NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Minggu pagi di kediaman keluarga Widanata seharusnya menjadi hari yang tenang bagi Alisa. Namun, udara di ruang tamu saat itu terasa lebih berat daripada malam-malam jaga di unit gawat darurat. Acara pertunangan yang baru saja selesai beberapa jam yang lalu menyisakan tumpukan hantaran dan aroma bunga melati yang menyengat, namun bukan itu yang membuat jantung Alisa berdegup kencang.

Di hadapannya, Bunda Ratna duduk berdampingan dengan Mama Sari dan Papa Hendra. Vino berdiri di sudut ruangan, menyandarkan bahunya pada dinding dengan tangan bersedekap, wajahnya sedatar papan pengumuman kepolisian namun matanya memancarkan ketidaksetujuan yang tertahan.

"Tiga hari?" suara Alisa memecah keheningan, nada bicaranya sedikit melengking karena terkejut. "Bunda, kita baru saja bertunangan tadi siang. Kenapa tiba-tiba pernikahannya jadi hari Rabu?"

Papa Hendra berdehem, suaranya terdengar penuh otoritas namun ada nada kelelahan di sana. "Vino akan segera ditugaskan untuk operasi besar di luar kota dalam waktu dekat. Kabar dari satuannya menyebutkan kemungkinan dia akan pergi cukup lama. Kami tidak ingin menunda lagi. Lebih cepat lebih baik, agar Alisa sudah resmi memiliki pelindung sebelum Vino berangkat."

"Tapi Pa," Vino menyela, suaranya rendah dan tajam. "Persiapan administrasi di kantor saja belum selesai. Belum lagi urusan katering dan gedung. Tiga hari itu mustahil."

Mama Sari tersenyum menenangkan, meskipun matanya berkaca-kaca saat menatap putra sulungnya. "Urusan administrasi sudah Papa bantu urus lewat koneksi lamanya di Mabes. Soal resepsi, kita tidak perlu pesta besar sekarang. Cukup akad nikah di masjid dan syukuran sederhana di rumah ini. Yang penting sah di mata agama dan negara, Vino. Mama... mama hanya ingin melihat kalian bersatu secepatnya."

Alisa menoleh ke arah bundanya, mencari pembelaan. Namun, Bunda Ratna justru menggenggam tangan Alisa dengan erat. "Alisa, Bunda sudah bicara panjang lebar dengan Jeng Sari. Kesehatan Pak Hendra juga sedang tidak stabil. Beliau ingin sekali melihat kamu dan Davino menikah sebelum beliau menjalani pengobatan intensif berikutnya. Tolong, Nak... lakukan ini untuk kami."

Alisa merasa seolah seluruh oksigen di ruangan itu tersedot keluar. Ia menatap Vino, berharap pria itu akan mengeluarkan argumen logis yang bisa membatalkan kegilaan ini. Namun, saat mata mereka bertemu, Alisa melihat sesuatu yang berbeda di mata Vino. Ada amarah, tapi ada juga kepasrahan yang mendalam. Vino tahu ia tidak bisa melawan keinginan ayahnya yang sedang sakit.

"Baiklah," gumam Vino akhirnya. Suaranya terdengar seperti vonis mati bagi Alisa. "Jika itu yang kalian inginkan. Rabu pagi, kita lakukan."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Vino melangkah keluar menuju teras, meninggalkan keramaian rencana yang mulai disusun oleh para ibu. Alisa mengikuti langkahnya, mengabaikan panggilan Bunda Ratna.

"Mas!" panggil Alisa saat mereka sampai di teras samping.

Vino berhenti, namun tidak berbalik. Punggungnya yang lebar tampak tegang di bawah sorot lampu taman. "Apa lagi, Alisa? Semuanya sudah diputuskan."

"Mas gila? Tiga hari? Aku punya jadwal operasi, aku punya pasien, aku... aku belum siap secara mental!" Alisa berdiri di depan Vino, menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas bilang kita punya waktu satu tahun untuk mencoba. Bagaimana kita bisa mencoba kalau semuanya dipaksakan seperti ini?"

Vino berbalik, menatap Alisa dengan tatapan dingin yang menusuk. "Kamu pikir aku siap? Kamu pikir aku ingin mengikat diriku denganmu secepat ini?" ia maju satu langkah, membuat Alisa terpaksa mundur hingga punggungnya menyentuh pilar teras. "Dengar, Dokter Alisa. Ayahku sedang sakit. Jika melihat kita menikah adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya tenang menghadapi operasinya bulan depan, maka aku akan melakukannya. Meskipun itu artinya aku harus mengurung diriku dalam pernikahan ini tiga hari lagi."

Alisa terdiam. Rasa bersalah mulai menggerogoti kemarahannya. Ia tahu betapa besarnya arti Papa Hendra bagi keluarganya, dan ia juga tahu betapa sayangnya Bunda Ratna pada almarhum ayahnya yang merupakan sahabat Bapak Hendra.

"Lalu bagaimana dengan kesepakatan kita?" bisik Alisa. "Satu tahun itu... apa masih berlaku?"

Vino menatap cincin yang melingkar di jari Alisa—cincin yang baru saja ia pasangkan beberapa jam lalu. "Masih. Satu tahun tetap satu tahun. Mulai Rabu besok, jam berdetak untuk kita. Setelah itu, kamu bebas kembali ke pria pengecutmu itu, dan aku bebas kembali ke hidupku sendiri."

Vino pergi begitu saja, meninggalkan Alisa yang merosot duduk di kursi rotan. Ia mengambil ponselnya, berniat menghubungi Fani, namun sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal masuk ke layar ponselnya.

Sebuah foto.

Alisa membuka pesan itu dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu adalah foto Vino yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik semak-semak di depan rumahnya saat ini. Di bawah foto itu ada tulisan: "Jangan terlalu dekat dengan malaikat maut, Dokter Cantik. Dia membawa sial bagi siapapun yang ada di dekatnya."

Tangan Alisa gemetar. Ia menoleh ke arah gerbang, namun hanya ada kegelapan malam Jakarta yang sunyi. Siapa yang mengirim ini? Apa hubungannya dengan masa lalu Vino?

Dua hari berikutnya adalah pusaran kekacauan yang terorganisir. Alisa merasa seperti robot. Ia pergi ke rumah sakit, mengurus cuti darurat yang membuat kepala departemennya mengerutkan kening, lalu pulang untuk mencoba kebaya putih sederhana yang disiapkan dalam waktu semalam.

Fani datang ke rumahnya setiap malam, membawa makanan dan mencoba menghibur. "Al, aku tahu ini gila. Tapi lihat sisi baiknya. Kamu tidak perlu pusing memikirkan persiapan berbulan-bulan yang melelahkan. Sekali jalan, selesai."

"Ini bukan soal persiapan, Fan," sahut Alisa sambil menatap kebaya putih yang tergantung di pintu lemarinya. "Ini soal aku yang akan tidur di ranjang yang sama dengan pria yang bahkan tidak mau menyebutkan hobinya padaku. Pria yang diikuti oleh bayang-bayang misterius."

Alisa menceritakan soal pesan misterius itu pada Fani. Sahabatnya itu terdiam cukup lama. "Al, kamu harus beritahu Vino. Dia polisi, dia bisa melacak siapa pengirimnya."

"Aku tidak mau menambah beban, Fan. Dia sedang sibuk mengurus mutasi tugasnya dan izin cuti nikah yang super singkat itu. Kalau aku beritahu sekarang, dia pasti akan semakin dingin dan menganggapku pembawa masalah," jawab Alisa lesu.

Sementara itu, di markas Polda, Vino sedang berada di ruang interogasi, menatap seorang informan dengan tatapan yang bisa membekukan darah.

"Siapa yang memerintahkan pengintaian itu?" tanya Vino, suaranya pelan namun penuh ancaman.

"Saya tidak tahu namanya, Komandan. Tapi dia menyebut-nyebut soal 'kejadian di gudang tiga tahun lalu'. Dia bilang dia ingin Anda merasakan kehilangan yang sama seperti yang dia rasakan," jawab informan itu gemetar.

Vino mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Bayangan ledakan itu kembali muncul. Rekan kerjanya—wanita yang seharusnya menjadi istrinya—tewas dalam pelukannya saat itu. Dan sekarang, monster dari masa lalu itu kembali, tepat saat ia akan menikahi Alisa.

Vino keluar dari ruang interogasi dan mendapati Maura menunggunya di lorong. "Abang, kenapa wajahmu seperti mau membunuh orang? Besok itu hari pernikahanmu, lho."

"Maura, aku ingin kamu dan Mama tetap di rumah saja malam ini. Jangan keluar tanpa pengawalan rekan-rekanku," perintah Vino tanpa basa-basi.

"Bang? Ada apa? Apa ada hubungannya dengan kasus itu lagi?" wajah Maura berubah cemas. Sebagai mahasiswi keperawatan, ia cukup peka dengan ketegangan fisik kakaknya.

"Lakukan saja apa yang kukatakan," Vino mengacak rambut adiknya sejenak—satu-satunya gestur kasih sayang yang ia miliki—lalu melangkah pergi.

Vino mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Alisa. Ia ragu sejenak, lalu menghapusnya. Ia tidak boleh membuat Alisa panik. Tapi ia bersumpah, siapapun yang berani menyentuh gadis itu, akan berhadapan dengan kemarahannya yang paling gelap.

Rabu pagi tiba dengan kabut tipis yang menyelimuti Jakarta. Sebuah masjid kecil di dekat rumah Alisa telah dihias dengan bunga-bunga putih segar. Tidak ada karpet merah mewah, tidak ada ribuan undangan. Hanya ada keluarga inti dan beberapa sahabat dekat.

Alisa berdiri di depan cermin, menatap dirinya yang terbalut kebaya putih suci. Wajahnya dipulas riasan natural, membuatnya tampak sangat cantik namun sekaligus rapuh. Bunda Ratna masuk ke kamar, matanya sembap karena tangis bahagia.

"Alisa, anakku sayang... Ayahmu pasti bangga melihatmu hari ini," bisik Bunda Ratna sambil memeluk bahu Alisa. "Jadilah istri yang baik bagi Davino. Dia pria yang kuat, dia akan melindungimu."

Alisa hanya bisa mengangguk, meskipun hatinya berteriak bahwa perlindungan adalah hal terakhir yang ia rasakan saat ini. Ia merasa seperti domba yang sedang dibawa ke altar pengorbanan.

Saat ia melangkah masuk ke dalam masjid, matanya langsung tertuju pada sosok pria yang duduk di depan penghulu. Vino mengenakan beskap putih dengan peci senada. Punggungnya tampak sangat tegak, sangat kokoh. Saat Alisa duduk di sampingnya, ia mencium aroma parfum maskulin yang sama dengan malam di supermarket itu.

Vino menoleh sedikit, menatap Alisa. Untuk pertama kalinya, Alisa melihat ada secercah kekaguman di mata pria itu, meski hanya sekejap sebelum kembali menjadi dingin.

Prosesi akad nikah dimulai. Papa Hendra bertindak sebagai saksi dengan wajah yang dipenuhi air mata syukur. Suara penghulu terdengar berat dan sakral di dalam keheningan masjid.

"Saya terima nikah dan kawinnya Alisa Widanata binti Surya Widanata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

Suara Vino menggelegar, mantap, tanpa keraguan sedikit pun. Hanya dalam satu tarikan napas, status mereka berubah selamanya.

"Sah?"

"Sah!"

Doa-doa pun dipanjatkan. Alisa merasakan tangannya dingin saat Vino meraih jemarinya untuk dipasangkan cincin pernikahan. Saat Alisa mencium punggung tangan Vino, ia merasakan kekasaran kulit pria itu—kulit seorang pekerja keras, seorang pelindung. Dan saat Vino mengecup dahi Alisa, kecupan itu terasa singkat namun sangat panas, meninggalkan jejak yang membekas di kulit Alisa.

"Selamat, Dokter Alisa. Misi dimulai," bisik Vino tepat di telinga Alisa saat mereka berdiri untuk bersalaman dengan tamu.

Alisa mendongak, menatap suaminya. "Aku harap Mas tidak menyesal."

"Aku tidak pernah menyesal atas keputusanku," jawab Vino datar.

Acara syukuran sederhana berlangsung di rumah Alisa. Namun, di tengah keriuhan itu, Vino tampak gelisah. Ia terus-menerus memeriksa ponselnya dan menatap ke arah pintu keluar.

"Ada apa, Bang?" bisik Maura yang memperhatikannya sejak tadi.

"Tidak ada apa-apa. Jaga Mama," jawab Vino singkat.

Saat malam mulai larut dan para tamu pulang, suasana rumah menjadi sunyi. Bunda Ratna sudah masuk ke kamarnya, menyisakan Alisa dan Vino di ruang tengah.

"Barang-barangmu sudah dipindahkan ke rumahku tadi siang oleh anak buahku," kata Vino sambil melepas pecinya. "Kita akan tinggal di rumah dinas yang baru aku ambil di dekat Polda. Lebih aman di sana."

"Malam ini?" tanya Alisa ragu.

"Malam ini. Ayo berangkat. Aku tidak ingin kita berada di sini terlalu lama," perintah Vino.

Alisa mengernyitkan dahi. "Kenapa Mas terburu-buru sekali? Mas menyembunyikan sesuatu?"

Vino menatap Alisa dengan intensitas yang membuat Alisa menahan napas. "Jakarta tidak pernah aman, Alisa. Dan sekarang, kamu adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Kamu tidak punya pilihan selain mempercayaiku."

Saat mereka melangkah keluar menuju mobil jip hitam milik Vino, Alisa melirik ke arah ponselnya yang menyala di dalam tas. Sebuah pesan baru masuk dari nomor misterius itu.

"Selamat atas pernikahannya. Nikmati malam pertamamu, karena mungkin itu akan menjadi malam terakhir yang tenang bagi kalian berdua."

Alisa menggenggam tali tasnya dengan erat. Ia menatap punggung suaminya yang sedang membukakan pintu mobil untuknya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana, tapi satu hal yang ia sadari: takdir memang baru saja memulai permainannya yang sesungguhnya. Dan kali ini, taruhannya bukan hanya hati, tapi juga nyawa mereka.

Mobil jip itu melesat meninggalkan rumah masa kecil Alisa, menuju sebuah hunian baru yang akan menjadi saksi bisu perjuangan dua jiwa yang terpaksa bersatu di tengah badai masa lalu yang mulai menerjang.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!