NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:817
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Ada Yang Iri

Pagi itu kantor marketing lagi pada heboh banget. Meeting bulanan sales baru aja selesai, suasananya masih tegang karena target bulan lalu banyak yang meleset. Bu Sita dari HRD naik ke depan ruangan dengan map tebal di tangan, kemejanya ketat seperti biasa, dua kancing atas sengaja kebuka biar bra hitamnya keliatan sedikit. Semua mata langsung fokus ke dia.

“Baik, sebelum meeting ditutup, ada pengumuman penting,” kata Bu Sita dengan suara lantang. “Insentif bulan ini jatuh ke Bram dengan nominal paling gede. Target marketing nya melebihi 140%, campaignnya efektif, dan laporannya paling rapi. Selamat Bram! Plus, kamu juga dapet pelatihan dua hari Marketing Digital di hotel bintang 4 di Puncak, full dibayarin kantor minggu depan.”

Ruangan langsung rame. Ada yang tepuk tangan, ada yang bisik-bisik. Gue cuma senyum tipis sambil ngangguk ke arah Bu Sita. “Makasih Bu,” gue bilang santai.

Tapi di pojok ruangan, muka Bambs langsung merah padam. Dia umur 34, senior gue, tapi performancenya selalu kalah tipis sama gue. Tangannya ngepuk meja pelan, giginya bergemeletuk.

“Anjir! Kok Bram mulu sih? Gue juga kerja keras banget loh! Target gue cuma beda sedikit. Harusnya gue yang dapet insentif gede sama pelatihan itu!” Bambs ngomel keras di depan semua orang.

Bu Sita angkat alis, tatapannya dingin. “Datanya jelas Bambs. Bram kasih ide yang lebih inovatif, analyticsnya lebih dalam. Ini berdasarkan KPI, bukan senioritas.”

Meeting bubar, tapi Bambs langsung nyamperin meja gue dengan muka kesel. “Lo curang ya Bram? Pasti lo enak-enakan sama Bu Ria sampe dapet semua fasilitas ini. Gue senior lo, tapi lo yang selalu diuntungin!”

Gue angkat bahu sambil nyengir. “Kerja aja yang bener Bambs. Gue ga curang, cuma konsisten. Lo juga bisa kalo lo mau improve strategi lo.”

“Improve apaan! Lo cuma pinter ngomong doang di depan client. Gue yang ngabisin malam buat laporan tapi ga dihargain!” Bambs makin ngomel, suaranya naik. Beberapa orang sebelah pada ngintip.

Ga lama kemudian Bambs langsung gas ke ruangan Bu Sita. Dari meja gue bisa liat dia lobi keras banget. Hampir 25 menit dia di dalam, keluar-keluarnya muka dia tambah manyun. Pasti dia lagi pake jurus rayuan atau ngadu soal gue.

Pas Bambs balik ke meja, Dian tiba-tiba dateng ke meja gue. Cewek 28 tahun yang tipe pendiam tapi super detail ini langsung duduk di depan gue dengan laptop di pangkuan.

“Bram, gue udah review semua laporan lo kemarin. Jujur, lo memang paling bagus bulan ini. Data targetingnya akurat, ide campaign TikTok sama Instagramnya fresh, ROInya keliatan hasilnya. Bambs cuma ngomel doang, ga ada bukti apa-apa. Gue bela lo kalo dia mau berantem,” kata Dian dengan suara pelan tapi tegas, matanya fokus ke gue.

“Thanks Dian. Lo ga usah ikut ribet deh. Gue ga mau suasana kantor tambah panas,” gue jawab.

Dian senyum tipis, tapi tatapannya agak lama. “Gue ikut karena gue liat kerjaan lo tiap hari. Lo kreatif . Bambs cuma iri karena lo lebih cepet naik.”

Konflik kecil ini bikin suasana kantor agak tegang seharian. Bambs terus nyindir-nyindir lewat chat grup tim, tapi gue cuekin aja. Siang harinya Bu Sita panggil gue ke ruangannya.

“Bram, selain insentif dan pelatihan, mulai besok lo dapet anak magang. Namanya Icha, anak Pelita Harapan semester akhir. Dia bakal bantu administrasi, input data, dan support campaign lo. Gue taruh langsung di tim lo,” kata Bu Sita sambil nyengir, dadanya naik-turun pas dia condong ke depan.

“Tanpa sepengetahuan Bu Ria?” gue tanya heran.

“Iya. Biar Ria fokus ke hal lain dulu. Icha anaknya bagus, pinter, fresh. Lo ajarin baik-baik ya. Gue percaya sama lo.”

Sore harinya Icha dateng ke kantor. Anaknya cantik banget, umur 22 tahun, rambut panjang lurus hitam mengkilap, kulit putih bersih, muka imut dengan senyum malu-malu. Pakai kemeja putih rapi yang nempel di badan rampingnya, rok pensil selutut, sepatu flat. Wanginya soft floral yang langsung bikin ruangan terasa lebih adem dan segar.

“Hai Kak Bram, aku Icha. Senang banget bisa magang di tim Kakak,” katanya dengan suara lembut dan manja. Matanya agak menunduk malu.

“Welcome Icha. Duduk sini dulu. Kita kenalan sambil gue jelasin kerjaan,” gue jawab sambil nunjuk kursi di sebelah gue.

Sepanjang sore gue ajarin dia dasar-dasar: cara input data customer, bikin simple report, scheduling postingan. Icha cepet banget nangkepnya. Tiap gue jelasin, dia dengerin sambil catat rapi di notesnya.

“Kak, ini bagian targeting audiencenya gimana ya? Aku agak bingung bedain ,” tanyanya pelan sambil mendekat ke laptop gue.

Kursi tambahan buat dia belum dateng dari gudang. Akhirnya Icha duduk di pangkuan gue biar bisa liat layar lebih jelas. Badannya ringan, hangat, dan wanginya langsung nyerang hidung gue. Pinggulnya nempel manis di paha gue.

“Gini Icha, liat ini… customer persona kita buat dari data historis. Lo bisa liat di sini bedanya,” gue jelasin sambil nunjuk layar, tangan gue hampir nyentuh tangannya.

Icha ngangguk-ngangguk fokus. “Paham Kak. Kak Bram jelasinnya sabar banget, enak didengerin. Aku seneng magang di sini.”

Kita ngobrol banyak sambil kerja. Icha cerita dia anak tunggal, kuliah di Pelita Harapan sambil ambil kerja paruh waktu di agency kecil, mimpi jadi digital marketing manager suatu hari. Suaranya lembut, kalem, ga ribut kayak cewek kantor lain. Tiap dia ketawa kecil, pipinya agak merah.

Bambs lewat , ngeliat kami yang lagi deket banget. Matanya langsung menyipit penuh iri. “Wah Bram, baru dapet insentif udah dapet magang cantik. Enak banget hidup lo, bro. Gue iri berat.”

Gue cuma nyengir. “Dia magang Bambs, bukan pacar.”

Dian juga lewat, ngeliat sekilas tapi langsung bela lagi. “Icha di sini buat bantu Bram. Performance dia emang terbaik, wajar dapat support.”

Ria lewat di koridor pas lagi meeting kecil. Dia ngeliat gue dan Icha yang masih duduk berdekatan (kadang Icha geser posisi di pangkuan gue pas lagi nunjukin sesuatu di layar). Mata Ria langsung tajam, cemburu keliatan banget. Dia ga bilang apa-apa di depan orang, tapi gue tahu besok pasti ada drama di ruangan dia.

Malem harinya pas Icha pulang, dia pamit dengan senyum manis. “Thanks banyak Kak Bram hari ini. Besok aku dateng lebih pagi ya. Kalau ada yang perlu aku siapin duluan, chat aja Kak.”

“Iya Icha, hati-hati di jalan. Besok kita lanjut ya,” gue jawab.

Gue duduk sendirian , mikirin hari ini. Insentif gede masuk rekening, pelatihan marketing digital minggu depan gratis di resort bagus, konflik sama Bambs yang iri, Dian yang selalu bela, dan sekarang Icha yang bikin suasana kerja lebih enak. Wanginya masih nempel di baju gue.

Tapi gue juga mikir risiko.Ria pasti cemburu berat karena Icha deket banget sama gue tanpa izin dia. Bambs bakal makin nyebar gosip. Tapi ya sudahlah, gue nikmatin aja dulu.

Besok pagi pasti Icha dateng lagi, dan kursi tambahan masih belum ada. Siapa tahu pangkuan lagi. Hidup kantor makin seru, tapi ribet.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
S.Moonlight
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!