"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sore itu, mendung menggantung rendah di langit, seolah ingin ikut menumpahkan beban yang kurasakan. Kaila menarik lenganku sesaat setelah bel pulang berbunyi.
"Fis, mampir ke kostan Fita bentar yuk? Dia baru beli camilan banyak, katanya suruh kita ke sana," ajak Kaila dengan nada yang terdengar sedikit dipaksakan.
Aku sebenarnya ingin langsung pulang, mengunci diri di kamar dan membalas pesan-pesan dari pria-pria yang tak kukenal itu untuk membunuh rasa sepi. Tapi, melihat Kaila yang begitu gigih, aku akhirnya mengangguk. Fita adalah teman dekatku, seseorang yang selama ini menjadi tempatku mencurahkan segala sesak tentang Guntur. Berada di dekatnya biasanya membuatku tenang.
Namun, suasana di depan kostan Fita terasa berbeda.
Ada sebuah motor yang sangat kukenal terparkir di sana. Motor yang dulu sering kulihat dari kejauhan di parkiran sekolah, motor yang membawa pemiliknya ke Jogja saat aku berada di Bandung. Jantungku berdegup kencang, rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongan.
"Kai... itu motor Kak Guntur, kan?" tanyaku lirih, kakiku mendadak lemas.
Kaila terdiam. Dia tidak menoleh padaku, tangannya justru sibuk memainkan kunci motornya. Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
"Lo... lo tahu, Kai?" suaraku mulai bergetar.
Kaila menghela napas panjang, menatapku dengan tatapan kasihan yang paling kubenci. "Maafin gue, Fis. Gue bingung mau ngomongnya gimana ke lo. Mereka... Guntur dan Fita, mereka udah deket sejak sebulan yang lalu."
Duniaku serasa runtuh. Lebih hancur daripada saat Guntur melepaskanku di bangku taman itu. Fita? Teman dekat yang tahu betapa hancurnya aku karena laki-laki itu?
Tanpa permisi, aku melangkah lebar menuju kamar Fita di lantai bawah. Pintu kamarnya sedikit terbuka. Dari celah sempit itu, aku melihat pemandangan yang mematikan seluruh sel dalam tubuhku. Guntur duduk di sana, di atas karpet tipis milik Fita, tertawa kecil sambil memperhatikan Fita yang sibuk bercerita.
Tertawa. Sesuatu yang bahkan tak pernah ia lakukan di depanku selama berbulan-bulan kami dekat.
Kebekuan yang selama ini ia agungkan, ternyata mencair begitu mudah di tangan teman dekatku sendiri. Di saat aku menghancurkan diriku dengan pria-pria lain demi melupakannya, dia justru membangun surga baru di pelukan orang yang paling aku percaya.
"Fis, jangan masuk..." Kaila mencoba menahanku, tapi aku sudah terlanjur mematung di depan pintu.
Fita menoleh dan seketika wajahnya memucat saat melihatku. "Afisa? Lo... lo kok udah di sini?"
Aku tidak menjawab. Mataku beralih ke Guntur. Dia hanya menatapku datar, tidak ada rasa bersalah, tidak ada penjelasan. Kedinginannya kembali, tapi kali ini kedinginan itu bukan lagi misteri bagiku—itu adalah penghinaan.
"Selamat ya," ucapku pelan, suaraku terdengar seperti bisikan kematian. "Kalian benar-benar cocok. Yang satu dingin, yang satu... pandai bersembunyi."
" Dan Lo kai...gue nggak nyangka Lo sepupu gue tapi Lo_____" ucapku parau
Dan lo, Kai... gue nggak nyangka lo sepupu gue, tapi lo tega biarin gue kayak orang bego!" ucapku parau, suara yang pecah itu seolah menyayat tenggorokanku sendiri.
Kaila mencoba mengejarku, tangannya terulur ingin meraih pundakku. "Fis, dengerin gue dulu! Gue cuma nggak mau lo tambah hancur—"
"Dengan cara bohongin gue?!" teriakku sambil menepis tangannya kasar. Aku tidak butuh belas kasihan yang dibungkus kebohongan.
Aku berlari sekencang mungkin, tidak peduli pada tatapan orang-orang di sekitar kostan. Di dalam kepalaku, pertanyaannya terus berputar seperti kaset rusak. Bagaimana bisa? Sejak kapan? Apa Alif tahu? Dia kan teman dekat Guntur, dia jembatanku selama ini. Apa Ayu juga tahu? Ayu adalah sahabatku yang juga sering nongkrong bareng Guntur.
Apa selama ini aku hanya menjadi bahan tontonan di tengah lingkaran pertemanan mereka? 'Si bodoh Afisa' yang mengejar-ngejar kutub utara, sementara mereka semua tahu bahwa es itu sudah mencair di pelukan orang lain?
Aku merogoh ponsel di saku dengan tangan gemetar. Aku mencari nama Alif di daftar kontak.
Afisa: "Lif, jujur sama gue. Guntur dan Fita... lo tahu dari kapan?"
Semenit. Dua menit. Balasannya muncul, seolah dia sudah menyiapkan kata-kata itu sejak lama.
Alif: "Maafin gue, Fis. Guntur yang minta gue diem. Dia bilang dia nggak mau bikin lo makin stres pas lagi banyak tugas. Gue serba salah."
Aku tertawa kencang di tengah trotoar yang mulai basah oleh gerimis. Tertawa yang lebih terdengar seperti isak tangis. "Nggak mau bikin gue stres?" bisikku sinis. Ternyata, kebohongan mereka adalah cara mereka "melindungiku". Betapa munafiknya.
Lalu Ayu. Aku meneleponnya, tapi hanya dialihkan ke kotak suara. Satu pesan singkat masuk darinya tak lama kemudian.
Ayu: "Fis, gue di rumah Fita sekarang. Gue baru aja mau bilang ke lo pelan-pelan. Maafin gue ya, gue cuma nggak mau lo benci Fita."
Hatiku benar-benar mati rasa sekarang. Ternyata semuanya tahu. Semuanya bersekongkol untuk membiarkanku tetap dalam kegelapan. Guntur, Fita, Kaila, Alif, dan Ayu—mereka semua adalah pemeran dalam panggung sandiwara yang menghancurkanku.
Di bawah rintik hujan yang semakin deras, aku membuka aplikasi pencarian laki-laki di ponselku. Aku melihat foto-foto pria yang belum pernah kutemui. Aku tidak peduli siapa mereka. Aku butuh seseorang yang tidak mengenalku, seseorang yang tidak punya hubungan dengan lingkaran pengkhianat ini.
Aku membalas satu pesan dari laki-laki bernama Raka yang sudah berminggu-minggu kuabaikan.
Afisa: "Lo masih mau ketemu gue? Jemput gue sekarang di depan halte sekolah. Sekarang."
Malam ini, aku akan mematikan Afisa yang lama. Aku akan menjadi wanita yang paling mereka benci. Jika Guntur bisa bahagia dengan teman dekatku, maka aku akan menghancurkan diriku sepuasnya agar mereka tahu bahwa "kebaikan" mereka telah menciptakan monster dalam diriku.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2