Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Backless
Toko pakaian anak-anak itu terasa jauh lebih ceria dengan kehadiran Alessia yang bergerak lincah di antara rak-rak baju warna-warni. Nathaniel berdiri beberapa langkah di belakangnya, membawa beberapa tas belanjaan yang mulai terisi penuh.
"Kak, aku beli ini semua untuk panti asuhan. Daripada Kakak terus-terusan mengurung diri di apartemen sepulang kerja, mending ikut aku begini, kan?" kata Alessia sembari jemarinya dengan ahli memilah pakaian. Ia mengambil terusan bunga-bunga untuk anak perempuan, kemeja flanel untuk remaja laki-laki, hingga tumpukan baju bayi berbahan lembut.
Alessia mengeluarkan kartu banknya dan melakukan transaksi dengan sangat ringan. Nathaniel memperhatikannya dalam diam; meski Alessia membelanjakan jumlah yang fantastis untuk donasi ini, ia tidak pernah terlihat kekurangan uang. Seolah-olah rezeki selalu mengalir deras padanya, berbanding lurus dengan kemurahhatiannya.
Selesai dengan urusan panti asuhan, Alessia menarik lengan kemeja Nathaniel menuju butik desainer favoritnya yang terletak di lantai yang sama. "Sekarang giliranku, Kak. Aku butuh sesuatu yang spesial."
Di dalam butik yang mewah itu, Alessia mulai mencoba beberapa gaun. Nathaniel duduk di sofa beludru, tetap dengan wajah formalnya, memberikan penilaian singkat setiap kali Alessia keluar dari ruang ganti. Hingga akhirnya, Alessia keluar mengenakan sebuah gaun sutra berwarna hitam pekat.
Bagian depannya tampak sangat elegan dan tertutup, namun saat ia berputar, gaun itu memiliki potongan backless yang sangat rendah, mengekspos punggung mulusnya hingga ke batas pinggang.
"Kak, baju ini mau aku pakai di acara malam bulan depan. Bagaimana? Cantik, kan?" tanya Alessia, menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan percaya diri.
Nathaniel tertegun sejenak. Ia meletakkan majalah di tangannya, lalu berdiri dan melangkah mendekat. Auranya mendadak berubah menjadi sangat dominan saat ia berdiri tepat di belakang Alessia. Ia menatap punggung terbuka itu melalui cermin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Siapa bilang boleh memakai ini?" ucap Nathaniel rendah, suaranya terdengar seperti peringatan yang mutlak.
Alessia menoleh sedikit, terkejut dengan nada suara Nathaniel yang tiba-tiba menjadi sangat protektif.
"Kenapa? Ini model terbaru, Kak. Sangat modis untuk acara formal."
Nathaniel menggeleng pelan, tangannya bergerak seolah ingin menutupi kulit yang terekspos itu namun ia menahannya di udara. "Terlalu terbuka. Di acara malam nanti akan banyak orang asing, kolega bisnis, dan pria-pria seperti Noah. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi pusat perhatian karena alasan yang salah."
"Tapi Kak—"
"Cari yang lain, Alessia. Atau aku yang akan memilihkan gaun yang lebih 'manusiawi' untukmu," potong Nathaniel tegas, tidak memberikan ruang untuk negosiasi.
Alessia mengerucutkan bibirnya, namun di dalam hati, ia merasakan sensasi aneh yang hangat. Larangan Nathaniel bukan terasa seperti kekangan, melainkan bentuk penjagaan yang selama ini membuatnya merasa aman di dunia yang keras ini.
———
Suasana panti asuhan yang sederhana itu mendadak riuh dengan tawa anak-anak saat Alessia dan Nathaniel melangkah masuk membawa tumpukan tas belanja. Aroma sabun bayi dan bedak tabur menyeruak, menciptakan atmosfer yang jauh berbeda dari kaku dan dinginnya lantai bursa Sinclair Group.
Pengurus panti, seorang wanita paruh baya dengan gurat wajah keibuan, menyambut mereka dengan pelukan hangat untuk Alessia. Namun, matanya segera tertuju pada sosok jangkung di belakang Alessia yang tampak sedikit kaku namun tetap berwibawa.
"Wah... kali ini tidak sendirian, Alessia? Biasanya kamu datang hanya dengan sopir," goda ibu panti sambil tersenyum penuh arti.
Alessia tertawa renyah, ia menarik lengan kemeja Nathaniel agar maju selangkah. "Ibu... perkenalkan, ini kakak aku. Nathaniel namanya. Dia yang menemaniku belanja dan membawakan semua barang ini hari ini," ujar Alessia dengan nada bangga yang tulus.
Nathaniel hanya bisa mengangguk sopan, memberikan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan di depan umum. "Nathaniel, Bu. Senang bisa berkunjung ke sini."
Acara pembagian pakaian pun dimulai. Nathaniel berdiri di sudut ruangan, memperhatikan bagaimana Alessia bertransformasi total. Tidak ada lagi Direktur Alessia yang tegas atau putri konglomerat yang manja. Yang ada hanyalah seorang wanita dengan hati yang luas.
Ia melihat Alessia berlutut di lantai yang beralaskan tikar, tidak peduli dengan celana kain mahalnya yang mungkin akan kotor. Dengan sabar, ia membantu seorang anak balita mencoba jaket barunya, lalu memeluk seorang remaja putri yang tampak malu-malu menerima gaun pemberiannya.
Senyum terus bermekaran di wajah cantiknya yang anggun. Cahaya sore yang masuk dari jendela panti seolah memberikan aura keemasan pada sosoknya.
Anak-anak kecil berebut untuk duduk di pangkuannya, menarik-narik ujung rambutnya, dan bercerita dengan antusias tentang mimpi-mimpi mereka.
Nathaniel tertegun. Di matanya, Alessia saat ini tampak lebih bersinar daripada saat ia berdiri di atas podium rapat komisaris. Ia adalah definisi wanita sempurna, memiliki ketegasan seorang pemimpin, namun tetap menyimpan kelembutan seorang ibu.
"Kak, sini! Jangan cuma berdiri di situ seperti patung penjaga!" teriak Alessia sambil melambaikan tangan, memecah lamunan Nathaniel. Seorang anak laki-laki kecil tampak bersembunyi di belakang kaki Alessia, menatap Nathaniel dengan rasa ingin tahu.
Nathaniel perlahan mendekat, ia berjongkok di depan anak laki-laki itu dan mengulurkan sebuah kemeja flanel kecil. "Ini untukmu. Mau coba?" tanya Nathaniel dengan suara baritonnya yang entah bagaimana terdengar jauh lebih lembut sekarang.
Alessia menatap Nathaniel dengan binar mata yang hangat. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari sang "Lentera Sinclair" sisi yang tidak hanya melindungi dengan kekuatan, tapi juga dengan kehadiran yang menenangkan.
———
Suasana di dalam mobil mewah itu mendadak sunyi, hanya menyisakan deru mesin yang halus dan hembusan pendingin ruangan yang sejuk. Kelelahan setelah bermain dan tertawa bersama anak-anak panti asuhan rupanya telah menguras tenaga Alessia. Tanpa ia sadari, kepalanya terkulai lunglai, mencari sandaran yang paling kokoh di dekatnya.
Perlahan, Alessia memeluk lengan kiri Nathaniel dengan erat, seolah lengan berbalut kemeja mahal itu adalah guling favoritnya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Nathaniel dengan helaan napas teratur yang hangat, tertidur pulas dalam kenyamanan yang mutlak.
Nathaniel membeku. Tubuhnya mendadak kaku seperti patung, tangannya yang semula hendak membetulkan posisi duduk terhenti di udara. Ia bisa merasakan kelembutan kulit Alessia dan aroma parfum vanila bercampur wangi bayi yang masih tertinggal dari panti asuhan tadi.
Detak jantung Nathaniel berpacu liar, menghantam dadanya dengan ritme yang tidak keruan. Ia mati-matian menahan napas agar bahunya tidak naik-turun terlalu hebat dan mengusik tidur lelap gadis di sampingnya. Pandangannya lurus ke depan, menatap jalanan kota yang mulai dihiasi lampu-lampu malam, namun pikirannya justru melayang jauh.
Ingatannya kembali pada sesi belanja tadi. Bayangan Alessia dalam balutan gaun backless hitam itu muncul kembali tanpa permisi. Jujur saja, dalam hati Nathaniel yang paling dalam, ia mengakui bahwa gaun itu sangat indah, bukan, tepatnya Alessia-lah yang membuat gaun itu menjadi luar biasa. Punggung mulus yang terekspos itu sempat membuatnya kehilangan kata-kata, dan larangan kerasnya tadi sebenarnya adalah bentuk pertahanan diri agar tidak ada mata pria lain yang boleh melihat apa yang menurutnya terlalu berharga untuk dipamerkan.
Nathaniel melirik ke bawah, menatap wajah tenang Alessia yang terlihat begitu polos saat tidur. Rambutnya sedikit menutupi pipi, dan bibirnya sedikit terbuka kecil
"Dasar anak nakal," bisik Nathaniel sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Perlahan dan dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan Alessia, Nathaniel menyandarkan kepalanya sendiri di atas kepala Alessia. Ia membiarkan dirinya menikmati momen singkat ini, momen di mana ia tidak perlu menjadi direktur yang dingin atau penjaga yang waspada, melainkan hanya seorang pria yang ingin melindungi dunianya yang sedang terlelap.
———
Mobil berhenti dengan sangat halus di depan teras kediaman utama Sinclair. William dan Rosetta rupanya sudah berdiri di sana, menanti kepulangan mereka dengan raut wajah yang awalnya sedikit cemas, namun berubah menjadi lembut saat melihat pintu mobil terbuka.
Nathaniel bergerak dengan sangat hati-hati, seolah sedang membawa porselen yang paling rapuh di dunia. Ia menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Alessia, lalu mengangkatnya dalam satu gerakan mantap. Alessia sama sekali tidak terusik; ia justru menggumam pelan dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nathaniel, mencari kehangatan yang lebih dalam.
"Dia sangat kelelahan, Ayah. Tadi dia bermain terlalu bersemangat dengan anak-anak di panti asuhan," bisik Nathaniel rendah saat berpapasan dengan William di depan pintu jati yang besar. "Aku akan bawa dia ke kamarnya dulu."
William hanya mengangguk pelan, memberikan jalan bagi "putra laki-lakinya" itu. Ia menepuk punggung Nathaniel sekilas, sebuah gestur kepercayaan yang tanpa kata.
Rosetta berdiri di samping suaminya, memperhatikan setiap langkah Nathaniel yang menaiki tangga dengan langkah yang sengaja diringankan. Ia melihat bagaimana Nathaniel sedikit merunduk untuk memastikan kepala Alessia tidak terbentur pinggiran pintu, dan bagaimana tatapan pria itu tidak pernah lepas dari wajah lelap putrinya.
Ada ketulusan yang sangat murni di sana, jenis ketulusan yang melampaui sekadar rasa balas budi atau kewajiban profesional. Rosetta bisa merasakan bahwa bagi Nathaniel, menggendong Alessia bukan sekadar tugas seorang pelindung, melainkan sebuah kehormatan yang ia jaga dengan seluruh jiwanya.
"William," bisik Rosetta setelah Nathaniel menghilang di balik tikungan tangga menuju lantai atas. "Lihatlah cara dia menatap Alessia. Tidak ada pria lain di dunia ini yang bisa menjaga putri kita seperti itu."
William menghela napas panjang, senyum tipis terukir di wajahnya yang mulai berkerut. "Aku tahu, Rosetta. Itulah sebabnya aku tidak pernah khawatir jika dia yang ada di sampingnya."
Di dalam kamar, Nathaniel meletakkan Alessia di atas tempat tidur king sizenya yang empuk. Ia melepas sepatu Alessia dengan gerakan yang sangat pelan, lalu menarik selimut hingga sebatas bahu. Nathaniel sempat terdiam beberapa detik di pinggir tempat tidur, menatap wajah polos Alessia yang kini sudah aman di rumahnya.
Ia hampir saja mengulurkan tangan untuk mengusap kening Alessia, namun ia segera menariknya kembali, menyadari batas tak terlihat yang harus tetap ia jaga.