Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Rahasia Vanya Elara
Pagi berikutnya datang dengan cahaya matahari yang terasa terlalu silau bagi mata Sora yang kurang istirahat. Mengikuti saran Hael semalam, Sora tidak menyalakan ponselnya hingga ia selesai membasuh muka dan menyeduh kopi pahit. Ada ketenangan aneh yang menyelimuti bengkel pagi itu—sebuah keheningan yang dipaksakan, seolah-olah Sora sedang berusaha menulikan telinganya dari detak jam yang biasanya terdengar seperti langkah kaki Ezra.
Sora baru saja hendak membuka tirai depan ketika sebuah ketukan ritmis terdengar di pintu kaca. Bukan ketukan berat Hael, bukan pula ketukan ragu pelanggan. Itu adalah ketukan yang tegas dan teratur.
Seorang gadis muda dengan rambut hitam panjang yang dikuncir kuda tinggi berdiri di sana. Ia mengenakan jaket kulit hitam dan membawa kotak biola di punggungnya. Vanya Elara, adik kandung Ezra yang memiliki sorot mata jauh lebih tajam dan dingin daripada kakaknya.
"Aku tahu kamu di dalam, Ra. Buka pintunya," suara Vanya terdengar meredam di balik kaca.
Sora memutar kunci. Begitu pintu terbuka, Vanya melangkah masuk dengan aroma mint yang segar, kontras dengan bau oli dan logam di bengkel itu. Ia langsung meletakkan sebuah kotak kayu berukir di atas meja kerja Sora—tepat di tempat Hael meletakkan roti semalam.
"Kak Ezra sudah sampai di Paris," ucap Vanya tanpa basa-basi. Ia menatap Sora dengan tatapan menyelidik. "Dan aku tahu dia pasti belum meneleponmu."
Sora tertegun, tangannya yang memegang kain lap sedikit gemetar. "Dia... dia mungkin lelah, Vanya. Perjalanan itu sangat jauh."
Vanya mendengus, tawa pendeknya terdengar sarkastik. "Lelah? Dia sedang berpesta di kafe-kafe pinggir jalan dengan Liora. Aku melihat unggahan pribadinya yang tidak dibagikan ke publik. Kak Ezra itu bodoh, Ra. Tapi kamu jauh lebih bodoh karena terus-menerus menjadi perban untuk luka yang sengaja dia sayat sendiri."
Sora terdiam. Ia merasa seolah-olah Vanya sedang menguliti perlindungan terakhirnya. "Kenapa kamu ke sini, Vanya? Hanya untuk mengejekku?"
Vanya menggeleng. Ia mendorong kotak kayu itu ke arah Sora. "Ibu menyuruhku memberikan ini padamu. Ini barang-barang lama Kak Ezra dari gudang rumah. Ibu bilang, daripada berdebu, lebih baik diberikan padamu karena kamu yang paling mengerti sejarahnya."
Sora membuka tutup kotak itu perlahan. Di dalamnya terdapat tumpukan foto-foto lama yang ujungnya sudah menguning, tiket konser orkestra yang sudah pudar, dan sebuah buku harian kecil bersampul kulit. Sora mengambil salah satu foto. Di sana, Ezra remaja sedang merangkul Liora yang mengenakan baju balet. Mereka terlihat begitu serasi, begitu penuh cahaya, seolah-olah dunia memang diciptakan hanya untuk mereka berdua.
"Ada rahasia yang tidak pernah Kak Ezra ceritakan padamu, Sora," suara Vanya merendah, membuat bulu kuduk Sora berdiri.
Sora mendongak, menatap mata Vanya yang kini terlihat penuh simpati yang menyakitkan. "Rahasia apa?"
"Tentang alasan sebenarnya Liora pergi dua tahun lalu," Vanya menghela napas panjang. "Semua orang mengira Liora pergi karena beasiswa balet di Paris. Tapi sebenarnya, Kak Ezra yang memintanya pergi. Dia merasa tidak cukup baik untuk Liora. Dia merasa dunianya yang hanya berisi musik klasik yang kaku tidak akan bisa mengimbangi sayap Liora yang ingin terbang tinggi."
Sora mengerutkan kening. "Lalu? Kenapa sekarang dia mengejarnya?"
"Karena Kak Ezra adalah seorang kolektor penyesalan, sama seperti kamu," jawab Vanya pedas. "Dia ingin membuktikan bahwa sekarang dia sudah sukses, sudah menjadi konduktor besar, dan layak bersanding dengan Liora. Tapi dia lupa satu hal: Liora tidak pernah mencintainya karena kesuksesannya. Liora mencintainya karena Kak Ezra adalah tempatnya bersembunyi dari tekanan dunia balet. Dan sekarang, saat Liora terluka dan karirnya terancam, dia kembali memanggil Kak Ezra hanya untuk dijadikan tongkat penyangga."
Vanya melangkah mendekat, memegang bahu Sora dengan erat. "Jangan menjadi obat saat dia sakit, Ra. Karena aku sangat mengenal kakakku. Saat lukanya sembuh, saat dia merasa sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri, dia akan kembali pada alasannya terluka—yaitu Liora. Dan kamu? Kamu hanya akan ditinggalkan di pinggir jalan seperti kotak obat yang sudah kosong."
Sora merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Informasi ini seperti hantaman godam yang menghancurkan sisa-sisa harapannya. Ezra yang ia kenal adalah pria yang jujur, namun ternyata ada lapisan kerumitan yang tidak pernah ia bagi dengan Sora.
"Kenapa kamu memberitahuku sekarang?" bisik Sora.
"Karena aku melihat Hael Arlo sering memperhatikanmu dari toko sebelah," Vanya melirik ke arah jendela yang menampilkan toko antik Hael. "Hael itu pria yang rusak, tapi dia nyata. Kak Ezra itu indah, tapi dia hanyalah fatamorgana yang kamu ciptakan sendiri di kepalamu. Berhentilah membaca sejarah mereka, Sora. Mulailah menulis sejarahmu sendiri."
Vanya mengambil kembali kotak biolanya, bersiap pergi. "Simpan kotak kayu itu. Di dalamnya ada surat-surat Liora untuk Kak Ezra yang tidak pernah dikirim. Baca itu, dan kamu akan sadar bahwa di dalam 'Dunia Mereka', tidak pernah ada ruang untuk orang ketiga seperti kita."
Setelah Vanya pergi, Sora terduduk lemas di kursinya. Ia menatap kotak kayu itu dengan perasaan ngeri sekaligus penasaran. Detak jam di sekelilingnya kini terdengar seperti detak bom waktu.
Tangannya meraih buku harian kecil di dalam kotak. Saat ia membukanya, sebuah foto jatuh ke lantai. Bukan foto Ezra dan Liora, melainkan foto Sora sendiri. Sebuah foto candid yang diambil dari jauh saat Sora sedang serius memperbaiki jam tangan pertama yang pernah Ezra bawa ke bengkel ini bertahun-tahun lalu. Di balik foto itu, ada tulisan tangan Ezra yang berantakan: "Gadis yang memberikan waktu kembali padaku."
Sora menangis sesenggukan. Foto itu membuktikan bahwa Ezra memang melihatnya, tapi hanya sebatas itu—sebagai seseorang yang memberikan waktu, bukan seseorang yang ia ajak menghabiskan waktu bersama.
Di saat yang sama, lonceng pintu bengkel berdenting lagi. Sora tidak mendongak, ia yakin itu hanya pelanggan lain atau mungkin Hael yang ingin mengejeknya lagi. Namun, ia salah. Sebuah aroma parfum yang sangat kuat—bukan kayu manis, melainkan aroma bunga lili yang tajam dan mewah—memenuhi ruangan.
Sora mendongak dan matanya membelalak. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita anggun dengan kruk di lengannya dan perban di pergelangan kakinya. Wajahnya yang cantik bak porselen tampak pucat namun tetap memukau.
Itu Liora Thalassa.
"Jadi, kamu yang namanya Sora?" suara Liora terdengar lembut namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah. "Ezra sering menceritakanmu di Paris. Dia bilang, kamu adalah satu-satunya alasan dia masih bisa pulang ke kota ini."
Dunia Sora runtuh untuk kedua kalinya dalam satu hari. Liora ada di sini. Di bengkelnya. Di saat Ezra seharusnya bersamanya di Paris.