Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat Liana
Liana berdiri di balik pintu kayu jati ruangan Morgan, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena adrenalin balas dendam yang mendidih di pembuluh darahnya. Ucapan Morgan di kelas tadi—bahwa dia hanyalah mahasiswi yang menggunakan mulut ketimbang otak—adalah penghinaan yang tidak bisa dimaafkan.
"Kau pikir kau robot tanpa nafsu, Morgan?" bisik Liana pada bayangannya di pantulan kaca pintu. "Mari kita lihat seberapa kuat pertahanan 'Dewa Ekonomi' ini jika dihadapkan pada godaan yang nyata."
Liana menarik napas panjang, sengaja mengacak sedikit rambutnya agar terlihat berantakan secara estetis. Dengan jemari gemetar namun mantap, ia menarik paksa kancing kedua dari kemeja ketatnya hingga terlepas dan jatuh ke lantai lorong dengan bunyi tik yang halus. Ia memastikan kerah kemejanya terbuka cukup lebar, menampakkan tulang selangkanya yang jenjang dan kontras dengan kulit putihnya.
Setelah merasa penampilannya cukup "berantakan" dan provokatif, Liana mendorong pintu ruangan Morgan tanpa mengetuk.
Cklek.
Morgan sedang duduk di balik meja besarnya, kacamata bacanya bertengger di pangkal hidung. Pria itu tampak sangat fokus pada tumpukan esai di depannya. Aroma kopi hitam dan wangi maskulin yang kaku kembali menyambut Liana. Begitu pintu terbuka, Morgan tidak langsung mendongak. Ia hanya menggerakkan pulpennya, memberikan tanda tangan cepat pada sebuah dokumen sebelum akhirnya mengangkat pandangan.
"Sepuluh ribu kata itu tidak akan selesai jika kau terus mondar-mandir di kantor dosen, Liana," ucap Morgan datar. Namun, kalimatnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan di depannya.
Liana berdiri di sana dengan wajah yang sengaja dibuat layu, matanya berkaca-kaca seolah-olah ia baru saja mengalami kejadian traumatis. Ia memegang bagian depan kemejanya yang terbuka dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya pura-pura gemetar menyentuh lehernya.
"Pak ... Pak Morgan," suara Liana mendadak serak, penuh nada manja yang dibuat-buat. Ia melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya dengan perlahan, sengaja mengunci slot pintu dengan bunyi klik yang jelas. "Seseorang ... seseorang tadi mencoba menarikku di koridor. Lihat, kancing bajuku sampai lepas. Aku ... aku sangat takut."
Morgan melepaskan kacamata bacanya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, matanya yang tajam menyapu penampilan Liana dari ujung kepala hingga kemejanya yang tersingkap. Liana bisa merasakan tatapan itu. Ia sengaja memajukan tubuhnya, menumpukan tangan di meja Morgan sehingga belahan dadanya sedikit lebih terekspos di bawah lampu ruangan yang remang.
"Benarkah?" tanya Morgan pelan. Ia meletakkan kacamatanya di atas meja dengan posisi yang sangat simetris. "Di koridor mana? Fakultas ini dipenuhi CCTV di setiap sudutnya. Sebutkan lokasinya, dan aku akan memanggil bagian keamanan untuk memeriksa rekamannya sekarang juga."
Liana tersedak sejenak, namun ia segera menguasai diri. Ia berjalan memutar ke sisi meja Morgan, memperkecil jarak hingga ia bisa mencium aroma sabun cukur Morgan yang dingin. "Aku tidak ingat, Pak ... kepalaku pusing sekali. Napas saya sesak ... bolehkah saya duduk di sini sebentar? Mungkin Bapak bisa membantu saya merapikan baju ini? Tangan saya sangat lemas untuk memegang kerahnya."
Liana sengaja melepaskan pegangan tangannya pada kemeja itu, membiarkan kain tipis tersebut tersingkap lebih lebar. Ia menatap bibir Morgan, menunggu reaksi pria itu. Ia membayangkan Morgan akan menelan ludah, atau setidaknya matanya akan goyah. Ia ingin melihat Morgan kehilangan kendali profesionalnya dan menyentuhnya, sehingga ia punya kartu as untuk mengancam Morgan di depan Liam.
Namun, Morgan justru melakukan sesuatu yang sama sekali tidak ada dalam skenario Liana.
Morgan meraih gagang telepon kabel di mejanya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah sedang memesan makan siang. Ia menekan tiga angka kode internal kantor.
"Halo, Bagian Keamanan? Ini Morgan Bruggman dari Ruang 405," ucap Morgan, matanya tetap menatap Liana lurus-lurus, namun tatapan itu bukan tatapan penuh nafsu, melainkan tatapan seorang dokter yang sedang melihat pasien gangguan jiwa. "Tolong kirimkan satu personel satpam pria dan satu staf medis wanita ke ruangan saya sekarang. Segera."
Liana terbelalak. "Apa? Staf medis? Morgan, apa yang kau lakukan?!"
"Bawa juga oksigen portabel dan tandu jika perlu," lanjut Morgan ke telepon, mengabaikan protes Liana. "Ada seorang mahasiswi di ruangan saya yang mengalami gejala syok berat, disorientasi lokasi, dan kehilangan fungsi motorik pada tangannya hingga ia tidak mampu mengancingkan bajunya sendiri. Ini darurat medis."
Morgan menutup teleponnya. Ia bangkit dari kursi, namun bukannya mendekati Liana, ia justru berjalan menuju jendela besar di belakangnya, membuka tirai hingga cahaya matahari sore yang terang benderang menyinari ruangan itu, mengekspos setiap detail akting Liana.
"Morgan! Aku tidak butuh satpam! Aku hanya butuh kau untuk—"
"Kau butuh pertolongan profesional, Liana," Morgan berbalik, menyilangkan tangan di depan dada dengan wibawa yang tak tergoyahkan. "Jika kau benar-benar diserang, itu adalah tindak kriminal. Jika kau hanya merasa lemas dan sesak napas tanpa alasan, itu adalah gejala medis. Sebagai suamimu di apartemen, aku mungkin bisa memaklumi dramamu. Tapi di sini, aku adalah atasan di fakultas ini. Aku tidak akan membiarkan ada mahasiswi yang 'sakit' di ruanganku tanpa prosedur yang benar."
Tok! Tok! Tok!
"Keamanan! Pak Morgan, kami masuk!"
Pintu ruangan itu digedor dari luar. Karena terkunci, Morgan berjalan santai menuju pintu. Ia membukanya dan mempersilakan seorang satpam bertubuh besar dan seorang perawat dari klinik kampus masuk.
"Itu orangnya," Morgan menunjuk Liana dengan ujung dagunya, ekspresinya sangat formal. "Tolong berikan bantuan medis segera. Dia mengaku kancing bajunya lepas karena serangan di koridor, tapi dia lupa lokasinya. Tolong diperiksa apakah ada luka fisik atau tanda-tanda trauma psikis yang membuatnya tidak bisa berpakaian dengan rapi."
Liana berdiri mematung, wajahnya memerah padam karena malu yang luar biasa. Perawat wanita itu segera menghampiri Liana dengan wajah khawatir, mencoba menutupi dada Liana dengan kain putih yang ia bawa.
"Mari, Dek, ikut ke klinik. Biar kami periksa ya," ucap perawat itu sambil memegang bahu Liana.
"Aku tidak apa-apa! Lepaskan!" Liana mencoba berontak, namun satpam besar itu berdiri menghalangi jalannya dengan wajah serius.
"Sesuai instruksi Pak Morgan, kami harus memastikan keselamatan Anda, Mbak. Kalau benar ada pelecehan di koridor, kami harus buat laporan berita acara," ucap satpam itu tegas.
Liana menatap Morgan dengan tatapan yang bisa membunuh. Morgan hanya berdiri di samping mejanya, kembali mengenakan kacamata bacanya dan meraih pulpennya seolah-olah gangguan barusan hanyalah seekor lalat yang numpang lewat.
"Liana," Morgan bersuara tanpa mendongak dari kertasnya. "Jangan lupa sampaikan pada staf medis jika kepalamu masih pusing. Dan untuk kancing bajumu ... aku akan meminta staf keamanan mencari kancing yang hilang itu di koridor melalui CCTV. Jika mereka tidak menemukannya, aku akan berasumsi kau sengaja merusaknya untuk mendapatkan perhatian medis. Dan itu akan berujung pada sanksi disiplin karena memalsukan keadaan darurat."
Liana menggertakkan gigi begitu keras hingga rahangnya sakit. Ia tidak punya pilihan selain mengikuti perawat itu keluar ruangan di bawah tatapan penasaran beberapa staf dosen lain yang lewat di lorong. Rencana "godaan maut"-nya hancur total, berubah menjadi lelucon medis yang memalukan.
Begitu pintu tertutup, Morgan meletakkan pulpennya. Ia menghela napas panjang yang sangat berat, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Tangannya yang tadi terlihat sangat stabil, kini sedikit gemetar. Ia tidak sedingin yang terlihat. Namun, ia tahu, sekali saja ia memberikan celah pada manipulasi Liana, ia akan kehilangan kendali untuk selamanya.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kancing kecil berwarna putih yang tadi ia ambil dari lantai lorong sebelum Liana masuk. Morgan menatap kancing itu, lalu menyimpannya di dalam laci mejanya yang paling dalam, menguncinya rapat-rapat.