NovelToon NovelToon
Boss Kecil, Didunia Kuno! [Boy Lovers]

Boss Kecil, Didunia Kuno! [Boy Lovers]

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.

Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.

Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.

dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makanan Enak

Saat air dalam wajan mulai mendidih, Hwang Zin memasukkan potongan daging kelinci yang sudah siap, mengaduknya sebentar sebelum menutup wajan dan membiarkannya matang hingga empuk.

Mereka menunggu beberapa saat hingga terdengar teriakan Qin Lang yang penuh semangat. "Zin-an, nasinya sudah matang.....!"

Hwang Zin menyuruh menaruh wadah nasi di atas alas daun dan membiarkannya sebentar.

Dia membuka tasnya dan mengeluarkan mangkuk kayu tipis yang ringan dan mudah ditumpuk – barang yang dia "temukan" di tokonya.

Dia juga membawa banyak sumpit.

"Tas kura-kura mu sungguh ajaib...." desah Song Wen dengan terkejut melihat banyaknya barang yang bisa dimasukkan anak itu ke dalam tas besar yang hampir menutupi tubuhnya.

Namun anehnya, Hwang Zin bisa membawanya dengan mudah.

"Karena itu saya membawanya – bisa muat banyak meskipun agak berat...." jelasnya sambil membagikan mangkuk dan sumpit kepada semua orang.

Orang-orang kagum melihat mangkuk yang ringan dan memiliki finishing halus. "...Ini mangkuk yang bagus..."

"Saya membuatnya sendiri..." Hwang Zin berbohong dengan tenang. Mereka terkejut sekaligus kagum. "...Kamu membuatnya sendiri?!"

"Saya pernah bekerja di tukang kayu untuk sementara waktu...." jelasnya sambil membuka tutup wajan.

Bau sedap khas daging pedas segera menyebar, membuat semua orang lupa ingin berkata apa.

Terdengar suara menelan ludah di sekeliling.

Hwang Zin mencicipi sedikit kuahnya dengan ujung sendok – rasanya sudah pas. "Kakak Lang, bagikan nasi pada yang lain...."

"Baiklah... kalian cepat ambil..." Qin Lang mengambil centong nasi dan segera diberi mangkuk oleh teman-temannya.

Dia membagikan nasi secara rata, tak lupa mengisi mangkuk Hwang Zin.

Hang Si memberikan mangkuknya pada Hwang Zin, yang segera mengambil daging kelinci pedas untuknya sebelum yang lain mulai bergiliran mengambil porsi masing-masing.

Semua kembali duduk dan makan dengan wajah berseri-seri. Daging kelinci yang biasanya keras kini sangat empuk dan gurih.

Hwang Zin juga puas dengan hasil masakannya. Mereka makan dengan gembira, sementara kelompok lain hanya bisa menelan ludah melihatnya.

Song Wen bahkan lupa akan keberadaan Jenderal, yang kini melihat mereka dengan wajah cemberut.

Prajurit memiliki napsu makan besar – empat ekor kelinci hampir habis dimakan, hanya tersisa beberapa potong.

"Zin-an, ambillah sisa ini..." ucap salah satu teman."Kami semua sudah kenyang...."

Mereka masing-masing menghabiskan dua mangkuk, hanya Hwang Zin yang makan satu mangkuk saja. Masih ada satu mangkuk nasi di panci dan sisa daging di wajan.

Hwang Zin mengangguk dan mengambilnya, tapi bukan untuk dimakan. Dia berdiri dan berjalan ke arah kelompok Jendral, membuat Hang Si dan yang lain tertegun.

"Jendral.... untuk Anda..." ucapnya dengan sedikit canggung. Bagaimanapun, tidak pantas makan saja di depan pemimpin tanpa menawarinya.

Jenderal menerimanya dengan wajah sedikit terkejut.Bawahannya tak berani menginginkannya, tapi anak ini ingat untuk berbagi.

"...Terima kasih..." ucapnya dengan tulus.

Empat orang bawahan Jenderal saling memandang iri – mereka juga ingin mencicipinya, tapi makanan itu adalah jatah kelompok Hang Si sehingga tak bisa memintanya begitu saja.

Hari semakin gelap, semua orang beristirahat. Hwang Zin duduk dan memandang sungai yang bercahaya di bawah sinar bulan terang.

Sampai dia mendengar suara geram pelan dari arah semak-semak. Dia berbalik dan melihat sepasang mata menyala di kegelapan.

Matanya melebar.

Dia segera bergerak dengan hati-hati membangunkan Song Wen dan Hang Si yang tertidur di sebelahnya. Keduanya tidak tidur pulas, jadi segera membuka mata.

"......Zin-an, ada apa?" tanya Song Wen dengan mata mengantuk, namun Hwang Zin segera menaruh jarinya di bibirnya. "Husss!"

Keduanya saling melirik lalu melihat ke arah yang ditunjuk Hwang Zin – keduanya membeku. Hang Si mengumpat pelan. "Sial, itu serigala... bangunkan kelompok yang lain..."

Dia cepat mengambil kayu bakar dari api unggun dan mengibaskannya untuk menakuti serigala. "Bangun.... ada serigala!"

"........"Hwang Zin ingin mengingatkan mereka untuk tidak membuat keributan berlebih, tapi sudah terlambat.

Serigala-serigala itu melolong dengan keras.Jenderal dan yang lain segera bangun, mengambil senjata dan siap bertempur.

"Tetap siaga, jangan lengah!" teriak Jenderal. Serigala melihat nyala api merasa takut tapi juga terprovokasi, beberapa di antaranya segera menyerang.

Kelompok Caviar bukan prajurit biasa – mereka bertarung dengan ganas, disertai lolongan serigala yang marah dan kesakitan.

Hwang Zin didorong oleh teman-temannya ke arah pintu hutan, dan seekor serigala besar segera memperhatikannya.

"Sial...!" Hwang Zin mengambil tasnya dan berlari masuk ke dalam hutan, disusul dengan lompatan serigala yang mengaum mengerikan.

"Hwang zin!"teriak Jenderal melihatnya dan wajahnya langsung menjadi gelap. Dia menebas kepala serigala yang menyerangnya lalu berbalik menyusul ke arah mereka berlari.

Hwang Zin berlari cukup jauh dengan nafas tersengal-sengal, memaksa dirinya untuk terus berlari hingga tersandung akar pohon dan terjatuh dengan keras.

Dia berbalik dengan panik saat melihat serigala melompat dengan mulut terbuka lebar, mengangkat tangan untuk melindungi kepalanya.

Apa aku akan mati disini!

"Awas!" Teriak keras terdengar sebelum seseorang menerjang serigala itu. Keduanya bergulat dengan sengit.

Hwang Zin menurunkan tangannya dan melihat dengan mata melebar. "Jendral!"

Namun kondisi Jendral tampak tidak baik – dia mulai terlihat kelelahan.

"Sial..." Hwang Zin mengambil pedang yang terlempar dan mencoba membantu menyerang serigala, meskipun khawatir akan meleset dan menusuk pria itu. Tapi tidak ada waktu untuk ragu lagi.

Jendral merasakan gigi tajam mengoyak lengannya dan teriak kesakitan. "Ahk!"

Hwang Zin melihatnya dengan terkejut dan bergerak cepat, mengangkat tangan dengan tegas.

Splash – darah merah memercik ke wajahnya.

Dia mundur dua langkah dengan gemetar sebelum jatuh terduduk. Cahaya bulan menerangi tanah dan rerumputan yang penuh darah segar.

"Zin-an..." suara serak terdengar dari dekat.

Hwang Zin tertegun, lalu bangun dan berlari menarik tubuh serigala yang sudah tak bernyawa. "...Jendral, bertahanlah!"

Dia berhasil menggeser mayat serigala dan melihat Jendral dengan tubuh dan wajah penuh darah, tangannya gemetar. "...Aku... aku..."

"Tidak, kamu tidak melukai aku... ini darah serigala..." jelas Jendral sambil berusaha duduk. Hwang Zin segera membantunya dengan cemas. "Kamu tidak apa-apa?"

Jendral merasakan tangannya mati rasa tapi tidak ingin membuat anak ini semakin ketakutan. "Ya, kita harus mencari tempat sembunyi dulu... sebelum kawanan serigala lainnya datang..."

Hwang Zin mengangguk dan menuntun Jendral dengan satu tangan sambil memegang tasnya dengan tangan lain. Mereka berjalan cukup lama hingga menemukan sebuah gua.

Di dalam gua, di bawah cahaya bulan yang masuk dari lubang atap, terlihat beberapa barang kebutuhan yang ditinggalkan – sepertinya ini tempat singgah pemburu.

Hwang Zin memilih tempat bersih untuk Jendral duduk, namun gerakan itu membuat luka di lengannya tertarik. Jendral mendengus kesakitan.

"Ada apa?" tanya Hwang Zin dengan cemas.

"Tidak apa-apa.... Kita akan pergi besok saat kawanan serigala pergi..." jelasnya dengan nada tenang.

Hwang Zin tidak percaya – dari suara yang sedikit gemetar, dia tahu Jendral tidak dalam kondisi baik. "Apakah Anda terluka?"

Jendral terdiam sejenak sebelum berkata pelan. "Hanya luka kecil.... Tak apa-apa..."

Hwang Zin tidak mempercayainya. Dia berdiri dan berniat keluar gua. Mendengar langkahnya menjauh, Jendral segera teriak. "Mau kemana!"

"Aku akan mencari kayu bakar... tidak apa-apa, para serigala sudah pergi..." jelasnya. Jendral ingin berdiri tapi tubuhnya terasa sakit parah."Berbahaya! Kembalilah!"

"Tidak apa-apa, aku akan kembali cepat..."Hwang Zin tetap keluar tanpa memperdulikan panggilan Jendral.

Jenderal Jiang Feng merasakan ketidakberdayaan untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Dia mencoba menggerakkan lengannya dan merasakan rasa sakit yang menusuk. Dia hanya berharap Hwang Zin baik-baik saja dan segera kembali.

Tak lama kemudian, Hwang Zin masuk gua dengan beberapa kayu kering. Dia membuat api unggun di dekat pintu gua untuk mencegah serigala mendekat, lalu menyalakannya dengan pemantik yang dibawanya.

Api segera menyala dan menerangi sebagian gua. Dia membersihkan tanah yang berserakan bekas kayu bakar dan barang lama ke satu sisi.

Di dekat dinding batu terdapat tempat tidur dari rerumputan kering yang masih layak pakai.

Hwang Zin mengambil gulungan alas piknik selebar empat meter dari tasnya, melipatnya menjadi dua dan menaruhnya di atas rerumputan.

Dia juga membuat api lagi di bekas lokasi pembakaran dalam gua – tepat di atasnya ada lubang seukuran bola sepak yang bisa mengalirkan asap keluar.

Kondisi gua semakin terang, membuat Hwang Zin bisa melihat kondisi Jendral dengan jelas. Pakaiannya kotor penuh darah dan tanah, bajunya sobek dengan luka terbuka di lengannya yang terlihat jelas.

Wajah pria itu sangat pucat dengan mata terpejam.

Hwang Zin merasa gagal – dia lupa bahwa saat ini dirinya hanya seorang anak setengah dewasa yang belum bisa melindungi orang lain.

Dia segera menghampiri Jendral dan berlutut di sebelahnya, memanggilnya dengan lembut. "Jendral, bangunlah...."

"Kamu kembali...." Jendral membuka matanya dan melihat wajah Hwang Zin yang cukup dekat dengannya. Mata anak itu memerah – dia pikir Hwang Zin pasti ketakutan.

"Aku baik-baik saja..." dia mencoba menghiburnya. Hwang Zin merasa semakin tidak berdaya, menjilati bibirnya yang kering."Buka bajumu...."

Jiang Feng yang akan menutup mata lagi segera membuka matanya dengan ekspresi tidak percaya. "...Apa?"

"Ganti bajumu – sudah sangat kotor... aku akan mengobati lukamu, jangan biarkan itu memburuk. Kau bisa melihat bagaimana kondisinya..." jelasnya sambil mengulurkan tangan ke arah ikat pinggang Jendral.

Hwang Zin tak memiliki niat lain selain membantu pria yang telah menyelamatkan nyawanya.

Mendengar itu, Jiang Feng mengangguk pelan dan menundukkan mata pada tangan ramping anak itu yang berada di sabuknya.

Dia menelan ludah tanpa sadar.lalu memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya.

Hwang Zin memang memiliki kecenderungan pada sesama pria. Saat melihat tubuh tegap dengan otot perut yang terlihat jelas dan kulit kecoklatan Jendral, dia tanpa sadar menelan ludah.

Namun saat ini, dia benar-benar hanya ingin membantu.

Dia membasahi kain bersih yang dibawanya dan membantu membersihkan seluruh tubuh Jiang Feng – dari wajah hingga ujung kaki.Pakaiannya sudah terlalu kotor sehingga dibuang, hanya menyisakan pakaian dalam tipis.

"Jangan sampai terkena air dulu...." ucapnya saat memberikan obat pada luka sebelum membalutnya dengan kain perban halus.

Melihat wajah Jendral yang pucat dengan keringat dingin membuat Hwang Zin merasa kasihan. "Istirahatlah dulu..."

Dia membantunya bersandar pada batuan di belakangnya. Jiang Feng menuruti, namun sentuhan batu dingin pada punggungnya yang telanjang membuatnya menggigil sejenak.

Hwang Zin mengambil pakaian ganti dari tasnya dan membantunya mengenakannya sebelum menggendong pria yang sudah mulai terlelap ke tempat tidur yang telah disiapkan.

Dia telah melapisi alas piknik dengan karpet bulu tipis yang dibawanya.

Saat merasakan sentuhan hangat di bawah tubuhnya, Jiang Feng terbangun dan teriak tanpa sadar."Zin' an?!"

"Ya...?" jawab Hwang Zin dengan lembut. Mata Jenderal terlihat sangat lelah, membuat Hwang Zin semakin merasa bersalah.

"Kamu juga harus tidur...." ucap Jendral dengan suara serak.

Hwang Zin tertegun lalu menundukkan mata."Aku akan berganti pakaian dulu, tidurlah lagi.."

Mendengar itu, Jiang Feng kembali memejamkan mata. Setelah melihatnya tidur kembali, Hwang Zin segera mengganti pakaiannya dengan yang bersih.

Dia juga mengambil penyemprotan anti-hewan liar dari tas dan menyemprotkan di sekitar gua sehingga tidak perlu khawatir lagi.

Dia kemudian masuk ke tempat tidur selebar dua meter, menjaga jarak agar tidak mengganggu atau melukai Jendral. Namun saat mulai tertidur, dia dibangunkan oleh suara nafas berat di sebelahnya.

Dia melihat ke samping dan mendapati wajah Jiang Feng memerah tak wajar.

Hwang Zin mengulurkan tangan dan menyentuh keningnya yang sangat panas – Jendral demam.

Hwang Zin tidak panik. Dia segera duduk, mengambil air yang disiapkan dan mencari obat demam dari tasnya.

Dia membangunkan pria itu dengan lembut. Jiang Feng bangun dengan linglung, menyandar tubuhnya pada Hwang Zin. "Buka mulutmu..."

Pria yang setengah sadar itu menuruti. Hwang Zin memberinya obat dan memintanya untuk minum air. "Ayo, minum dulu..."

Setelah minum obat dan air, Hwang Zin memintanya untuk tidur kembali. Tak lama kemudian, dia terbangun lagi saat merasa tubuhnya terjepit erat.

Dia membuka mata dengan mengantuk dan melihat Jiang Feng sedang memeluknya sambil bergumam tentang rasa dingin.

Hwang Zin melepaskan tangan panas pria itu, menarik tas yang ada di dekatnya dan mengambil selimut, lalu menyelimuti tubuh mereka berdua.

Akhirnya, Jiang Feng tertidur dengan tenang .

1
Dania
misi
LING
r
Jack Strom
Nice!!! 😁
Jack Strom
Jejak kumis!!! 😁
Dania: misiiiiiii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!