Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan di Balik Reruntuhan
Guncangan hebat melanda seluruh pondasi Mansion Dirgantara saat protokol penghancuran diri diaktifkan. Arkan mencengkeram lengan Liana, menariknya menembus lorong yang mulai dipenuhi asap tebal hasil pembakaran kabel sirkuit server. Di belakang mereka, suara Elena Dirgantara masih menggema melalui pengeras suara darurat, tertawa dingin di tengah kekacauan.
"Kau pikir menghancurkan server fisik akan menghentikan The Scorpion, Arkan? Kalian hanyalah anak kecil yang bermain dengan korek api di gudang mesiu!"
"Jangan dengarkan dia, Liana! Terus berlari!" teriak Arkan.
Mereka mencapai lubang pembuangan limbah tepat saat ledakan pertama menghantam lantai di atas mereka. Arkan mendorong Liana masuk ke dalam pipa besi yang licin, lalu menyusul tepat sebelum bola api menelan koridor tersebut. Mereka meluncur deras di tengah kegelapan, terombang-ambing oleh arus air pembuangan yang meluap akibat sistem pemadam api otomatis yang pecah.
BYUR!
Mereka terlempar keluar dari ujung pipa, jatuh ke dalam sungai berbatu di kaki bukit Pine Ridge. Arkan terengah-engah, paru-parunya terasa terbakar oleh sisa asap. Ia segera berenang ke tepian, menyeret Liana yang tampak setengah sadar karena benturan di kepala saat meluncur tadi.
Di puncak bukit, mansion megah itu kini menyerupai gunung berapi yang meletus. Langit malam memerah oleh api yang membumbung tinggi. Arkan menatap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk; rumah masa kecilnya, sekaligus penjara jiwanya, kini rata dengan tanah.
"Liana... kau bisa mendengarku?" Arkan menepuk pipi Liana dengan lembut.
Liana terbatuk, memuntahkan air sungai. Matanya perlahan terbuka, menatap Arkan dengan nanar.
"Kita... berhasil?"
Arkan baru saja akan menjawab ketika ia menyadari sesuatu yang aneh. Di pergelangan tangannya, terdapat sebuah alat pelacak kecil yang menempel tanpa ia sadari—sebuah transponder magnetik yang kemungkinan dipasang oleh Elena saat mereka berada di ruang server tadi.
Tiba-tiba, suara deru helikopter terdengar dari kejauhan. Bukan satu, tapi tiga helikopter tempur tanpa lambang negara, dilengkapi dengan lampu sorot yang mulai menyapu permukaan sungai.
"Belum, Liana. Ini belum berakhir," bisik Arkan dengan wajah pucat.
"Elena tidak berniat mati di sana. Dia menjebak kita agar keluar dari bunker sehingga ia bisa menangkap kita di tempat terbuka."
Arkan segera menarik Liana bersembunyi di bawah rimbunnya pohon-pohon besar di pinggiran hutan. Dari kejauhan, ia melihat beberapa sosok taktis turun dari helikopter menggunakan tali fast-rope. Mereka mengenakan seragam yang jauh lebih canggih dari tentara bayaran sebelumnya.
"Itu bukan The Scorpion," gumam Arkan, matanya menyipit waspada.
"Itu adalah unit privat dari Project Phoenix. Kelompok yang lebih gelap dari sekadar mafia."
Liana meraba sakunya, memastikan flash drive berisi data deksripsi yang ia curi masih ada.
"Arkan, data ini... mereka bukan hanya menginginkan tanah Sektor Selatan. Data ini berisi protokol aktivasi senjata siber yang bisa mematikan seluruh jaringan listrik di lima negara tetangga. Ibumu bukan penguasa bawah tanah lagi, dia adalah teroris siber internasional."
Arkan tertegun. Skalanya kini jauh melampaui dendam keluarga atau sengketa tanah. Mereka kini memegang kunci yang bisa memicu perang antarnegara.
"Kita harus pergi ke satu-satunya tempat yang tidak berani mereka sentuh," ucap Arkan sembari memeriksa sisa pelurunya.
"Ke mana?" tanya Liana.
"Ke perbatasan Sektor Utara. Wilayah 'Zona Hitam' yang dikuasai oleh mantan saingan ayahku, pria yang dulu dikhianati oleh ibuku. Kita butuh suaka dari monster untuk melawan monster yang lebih besar."
Di tengah hutan yang gelap, dengan lampu sorot helikopter yang semakin mendekat, Arkan dan Liana memulai pelarian yang sesungguhnya. Mereka bukan lagi pemburu; mereka adalah buronan internasional yang membawa rahasia paling berbahaya di dunia.