Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Umpan yang Dilempar dan Racun yang Dikembalikan
Di bawah selubung kegelapan, sesosok bayangan bergerak lincah di antara atap-atap distrik timur. Itu adalah Tetua Ketiga keluarga Zhang, seorang ahli tingkat delapan Alam Pengumpul Qi. Ia bergerak tanpa suara, keahliannya dalam penyelinapan terasah selama bertahun-tahun.
Ia segera tiba di dekat kediaman sederhana Jiang Chen. Seperti yang dikatakan Patriark, tempat itu kecil dan penjagaannya praktis tidak ada. Hanya ada beberapa pelayan biasa yang sudah terlelap.
"Hmph, bahkan setelah semua kejutan itu, dia masih tinggal di kandang ayam ini," dengus Tetua Ketiga dalam hati.
Ia tidak langsung masuk. Ia bersembunyi di pohon terdekat, mengamati dengan sabar. Setelah hampir satu jam, ia melihat seorang pelayan wanita menguap sambil membawa sebuah nampan berisi teko teh dan cangkir, berjalan menuju kamar Jiang Chen.
"Kesempatan!"
Dengan gerakan secepat kilat, Tetua Ketiga melesat turun. Sebelum pelayan itu bisa bereaksi, sebuah pukulan ringan di tengkuknya membuatnya pingsan tanpa suara. Tetua itu menangkapnya sebelum ia jatuh.
Dengan cepat, ia mengeluarkan botol porselen hitam, menuangkan bubuk tak terlihat ke dalam teko, dan mengocoknya dengan lembut. Bubuk itu larut seketika, tidak meninggalkan jejak, bau, atau warna.
"Nikmati minuman terakhirmu sebagai seorang jenius, Nak," bisiknya dengan senyum jahat.
Ia kemudian menyandarkan pelayan yang pingsan itu di dinding, membuatnya tampak seperti tertidur karena kelelahan, lalu menghilang kembali ke dalam kegelapan malam, yakin bahwa misinya telah berhasil.
Seluruh proses itu berlangsung kurang dari sepuluh detik. Cepat, bersih, dan efisien.
Namun, ia tidak tahu bahwa dari bayang-bayang di sudut halaman, sepasang mata yang dalam dan geli telah menyaksikan setiap gerakannya.
Setelah tetua itu pergi, Jiang Chen keluar dari persembunyiannya. Ia berjalan ke arah pelayan yang pingsan itu, memeriksa denyut nadinya untuk memastikan ia baik-baik saja, lalu melirik teko teh di nampan.
Ia mendekatkan hidungnya dan mengendus sedikit.
"Bubuk Pencerai Jiwa," gumamnya dengan senyum mengejek. "Racun tingkat rendah yang bekerja dengan mengganggu aliran Qi di meridian sekunder. Benar-benar metode yang kasar dan tidak elegan. Keluarga Zhang benar-benar tidak punya imajinasi."
Bagi Kaisar Alkimia, racun seperti ini sama saja dengan mainan anak-anak. Ia bisa membuat seratus jenis penawar yang berbeda dengan mata tertutup.
Tapi menawarkannya begitu saja? Itu terlalu membosankan.
"Kalian memberiku hadiah sebesar ini, tidak sopan jika aku tidak membalasnya," pikir Jiang Chen, matanya berkilat licik.
Ia mengambil teko teh itu dan membawanya ke dalam kamarnya. Ia tidak menetralkan racunnya. Sebaliknya, ia mengeluarkan beberapa ramuan dari kantong penyimpanannya—ramuan yang ia kumpulkan di Hutan Binatang Kabut dan beberapa yang ia ambil dari kediaman Tetua Feng.
Dengan gerakan cepat dan terampil, ia menghancurkan ramuan-ramuan itu menjadi bubuk dan mencampurkannya ke dalam teh yang sudah beracun. Campuran baru itu masih tidak berwarna dan tidak berbau, tetapi sifatnya telah berubah total.
Bubuk Pencerai Jiwa yang asli hanya menyebabkan kelumpuhan sementara. Tetapi dengan tambahan beberapa ramuan "bumbu" dari Jiang Chen, racun itu telah diubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik. Sesuatu yang tidak akan langsung aktif, tetapi akan tertidur di dalam tubuh korban, menunggu pemicu yang tepat untuk meledak.
"Namai saja ini 'Pil Balasan Seribu Patah Hati'," gumam Jiang Chen dengan tawa kecil.
Setelah selesai, ia membangunkan pelayan itu, yang terbangun dengan bingung, tidak ingat apa yang terjadi. Jiang Chen hanya menyuruhnya kembali beristirahat. Ia kemudian duduk bersila, melanjutkan kultivasinya seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Fajar menyingsing. Matahari pagi menyinari Kota Awan Bambu, membawa serta antisipasi yang luar biasa untuk tahap kedua turnamen.
Di kediaman keluarga Zhang, Patriark Zhang Long menerima laporan dari Tetua Ketiga.
"Sudah selesai, Patriark," lapor tetua itu dengan bangga. "Aku melihat sendiri pelayan itu membawa teh beracun ke kamarnya. Tidak mungkin dia bisa menghindarinya."
Senyum kejam akhirnya muncul di wajah Zhang Long. "Bagus! Sangat bagus! Aku ingin melihat bagaimana naga kecil itu bertarung saat cakarnya telah dicabut dan giginya telah dirontokkan!"
Ia menoleh ke arah seorang pemuda yang berdiri di sampingnya. Itu adalah Zhang Hao, sepupu Zhang Wei, seorang jenius lain dari keluarga Zhang yang berada di peringkat ketujuh.
"Hao'er," kata Zhang Long. "Kau adalah harapan kita sekarang. Jika Jiang Chen cukup bodoh untuk memilihmu, jangan ragu. Permalukan dia. Hancurkan dia. Buat dia berharap dia tidak pernah dilahirkan!"
"Aku mengerti, Patriark!" jawab Zhang Hao dengan tatapan ganas.
Keluarga Zhang berjalan menuju alun-alun dengan langkah yang jauh lebih percaya diri, yakin bahwa kemenangan sudah ada di tangan mereka.
Di alun-alun utama, panggung duel raksasa telah didirikan. Seratus peserta yang lolos berdiri di bawah panggung, sementara puluhan ribu penonton telah berkumpul, menciptakan suasana yang hingar bingar.
Jiang Chen dan ayahnya tiba tak lama kemudian. Jiang Chen tampak sedikit pucat, dan langkahnya tidak sestabil biasanya. Ia bahkan sesekali terbatuk pelan.
Penampilannya yang 'lemah' ini langsung diperhatikan oleh mata-mata keluarga Zhang di kerumunan. Berita itu dengan cepat sampai ke telinga Patriark Zhang.
"Hahaha! Racunnya sudah bekerja!" tawa Zhang Long pelan. "Lihat dia! Dia terlihat seperti baru saja merangkak keluar dari ranjang kematiannya! Langit benar-benar memihak keluarga Zhang!"
Di atas panggung, Penguasa Kota Feng Wuying bangkit. "Selamat datang di tahap kedua Turnamen Akbar! Hari ini, kita akan menyaksikan pertarungan para jenius!"
Setelah beberapa formalitas, ia menatap Jiang Chen. "Jiang Chen, sebagai juara tahap pertama, kau memiliki hak untuk memilih lawan pertamamu dari antara para peserta yang lolos. Silakan buat pilihanmu."
Semua kebisingan mereda. Puluhan ribu pasang mata tertuju pada Jiang Chen yang tampak 'lemah'.
Jiang Chen terbatuk lagi, lalu mengangkat kepalanya. Matanya yang tampak kusam menyapu kerumunan peserta, melewati Hong Mengyao, melewati Li Yuan, dan akhirnya berhenti pada kelompok keluarga Zhang.
Ia menunjuk jarinya ke arah Zhang Hao yang tampak sombong.
"Aku," katanya dengan suara yang terdengar sedikit serak, "memilih dia."