Alessandro Magnus, Grand Duke penguasa Wilayah Magnus, dia terkenal kejam, dingin, dan punya insting membunuh yang tajam. Segala macam jebakan politik, racun, atau mata-mata yang dikirim musuh-musuhnya hanyalah kotoran yang bisa dia selesaikan dalam satu tebasan pedang.
Anastasia Starling adalah gadis yang selama ini terkenal pendiam, tertutup, dan lemah di seluruh kekaisaran. Namun, tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah digantikan oleh seorang pembunuh berdarah dingin yang mati akibat dikhianati.
Bagi Anastasia yang baru, air mata adalah tanda kelemahan yang menjijikkan, berbekal insting bertahan hidup yang kuat, mulut yang tajam, kemampuan bertarung, serta rahasia ruang dimensi di dalam jiwanya, dia menolak menjadi boneka politik
"Hugo, mundur tiga langkah, matamu terlalu lancang menatap istriku. Jaga batasanmu sendiri sebelum aku menganggap kesetiaanmu itu sebagai ancaman yang harus ku potong kepalanya." _Grand Duke Alessandro Magnus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYERANGAN
Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam itu terasa sangat sunyi.
Di dalam kereta, Nina berkali-kali membetulkan posisi duduknya, tampak sangat gelisah.
Sesekali dia mencuri pandang ke arah Anastasia yang sejak tadi hanya memejamkan mata dengan tenang.
"Nona... Anda tidak tegang?" tanya Nina akhirnya, memecah keheningan karena sudah tidak tahan dengan rasa penasaran di dadanya.
Anastasia membuka sebelah matanya, menatap pelayan mudanya itu dengan santai.
"Tegang karena apa? Karena akan bertemu suamiku, atau karena hutan di luar sana terlalu sepi?" tanya Anastasia, mengangkat sebelah alisnya.
"D-dua-duanya, Nona," jawab Nina sambil menelan ludah.
"Rumor tentang Grand Duke Alessandro itu sangat menyeramkan, katanya dia tidak segan-segan memotong kepala orang yang tidak dia sukai, dan hutan ini, adalah perbatasan wilayah Magnus yang terkenal rawan bandit," lanjut Nina, meremas tangannya takut.
Anastasia hanya mendengus pelan, lalu kembali memejamkan mata nya.
"Kalau dia ingin memotong kepalaku, dia harus memastikan pedangnya lebih cepat dari gerakanku, dan untuk para bandit, mereka hanya akan datang kalau punya nyali mati," gumam Anastasia, dengan mata terpejam.
Nina mengerjap, tidak terlalu paham dengan maksud ucapan majikannya. Namun, belum sempat Nina bertanya lebih lanjut, kereta kuda mendadak berhenti dengan sentakan yang sangat keras hingga membuat tubuh Nina hampir terjungkal ke depan.
Sreeek
Suara pekikan kuda terdengar nyaring di luar, disusul oleh suara dentingan besi yang saling beradu.
"Ada serangan! Lindungi kereta Grand Duchess!" Teriakkan lantang Nero bergema dari arah luar, memicu kepanikan instan.
"N-Nona! Ada penyerangan!" Pekik Nina ketakutan, wajahnya langsung pucat pasi seperti mayat.
Dia refleks memeluk lengan Anastasia dengan tubuh yang gemetar hebat.
"Diam di sini dan jangan keluar," ucap Anastasia dengan suara yang luar biasa tenang.
Tidak ada secuil pun rasa takut di wajah cantiknya, Anastasia mengintip dari celah tirai kereta, mengamati situasi di luar.
Di luar sana, suasana sudah sangat kacau. Sekelompok pria berpakaian hitam dengan topeng kain menutupi wajah mereka tampak mengepung rombongan kereta.
Jumlah mereka tidak main-main, ada sekitar dua puluh orang, dan pergerakan mereka sangat rapi serta terorganisir.
"Mereka bukan bandit biasa, gerakan kaki mereka terlalu terlatih untuk ukuran perampok jalanan," gumam Anastasia, menganalisis situasi layaknya seorang profesional.
TRANG
TRANG
TRANG
Nero dan para ksatria Magnus langsung membentuk formasi melingkar untuk melindungi kereta.
Sebagai tangan kanan Grand Duke, kemampuan pedang Nero jelas tidak bisa diremehkan, setiap tebasan pedangnya berhasil menumbangkan satu per satu musuh yang mendekat.
"Mundur kalian bajingan! Berani-beraninya mengacau di wilayah Magnus!" Teriak Nero sambil menebas dada salah satu pria bertopeng hingga darahnya muncrat ke tanah.
TRANG
TRANG
BLASS
DUK
Tiba-tiba tiga orang pria bertopeng dengan postur tubuh lebih besar maju secara bersamaan mengeroyok Nero.
TRANG
Senjata mereka dilapisi racun hijau yang berkilau di bawah sinar matahari yang mulai meredup.
Nero yang sudah kelelahan setelah menumbangkan hampir sepuluh orang, mulai kewalahan menahan gempuran tiga orang terlatih ini.
TRANG
TRANG
Nero berhasil menangkis dua serangan pedang, tetapi kaki salah satu musuh berhasil menendang dadanya dengan keras hingga dia terhuyung mundur.
BHUKKK
Uhuk
Uhuk
"Sialan..." Nafas Nero terengah-engah, sudut bibirnya berdarah.
Nero mencoba bangkit, namun pandangannya sedikit kabur karena kelelahan.
Tepat pada saat itu, seorang pria bertopeng mendarat dari atas pohon, posisinya persis di belakang Nero yang sedang lengah.
Pria itu mengangkat belati beracunnya tinggi-tinggi, siap menusuk leher belakang Nero yang tidak terlindungi zirah.
"Tuan Nero, di belakang Anda!" Teriak salah satu prajurit Magnus yang jaraknya terlalu jauh untuk menolong.
Nero membelalakkan mata nya, dia tahu dia tidak akan sempat berbalik.
"Apakah aku akan mati konyol di sini?" batin Nero pasrah.
Brakk
Pintu kereta kuda hancur berkeping-keping, sebuah bayangan putih melesat keluar dengan cepat.
Srett
"Aaaaaakkkkkkkhhh!"
Sebelum belati beracun itu menyentuh kulit Nero, sebuah belati yang entah datang dari mana, sudah lebih dulu menembus tenggorokan pria bertopeng itu.
Darah segar menyembur keluar, mengenai gaun pengantin putih yang dikenakan Anastasia.
Pria bertopeng itu langsung ambruk ke tanah tanpa sempat mengeluarkan suara, tewas seketika di bawah kaki Anastasia.
Nero tertegun di tempatnya, mendongak dengan tatapan tidak percaya.
Di depannya, kini berdiri sang Grand Duchess baru yang digosipkan lemah lembut dan penakut, tapi apa yang baru saja dirinya lihat? Itu benar-benar tidak seperti yang dirumorkan.
Anastasia berdiri dengan tegak, memegang belati titanium dengan posisi terbalik, dan tatapan matanya begitu dingin menembus sisa-sisa pria bertopeng yang masih hidup.
"G-Grand Duchess...?" Bisik Nero dengan tenggorokan kering.
Rasa hormat dan takjub mendadak menyergap hatinya melihat aura membunuh yang begitu pekat keluar dari tubuh wanita ini.
"Kamu terlalu banyak bergerak tidak penting, Nero, makanya kamu cepat lelah," ucap Anastasia tanpa menoleh sedikit pun pada Nero, suaranya terdengar meremehkan namun penuh penekanan.
Melihat kawan mereka tumbang dalam satu gerakan oleh seorang wanita bergaun pengantin, sisa lima pria bertopeng saling pandang lalu serempak maju menyerang Anastasia.
"Mati kamu, wanita jalang!" Teriak salah satu dari mereka sambil mengayunkan pedang besarnya.
Anastasia hanya tersenyum sinis, dengan gerakan santai, dia menekuk lututnya sedikit, lalu bergerak melesat ke depan menghindar ke arah kiri dengan sangat lentur.
Gaun pengantinnya yang panjang dan merepotkan itu langsung dia robek bagian bawahnya dengan belati hingga sebatas lutut, memperlihatkan kakinya yang siap bergerak bebas.
Wush
Anastasia menghindar dari tebasan pedang pertama, lalu dengan gerakan memutar yang cepat, dia menusuk ulu hati musuh kedua menggunakan siku tangannya yang keras, disusul dengan sayatan cepat di urat nadi leher musuh tersebut.
JLEP
"Aaaakkkkkkhhhh!"
Bruk
"Satu," batin Anastasia, tersenyum miring.
Dua orang lainnya mencoba menusuknya dari arah kiri dan kanan secara bersamaan, tapi mereka terlalu meremehkan lawan nya, Anastasia, melompat mundur satu langkah, memanfaatkan moment untuk menendang pergelangan tangan musuh di sebelah kirinya hingga pedangnya terlepas, lalu menangkap pedang yang melayang itu di udara dan langsung melemparkannya tepat menembus dada musuh di sebelah kanan.
JLEP
JLEP
"AAAAAAKKKKKKKHHH!"
BRUK
"Dua, tiga," lanjut Anastasia, wajahnya sama sekali tidak berkeringat.
Tiga musuh sudah berhasil Anastasia antara ke alam baka dalam waktu singkat, kini tersisa dua pria bertopeng yang gemetar hebat.
Mereka yang awalnya adalah pembunuh bayaran profesional, kini merasa seolah-olah mereka sedang berhadapan dengan monster sejati yang memakai topeng seorang wanita cantik.
"S-siapa... siapa kamu sebenarnya?!" Tanya salah satu musuh dengan suara bergetar ketakutan, melangkah mundur perlahan.
Anastasia tidak menjawab, dia hanya berjalan pelan mendekati mereka sambil memutar-mutar belati titanium di jarinya dengan sangat lihai.