.
tetap semangat ya💪🏻💪🏻💪🏻
luv sekebon Juragan MemamahByak❤
Agam Sidiq : sayang Aku punya kebon lebih besar dr Bang By lo
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Intan : Mama Jumiiiiiiiiiiiiiii., hhuuaaaaaaaaaaaaa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣