"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Keana Nulis Surat
...GAMON...
...Bab 13: Keana Nulis Surat...
...POV Keana...
---
Seminggu Sejak Percakapan dengan Maya
Dua Minggu Sejak Terakhir Kali Keana Membuka Instagram Bima
Keana duduk di lantai kostnya. Punggung bersandar ke dinding—tepat di bawah retakan yang masih setia menemani. Di hadapannya, sebuah kotak sepatu tua terbuka. Isinya berserakan: tiket bioskop, karcis angkringan, foto-foto polaroid usang, dan sebuah surat.
Surat dari Bima. Dua tahun lalu.
Dia ambil surat itu. Perlahann Keanan membuka surat 2 tahun usang dari Bima. Kertasnya udah mulai kekuningan di pinggir.
---
"Untuk Keana-ku,
Selamat ulang tahun, Sayang. Maaf aku cuma bisa ngasih surat sederhana. Belum bisa ngasih banyak. Tapi aku janji, suatu hari nanti, aku akan jadi lebih baik. Bukan buat orang lain, tapi buat kamu. Buat kita.
Makasih udah mau sama aku yang biasa ini. Makasih udah liat aku sebagai sesuatu yang berharga.
Aku sayang kamu. Sekarang, besok, dan selama-lamanya.
Bima"
---
Keana baca surat itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Air mata jatuh. Ngebasahi kertas. Dia usap, tapi nggak bisa. Tinta mulai luntur di beberapa tempat.
Seperti hubungan mereka. Luntur. Hilang. Nggak bisa balik.
Dulu, dia baca surat ini dan tersenyum. Merasa dicintai. Merasa berharga.
Sekarang, dia baca dan nangis. Bukan karena Bima udah pergi. Tapi karena dia sadar: Bima udah jadi "lebih baik" yang dia janjikan. Tapi bukan buat dia.
Untuk orang lain.
---
Keana letakkan surat itu. Tarik napas panjang. Dadanya sesak. Tapi bukan sesak yang pengen marah atau ngamuk. Sesak yang pengen... keluar. Semua yang selama ini dia pendam, pengen keluar.
Dia berdiri. Jalan ke meja belajar. Ambil kertas—kertas HVS biasa, bukan kertas surat cantik. Ambil pulpen—pulpen murah dari warung.
Duduk lagi. Di lantai. Punggung ke dinding. Kertas di pangkuan.
Pulpen di tangan. Jari gemetar.
Dari mana mulai?
---
Dia pejam mata. Ingat semuanya. Ingat Bima yang masak sop iga. Ingat Bima yang nungguin dia pulang. Ingat Bima yang selalu nanya "udah makan belum?". Ingat Bima yang nggak pernah marah, nggak pernah ngeluh, nggak pernah minta apa-apa.
Ingat matanya pas di angkringan. Matanya yang hancur, tapi nggak bisa ngomong apa-apa.
Ingat punggungnya yang pergi. Meninggalkan dia dengan kata-katanya sendiri.
"Kamu nggak akan pernah bisa saingin mereka."
Itu dia. Itu dosa terbesarnya.
Dia buka mata. Pulpen mulai bergerak.
---
"Bim,
Aku tahu mungkin surat ini nggak akan pernah sampe ke tangan lo. Mungkin lo baca, mungkin lo bakar, mungkin lo cuekin. Dan itu hak lo.
Tapi aku harus nulis ini. Bukan buat lo. Tapi buat aku.
Maaf.
Maaf udah ninggalin lo di saat lo paling sayang sama aku.
Maaf udah bilang lo 'predictable' padahal yang lo kasih itu 'setia'.
Maaf udah milih 'yang lebih' padahal yang lebih itu cuma ilusi.
Aku inget kata lo dulu: 'Apa itu nggak cukup?'
Jawabannya: cukup. Lebih dari cukup. Tapi aku terlalu bodoh buat lihat.
Lo bilang lo cuma 'biasa'. Tapi sekarang aku tahu: biasa yang lo maksud itu adalah setia. Tulus. Nggak banyak maunya. Nggak neko-neko. Dan itu... itu langka, Bim. Itu yang paling berharga.
Sekarang aku lihat lo sama Rina. Lo bahagia. Dan aku... aku seneng. Beneran. Karena lo pantas dapet yang terbaik.
Cuma, ada satu yang belum aku ucapin: TERIMA KASIH.
Makasih udah jadi Bima yang dulu—yang masakin sop iga, yang nungguin aku pulang, yang nulis surat ini, yang ngajarin aku arti cinta yang tulus.
Maaf aku baru sadar setelah semuanya terlambat.
Aku nggak minta lo balik. Aku nggak minta lo bales surat ini. Aku cuma minta satu: bahagia. Beneran bahagia. Sama dia.
Karena lo pantas itu.
Selamat jalan, Bim. Bukan sebagai mantan yang pahit. Tapi sebagai kenangan yang manis—meskipun aku yang manis-manis.
Maafkan aku.
—Keana yang dulu bodoh."
---
Pulpen berhenti.
Keana baca ulang surat itu. Satu kata per satu. Satu kalimat per satu. Air mata jatuh nggak berhenti. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang lega. Sesuatu yang selama ini mengganjal, akhirnya keluar.
Dia lipat surat itu. Rapih. Taruh di amplop.
Lalu dia diem. Nggak tahu harus ngapain.
Kirim? Nggak kirim?
Dia tahu, kalau surat ini dikirim, mungkin Bima bakal baca. Mungkin Bima bakal diem. Mungkin Bima bakal kasih tahu Rina. Mungkin Rina bakal marah. Mungkin semuanya bakal runyam.
Tapi kalau nggak dikirim? Surat ini cuma akan jadi debu. Kayak kenangan mereka.
Keana ambil ponsel. Cari nomor Bima. Masih ada. Belum dihapus.
Jari di atas tombol. Mau kirim foto surat? Mau kirim lewat WA?
Nggak. Terlalu pengecut.
Dia ambil surat itu. Masukin ke amplop. Tulis di depan:
Bima Pratama
(Tapi nggak tahu alamatnya)
Dia ketawa pahit. Bodoh. Dia bahkan nggak tahu alamat Bima sekarang. Mungkin Bima udah pindah. Mungkin Bima nggak mau ketemu.
Dia taruh amplop itu di atas meja. Di samping surat Bima yang dulu.
Dua surat. Satu dari dia, satu buat dia. Satu dari masa lalu, satu buat masa lalu. Berdampingan. Tapi nggak akan pernah bertemu.
---
Malam Itu – Keana Telepon Maya
"May."
"Hei, lo kenapa? Suara lo aneh."
"Aku... aku nulis surat buat Bima."
Diam di ujung telepon.
"Terus?"
"Nggak tahu mau dikirim apa nggak."
Maya hela napas. "Lo mau denger pendapat gue?"
"Iya."
"Kirim."
Keana kaget. "Lo serius?"
"Iya. Kirim." Maya suaranya mantap. "Bukan karena lo pengen balikan. Tapi karena lo perlu nutup buku. Dan surat itu... itu cara lo."
"Tapi—"
"Kean, lo udah nahan ini berbulan-bulan. Lo udah nangis, lo udah nyiksa diri, lo udah stalk dia. Sekarang lo udah nulis surat. Kirim. Biar selesai."
Keana diem.
"Gue... gue nggak tahu alamatnya."
"Titip Doni. Temen Bima. Gue kenal dia."
Keana mikir. "Ini... ini beneran?"
"Lo mau hidup selamanya kayak gini? Ngeliat bayangan dia di mana-mana?"
Keana tutup mata. Air mata hangat.
"Nggak."
"Kirim, Kean. Tutup buku. Lo berhak move on. Tapi lo nggak akan bisa move on kalau masih ada yang nggak keucap."
---
Seminggu Kemudian – Doni Jadi Kurir
Doni duduk di kafe dekat kantor Bima. Di hadapannya, Keana. Pertemuan ini aneh—mereka nggak pernah deket, cuma kenal lewat cerita.
"Ini." Keana sorong amplop. "Tolong kasih ke Bima."
Doni tatap amplop itu. Lalu tatap Keana.
"Lo yakin?"
"Gue yakin."
Doni ambil amplop. "Gue nggak tahu isinya apa. Tapi kalau ini bikin Bima kenapa-kenapa, gue nggak akan maafin lo."
Keana tatap Doni. Matanya lurus.
"Gue nggak minta dia balik. Gue cuma minta dia tahu—kalau gue nyesel. Beneran nyesel."
Doni diem sebentar. Lalu ngangguk.
"Gue sampaikan."
---
Sore – Bima Dapat Surat
Bima baru pulang kerja. Capek. Mau rebahan.
Doni udah nunggu di depan kost.
"Lo ngapain di sini?"
"Ini." Doni kasih amplop. "Dari Keana."
Bima kaget. Tangannya berhenti di tengah jalan.
"Apa?"
"Surat. Dari Keana. Titip gue."
Bima tatap amplop itu. Namanya di depan. Tulisan tangan Keana.
Dia ingat tulisan itu. Dulu, Keana sering ninggalin catatan kecil buat dia. "Beli susu ya." "Makasih buat sop iganya." "Love you."
Sekarang, tulisan yang sama, di amplop yang sama, tapi rasanya beda.
Dia ambil amplop itu. Masuk kost. Duduk di meja belajar.
Lama dia tatap amplop itu. Nggak berani buka.
---
Malam – Bima Buka Surat
Jam 10 malam. Lampu kost nyala temaram. Bima duduk di kursi. Amplop udah terbuka. Surat di tangan.
Dia baca. Pelan-pelan. Satu kata per satu.
"Bim,
Aku tahu mungkin surat ini nggak akan pernah sampe ke tangan lo..."
Dia lanjut. Setiap kalimat nusuk. Bukan dengan marah, tapi dengan... sesuatu. Sesuatu yang selama ini dia pendam.
Sampai di bagian:
"Lo bilang lo cuma 'biasa'. Tapi sekarang aku tahu: biasa yang lo maksud itu adalah setia. Tulus. Nggak banyak maunya. Nggak neko-neko. Dan itu... itu langka, Bim. Itu yang paling berharga."
Bima berhenti. Napasnya berat.
Dia lanjut.
"Makasih udah jadi Bima yang dulu—yang masakin sop iga, yang nungguin aku pulang, yang nulis surat ini, yang ngajarin aku arti cinta yang tulus."
"Maaf aku baru sadar setelah semuanya terlambat."
"Aku nggak minta lo balik. Aku nggak minta lo bales surat ini. Aku cuma minta satu: bahagia. Beneran bahagia. Sama dia."
"Karena lo pantas itu."
"Selamat jalan, Bim."
Bima letakkan surat itu. Tangannya gemetar.
Di dadanya, ada yang bergolak. Bukan marah. Bukan sakit. Tapi... sesuatu. Sesuatu yang aneh.
Dia ambil ponsel. Ngetik nomor Rina.
"Sayang."
"Bim? Kok jam segini telepon? Lo kenapa?"
"Gue... gue baru dapet surat dari Keana."
Diam.
"Terus?"
"Gue... gue nggak tahu harus ngerasa apa."
Rina diem sebentar. Lalu dia ngomong—dengan suara yang tenang, lembut, tapi tegas.
"Bim, lo nggak usah ngerasa apa-apa. Baca. Resepin. Terserah. Tapi inget satu hal."
"Apa?"
"Lo sekarang punya gue. Bukan buat lo tergantung sama gue. Tapi buat lo tahu, lo nggak sendirian. Apa pun keputusan lo, gue di sini."
Bima tutup mata. Air mata hangat.
"Makasih, Rin."
"I love you, Bim."
"Gue juga."
---
Bersambung ke Bab 14: Bima Luka Lama
---
...📝 Preview Bab 14:...
Surat itu membuka luka lama Bima. Bukan luka yang bikin dia sakit, tapi luka yang bikin dia bertanya: apa dia benar-benar udah move on?
Malam itu, Rina datang. Bukan buat marah, tapi buat ngingetin: kalau dia di sini, sekarang, dan nggak akan pergi.
Tapi sebelum tenang, badai dulu harus lewat.
Bab 14: Bima Luka Lama—segera!
---