Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lana Beradaptasi dengan Sedikit Kecanggungan
Dua minggu telah berlalu sejak Lana pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer penthouse milik Arka. Suasana rumah yang awalnya terasa seperti museum teknologi yang dingin dan angker, perlahan-lahan mulai berubah menjadi tempat yang lebih "hidup". Lana bukan lagi gadis yang akan menangis histeris hanya karena melihat pintu terbuka sendiri atau berteriak ketakutan saat mendengar suara robot dari plafon.
Pagi itu, Lana bangun tanpa perlu alarm digital yang bising. Ia sudah mulai hafal bahwa sinar matahari akan masuk tepat pukul enam pagi lewat gorden otomatis yang digeser oleh sistem Ezra. Lana melangkah menuju dapur dengan lebih percaya diri. Ia tidak lagi mencari bakul nasi di laci mewah, melainkan langsung menuju dispenser air pintar.
Pip!
Lana menyentuh layar digital pada dispenser tersebut dengan ujung jarinya yang mungil. Ia memilih suhu "Normal" dan menunggu gelas kristalnya terisi penuh. Tidak ada lagi tangan yang gemetar, tidak ada lagi panci yang dibawa-bawa dari kamar mandi.
"Pagi, Lan. Tumben nggak ada suara gelas pecah jam segini," celetuk Jeno yang muncul dengan kaos oversized dan rambut berantakan, masih membawa aroma kantuk yang kental.
Lana menoleh dan tersenyum lebar. "Pagi, Kak Jeno! Gelasnya aman kok. Lana udah tahu caranya biar airnya nggak muncrat-muncrat lagi."
Jeno mendekat, mengambil sekaleng kopi dingin dari kulkas. Ia memperhatikan Lana yang sekarang sudah mahir menggunakan pemanggang roti otomatis (toaster) yang harganya setara dengan biaya hidup Lana setahun di desa. "Gila, lo udah jago ya. Kemarin aja lo hampir mau manggang roti pakai setrikaan gara-gara bingung nyari colokannya."
"Ih, Kak Jeno! Jangan diingetin terus dong, Lana kan malu," sahut Lana sambil memanyunkan bibirnya. "Lana belajar kok. Kemarin Kak Rian udah kasih tau kalau barang-barang di sini tuh pinter, asal kita nggak galak-galak sama mereka."
"Barang pinter? Emang mereka punya otak?" ledek Jeno sambil mengacak rambut Lana yang sudah rapi disisir.
"Punya dong! Kata Kak Ezra, mereka punya 'otak buatan'. Jadi Lana harus sopan," jawab Lana polos, membuat Jeno tertawa terbahak-bahak hingga hampir tersedak kopinya.
Adaptasi Lana memang berjalan unik. Ia mulai terbiasa dengan kemewahan, namun cara pakainya tetap memiliki sentuhan "ndeso". Misalnya, meski ia sudah tahu cara menggunakan mesin cuci otomatis yang diajarkan Gaza, Lana tetap bersikeras menjemur beberapa pakaian dalamnya di balik jendela balkon yang tersembunyi, bukan menggunakan mesin pengering (dryer). Katanya, bau matahari itu lebih enak daripada bau mesin.
Atau saat ia menggunakan penyedot debu robotik (robot vacuum) yang sering berkeliaran di lantai. Lana tidak lagi menganggapnya sebagai kura-kura besi yang menakutkan, melainkan sebagai "teman". Ia bahkan memberi nama robot itu 'Si Bundar'. Setiap pagi, Lana akan menyapa si robot sambil sesekali menyingkirkan kakinya agar si bundar tidak menabrak jempol kakinya.
Siang harinya, Rian pulang lebih awal dari kampus. Ia menemukan Lana sedang duduk di ruang tengah dengan laptop MacBook pemberian Arka di pangkuannya. Lana tampak sangat serius, keningnya berkerut hingga alisnya hampir menyatu.
"Lagi ngapain lo, Lan? Serius amat kayak lagi ngerjain skripsi," tanya Rian sambil meletakkan tas laptopnya di meja kerja.
"Eh, Kak Rian. Ini... Lana lagi coba buka Instagram yang Kakak buatin kemarin," jawab Lana tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Tapi kok isinya orang jualan semua ya? Terus ada video orang joget-joget nggak jelas. Lana bingung mau liat apa."
Rian duduk di samping Lana, melirik layar laptop. "Itu namanya algoritma, Lan. Karena lo belum follow siapa-siapa, isinya ya acak gitu. Sini, gue ajarin cara nyari yang berguna."
Rian membimbing tangan Lana di atas trackpad. "Cari akun-akun masak atau akun tentang kuliah lo nanti. Jangan liatin orang joget mulu, ntar lo ketularan alay."
Lana mengangguk-angguk, jarinya mulai bergerak lebih luwes. "Kak Rian, kalau Lana kirim pesan ke Ibu di desa pakai ini, Ibu bisa liat muka Lana nggak?"
"Bisa, Lan. Pakai video call. Tapi emang Ibu lo punya HP yang ada kameranya?" tanya Rian.
Lana terdiam sejenak, wajahnya sedikit meredup. "HP Ibu cuma bisa buat telepon sama SMS aja, Kak. Yang bunyinya tit-tit itu. Nggak ada gambarnya."
Rian tertegun. Ia menyadari bahwa meski Lana sudah beradaptasi dengan kemewahan ini, ada satu bagian dari dirinya yang masih tertinggal di sebuah rumah kecil yang bersahaja di desa. Rian berdeham, mencoba mencairkan suasana. "Yaudah, ntar gue bilang sama Arka. Kita kirimin HP baru buat Ibu lo, biar lo bisa pamer muka lo yang makin putih gara-gara kena AC mulu."
"Beneran, Kak? Makasih banyak ya Kak Rian!" Lana spontan memeluk lengan Rian, membuat pria itu membeku sesaat. Rian merasa ada desiran aneh di dadanya. Pelukan Lana sangat tulus, tanpa ada maksud menggoda, namun justru itu yang membuatnya terasa sangat berbahaya bagi jantung Rian.
Sore harinya, Arka pulang dan mendapati rumahnya tidak lagi sepi seperti biasanya. Ada suara musik gamelan pelan yang diputar dari speaker surround di ruang tengah—pasti kerjaan Lana yang rindu kampung halaman. Arka melonggarkan dasinya dan melihat Lana sedang mencoba menyiram tanaman hias di pojok ruangan dengan botol semprotan otomatis yang ia ajarkan tempo hari.
"Lana," panggil Arka.
Lana menoleh dan langsung berdiri tegak. "Selamat sore, Kak Arka! Kakak sudah pulang? Mau Lana buatkan teh atau kopi?"
Arka menatap Lana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lana mengenakan kaos katun putih polos dan celana kulot yang tampak sangat sederhana, sangat kontras dengan desain interior rumahnya yang bernilai miliaran rupiah. Namun, entah kenapa, kesederhanaan Lana justru membuat rumah itu terasa lebih hangat.
"Teh aja. Jangan terlalu manis," jawab Arka singkat. Ia berjalan menuju sofa dan duduk dengan menyilangkan kaki.
Lana segera menuju dapur. Tak lama kemudian, ia kembali membawa nampan berisi teh hangat. Ia meletakkannya dengan sangat hati-hati di meja marmer depan Arka. "Ini, Kak. Lana pakai madu dikit, biar badannya enak."
Arka menyesap tehnya. "Gimana adaptasi lo? Masih ada yang bikin lo kaget?"
"Sudah nggak terlalu, Kak Arka. Lana udah tahu kalau kulkasnya bisa ngomong kalau pintunya lupa ditutup. Lana juga udah temenan sama Si Bundar," lapor Lana dengan bangga.
Arka menyeringai tipis. "Si Bundar? Lo namain vakum robot gue?"
"Iya, Kak. Habisnya dia rajin banget keliling-keliling, kasian kalau nggak punya nama," jawab Lana polos.
Arka hanya menggelengkan kepala. "Gak asik banget lo. Barang mahal dikasih nama kampungan gitu." Namun, meski bicaranya ketus, mata Arka tidak lepas dari cara Lana duduk yang masih tampak canggung di sofa mahalnya. Lana selalu duduk di pinggiran sofa, seolah-olah takut akan merusak kain beludru itu jika duduk terlalu dalam.
"Lan," panggil Arka lagi.
"Iya, Kak?"
"Besok-besok, lo nggak usah duduk di ujung gitu. Sofa ini nggak bakal meledak kalau lo dudukin bener-bener," ucap Arka. "Anggap aja ini rumah lo sendiri. Gue nggak suka liat orang di rumah gue ngerasa nggak nyaman."
Lana tersenyum tipis, merasa terharu dengan perhatian tersembunyi Arka. "Terima kasih, Kak Arka. Lana cuma... masih ngerasa mimpi aja bisa tinggal di sini."
Malam itu, saat makan malam bersama, ketujuh pria itu memperhatikan Lana secara diam-diam. Mereka melihat bagaimana Lana sekarang sudah bisa menggunakan garpu dan pisau dengan benar, meski sesekali masih ada bunyi clank yang keras saat pisau menyentuh piring keramik. Mereka melihat bagaimana Lana mulai berani ikut tertawa saat Kenzo menceritakan kejadian konyol di lokasi syuting.
Ada sebuah kesepakatan tak tertulis di antara para pria elit tersebut. Kehadiran Lana yang awalnya dianggap sebagai "tamu yang harus diurus" kini telah bergeser menjadi "anggota keluarga yang paling berharga". Mereka mulai terbiasa dengan aroma masakan desa yang sesekali tercium di dapur, atau suara tawa jernih Lana yang memecah keheningan koridor.
"Eh, gue denger lusa Lana mulai masuk kampus ya?" tanya Bumi sambil mengaduk supnya.
"Iya, Rian yang urus pendaftarannya," jawab Arka tanpa menoleh.
Pandangan semua pria itu beralih ke Lana. Mereka melihat Lana yang mendadak menunduk, memainkan nasinya dengan sendok. Ada rona kecemasan di wajahnya.
"Kenapa, Lan? Takut lo nggak punya temen?" tanya Gaza dengan nada tegas namun lembut.
"Lana... Lana cuma takut nanti di kampus orang-orang nggak suka sama Lana," bisik Lana pelan. "Lana kan anak desa, nggak punya baju bagus kayak orang-orang kota yang Lana liat di TV."
Keheningan sesaat menyelimuti meja makan. Ezra melirik pakaian Lana, lalu melirik ke arah Arka. Jeno menghentikan kunyahannya, sementara Kenzo menatap Lana dengan tatapan yang sangat dalam.
"Gak asik banget kalau lo mikir gitu, Lan," celetuk Kenzo akhirnya. "Tenang aja. Lo punya kita. Siapa pun yang berani ngeremehin lo di kampus, bakal berurusan sama tujuh orang paling berkuasa di gedung ini."
Lana tersenyum mendengar pembelaan itu, meski rasa minder di hatinya belum sepenuhnya hilang. Ia tidak tahu bahwa di kepala para pria itu, sebuah rencana besar sedang disusun. Mereka diam-diam mengamati penampilan sederhana Lana dan mulai berpikir: mungkin sudah saatnya Lana mendapatkan "peralatan tempur" yang sepadan dengan statusnya sebagai bagian dari keluarga mereka.
Bagi Lana, adaptasi dengan teknologi mungkin sudah hampir selesai. Namun, adaptasi dengan dunia luar yang lebih kejam daripada sistem keamanan Arka, baru saja akan dimulai. Dan para pria itu bersumpah, mereka tidak akan membiarkan Lana menghadapinya sendirian.