NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

“Dirusak?” Arka Wijaya mengernyitkan dahi.

Sejak kecil, kakeknya dan semua orang selalu mengatakan bahwa ia terlahir dengan Pembuluh Tenaga Dalam yang cacat. Ia pun mempercayainya tanpa ragu. Bahkan setelah mendapatkan kembali ingatan tentang “kelahiran kembali”-nya—yang mencakup berbagai kitab pengobatan yang pernah ia pelajari sepanjang hidupnya—keyakinan itu tetap tidak berubah.

Namun, Ratna Pradana justru mengatakan bahwa ia tidak terlahir dengan Pembuluh Tenaga Dalam yang rusak. Pembuluh itu hancur akibat pengaruh kekuatan dari luar.

Sesungguhnya, tak seorang pun di Keluarga Wijaya mampu menembus penyamaran ini. Ratna Pradana hanya memeriksanya dalam hitungan napas, namun baginya fakta itu tampak sebening kristal.

Perempuan ini…

“Ya,” kata Ratna Pradana sambil sedikit mengerutkan alisnya. Suaranya lembut saat ia melanjutkan,

“Pembuluh Tenaga Dalam-mu mengalami kerusakan parah ketika kau masih kecil, dan keluargamu tidak menyadarinya. Karena itu, kerusakan tersebut tidak pernah ditangani.”

“Sekarang, setelah kau tumbuh dewasa, Pembuluh Tenaga Dalam-mu telah sepenuhnya terbentuk dalam kondisi cacat… dan sama sekali tidak memiliki harapan untuk diperbaiki.”

Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan keyakinan mutlak.

Jika Pembuluh Tenaga Dalam seseorang rusak setelah dewasa, kekuatannya memang akan bocor. Namun masih ada berbagai cara untuk memperbaikinya.

Sebaliknya, jika pembuluh itu hancur sejak masa kanak-kanak, pertumbuhannya akan dimulai dari fondasi yang salah. Seiring waktu, kerusakan itu hanya akan semakin parah.

Pada usia Arka Wijaya saat ini, pembuluh tersebut telah terbentuk dalam kondisi yang sangat tidak normal—hampir mustahil untuk dipulihkan ke keadaan semula.

Ekspresi Arka Wijaya tidak berubah.

“Itu belum tentu benar,” katanya tenang.

Ratna Pradana memiringkan kepalanya sedikit.

“Sepertinya sejak awal kau selalu memiliki keyakinan untuk memperbaiki Pembuluh Tenaga Dalam-mu?”

“Aku pasti akan memperbaikinya,” jawab Arka Wijaya datar.

Ratna Pradana menatapnya dalam-dalam. Di matanya, ia melihat bukan hanya kepercayaan diri, tetapi juga lapisan dingin yang tersembunyi jauh di balik pandangannya.

Ia menghela napas pelan.

“Benua Arcapura adalah tempat yang sangat luas dengan banyak orang berbakat. Mungkin benar-benar ada seseorang yang mampu memperbaiki Pembuluh Tenaga Dalam-mu.”

“Aku seharusnya tidak menyatakan kesimpulan tadi dengan begitu pasti. Anggap saja itu sebagai keterbatasan pengetahuanku.”

Hanya dengan beberapa kalimat itu, kesan Arka Wijaya terhadapnya meningkat drastis.

Ia ragu sejenak sebelum bertanya,

“Kekuatan es yang kau gunakan tadi… apa itu? Aku belum pernah mendengar ada orang di Kota Tirta Awan yang memiliki kemampuan seperti itu.”

“Gurumu bukan berasal dari kota ini, bukan? Tentu saja, kau tidak perlu menjawab jika tidak ingin.”

Ratna Pradana terdiam sejenak.

Tepat ketika Arka Wijaya mengira ia tidak akan menjawab, ia berkata dengan tenang,

“Ilmu Awan Beku.”

“Ilmu Awan Beku?”

Tubuh Arka Wijaya sedikit bergetar. Nama itu terasa samar-samar familiar.

Tiba-tiba sebuah nama muncul dalam ingatannya.

Wajahnya langsung memucat.

“Padepokan Awan Beku?!”

Ratna Pradana menatapnya dengan ekspresi terkejut.

Bahkan Penguasa Kota Tirta Awan pun akan gemetar jika mendengar nama itu.

Dengan suara ringan ia berkata,

“Guruku memang berasal dari Padepokan Awan Beku, jadi aku bisa dianggap sebagai murid dari sana.”

“Di Kota Tirta Awan, hanya ayahku yang mengetahui hal ini. Sekarang… kau adalah orang kedua.”

Ia berhenti sejenak.

“Aku memberitahumu hal ini karena kau sekarang adalah suamiku. Ini adalah bentuk penghormatan paling mendasar dariku.”

Jantung Arka Wijaya berdebar keras.

Nama Padepokan Awan Beku meledak di dalam benaknya seperti petir.

Itu adalah salah satu dari empat kekuatan besar terkuat di Kerajaan Surya Kencana, sekaligus tanah suci yang didambakan oleh tak terhitung banyak orang.

Bahkan keluarga kerajaan harus memberikan penghormatan tahunan kepada mereka.

Empat kekuatan besar itu adalah:

Perguruan Pedang Langit

Padepokan Awan Beku

Perguruan Wijaya

Perguruan Surya Membara

Di antara tujuh negara di Benua Arcapura, Kerajaan Surya Kencana memang bukan yang terkuat. Namun kerajaan itu tidak pernah ditaklukkan oleh negara lain.

Salah satu alasannya adalah keberadaan empat kekuatan besar tersebut.

Para penguasa negara lain bukan takut pada kekuatan kerajaan itu, melainkan gentar terhadap kekuatan empat perguruan besar tersebut.

Proses penerimaan murid mereka sangat ketat. Mereka tidak memandang latar belakang keluarga—hanya bakat yang mereka nilai.

Jika seseorang berhasil menjadi murid salah satu dari mereka, bahkan murid dengan status terendah sekalipun akan membawa kehormatan besar bagi keluarganya.

Di Istana mereka akan diperlakukan sebagai tamu kehormatan, bahkan bisa dianugerahi gelar bangsawan.

Di kota kecil seperti Kota Tirta Awan, tak seorang pun pernah membayangkan bisa bersentuhan dengan kekuatan-kekuatan besar itu.

Namun sekarang…

Istri yang baru saja dinikahinya ternyata adalah murid dari salah satunya.

Arka Wijaya menarik napas panjang.

“Jika kau adalah murid Padepokan Awan Beku, mengapa keluargamu tidak mengumumkannya?”

“Dengan identitasmu, Keluarga Pradana bisa berjalan bebas di seluruh Kota Tirta Awan tanpa ada yang berani menyinggung mereka.”

Ratna Pradana menjawab singkat.

“Karena dirimu.”

Arka Wijaya terdiam.

“Karena… aku?”

Ratna Pradana berkata tenang,

“Aku menikahimu sebagai gadis dari Keluarga Pradana, dan seluruh Kota Tirta Awan sudah gempar.”

“Jika aku menikahimu dengan identitas murid Padepokan Awan Beku, konsekuensinya akan jauh lebih besar.”

Ia menatapnya dengan mata jernih.

“Lagipula… perbedaan antara dirimu dan aku terlalu jauh.”

Arka Wijaya tersenyum pahit.

“Kalau begitu, mengapa kau menikah denganku?”

Ratna Pradana menjawab tanpa ragu,

“Karena kau tahu alasannya.”

“Nyawaku pernah diselamatkan oleh Paman Yasa Wijaya.”

“Tidak lama kemudian ia tewas dalam sebuah percobaan pembunuhan… dan itu terjadi karena aku.”

“Sejak aku lahir, ayahku telah menetapkan pernikahan ini untuk membalas budi kepadanya.”

Ia mengangkat matanya yang dingin berkilau.

“Aku memberitahumu identitasku agar kau mengerti sesuatu.”

“Untuk terus melatih Ilmu Awan Beku, hatiku harus setenang awan yang membeku.”

“Padepokan Awan Beku hanya menerima murid perempuan, dan mereka harus tetap murni sepanjang hidup.”

“Meskipun aku telah menikahimu… aku tidak bisa mencintai siapa pun.”

Arka Wijaya tersenyum tipis.

“Bahkan tanpa aturan itu pun, kurasa kau tetap tidak akan jatuh cinta padaku.”

Ratna Pradana menggeleng perlahan.

“Aku tidak pernah merendahkanmu.”

“Guruku selalu mengatakan bahwa orang yang berada di tingkat lebih tinggi tidak boleh meremehkan orang lain.”

“Di Benua Arcapura, kekuatan memang dihormati. Namun hanya karena Pembuluh Tenaga Dalam-mu rusak, bukan berarti hidupmu telah hancur.”

Arka Wijaya benar-benar tersentuh.

Orang-orang di Kota Tirta Awan selalu memuji kecantikan dan bakat Ratna Pradana.

Namun mungkin tak seorang pun menyadari keanggunan jiwanya.

Padahal ia baru berusia enam belas tahun.

Sulit membayangkan akan menjadi seperti apa dirinya beberapa tahun lagi.

Tak heran jika Padepokan Awan Beku tertarik padanya.

Seorang wanita dengan kecantikan, bakat, dan jiwa bak peri… kini adalah istrinya.

Jika ia tidak memiliki pengalaman dari dua kehidupan, mungkin ia bahkan tidak akan berani menatap matanya.

“Terima kasih sudah memberitahuku semua ini,” kata Arka Wijaya.

Tatapannya kemudian berubah tajam.

“Kalau begitu… bisakah kau memberitahuku tingkat Tenaga Dalam-mu sekarang?”

Mencapai tingkat kesepuluh Alam Dasar pada usia enam belas tahun sudah cukup mengguncang seluruh Kota Tirta Awan.

Namun Arka Wijaya tidak lagi percaya Ratna Pradana hanya berada di tingkat itu.

Ratna Pradana tidak menjawab.

Namun keheningan itu sendiri sudah menjadi jawaban.

Kekuatannya jelas telah melampaui tingkat kesepuluh Alam Dasar.

“Kau sebaiknya pergi memberi hormat,” katanya perlahan.

Saat itu terdengar langkah kaki dari luar.

Suara tua terdengar dari balik pintu.

“Tuan muda, sudah waktunya Anda mengangkat cawan.”

“Paman Harun, aku segera ke sana,” jawab Arka Wijaya.

Ia menatap Ratna Pradana sekali lagi sebelum melangkah keluar.

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!