Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Menguap di Kamar VIP
Malam di Surabaya mulai mendingin. Namun aspal jalanan masih menyimpan sisa panas matahari siang tadi. Adnan memacu mobilnya membelah kemacetan kota dengan pikiran yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Di saku jasnya, sebuah unit penyimpanan USB kecil berisi salinan data Aethelgard yang dipulihkan Clarissa terasa seperti bongkahan es yang membeku. Ia sudah tahu segalanya sekarang. Ia memegang bukti kematian Jo dan Bima, dan ia memegang rekaman dosa istrinya.
Namun, di kursi kemudi, Adnan tidak menyadari bahwa pengkhianatan memiliki lapisan yang lebih licik daripada yang bisa diprediksi oleh logika seorang arsitek sekalipun. Bahwa konteks perselingkuhan tidak sesederhana tema mafia. Dimanah yang kuat yang menang dan hanya dengan sekali sabetan pedang habis perkara. Bahkan hal ini lebih rumit daripada itu.

Satu jam sebelumnya, di Rumah Sakit Internasional Surabaya. Lampu selasar lantai eksekutif sedikit diredupkan untuk memberikan kenyamanan bagi para pasien VIP. Penjagaan di depan lift memang ada.
Namun bagi seseorang yang memiliki nyali sebesar Bagaskara. Seragam putih perawat atau masker bedah adalah penyamaran yang paling mudah untuk disusupi. Otaknya bukan sebesar anak kemarin sore yang bingung akan soal ujian akhir sekolah. Pikirannya lebih licik dan lebih rumit dari itu.
Bagas melangkah dengan tenang. Mengenakan jaket hoodie gelap dan masker yang menutupi separuh wajahnya. Ia masuk ke kamar 701 tanpa mengetuk.
Arini, yang tadinya sedang melamun menatap langit-langit, tersentak hebat. Matanya melebar saat melihat sosok jangkung itu mengunci pintu dari dalam. Dalam batinnya kok bisa pria ini masuk dengan penjagaan yang begitu ketat.
Ada detak jantung yang perih takut Adnan mengetahui kenekatan Bagas. Tapi di sisi lain ada perasaan gembira dan kelegaan bisa bertemu lagi dengan Bagas.
"Bagas? Kamu gila! Adnan bisa datang kapan saja!" bisik Arini dengan suara gemetar, antara takut dan gairah yang mendadak bangkit.
Bagas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendekat, melempar jaketnya ke kursi, dan langsung meraup bibir Arini. "Adnan sedang sibuk dengan polisi di Margomulyo. Aku punya orang yang memantaunya. Kita punya waktu, Rin."
Ketakutan Arini luruh seketika mendengar nama suaminya disebut dengan nada meremehkan. Di bawah temaram lampu tidur rumah sakit, di atas ranjang yang seharusnya menjadi tempat pemulihan. Pengkhianatan itu kembali terjadi. Kali ini bukan di studio foto yang estetik, melainkan di sebuah institusi medis yang suci.
Hanya tiga kali, Bagas tahu batasannya. Ia tidak ingin Arini terlalu kelelahan hingga tidak bisa bersandiwara saat suaminya kembali. Setelah badai nafsu itu mereda, mereka berdua terbaring di bawah selimut putih rumah sakit yang tebal, kulit mereka masih bersentuhan di balik kain.
"Aku akan membereskan Adnan, Rin," bisik Bagas sambil mengusap rambut Arini yang lepek karena peluh keringat dan kerja keras dalam hitungan tiga kali.
"Jo dan Bima sudah selesai. Adnan adalah langkah terakhir. Setelah itu, kamu akan bebas. Kamu akan menjadi milikku selamanya tanpa harus bersembunyi di balik nama besar pria kaku itu."
Arini hanya mengangguk, menyembunyikan wajahnya di dada Bagas. Ia merasa aman, tanpa menyadari bahwa ia sedang bersandar pada seorang pria yang baru saja menumpahkan darah orang-orang terdekat suaminya.
Pukul delapan malam, Bagas mengenakan kembali pakaiannya, merapikan rambut, dan keluar melalui pintu darurat. Ia menghilang ke dalam kegelapan parkiran. Tepat sepuluh menit sebelum mobil Adnan memasuki area rumah sakit.

Adnan melangkah keluar dari lift dengan terburu-buru. Wajahnya menunjukkan kecemasan seorang suami, namun matanya terus bergerak memindai setiap sudut. Di depan meja perawat, ia dihentikan oleh seorang suster senior.
"Selamat malam, Pak Adnan," sapa suster itu sopan.
"Malam, Suster. Bagaimana keadaan istri saya?"
"Ibu Arini sepertinya sedang tidur lelap. Pak. Tadi sekitar empat puluh menit yang lalu, ada seorang pria yang menjenguk beliau. Katanya kerabat jauh dari luar kota. Beliau masuk cukup lama, jadi saya pikir Bapak sudah tahu," ujar suster itu tanpa curiga.
Langkah Adnan terhenti. Jantungnya berdegup kencang, namun bukan karena cemas, melainkan karena amarah yang mulai mendidih, "Pria? Seperti apa cirinya?"
"Tinggi, mengenakan jaket gelap dan masker. Saya tidak sempat melihat wajahnya dengan jelas, karena beliau langsung masuk," jawab suster itu.
Adnan mengangguk singkat, "Terima kasih, Suster."
Ia berjalan menuju kamar 701 dengan langkah yang berat. Tangannya mengepal di dalam saku. Begitu ia membuka pintu, ia mendapati ruangan itu sunyi. Lampu utama padam, hanya menyisakan lampu tidur yang redup.
Arini terbaring miring, membelakangi pintu. Napasnya teratur, seolah ia benar-benar sedang berada dalam mimpi yang indah. Pakaian rumah sakitnya rapi, selimutnya menutupi hingga bahu. Tidak ada tanda-tanda kekacauan.
Adnan mendekat ke sisi ranjang. Ia berdiri di sana, menatap istrinya dalam kegelapan. Ia menghirup udara di sekitar ranjang itu.
Penciumannya yang tajam menangkap sesuatu yang asing di antara bau antiseptik yang kuat. Ada aroma parfum pria yang sangat samar. Parfum yang sama dengan yang ia cium di studio Bagaskara tempo hari dan ada aroma lain. Aroma khas tubuh manusia yang baru saja melakukan aktivitas fisik hebat.
Adnan menatap wajah Arini. Wanita ini adalah aktris yang luar biasa. Ia sanggup melakukan hal serendah itu di tempat seperti ini. Lalu kembali tidur seolah-olah dia adalah malaikat yang suci.
Rupanya aku terlalu menganggap remeh musuhku kali ini, batin Adnan. Ia menyadari bahwa Bagaskara bukan sekadar orang ketiga yang emosional. Bagaskara adalah predator yang berani masuk ke wilayah kekuasaannya.
Kematian Jo dan Bima, serta keberanian Bagas menjenguk Arini di rumah sakit. Membuktikan bahwa lawannya sedang menantangnya secara terbuka. Adnan duduk di kursi di samping ranjang. Ia tidak membangunkan Arini.
Ia justru mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Reza, “Rez, periksa CCTV koridor lantai 7 antara pukul 19.00 hingga 20.00 malam ini. Ada tamu tak diundang yang masuk ke kamar Arini. Pastikan timmu melacak ke mana dia pergi.
Adnan kemudian menyandarkan kepalanya. Menatap Arini yang masih berpura-pura tidur. Ia merasa muak, namun ia juga merasa tertantang. Peperangan ini telah naik ke level yang lebih personal dan berbahaya.
"Tidurlah yang nyenyak, Arini," bisik Adnan, suaranya sedingin es di kutub utara.
"Setiap napas yang kamu ambil di ruangan ini sekarang adalah pinjaman dariku dan aku akan menagih bunganya dengan cara yang tidak akan pernah kamu bayangkan."
Malam itu, Adnan tetap terjaga, menjadi penjaga bagi wanita yang paling ia benci. Padahal dulu wanita itu yang paling ia cintai dan yang paling ia puja-puja, paling ia jaga kesucian dan kehormatannya. Adnan tetap terjaga sambil merancang langkah berikutnya dalam catur maut yang sedang ia mainkan.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...