Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bantuan
Setelah makan malam selesai dan orang tua mereka pergi, Xander langsung mendekati kakaknya untuk meminta hadiah.
“Kak, aku tadi keren banget kan? Keren kan?”
Baru saja ia menggoyangkan ekornya sebentar, sesuatu langsung meluncur ke arahnya.
Xander menangkapnya dengan cepat.
“Apa ini?”
Saat ia melihat dengan jelas, matanya langsung membesar.
Itu sebuah kunci.
Kunci mobil sport Bugatti edisi terbatas ulang tahun ke-100 yang sudah lama ia incar. Di seluruh dunia hanya ada satu.
“Ahhh! Sayangku!” Xander langsung memeluk kunci mobil itu dan menciumnya berkali-kali.
“Kak, aku cinta kamu!”
Padahal sebelumnya ia sudah memohon berkali-kali tapi kakaknya tidak pernah memberikannya. Siapa sangka hanya dengan beberapa kalimat di depan orang tua mereka, kakaknya langsung memberikannya.
Ternyata posisi Jenna di hati kakaknya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Namun semakin ia memikirkan hal itu, semakin ia merasa khawatir.
“Ngomong-ngomong, Kak. kamu yakin orangnya Jenna? kamu bukan cuma main-main kan? kamu benar-benar mau nikah sama dia?”
“Nikah.”
Nada suara Marco tidak menyisakan ruang untuk salah paham.
Xander menarik napas dalam-dalam. Dengan nada serius seperti seseorang yang sangat berpengalaman dalam hubungan, ia berkata,
“Kalau begitu aku harus kasih tahu kamu sesuatu. Mengejar perempuan itu seperti bermain game. Ada beberapa tingkat kesulitan. Mudah, normal, sulit, dan neraka. Mengejar Jenna jelas masuk tingkat neraka.”
“Semua perempuan punya kelemahan. Tapi apa kamu bisa pakai uang ke Jenna? Dari caranya hidup di dunia hiburan saja sudah kelihatan dia tidak mau menerima bantuan finansial atau jalan belakang.”
“Kalau pakai perasaan? Lihat saja berapa banyak pacar yang dia punya saat di luar negeri! Mantannya ada di mana-mana di dunia hiburan. Latar belakang mereka juga luar biasa. Bahkan aku saja sampai kagum waktu melihat daftar nama itu. aku belum pernah mengakui kalah dalam hal seperti ini sebelumnya!”
“Kalau pakai anak? Jangan mimpi pakai anak untuk mengikat dia. Dia sangat fokus pada kariernya dan tidak punya rencana punya anak. Bahkan kalau aku sendiri yang mengejar dia, kemungkinan aku kalah delapan puluh persen. Apalagi kamu yang masih pemula dalam hubungan. kamu cuma bakal jadi pengalaman buat dia!”
Marco meliriknya dingin. “Seratus persen.”
Mulut Xander berkedut. “Baiklah, baiklah. Seratus persen aku bakal kalah. Jangan fokus ke detail kecil seperti itu, oke? Intinya aku sudah sampai pada satu kesimpulan. Jenna kemungkinan sama seperti aku. Orang yang memutuskan tidak akan menikah dan tidak akan punya anak. Orang seperti ini biasanya sinis terhadap hubungan. Kebebasan bagi mereka sama pentingnya dengan hidup. Kalau cuma mau main-main gampang. Tapi kalau mau menikahinya, itu sangat sulit.”
“Itu karena kamu belum pernah bertemu seseorang yang membuat kamu ingin menikah dan punya anak dengan sukarela.” Di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela, ekspresi dingin Marco terlihat sedikit lembut.
Xander menatap kakaknya dengan ekspresi tidak percaya sambil menghitung jumlah kata yang diucapkan kakaknya.
“Eh? Orang yang sedang jatuh cinta memang berbeda. Bahkan pemula dalam hubungan sekarang malah memberi aku pelajaran! Tapi apa yang kamu bilang memang masuk akal. Jadi gimana? Mau bantuan adik kamu yang tercinta ini?”
Marco hanya menjawab dua kata. “Gak perlu.”
Xander langsung panik.
“Mana bisa begitu! Mengejar perempuan beda dengan bisnis. Pikirkan lagi. kamu yakin tidak butuh pelatih tingkat dewa yang pintar, bijak, dan tampan untuk membantu?”
Xander masih berusaha keras menawarkan jasanya.
Saat itu pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka. Keduanya menoleh bersamaan. Di depan pintu berdiri Juju dengan piyama.
Sedikit keterkejutan muncul di mata Marco.
“Eh, Juju…” Xander juga terlihat sangat terkejut.
Juju biasanya tidak pernah keluar dari kamar di jam seperti ini.
Juju sangat menyukai kesunyian.
Biasanya setelah makan ia akan langsung kembali ke kamar dan bersembunyi sendirian. Para pelayan rumah tangga juga harus segera kembali ke kamar mereka setelah menyelesaikan pekerjaan. Mereka tidak boleh membuat suara sedikit pun, karena bisa mengganggu Juju.
Jika terganggu, ia bisa menjadi gelisah atau bahkan kehilangan kendali. Nyonya Alamsyah pernah mengantarkan makanan ringan ke kamarnya karena khawatir ia tidak makan.
Hasilnya, Juju malah mengunci diri di loteng. Karena itu, meskipun kedua orang tua mereka sangat menyayangi Juju, mereka tidak berani tinggal bersama Marco dan Xander.
Namun sekarang Juju justru keluar sendiri dari kamar. Bukan hanya itu. Juju berlari ke arah Marco dan memeluk kakinya.
Xander tertawa. “Juju, kamu lagi apa? Mau minta uang jajan?”
Marco menunduk melihat putranya dan langsung tahu apa yang diinginkannya. Ia menolak tanpa ragu. “Gak. Kamu sudah ke sana semalam.”
Tatapan Juju kemudian beralih ke HPnya.
“Kamu juga sudah menelepon saat makan malam.” Marco menolak lagi.
Baru saat itu Xander akhirnya mengerti setelah memperhatikan dari samping.
Bocah kecil itu merindukan Jenna.
Karena tidak berhasil membujuk ayahnya, Juju berlari ke arah Xander dan melakukan trik yang sama. Ia memeluk kaki pamannya.
Xander merasa sangat tersanjung. “Aduh, sayang, jangan pakai cara ini ke aku. Kamu tahu paman kamu ini gak tahan sama kelucuan kamu!”
Biasanya Juju terlihat kosong dan tenang. Namun begitu ia ingin meminta sesuatu, ekspresinya langsung berubah. Kelucuannya bisa membuat orang mati karena gemas lalu hidup kembali.
Ia memiringkan kepala kecilnya dan menatap dengan mata besar yang berkilau seperti bintang. Orang yang melihatnya pasti ingin memetik semua bintang di langit dan memberikannya padanya.
Satu-satunya orang di keluarga yang bisa menahan serangan itu hanya Marco.
Xander mengangkat bahu. “Gak ada gunanya bersikap imut ke aku, Juju. aku gak bisa menang lawan ayah kamu.”
Juju langsung melepaskan Xander. Benar-benar tanpa perasaan.
Xander tertawa sambil bersandar ke dinding. “Ah, kamu gak perlu buru-buru seperti ini. Ada pepatah lama. Kalau dua orang saling mencintai, jarak hanya membuat perasaan semakin kuat. Tunggu saja sampai ayah kamu menikahi Tante Jenna. Nanti kamu bisa ketemu dia setiap hari!”
Usahanya membujuk tetap gagal. Bocah itu berjalan ke pintu, membukanya keras, lalu berlari keluar.
Xander menoleh ke kakaknya. “Sekarang kita harus bagaimana?”
“Dia makan banyak malam ini,” kata Marco.
Artinya Juju tidak bisa menggunakan jurus terakhirnya.
Mogok makan.
Xander langsung merasa lega setelah mendengar itu.
Namun mereka benar-benar meremehkan Juju. Ia masih anak kecil. Ia tidak membutuhkan strategi atau rencana. Ia hanya perlu membuat keributan.
Baru saja mereka selesai bicara, terdengar suara keras dari ruang tamu. Xander dan Marco saling menatap, lalu segera turun ke bawah.
Ruang tamu sudah hancur berantakan dalam waktu yang sangat singkat.
Sebuah vas kuno setinggi orang dewasa yang berdiri di sudut ruangan sudah jatuh ke lantai dan pecah. Semua benda yang bisa didorong atau dihancurkan sudah mengalami nasib yang sama.
“Jules Alamsyah!”
Marco hanya memanggil nama lengkap Juju saat ia benar-benar marah.
Aura menakutkan itu bahkan membuat Xander merinding.
Apalagi Juju.
Melihat ekspresi ayahnya yang mengerikan, Juju mulai gemetar. Emosinya semakin tidak terkendali. Ia berteriak keras sambil berlari ke mana-mana dan menghancurkan apa pun yang bisa ia pegang.
Xander buru-buru mengejarnya dari belakang. Namun ia tidak berani terlalu dekat.
Lantai penuh dengan pecahan benda. Kalau sampai mereka jatuh, akibatnya bisa sangat buruk.
“Kak, kita gak bisa terus begini. Kenapa gak minta Jenna datang saja?”
“Gak perlu,” jawab Marco dingin.
Xander masih mencoba membujuknya.
“Kak, Juju itu cuma anak kecil, bukan bawahan kamu. kamu terlalu keras padanya. Memanjakan sedikit juga gak masalah. Semua anak pasti pernah keras kepala atau bikin masalah.”
“Cara aku mendidik anak aku bukan urusan kamu,” kata Marco dengan wajah dingin.
Ia jelas tidak ingin Juju terbiasa menggunakan amukan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Xander merasa sangat terjepit di antara ayah dan anak ini. Benar-benar memusingkan.
Kalau sampai orang tua mereka mendengar masalah ini, urusan dia membawa Juju ke bar pasti akan terbongkar saat mereka mulai menyelidiki.
Tuhan, tolong kirim seseorang untuk menyelamatkannya!
Saat Marco mencoba menangkap Juju, Xander diam-diam mengambil HPnya dan menelepon Jenna.