NovelToon NovelToon
MISTERI DESA GETIH

MISTERI DESA GETIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.

Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?

Ikuti kisah selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan Novita

Hari masih pagi, kabut embun yang cukup tebal, membuat udara semakin dingin, seolah ingin mengajak untuk berlama di atas ranjang.

Akan tetapi, Alawiyah sudah selesai membersihkan tubuh suaminya, sudah rapih, dan mengenakan pakaian yang bersih.

Ia mengambil ember kosong, lalu memasukkan pakaian kotor ke dalamnya, dan berniat hendak mencuci.

Saat keluar dari pintu kamar, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Bagas, yang sudah bersiap hendak ke sawah, dan tampaknya ia me jadi orang kepercayaan dari Juragan Tresno.

Ia mengenakan kemeja lengan panjang bertujuan untuk menghindari sinar mentari, dan sekilas mereka saling bertatapan.

Alwiyah mengulas senyum datar, sebagai bentuk sapaan, lalu melangkah menuju dapur.

Bagas menatap punggung sang adik ipar—yang menghilang di baik pintu dapur.

****(

Tak tak tak

Sreeeeng

Terdengar suara Ratih sedang memotong bumbu dapur, lalu menumisnya, dan memasak sayur kacang panjang bersama jagung muda, serta juga ikan asin yang di bakar, pada bara api sisa menanak nasi.

"Pakaian kotor si Mbok dimana? Biar saya cucikan sekalian,"

"Tidak perlu. Cuci saja pakaianmu, si Mbok masih kuat. Lagian kalau kamu kelelahan, lalu kandunganmu bermaslah, saya juga yang repot," sabut Ratih asal ceplos saja.

Alawiyah menelan salivanya. Ia sulit menebak sikap ibu mertuanya, tetapi mencoba bertahan, dan memilih ke belakang dapur, menuju pancuran air yang berasal dari sungai.

Saat merendam pakaian dengan deterjen, ia menatap rumah-rumah mewah milik warga yang berada di bagian belakang.

Tampak rumah Juminten yang berlantai empat, melebihi rumah Sultan Andara.

Dari arah balkon, ia melihat Juminten mengawasinya, tatapannya sangat tajam, seolah menggambarkan rasa ketidaksukaannya.

"Astaghfirullah." Alawiyah mempercepat pekerjaannya, lalu memilih masuk ke dalam dapur.

Disebuah meja kayu yang tampak usang, tertata sarapan yang sudah di hidangkan oleh ibu mertuanya.

Tampak Bagas menyeruput kopi hitamnya. Sepertinya pemuda itu sangat candu, dan mencomot sepotong singkong madu rebus, lalu mengunyahnya.

"Duduklah, sarapan, calon janinmu butuh asupan." Ratih menyodorkan piring kosong kepada Alawiyah yang sedang menatap gelisah. Sesekali ia menoleh ke arah belakang, untuk melihat Juminten, apakah masih mengawasinya.

Sejujurnya ia ingin bertanya pada sang ibu mertua, mengapa tetangganya tidak menyukai dengan lantunan ayat suci, tetapi ia ingat, jika ibu mertuanya berpesan, agar ia tak lagi banyak tanya.

Alawiyah menurut, mengambil piring, dan sarapan. Tanpa ia sadari, sedari tadi—Bagas diam-diam memperhatikannya.

Bahkan mereka belum berkenalan satu sama lainnya. Dan tampaknya Ratih tidak berminat menanyakan siapa namanya.

Setelah selesai dengan sarapannya, Bagas beranjak dari tempatnya. Lalu menyambar topi capil yang tergantung di dinding.

"Mbok, Bagas ke sawah, tadi Juragan Tresno nelpon, kalau mau nambah sawah lagi. Sepertinya milik Kang Rejo sudah dibeli juga."

"Meskipun baru kebakaran rumah, tetapi ia tidak kehabisan hartanya," sindir Ratih, lalu menyudahi sarapannya.

Bagas tak menyahut, lalu memilih membenahi kemejanya yang sudah memudar warnanya, dan sebelumnya—kembali lagi melirik Alawiyah, lalu pergi bekerja.

Alawiyah hanya menjadi pendengar, dan juga menyimak pembicaraan keduanya, tanpa mencampuri.

"Piringnya dicuci di belakang juga, Mbok?" Alawiyah mengumpulkan piring kotor, lalu memasukkannya ke dalam wadah ember.

"Perutmu cukup besar, susah jika untuk berjongkok. Sebaiknya kamu sapu rumah atau halaman saja." jawabnya dengan nada datar.

"Baik, Mbok. " Alawiyah menurut, sebab ia sangat takut jika wanita itu kembali mendiamkannya.

"Kalau ada yang bertanya tentang siapa namamu, maka jangan pernah mengatakan nama aslimu." Ratih mengucapkannya dengan nada yang ditekan, dan cukup serius.

Alawiyah yang sudah berjalan di ruang tengah, menghentikan langkahnya.

"Baik, Mbok." jawabnya dengan patuh, meskipun ia sangat begitu ingin tahu.

Alawiyah menyapu rumah, hatinya masih bertanya-tanya, tentang apa yang menjadi rahasia dari hal janggal yang ada disetiap warga desa.

Sesekali ia melihat suaminya yang terbaring ditepian ranjang, dan harapan itu masih ada, ia yakin jika suaminya akan sembuh.

Hari sudah mulai terang, Alawiyah menyapu halaman rumah, ada banyak daun mangga yang gugur, dan ia merasa jika harus banyak gerak, sebab kehamilannya yang sudah trisemester ketiga, maka bergerak adalah solusi agar ia dapat melahirkan normal.

Ia masih mengingat jelas, saat sosok Genderuwo yang malam itu sedang berdiri di bawah pohon mangga, menatapnya dengan tajam.

Sreek

Sreek

Suara sapu lidi yang menyapu tiap sampah dedaunan kering, dan membersihkan halaman rumah.

Saat bersamaan, seorang pria bertubuh kekar, datang dengan sepeda motornya. Ia tak lain adalah Bagas, tampaknya ia sedang mengambil barang yang ketinggalan.

Penampilannya sedikit rapih, meskipun ia bekerja di sawah.

Dimana pakaiannya membentuk tubuhnya yang berotot, karena terbentuk dari pekerjaannya sehar-hari.

Wajahnya sekilas mirip dengan Bayu— hanya saja, suaminya lebih teduh dan sangat adem jika dipandang semakin lama.

Pria itu menatapnya. "Kita belum saling berkenalan, siapa namamu—adik ipar?" tanya Bagas, saat jarak mereka cukup dekat sembari melirik perut Alawiyah yang membuncit.

"A—," Alawiyah menghentikan ucapannya, mencoba mengingat pesan sang ibu mertua yang melarangnya untuk memberitahu nama aslinya, pada siapapun yang bertanya.

"Ana, nama saya Ana," sahutnya cepat, dan entah mengapa, jantungnya berdegup lebih kencang.

Tatapan pemuda itu tampak biasa, menyiratkan sesuatu yang tak dapat ia terjemahkan.

Ia merasa sedikit sungkan saat Bagas masih menatapnya dengan sangat dalam, di tambah lagi—mereka bukan mahram

"Kalau nama aslinya?"

Alawiyah mulai berfikir lagi, dan ia tidak begitu faham, mengapa ibu mertuanya melarangnya menyebutkan nama asli.

"Rohana, nama saya Rohana," ia kembali berbohong, dan sebaiknya ia patuh saja dengan ucapan Ratih, meskipun wanita itu tampak ketus, tetapi cukup perhatian.

"Oh, Rohana, untung saja bukan Roh Halus," sahut pria tersebut, sembari berjalan, lalu masuk ke dalam rumah.

Alawiyah mendengkus kesal, tetapi ia tak peduli akan cemoohan dari pria itu, sebab baginya, berbohong untuk kebaikan tidak berdosa.

Ia kembali menyapu, dan mengumpulkan dedaunan kering untuk dibakar. Tatapannya teralihkan pada rumah megah didepannya.

Rumah berlantai tiga itu tampak suram, meskipun cat nya dibuat cukup terang, ditambah lagi kabut yang tebal saat masih pagi hari, membuat ia merasa bergidik ngeri—seolah seperti masuk ke dalam dimensi yang lain.

Dalam samar, ia melihat bayangan hitam yang duduk di atas pagar teras lantai tiga.

Semakin ia mengamati, tampak sosok Genderuwo dengan taring yang mencuat keluar dari sudut mulutnya, dan bola mata merah menyala, sehingga membuat ia tersentak kaget.

"Astaghfirullah," ia memegang dadanya.

Ia mengusap kedua matanya, lalu menatap kembali ke arah balkon, dan hanya ada Novita yang ia temui, dengan rambut basah terurai, wajah yang semakin pucat, dan menatapnya dengan tajam.

"Apa salahku? Mengapa mereka terlihat begitu tak suka denganku?" Alawiyah mempercepat sapuannya.

Perasaannya sering tak nyaman, setiap berpapasan dengan para warga yang ada di desa ini.

Saat bersamaan, tanpa sengaja, ia melihat seekor ular berwarna hitam, dengan leher mengembang, yang menatapnya dengan mata memerah di antara tumpukan sampah.

"Astaghfirullah!" ia melemparkan sapu lidi yang dipegangnya, lalu berbalik arah dan memilih untuk masuk ke dalam rumah.

"Roh, kenapa ketakutan?" tanya Bagas, yang baru saja keluar, dengan menenteng jerigen berisi lima liter air minum, bersama sebungkus rokok.

Tampaknya ia kembali pulang, karena mengambil dua barang tersebut.

Nada bicaranya, menyiratkan jika ia sedang mengolok nama samarannya, dan itu memancing reaksi emosi di jiwanya.

Alawiyah menatapnya kesal. "Ana, panggil Ana." jawabnya dengan ketus, lalu memilih menuju dapur, menghindari kakak iparnya yang ia anggap sedikit resek.

Bagas terkekeh, entah apa yang membuatnya begitu sangat senang, saat melihat adik iparnya mengomel, lalu kembali untuk ke sawah.

1
mifta
setannya gaul tau MBG juga🤣🤣🤣🤣
Mamake Nayla
sma2 hilang arah...apa ga nyasar mereka ber 2🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mifta
bisa jga setan gaul🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
sekarang kau tersenyum2 Jo.. Tejo.. sebentar lagi kau berenang dlm kuah soto pojok kesukaanmu itu 😋😋👻👻👻
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
ati2 sama adikmu mbok Ratih, istrinya aja tega dia tumbalkan, nanti keluargamu selanjutnya 🙈🙈👻👻👻
Ai Emy Ningrum: iissh issh ...teruskan /Determined//Determined//Determined//Determined/ !!!!
total 5 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
elaah galak amat we! padahal baru dtp tumbal, kok esmosian 😋😋😋
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ: kebanyakan ngemilin garem dia 😋
total 2 replies
🟡SENJA
hadeeeh mbok ratih, tejo jauh tersesat mbok 😤
🟡SENJA
astaga lakik macam apa 😭
🟡SENJA
wakakaak ibunya sendiri aja jadi kulineran 🤭
🟡SENJA
buseh 😅😅😅
🟡SENJA
wakakaak ga manusia ga setan kalau nganggur di bully 😅
FiaNasa
ntar klau jadian samanobita bisa direndang si Tejo ini
FiaNasa: bukan mesin ketiknya yg udah uzur tp yg ngetik😀
total 5 replies
Ayani Lombokutara
tumben dibab ini gk ada dialog setan laknat 🤣🤣
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: khusus Mellow🤧
total 1 replies
Desyi Alawiyah
Matamu sakit, jelas Intan dijadikan tumbal kok 😫
Ayani Lombokutara: kan dnak tau dia siapa yg jdiin dia tumbal kan rata rata isi kampung penganutnya ..tpi tu si mbok udah yakin adiknya yg buat iparnya bgitu
total 1 replies
Desyi Alawiyah
Bener-bener deh si Tejo, sekarang malah ngincer Novita... 😌😌
kinoy
drama persetanan..kasian jg intan y anaknya msh nyusu..si Tejo so kecakepan bgt
FiaNasa
jin nya gaul semua ngomongnya,,kek nya jin nya semua kluaran edisi terbaru nih😀
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Ayani Lombokutara
apa lo 🤣🤣🤣 si wewe lucu 🤣🤣
pkoknya lebih lucu setannya dripda org orgnya 🤣🤣
Ai Emy Ningrum: hihihi 👻👻👻
total 12 replies
Rembulan menangis
punah berjamaah gk tuh 🤭
Tini Nurhenti
🤣🤣🤣/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!