Lyra Aldebaran hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan pertunangannya. Namun satu malam di klub hotel mewah mempertemukannya dengan pria yang tidak seharusnya ia kenal.
Darius Baskara, Pria dingin dan berbahaya yang menguasai dunia gelap kota. Sebuah kejadian membuat mereka terjebak bersama sepanjang malam. Lyra mengira semuanya akan berakhir saat pagi datang. Ia salah,Karena bagi seorang mafia seperti Darius Baskara, sekali ia menginginkan sesuatu, ia tidak akan pernah melepaskannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Andreina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Yang Berbeda
Cahaya matahari pagi perlahan masuk melalui tirai besar suite hotel itu, Hujan malam tadi sudah berhenti. Kota di luar jendela terlihat tenang, seolah tidak pernah terjadi kekacauan di malam sebelumnya, Namun di dalam kamar itu, segalanya terasa berbeda, Lyra terbangun perlahan.
Kepalanya sedikit berat. Ingatan tentang malam tadi datang bertahap klub malam, tembakan, pria misterius bernama Darius dan momen-momen yang membuat jantungnya sekarang berdetak tidak menentu. Ia menatap langit-langit kamar beberapa detik sebelum akhirnya menyadari sesuatu. Ia tidak sendirian.
Lyra menoleh perlahan, Di sampingnya, Darius Baskara masih tertidur setengah bersandar di bantal. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan malam tadi. Tanpa aura dingin dan tajam itu, pria tersebut terlihat hampir damai, Lyra langsung bangkit duduk.
Selimut bergerak sedikit, dan saat itulah matanya menangkap sesuatu di atas sprei putih, Noda merah kecil, Ia membeku. Pipi Lyra langsung memerah.
Ingatan tentang malam tadi kembali muncul dengan lebih jelas sekarang.
"Astaga…" bisiknya pelan.
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Namun di saat yang sama, Darius perlahan membuka matanya, Tatapan gelapnya langsung jatuh pada wanita yang duduk di sampingnya, Beberapa detik ia hanya memperhatikan Lyra dalam diam. Rambut panjang wanita itu sedikit berantakan oleh tidur. Wajahnya terlihat canggung dan gugup. Berbeda sekali dengan wanita berani yang ia temui di bar semalam. kemudian pandangan Darius turun ke sprei di antara mereka, Dan ia melihatnya.
Noda kecil itu, Darius terdiam untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, sesuatu yang tidak ia duga muncul di dalam dirinya, Perasaan hangat, Perasaan yang tidak biasa bagi seorang pria yang hidup di dunia keras seperti dirinya, Ia kembali menatap Lyra.
"Wajahmu memerah," katanya pelan.
Lyra langsung menoleh."Kau… sudah bangun?"
"Sepertinya begitu."
Lyra terlihat semakin gugup sekarang, Ia mencoba bangkit dari ranjang, namun Darius lebih cepat.
Tangannya menangkap pergelangan tangan Lyra dengan lembut"Lyra."
Wanita itu berhenti bergerak, Tatapan mereka bertemu. Biasanya Darius dikenal sebagai pria dingin yang sulit ditebak.l,Namun kali ini tatapannya berbeda, Lebih dalam, Lebih lembut dari biasanya.
"Ini pertama kalinya?" tanyanya rendah.
Lyra langsung menunduk, Ia tidak menjawab. Namun keheningan itu sudah menjadi jawaban yang cukup jelas. Darius menatapnya beberapa detik lagi. Entah kenapa dadanya terasa lebih berat, wanita ini masuk ke dalam hidupnya hanya dalam satu malam yang kacau dan sekarang semuanya terasa berbeda. Ia melepaskan tangan Lyra perlahan.
"Kau tidak perlu panik," katanya tenang.
Lyra menatapnya lagi, sedikit terkejut dengan nada suara pria itu"Tapi aku..."
"Lyra."Darius menyebut namanya dengan pelan namun tegas."Malam tadi bukan sesuatu yang akan aku abaikan."
Kalimat itu membuat jantung Lyra berdetak lebih cepat, Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Karena pria di depannya ini masih misterius, Masih berbahaya, Namun sekarang.ia juga pria yang berbagi malam yang tidak akan pernah ia lupakan.
Di luar kamar, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar di koridor suite.
Darius langsung berubah, Tatapannya kembali tajam.
Aura mafia yang dingin itu kembali muncul seketika.
Seseorang mengetuk pintu.
"Darius, ini aku." Suara seorang pria terdengar dari luar.
Darius berdiri dari ranjang, Wajahnya sekarang kembali serius, Ia menoleh pada Lyra sekali lagi.
"Tetap di sini."
Lyra menatapnya bingung.
"Kenapa?"
Darius mengambil celana panjangnya yang tergeletak di kursi dan memakainya dengan cepat.
"Laki-laki yang menyerang semalam…"
ia berhenti sejenak
"...mereka belum menyerah."
Lyra membeku tiba-tiba ia sadar satu hal malam mereka mungkin sudah berakhir, namun masalah yang mengikutinya baru saja dimulai.
Ketukan di pintu terdengar lagi, Kali ini lebih tegas.
Darius berjalan menuju pintu suite dengan langkah tenang, meskipun pikirannya sudah kembali tajam seperti biasa. Aura dingin yang selalu melekat padanya kini sepenuhnya kembali.
Ia membuka pintu, Seorang pria tinggi dengan jas hitam berdiri di sana. Wajahnya serius, bahkan sedikit tegang.
"Leon," kata Darius singkat"Masuk."
Pria itu melangkah masuk ke dalam suite, lalu menutup pintu di belakangnya "Situasinya tidak bagus," katanya langsung.
Darius bersandar sedikit pada meja dekat pintu.
"Bicaralah."
Leon menarik napas pelan"Orang-orang Victor Mahesa masih berada di hotel ini."
Nama itu membuat mata Darius menyipit, Victor Mahesa. Salah satu musuh lamanya di dunia bawah tanah kota ini."Berapa orang?" tanya Darius.
"Setidaknya enam. Mereka menyebar di beberapa lantai."
Darius mengangguk pelan, seolah informasi itu bukan sesuatu yang mengejutkan, Namun Leon kemudian menambahkan sesuatu"Dan mereka sudah tahu."
"Tahu apa?"
Leon menatap ke arah kamar tidur yang pintunya sedikit terbuka"Bahwa ada seorang wanita bersamamu semalam."
Suasana di ruangan itu langsung berubah,.Tatapan Darius menjadi jauh lebih gelap"Siapa yang melihatnya?"
"Salah satu bartender klub."
Beberapa detik ruangan itu dipenuhi keheningan.
Kemudian Darius berkata dengan suara yang sangat dingin."Pastikan bartender itu tidak bicara lagi."
Leon mengangguk"Sudah diurus." Namun masalahnya bukan hanya itu "Victor mengira wanita itu penting bagimu."
Darius tersenyum tipis, Senyum yang tidak hangat sama sekali"Dia terlalu banyak berasumsi."
saat itu juga pintu kamar perlahan terbuka. Lyra keluar dari kamar dengan langkah hati-hati, Ia masih mengenakan kemeja putih milik Darius yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Rambut panjangnya jatuh berantakan di bahu. Leon langsung terdiam ketika melihatnya, Wanita itu jelas bukan bagian dari dunia mereka, Terlalu lembut, Terlalu bersih. Lyra juga langsung menyadari kehadiran pria asing di ruangan itu.
"Maaf…" katanya pelan.
"Aku tidak tahu ada orang lain."
Leon menatap Darius sebentar, lalu kembali menatap Lyra, Jujur saja, sekarang ia mengerti kenapa bosnya tidak mengusir wanita ini sejak semalam, Namun Darius berjalan mendekat ke arah Lyra, Gerakannya tenang, tapi penuh kepemilikan.
"Ini Leon," katanya singkat"Salah satu orang kepercayaanku."
Lyra mengangguk sedikit.
"Halo."
Leon juga mengangguk hormat,.Namun suasana tetap terasa tegang, Lyra bisa merasakannya.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
Darius menatapnya beberapa detik, Ia sebenarnya tidak ingin wanita ini masuk lebih jauh ke dalam masalahnya, Namun sekarang sudah terlambat.
"Lyra."Nada suaranya berubah lebih serius"Wanita yang terlihat bersamaku… biasanya dianggap sebagai target."
Lyra membeku"Apa?"
Leon menyilangkan tangan.
"Musuh bosku mungkin berpikir kamu penting."
Lyra mengerjapkan mata beberapa kali.
"Tapi aku bahkan baru mengenalnya semalam!"
"Itu tidak penting bagi mereka," jawab Leon.
Keheningan kembali memenuhi ruangan,.Lyra perlahan menatap Darius"Kau bercanda… kan?"
Namun pria itu tidak terlihat bercanda sama sekali.
Justru tatapannya semakin tajam, Darius kemudian mengangkat tangan dan menyentuh dagu Lyra dengan lembut, membuat wanita itu menatapnya langsung.
"Mulai hari ini," katanya rendah "Jika kau berada di dekatku…"ia berhenti sejenak"...kau berada di dalam duniaku."
Jantung Lyra berdetak cepat, Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah hanya. karena satu malam di klub, Namun sekarang ia sudah terlalu jauh terlibat, dan yang lebih mengejutkan Darius tidak terlihat berniat menjauhkan dirinya Justru sebaliknya. Tatapan pria itu sekarang hanya tertuju padanya, Seolah Lyra adalah sesuatu yang tidak ingin ia lepaskan.