Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Kembali Ke Tiga Tahun Lalu
Kembali ke Tiga Tahun Lalu
Gelap.
Itu adalah hal terakhir yang Lisa ingat.
Tubuhnya terasa berat, seolah-olah ia tenggelam dalam lautan yang sangat dalam. Tidak ada suara, tidak ada cahaya, hanya kesunyian yang menelan semuanya.
Namun perlahan… sesuatu berubah.
Ada suara.
Samar, jauh, tetapi perlahan semakin jelas.
Suara detakan jam.
Tik… tok… tik… tok…
Lisa mengernyit sedikit. Kesadarannya mulai kembali, walaupun kepalanya masih terasa sangat berat seperti dipenuhi kabut tebal.
Lalu cahaya menyelinap melalui kelopak matanya.
Matanya perlahan terbuka.
Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar yang sangat familiar.
Putih bersih.
Lampu kristal yang menggantung di tengah ruangan.
Lisa menatapnya lama, napasnya sedikit terengah-engah.
Beberapa detik berlalu sebelum otaknya mulai bekerja.
Perlahan ia mengangkat tubuhnya dari tempat tidur.
Selimut sutra yang lembut jatuh ke pangkuannya, dan saat itulah Lisa menyadari sesuatu yang aneh.
Ini bukan kamar di rumah Arvin.
Ini bukan kamar yang selama tiga tahun menjadi tempat ia menangis setiap malam.
Ini… kamar lamanya.
Kamar yang ada di rumah keluarganya.
Lisa membeku di tempat.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Dengan gerakan pelan, ia menoleh ke sekeliling ruangan.
Meja rias putih di dekat jendela.
Lemari besar dengan pintu kaca.
Foto keluarga yang diletakkan di meja samping tempat tidur.
Semua benda itu begitu familiar sampai membuat napasnya terasa sesak.
Ini benar-benar kamar yang ia tinggalkan tiga tahun lalu ketika ia memutuskan untuk menikah dengan Arvin.
“T-tidak mungkin…”
Suara Lisa terdengar serak.
Tangannya gemetar ketika ia menyentuh wajahnya sendiri.
Kulitnya terasa hangat.
Ia bisa merasakan detak jantungnya.
Ini bukan mimpi.
Lisa segera turun dari tempat tidur dengan langkah yang masih goyah. Kakinya terasa lemah, tetapi ia tetap memaksakan diri berjalan menuju meja rias.
Di depan cermin besar itu, ia berhenti.
Dan saat melihat pantulan dirinya sendiri…
Lisa terdiam.
Wanita di cermin itu adalah dirinya.
Namun bukan dirinya yang terakhir kali ia lihat sebelum mati.
Wajah itu terlihat lebih muda.
Kulitnya masih segar.
Matanya tidak dipenuhi kesedihan seperti selama tiga tahun pernikahannya.
Lisa mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipinya sendiri.
“Ini… aku…”
Air mata tiba-tiba menggenang di matanya.
Ia terlihat seperti dirinya tiga tahun lalu.
Sebelum semuanya hancur.
Sebelum ia menikah dengan Arvin.
Lisa tiba-tiba berbalik dan berlari menuju meja samping tempat tidur. Tangannya dengan cepat mengambil ponsel yang tergeletak di sana.
Tangannya gemetar saat membuka layar.
Matanya langsung tertuju pada tanggal yang terpampang jelas.
12 Mei.
Lisa terdiam beberapa detik.
Dadanya mulai terasa sesak.
Ia tahu tanggal ini.
Ia sangat tahu.
Ini adalah tanggal yang tidak akan pernah ia lupakan.
Karena tepat satu bulan setelah hari ini…
Arvin melamarnya.
Ponsel itu hampir terjatuh dari tangannya.
Lisa mundur perlahan sampai tubuhnya menyentuh tempat tidur.
Ia duduk perlahan, masih menatap layar ponselnya dengan mata yang semakin lebar.
“Tidak mungkin…”
Napasnya menjadi tidak teratur.
“K-kenapa…?”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Semua terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Rasa dingin di lantai.
Aroma parfum di kamar.
Detakan jam di dinding.
Semuanya begitu jelas.
Dan tiba-tiba…
Kenangan tentang malam itu kembali seperti badai.
Wajah Arvin yang dingin.
Senyuman Clara yang penuh penghinaan.
Rasa pahit racun yang dipaksakan masuk ke tenggorokannya.
Lisa langsung membuka matanya lebar.
Dadanya naik turun dengan cepat.
Mereka membunuhku.
Kalimat itu bergema di kepalanya.
Suaminya sendiri.
Dan sahabat yang ia percaya selama bertahun-tahun.
Lisa menggenggam seprai dengan kuat sampai jarinya memutih.
Air mata kembali jatuh tanpa ia sadari.
Namun kali ini bukan hanya kesedihan yang ia rasakan.
Ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang perlahan muncul dari dalam hatinya.
Kemarahaan.
Kemarahaan yang begitu besar sampai membuat tubuhnya bergetar.
Lisa perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya yang tadi dipenuhi air mata kini berubah menjadi tajam.
Jika semua ini benar…
Jika ia benar-benar kembali ke masa lalu…
Berarti semuanya belum terjadi.
Pernikahan itu belum terjadi.
Pengkhianatan itu belum terjadi.
Kematian itu juga belum terjadi.
Dan yang paling penting…
Ia masih memiliki waktu.
Waktu untuk mengubah semuanya.
Lisa berdiri perlahan dari tempat tidur. Kali ini langkahnya jauh lebih stabil.
Ia berjalan menuju jendela besar di kamarnya lalu membuka tirainya.
Cahaya matahari pagi langsung masuk memenuhi ruangan.
Di luar sana, taman rumah keluarganya terlihat tenang dan indah seperti dulu.
Burung-burung terbang di langit yang cerah.
Dunia tampak begitu damai.
Sangat berbeda dengan kehidupan yang ia jalani selama tiga tahun terakhir.
Lisa menatap pemandangan itu lama.
Lalu perlahan bibirnya membentuk senyuman kecil.
Namun senyuman itu tidak hangat.
Senyuman itu dingin.
Senyuman seseorang yang baru saja dilahirkan kembali dari neraka.
“Arvin…”
Lisa menyebut nama itu pelan.
Tangannya perlahan mengepal.
“Kali ini… aku tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.”
Ia menutup matanya sebentar, mengingat semua yang terjadi di kehidupan sebelumnya.
Setiap penghinaan.
Setiap air mata.
Setiap luka yang ia rasakan.
Dan yang paling jelas…
Momen ketika mereka membunuhnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Lisa membuka matanya lagi.
Tatapannya sekarang penuh dengan tekad.
“Kalian mengambil segalanya dariku.”
Suara Lisa terdengar sangat tenang.
Namun ketenangan itu justru terasa menakutkan.
“Tapi kali ini…”
Ia menatap pantulan dirinya di jendela.
Wanita di sana bukan lagi Lisa yang lemah.
Wanita itu adalah seseorang yang telah mati sekali.
Dan orang yang pernah mati tidak akan takut lagi.
“Kali ini… aku yang akan menghancurkan kalian.”
Pada saat yang sama…
Ponselnya tiba-tiba bergetar di atas tempat tidur.
Lisa menoleh.
Layarnya menyala.
Sebuah nama muncul di sana.
Nama yang sangat ia kenal.
Nama yang dulu membuat jantungnya berdebar penuh cinta.
Namun sekarang hanya membuat hatinya dipenuhi kebencian.
Arvin Pratama
Lisa berjalan perlahan menuju tempat tidur.
Ia menatap layar ponsel itu beberapa detik tanpa menyentuhnya.
Di kehidupan sebelumnya…
Panggilan ini adalah awal dari semuanya.
Awal dari hubungan mereka.
Awal dari kehancuran hidupnya.
Namun sekarang…
Lisa mengangkat ponsel itu dengan perlahan.
Tatapannya berubah dingin.
Bibirnya tersenyum tipis.
Jika dulu ia adalah mangsa…
Kali ini…
Ia akan menjadi pemburu.
Lisa akhirnya menekan tombol jawab.
“Lisa?”
Suara Arvin terdengar hangat dari seberang telepon.
Suara yang dulu membuatnya jatuh cinta.
Lisa menutup matanya sebentar.
Lalu ketika ia membukanya lagi…
Tidak ada lagi keraguan.
“Halo, Arvin.”
Suara Lisa terdengar lembut seperti dulu.
Namun jauh di dalam hatinya…
Permainan balas dendam baru saja dimulai.
---