NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Setelah Jayden melangkah pergi dengan sisa harga diri yang hancur, Ambar berbalik ke arah Baskara.

Ia menarik napas dalam, seolah sedang menghirup udara kebebasan yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan di rumah ini.

Dengan lembut, Ambar mendorong kursi roda suaminya melewati ambang pintu besar menuju ruang tamu yang kini kosong melompong.

Lantai marmer yang dulu sering ia bersihkan sambil merangkak kini terasa dingin di bawah sepatunya.

Ambar menghentikan langkahnya di tengah ruangan, menatap sekeliling dengan pandangan yang sulit diartikan.

Baskara menatap langit-langit tinggi dan pilar-pilar kokoh bangunan itu.

"Rumah ini cukup luas, Ambar. Tapi suasananya terlalu penuh dengan energi mereka yang sudah pergi. Apakah kamu tidak mau menjualnya saja? Kita bisa membeli mansion baru yang jauh lebih megah di puncak bukit jika kamu mau."

Ambar menggelengkan kepalanya perlahan. Ia melepaskan pegangan pada kursi roda Baskara dan berjalan mendekati salah satu dinding di ruang tengah.

Jarinya mengusap permukaan dinding yang kini dicat warna krem membosankan, warna yang dulu dipilih oleh Shinta untuk menghapus jejak istri pertama Hendra.

"Tidak, Bas. Rumah ini milik mendiang ibuku. Tanah ini adalah warisan dari kakekku untuk beliau. Dan banyak kenangan masa kecil bersama Ibu di sini sebelum semuanya berubah menjadi neraka," suara Ambar terdengar parau namun penuh ketetapan hati.

Ia berbalik, menatap Baskara dengan binar mata yang merindu.

"Dinding ini dulu berwarna biru, Bas. Biru laut yang menenangkan, warna kesukaan Ibu. Di sudut itu dulu ada piano tua tempat beliau mengajariku bernyanyi, sebelum Papa menjualnya hanya untuk membelikan Gea tas bermerek."

Baskara terdiam, ia bisa merasakan denyut kesedihan sekaligus cinta yang mendalam dari kata-kata istrinya.

Ia memberikan kode kepada Gabby yang berdiri tak jauh dari sana.

"Gabby," panggil Baskara dengan nada otoritas.

"Panggil tim desainer interior terbaik malam ini juga. Perintahkan mereka untuk mengganti seluruh dekorasi rumah ini. Buang semua yang pernah disentuh atau dipilih oleh keluarga Wijaya. Aku ingin setiap inci rumah ini kembali seperti saat Ibu Ambar masih ada."

Ambar tersentak, menatap Baskara dengan tidak percaya.

"Bas, itu akan memakan biaya besar..."

"Biaya bukan masalah, Ambar. Aku ingin kau merasa pulang, bukan sekadar menempati bangunan," potong Baskara lembut.

Kemudian ia meraih tangan Ambar dan menariknya mendekat.

"Jika dinding ini dulu berwarna biru, maka besok pagi, dinding ini akan kembali biru. Jika piano itu hilang, aku akan mencarikanmu yang identik, atau bahkan yang lebih baik."

Ambar berlutut di samping kursi roda Baskara, menyandarkan wajahnya di lutut suaminya.

Air mata haru jatuh membasahi celana kain Baskara.

"Terima kasih, Bas. Terima kasih sudah mengembalikan kenanganku."

Baskara mengelus rambut Ambar dengan penuh kasih.

"Rumah ini akan menjadi istanamu yang sesungguhnya sekarang. Dan kali ini, tidak akan ada yang berani mengusirmu lagi."

Sinar matahari sore mulai meredup saat Baskara memutuskan untuk mengajak Ambar makan malam romantis di sebuah restoran mewah bergaya klasik sebelum mereka kembali ke kediaman utama keluarga Mahendra.

Restoran itu adalah tempat langganan para elit, dengan pilar-pilar putih tinggi dan suasana yang sangat eksklusif.

"Masuklah duluan, Sayang. Pilih meja yang paling nyaman di sudut balkon. Aku harus menerima telepon penting dari kolega di London sebentar," ucap Baskara lembut sambil mengusap tangan Ambar.

Ambar mengangguk patuh. Ia melangkah masuk ke dalam restoran sendirian.

Meskipun mengenakan pakaian yang elegan, wajah Ambar yang bersih tanpa riasan tebal dan pembawaannya yang tenang membuat beberapa pelayan di sana memandangnya dengan sebelah mata.

Mereka tidak tahu bahwa wanita di depan mereka adalah Nyonya Mahendra yang baru.

Seorang pelayan senior dengan seragam kaku menghampiri Ambar.

Ia memperhatikan Ambar dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menghina.

"Maaf, Nona. Restoran ini hanya untuk tamu yang memiliki reservasi khusus. Dan sepertinya, Anda salah tempat," ucap pelayan itu dengan nada ketus yang sangat kentara.

Ambar tetap tenang. "Suami saya, Tuan Baskara Mahendra, sudah memesan meja. Beliau sedang di luar."

Mendengar nama Mahendra, pelayan itu bukannya gemetar, malah tertawa sinis.

"Mahendra? Jangan mengigau. Tuan Mahendra tidak mungkin membawa wanita sepertimu. Jangan coba-coba menggunakan nama besar beliau untuk menyelinap masuk dan meminta sisa makanan. Pergi dari sini sekarang sebelum saya panggil keamanan!"

"Saya tidak berbohong," tegas Ambar, namun pelayan itu justru mendorong bahu Ambar dengan kasar ke arah pintu keluar.

"Keluar! Orang-orang kumuh seperti kalian hanya merusak pemandangan tamu-tamu VIP kami!" bentak pelayan itu sambil mengusir Ambar hingga wanita itu hampir tersandung di depan pintu masuk.

Tepat saat itu, Baskara yang baru saja selesai menelepon melihat pemandangan tersebut dari kursi rodanya.

Darahnya mendidih seketika. Dengan gerakan cepat, ia memacu kursi rodanya masuk ke dalam area restoran, membelah kerumunan pelayan yang sedang merundung istrinya.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriak Baskara.

Suara baritonnya menggelegar, bergetar karena amarah yang luar biasa, hingga membuat seluruh tamu di restoran itu terdiam mematung.

Pelayan tadi seketika pucat pasi. Ia mengenali suara itu. Ia mengenali kursi roda perak itu.

"T-Tuan Mahendra, saya hanya sedang mengusir pengganggu ini," gagap pelayan itu, mencoba membela diri dengan tangan gemetar.

Baskara menarik tangan Ambar, merapatkannya ke sisi kursi rodanya dengan protektif.

"Pengganggu? Kamu menyebut istriku, pemilik sah dari setengah aset Mahendra Corp, sebagai pengganggu?!"

Mata Baskara berkilat tajam bagaikan belati. "Siapa nama manajermu? Dalam lima menit, aku ingin sertifikat kepemilikan restoran ini pindah ke tanganku hanya agar aku bisa memecatmu dan memastikan kau tidak akan pernah bekerja lagi di kota ini, bahkan sebagai pencuci piring sekalipun!"

Ambar menggenggam bahu Baskara, mencoba menenangkan suaminya yang sedang murka besar. Namun kali ini, Baskara tidak akan tinggal diam.

Ia tidak akan membiarkan siapa pun, sekecil apa pun posisinya, menghina wanita yang telah ia janjikan kebahagiaan.

Suasana restoran yang tadinya tenang mendadak mencekam.

Manajer restoran, seorang pria paruh baya yang baru saja menyadari siapa yang berdiri di pintu masuk, berlari tunggang-langgang hingga hampir tersungkur di atas lantai marmer.

Tanpa mempedulikan harga dirinya di depan para tamu VIP, sang manajer langsung menjatuhkan diri, bersujud di depan kaki Ambar. Tubuhnya gemetar hebat.

"Tuan Mahendra! Nyonya Mahendra! Saya mohon ampun! Ini murni kesalahan staf kami yang tidak kompeten!" ratap sang manajer dengan suara parau.

"Tolong jangan hancurkan bisnis ini. Kami sudah membangun reputasi ini selama puluhan tahun. Saya akan melakukan apa pun, tolong jangan tarik investasi Anda!"

Baskara tidak bergeming. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan kemarahan yang dingin dan mematikan.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menekan sebuah nomor cepat.

"Halo, Gunawan? Restoran Le Papillon milikmu, kan? Aku ingin membelinya sekarang juga. Kirimkan draf penjualannya ke asistenku dalam tiga menit. Harga? Sebutkan saja berapa pun, aku tidak peduli," ucap Baskara dengan nada bicara seolah sedang membeli sebotol air mineral.

Hanya dalam hitungan menit, ponsel Baskara bergetar.

Sebuah notifikasi pesan masuk. Baskara menunjukkan layar ponselnya kepada manajer yang masih bersujud.

"Selesai. Mulai detik ini, akulah pemilik tempat ini," suara Baskara bergema, tajam dan penuh otoritas.

Ia kemudian menoleh ke arah pelayan yang tadi menghina Ambar.

Pelayan itu kini berdiri mematung, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat.

"Kamu," tunjuk Baskara dengan jari telunjuknya.

"Kamu bilang istriku merusak pemandangan tamu-tamu di sini? Sekarang, kamulah yang merusak pemandangan di properti milikku."

Baskara menatap ke arah kerumunan tamu yang sedang menonton dengan tegang.

"Semuanya, mohon perhatiannya. Pelayan ini baru saja menghina Nyonya Mahendra. Sebagai pemilik baru, saya tidak mentoleransi sampah di dalam bisnis saya."

"Petugas keamanan!" seru Baskara dengan lantang.

"Lepaskan seragamnya sekarang juga di sini. Berikan dia pakaian pelayan yang paling kotor dari dapur, dan seret dia keluar lewat pintu belakang tempat pembuangan sampah. Pastikan namanya masuk dalam daftar hitam seluruh asosiasi perhotelan di negeri ini!"

Pelayan itu mencoba memohon, namun petugas keamanan restoran—yang kini bekerja untuk Baskara—dengan sigap mencopot paksa dasi dan rompi seragamnya di depan publik.

Ia diseret keluar dengan hina diiringi tatapan sinis dari para tamu yang kini tahu betapa besarnya kekuasaan pria di kursi roda itu.

Baskara kemudian menoleh ke arah manajer yang masih gemetar.

"Berdiri. Siapkan meja terbaik di balkon untuk istriku. Dan pastikan hidangan malam ini adalah yang terbaik yang pernah dibuat koki kalian. Jika ada satu helai rambut pun yang salah posisi, kau akan menyusul pelayan tadi ke tempat sampah."

Ambar menggenggam tangan Baskara, merasa terlindungi sekaligus takjub dengan cara suaminya membela kehormatannya.

"Terima kasih, Bas. Tapi, Kamu tidak perlu sampai membeli restorannya hanya untuk membantuku..."

Baskara menarik tangan Ambar dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.

"Apapun untukmu, Sayang. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang boleh membuatmu merasa kecil lagi. Restoran ini sekarang milikmu. Kamu bisa mengganti namanya atau menutupnya jika kamu mau."

Kontras dengan kemewahan makan malam Ambar dan Baskara, suasana di rumah minimalis milik Jayden terasa sangat mencekam dan panas.

Rumah yang biasanya tenang itu kini penuh dengan tumpukan koper tua dan isak tangis yang tak kunjung berhenti.

Jayden berdiri di tengah ruang tamu dengan napas memburu, menatap muak ke arah Hendra, Shinta, dan Gea yang tampak menyedihkan.

"Sudah! Berhenti menangis! Suara kalian memekakkan telingaku!" bentak Jayden dengan suara menggelegar, membuat Shinta tersentak dan menutup mulutnya rapat-rapat.

Hendra hanya bisa tertunduk lesu di sofa, sementara Gea terus sesenggukan meratapi nasibnya yang berubah drastis dalam semalam.

Jayden menunjuk ke arah koridor kecil di belakang dapur.

"Kalian bertiga, masuk ke kamar tamu di sana! Jangan harap bisa tidur di kamar utama yang nyaman. Dan ingat satu hal," Jayden melangkah maju, menatap mertuanya satu per satu dengan tatapan tajam tanpa rasa hormat lagi.

"Mulai besok, kalian semua harus mulai mencari kerja! Aku tidak peduli kalian dulu direktur atau nyonya besar. Di rumah ini, tidak ada makan siang gratis! Aku tidak mau menampung benalu yang hanya bisa meratapi nasib!"

Shinta ternganga, air matanya kembali mengucur. "Jayden, tega sekali kamu. Kami ini orang tuamu sekarang, kami mertuamu!"

"Mertua?" Jayden tertawa sinis, tawa yang penuh kebencian.

"Kalian adalah mertua yang bangkrut! Kalian menjanjikan aku harta Wijaya, tapi nyatanya kalian hanya memberiku hutang dan masalah! Kalau bukan karena aku masih punya sedikit rasa kasihan, kalian sudah kutendang ke kolong jembatan malam ini juga!"

Gea mencoba meraih lengan suaminya. "Sayang, tapi aku tidak tahu cara bekerja. Aku tidak pernah bekerja seumur hidupku..."

"Maka belajarlah! Jadi pelayan restoran atau tukang cuci pun terserah! Pokoknya, jangan harap bisa menyentuh uang tabunganku sedikit pun," Jayden mengibaskan tangan Gea dengan kasar, lalu masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.

Di ruang tamu yang remang-remang, Hendra Wijaya menatap tangannya yang gemetar.

Ia baru menyadari bahwa tanpa harta, ia bahkan tidak lebih berharga dari debu di mata menantunya sendiri.

Sementara itu, di balkon restoran mewah, Ambar sedang menyesap wine mahal, sama sekali tidak tahu—dan tidak peduli—pada penderitaan mereka.

1
falea sezi
g perawan. kah kok. ambar. langsung ke atas g skit kah/Smug/
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
apa keluarga Wijaya menginsyafi kesalahannya atau tabah tetpuruk ya,lanjuut
tiara
cepat sembuh Ambar biar bisa lihat kejutan apa yang dibuat oleh suamimu yang kaya
tiara
wah pa Baskara ko bisa kecolongan sih
Alex
sambil nahan nafas Thor bacanya
tiara
lanjuut thor
tiara
nasi sudah jadi.bubur, bekerjalah kalian pa Wijaya jika ingin punya uang
tiara
dimulainya kehancuran keluarga wijaya,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
tiara
perjanjian pra nikah mulai di hapus satu demi satu hingga akhirnya mungkin dihapus semua 😄😄😄
tiara
bagus pa Baskara hempaskan mantan sejauh mungkin
tiara
wah mantan Bastian mau melakukan apa ya terhadap Ambar.lanjuut thor
tiara
pa Wijaya nikmatilah hasil kejahatanmu pada anak kandung sendiri dan lebih membela anak tirimu
tiara
lanjuut thor semangat upnya,ga sabar lihat kehancuran keluarga Wijaya.agak aneh juga sih mengapa ayahnya begitu benci sama anaknya atau karena Gea dan ibunya yang sudah menghasut ps Wijaya ya
tiara
lanjuut thor seru niih, jadi deg-degan aku nunggu reaksi keluarga wijaya
tiara
Mereka mulai saling terbuka dan saling membutuhkan semoga kebahagian selalu menyertai tuan Baskara dan istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!