NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang Sengaja Diciptakan

Mobil hitam mewah itu melaju dengan kecepatan yang wajar dengan suara dengung mesin yang terdengar lembut. Lampu kota lewat satu per satu di balik kaca mobil yang gelap, tapi Rachel tidak benar-benar melihat apa pun. Pertanyaan yang dilontarkan Liam beberapa menit lalu masih menggantung di udara, dan Rachel belum menemukan jawabannya.

'Kemana aku akan mengantarmu?'

Rachel duduk kaku di kursi belakang. Tubuhnya sedikit menempel ke pintu, seolah jarak tipis itu bisa menjadi sebuah perlindungan baginya. Tatapannya kosong dan rahangnya mengeras. Sementara itu, jari-jarinya saling mencengkeram di pangkuan dengan kuku-kukunya yang menekan kulitnya sendiri tanpa ia sadari.

Rachel tampak sedang menimbang, bukan meragu. Sebab pulang ke rumah berarti kembali ke Sam dan harus menghadapi risiko dari tindakannya. Namun, saat ini ia juga tidak membawa uang sepeserpun, ponsel, bahkan barang apapun. Ia melarikan diri dari jerat Tom hanya dengan tubuhnya sendiri dan ketakutan yang belum sempat ia urai. Dan kini Rachel baru tersadar, bahwa ia memang berhasil lolos dari Tom untuk sementara waktu, tapi dunia di luar sana tidak serta-merta menjadi aman untuknya.

Rachel menarik napas panjang, lalu akhirnya berbicara. Suaranya terdengar rendah, tapi tidak goyah. “Bolehkah aku meminjam ponselmu?”

Liam menoleh sedikit. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Ia tampak tidak terkejut ataupun curiga dengan permintaan Rachel. Ia hanya menilai Rachel sekilas, lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menyerahkannya begitu saja.

“Pakailah,” katanya singkat. Tanpa ada embel-embel peringatan ataupun ancaman.

Rachel menerima ponsel itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia menahan napas sebelum menekan nomor yang dihafalnya di luar kepala. Tidak lama setelah itu, nada sambung pun terdengar. Lalu, suara yang ia kenal menjawab.

“Halo?”, suara seorang wanita dari balik telepon.

“M-Mrs. Portman?” Rachel refleks menurunkan suaranya. “Ini aku, Rachel.”

Tanpa membuang-buang waktu lagi, ia langsung menanyakan tentang keberadaan Sam. Dan jawaban yang ia terima membuat dadanya mengendur sedikit.

“Dia sedang tidak di rumah sejak tadi siang, Rachel. Mungkin sebentar lagi akan kembali.” kata Mrs. Portman.

Rachel menutup mata sejenak. Lalu kata-katanya keluar dengan cepat, sedikit terpotong tapi jelas. Ia meminta Mrs. Portman menjemput Anna sekarang juga dan membawanya ke rumahnya untuk menyembunyikannya sementara agar ia aman dari Sam. Selanjutnya, ia juga melarang Mrs. Portman untuk memberi tahu siapa pun atau memberi Sam petunjuk apa pun.

“Aku akan datang,” janji Rachel di akhir obrolan. “Aku akan menjemput Anna besok. Aku hanya… butuh waktu.”

"Baiklah, Rachel. Jaga dirimu!", balas Mrs. Portman tanpa bertanya lebih lanjut, seolah mengerti akan situasi genting yang sedang Rachel hadapi.

Ketika panggilan itu berakhir, bahu Rachel pun akhirnya runtuh sedikit. Bebannya belum pergi, tapi setidaknya Anna aman malam ini.

Rachel pun lalu mengembalikan ponsel itu kepada Liam. Ada jeda canggung sebelum ia mengangkat wajahnya. “Sejujurnya, aku tidak punya tempat untuk pergi malam ini,” katanya jujur. “Aku tidak bisa pulang. Aku hanya butuh satu malam. Maaf kalau ini terdengar lancang. Tapi kumohon, biarkan aku bermalam di tempatmu... hanya malam ini.”

Liam menatapnya cukup lama. Tatapannya tenang dan dingin, seperti seseorang yang sudah terbiasa mengambil keputusan dengan konsekuensi berat. Ia tidak menunjukkan simpati, ataupun penolakan.

“Aku mengerti,” katanya akhirnya. Hanya itu..

Lalu, beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di tempat tujuan yang sudah diputuskan Liam. Gerbang besi hitam itu terbuka perlahan setelah mobil berhenti beberapa detik di depan pos penjagaan. Rachel memperhatikan dari balik kaca, napasnya tertahan. Empat pria bersenjata berdiri di sisi gerbang. Mereka tidak bergerak berlebihan, juga tidak menatap tajam. Namun, justru itu yang membuat Rachel merinding. Entah tempat apa yang sebenarnya sedang Rachel datangi.

Mobil itu melaju masuk ke sebuah halaman yang sangat luas yang terlalu sunyi dan terlalu rapi. Di dalam sana, hanya ada jalan panjang yang diapit pepohonan tinggi dan lampu taman yang menyala dengan jarak yang konsisten.

Lalu, rumah itu muncul perlahan di hadapan mereka. Sebuah rumah berukuran sangat besar, megah dan terlalu tenang. Bangunan rumah itu terbentuk dengan garis arsitektur yang tegas. Di depan sana terlihat jendela-jendela tinggi yang memantulkan cahaya redup dari dalam. Namun entah kenapa rasanya pemandangan itu tidak terlihat hangat, tidak juga terlihat hidup. Tapi lebih seperti benteng yang dirancang khusus untuk bertahan dan menutup diri dari dunia luar.

Rachel menelan ludah. Sensasi dingin tiba-tiba merambat di punggungnya. Ini bukanlah rumah orang kaya biasa. Ini tampak seperti...sebuah markas. Tempat seseorang berkuasa dan tidak perlu menjelaskannya pada siapa pun.

Saat mobil itu akhirnya berhenti, pintu mobil pun dibukakan dari luar. Seorang pria berjas gelap memberi anggukan singkat dengan senyuman yang tampak profesional. Lalu, Rachel turun perlahan, langkahnya hati-hati, seolah tanah di bawah kakinya bisa berubah menjadi jebakan kapan saja.

"Masuklah!", ajak Liam ketika keduanya sudah turun dari mobil. Dan ajakan itu langsung disambut Rachel dengan anggukan kepala.

Rachel berjalan mengikuti Liam tepat di belakangnya, menuju teras rumah Liam yang sangat luas. Sementara itu di dalam teras, beberapa orang tampak bergerak dengan pola yang jelas—para pelayan, penjaga, dan beberapa orang-orang yang tampak patuh. Semuanya tampak terlatih, minim bicara, dan menjaga pandangan. Rachel merasakan itu, bahwa ia sedang diawasi tanpa dijadikan pusat perhatian.

Liam terus berjalan di depannya tanpa menoleh. Posturnya santai, tapi langkahnya tegas. Ia berhenti hanya untuk memberi instruksi singkat, lalu melanjutkan langkah kakinya yang panjang.

“Antarkan dia ke kamar tamu,” katanya pada seorang pelayan wanita yang menyambutnya di ruang tamu. Nada suaranya terdengar tidak lembut, juga tidak kasar, melainkan hanya seperti sebuahperintah yang tidak perlu dipertanyakan.

Rachel sedang menunggu—mungkin satu kalimat tambahan atau penjelasan, tapi nyatanya tidak ada. Liam tidak mengajaknya bicara lebih jauh. Bahkan tidak menatapnya saat berbalik dan berjalan menjauh, diikuti dua pria lain di belakangnya. Jarak itu terasa seperti sengaja diciptakan.

Di dalam batin Liam, wajah Rachel yang pucat dan mata yang terus waspada tidak hilang begitu saja. Ia mengingat gadis remaja dengan tas sekolah di pundak, tangan gemetar tapi tetap memegang cutter, bahkan tangis tertahan saat darah mengalir di bahunya. Ia ingat betul perasaan itu—saat pertama kali hidupnya diselamatkan oleh seseorang yang seharusnya berlari ketakutan.

Ia jatuh cinta sejak malam itu. Sejak detik pertama Rachel memilih tinggal dan membantunya. Dan justru karena itu, ia tidak boleh membiarkannya dekat.

Dunia Liam dibangun dari kekerasan yang terorganisir, darah yang dibersihkan dengan uang, juga kematian yang dinegosiasikan. Tidak ada ruang aman bagi orang seperti Rachel di sisinya. Dan jika ia terlalu dekat, Rachel tidak hanya akan terluka, tapi ia bisa saja mati. Jadi, untuk saat ini, membuat jarak adalah satu-satunya perlindungan yang Liam bisa lakukan demi keselamatan Rachel.

Kamar tamu itu tampak luas, rapi, dan terlalu sempurna, dengan adanya seprai berwarna putih gading yang menjuntai hingga ke lantai dan lampu meja yang menyala lembut di samping ranjang besar. Rachel pun melangkahkan kaki masuk ke dalam sana dan duduk di tepi ranjang, punggungnya lurus seolah tubuhnya belum sepenuhnya percaya bahwa lantai ini tidak akan runtuh ketika ia berpijak.

Ia melepas sepatunya perlahan. Di dalam kamar itu entah kenapa meskipun sedikit asing, namun terasa aman. Berbanding terbalik dengan kamar yang pernah ia tempati di rumah Tom, yang terasa seperti sebuah penjara dan membuatnya sesak. Rachel memejamkan mata, merasakan kesunyian yang mengisi ruangan itu. Tapi, di dalam pikirannya justru tidak mau diam. Ia memikirkan tentang Anna yang berada jauh di sana.

Bagaimana ia akan menjemputnya tanpa diketahui Sam? Bagaimana ia akan pergi tanpa uang dan rencana yang matang? Ia tidak bisa berlama-lama di sini. Tempat ini terlalu besar dan sunyi. Bahkan mungkin saja di balik rasa aman yang dirasakannya sekarang, tersimpan bahaya yang belum ia pahami.

Lalu pikirannya kembali pada Liam. Ia takut, tapi juga bersyukur dalam waktu yang bersamaan. Pria itu menyelamatkannya tanpa menuntut apa pun. Tapi justru itu yang membuatnya gelisah. Sebab, dari apa yang ia alami dengan Tom, Rachel baru menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar gratis di dunia seperti ini.

Rachel menarik napas panjang. 'Satu malam. Hanya satu malam. Besok, aku harus bergerak.' pikirnya

Sementara itu, di sisi lain rumah, Liam berdiri di ruang kerjanya. Ruangan itu lebih gelap dan lebih tertutup. Tidak ada jendela besar yang terbuka lebar. Hanya sebuah meja kerja dengan beberapa tumpukan dokumen yang memenuhi di atasnya.

“Cari tahu latar belakangnya,” katanya pada dua orang pria berbadan besar yang ada di depannya. “Semuanya, tanpa satu hal kecil pun terlewat.”

“Semua yang berhubungan dengannya,” lanjut Liam dingin. “Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi padanya. Siapa yang sedang mengejarnya. Dan seberapa dekat ancamannya.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “juga awasi perempuan itu, cukup dari jauh. Jangan sampai dia menyadarinya.”

Kedua pria itu langsung mengangguk dan pergi tanpa bertanya lagi.

Liam masih berdiri sendiri dalam diam di ruangannya. Keputusan-keputusannya sudah bulat. Ia akan melindungi Rachel dengan cara yang menurutnya paling aman. Ia akan menjaga jarak, bahkan jika itu berarti terlihat kejam. Karena jika Rachel masuk terlalu dalam ke dunianya, maka tidak akan ada jalan kembali untuknya. Dan itu adalah risiko yang tidak akan ia izinkan terjadi, meski harus mengorbankan perasaannya sendiri.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!